Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
9
comments

Aku Cuek, Maka Aku Ada

August 13th, 2007

Prinsip yang diplesetkan dari prinsipnya Rene DescratesDescartes ini sepertinya sekarang banyak dianut oleh penduduk negeri. Mari kita lihat saja kecuekan orang-orang di jalanan. Fokus tulisan ini memang lebih ke jalan.

1. Cuek Membelok

Entah mengapa, hal ini sering terjadi pada kaum perempuan. Maka tak heran jika ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kecuekan orang yang belok tanpa lihat kanan-kiri depan-belakang, bahkan kadang tanpa sein. Dan ketika yang berlaku cuek adalah perempuan, maka akan terdengar nada sumbang,”ooo..pantes”.

Yang membuat saya heran adalah kenapa sih mereka tidak melihat dulu keadaan sekeliling? Asal sudah belok saja maunya menang sendiri. Mungkin hal ini hanya bisa dijawab oleh pelakunya. Jika Anda termasuk salah satu yang seperti itu, mohon diberi info.

2. Cuek Merokok sambil Jalan

Di Yogyakarta, hal ini semakin banyak ditemui. Entah siang entah malam. Tidak pernah terpikir rupanya kalau abu rokok bisa terbang dan masuk ke mata orang-orang di belakangnya. Saya sendiri perokok, tapi saya merasa harus berfikir 5000 kali untuk melakukan hal konyol semacam ini.

Sayangnya belum pernah ada laporan pasti mengenai orang yang matanya kemasukkan abu rokok (apalagi yang masih menyala bara-nya) dan akhirnya jatuh. Semoga saja tidak terjadi. Namun mbok yao, teman-teman yang melakukan ini instropeksi. Terutama bagi pengendara motor lho ya, kalo di dalam mobil dan kemudian ada asbak di dashboard, saya ndak bisa komen.

3. Cuek Melintasi Jalan Sempit dengan Mobil

Herannya yang melakukan ini banyak sekali. Lihat saja sepanjang selokan mataram, kadang harus berhenti lama sekali gara-gara ada dua mobil yang bertemu di jalan sempit itu. Dan lebih mengherankan lagi, mobil mewah yang masih baru kinyis-kinyispun lewat sini. Ketakutan mobilnya tergores jelas terlihat dari wajah goblok mereka. Lha jelas goblok, wong takut kegores kok lewat jalan sempit.

Tentu hal ini tidak berlaku bagi yang terpaksa, alias memang rumahnya di pinggir selokan sehingga tidak ada jalan lain. Tapi kadang mengherankan juga, rumahnya memang di pinggir selokan, tapi dia memilih menyusuri selokan daripada –misalnya– belok kiri yang lebih dekat ke jalan raya.

Mutar sedikit gak masalah lah harusnya, orang punya mobil kan artinya kaya. Kalau nggak mampu beli bensin, mbok ya jalan kaki saja.

4. Cuek Mengumumkan Kesalahan di depan Publik

Ini sih berkait dengan postingan saya yang kemarin, Krisis Kepemimpinan. Cuek mereka. Ndak perlu dibahas lagi, politikus memang harus ndableg kali ya.

Dan masih banyak lagi cuek-cuek yang lain, saya sampai capek untuk me-list satu per satu. Capek hati karena teringat bagaimana paramedis cuek dengan pasien yang miskin, capek hati karena melihat bagaimana orang kaya cuek dengan tetangganya yang miskin malah pamer mobil baru terus, dan seterusnya dan sebagainya.

Di jaman sekarang ini, bisa jadi mereka yang tidak cuek justru dianggap aneh. Kecuekan telah menjadi tolok ukur kesuksesan tiap-tiap diri dalam menghadapi kehidupan. Orang yang mengomentari orang lain karena kecuekannya, seperti yang saya lakukan ini, justru menjadi aneh.

Tapi semua ini hanya opini saja, opini pribadi yang tidak memiliki kekuatan hukum maupun kaidah analisis ilmiah. Jadi, monggo sajalah.

vale, ikutan cuek..

el rony, tak cuek matamu!

nb: tiba-tiba inget saja (gak ada kaitannya sih) dengan tulisan di sebuah kaos “Jogja, nyeni sak modare”.

Posted in Culture, Daily Life | by rony
6
comments

Seratus Hari

August 9th, 2007

Tak jauh berbeda, ayah
Anakmu masih bergelut mencoba bertahan
Tak jauh berbeda, ayah
Tak sempat anakmu ini menengok semaian

Kini membunuh waktu,
Mengejar detik untukmu
Menunggu hadirnya cucumu

Lepas hari lepas pula letih
Tenggelam dalam selimut malam
Mohon maafkan sekali lagi maafkan
Hariku menjauh dari pusaramu

Kalau kuingat, ayah
Titik air mata tak banyak tercurah
Kadang rasa heran membawa marah
Kenapa aku tak bisa menangis untukmu?

Ayah, semoga engkau tenang di sana
Anakmu akan selalu berusaha
Menjaga
Wasiat keyakinan titipan semangat

——- di telinga kini suara Ebiet G Ade menemani

Ayah, cucumu sekarang sudah 7 (tujuh) bulan di kandungan. Semoga dia sehat ya ayah, semoga dia tidak seperti ayahnya, yang terkungkung oleh kesibukan yang dibayangi kemasygulan, tiap saat.

Ayah, apakah dingin di sana?

Posted in Daily Life | by rony
13
comments

Krisis Kepemimpinan?

August 6th, 2007

Tidak juga bisa dikatakan demikian, tetapi kegelisahan akan sosok pemimpin memang selalu menjadi kegelisahan berjama’ah. Dalam sebuah sistem pemerintahan kita, semestinya tidak muncul kegelisahan ini karena toh ada tiga kekuatan utama peletak kestabilan negara; eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Namun berhubung ini kegelisahan banyak orang, termasuk saya, maka saya pikir saya sampaikan saja uneg-uneg ini. Kegelisahan ini berkait dengan kebobrokan kualitas orang-orang yang merasa -sekaligus dipandang- dirinya adalah pemimpin.

Salah malah Bangga

Satu hal ini yang paling banyak kita lihat di negeri ini.  Tengok saja kasus Dana DKP kemarin, dimana salah seorang yang selama ini disebut tokoh reformasi, justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menerima dana DKP.

[ detail ]

Posted in Politik, Semiotics, Daily Life | by rony
14
comments

Playgroup, Pilihan ataukah Keterpaksaan?

July 28th, 2007

Dua hari yang lalu saya tersentil oleh sebuah komentar di blog saya ini. Pengirimnya tidak menyertakan alamat blog dia, mengaku sebagai mas koko. Isinya adalah sebagai berikut:

koko Says:
July 26th, 2007 at 3:32 pm
Kayaknya lmyan juga da playgrup kayak gitu.Kita jd ga ssah ngurus anak,klo rewel bawa ja kplaygroup itu.

Ada dua hal yang menggelitik di pikiran saya. Pertama, adalah perasaan bahwa informasi mengenai playgroup ini cukup bermanfaat. Namun pikiran saya yang lain, yang justru membuat saya merasa perlu untuk menuliskan opini ini adalah bahwa playgroup dilihat sebagai tempat penitipan anak. Wah, saya jadi tersentil. Terimakasih Mas Koko :)

Manusia Karir dan Mandat re-Generasi

Sub-judul saya jadinya cukup menyentil juga, sekedar mengimbangi sentilan cerdas tersebut. :)

Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan teknologi dan percepatan pergerakan jaman menuntut kita semua untuk bekerja lebih keras. Beratnya kehidupan ditambah dengan bayang-bayang beban pendidikan bagi anak, generasi penerus kita, tentunya mau tak mau mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi.

Kehidupan di negeri ini memang membuat segala sesuatunya bisa dipandang tidak adil, ialah manakala kita lihat betapa jenjang/gap yang sedemikian tinggi di antara tiap kelas. Orang yang bekerja keras membanting tulang dari pagi hingga petang, penghasilannya bisa jadi jauh di bawah mereka yang justru –kelihatannya– tidak bekerja.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta | by rony
7
comments

Tentang Merk

July 27th, 2007

Pagi ini saya teringat dengan obrolan tentang merk. Merk atau brand produsen yang melekat pada produk-produk keseharian kita. Perbincangan mengenai hal ini, dalam berbagai model, sudah sering terjadi, dan kalau kita pikir-pikir lagi rasanya lucu.

Hal yang paling sering muncul adalah bagaimana merk bisa menggeser hakikat produk itu sendiri. Sehingga tak jarang kita mengatakan odol untuk pasta gigi, atau honda untuk motor dan masih banyak lagi. Sejauh ini kita tidak merasa risi atau terganggu dengan hal itu. Di sisi lain, pihak produsen –atau paling tidak pihak pembuat brand– boleh merasa bangga karena keberhasilannya menanamkan brand itu di kepala konsumen.

Merk sebagai Simbol Gengsi

Jaman saya SMP dulu, adalah kebanggaan bila buku kita adalah Big Boss. Buku tulis yang lain dianggap cemen, maka ketika waktu itu saya menggunakan buku gratisan dari PT LECES, sayapun tak lepas dari ejekan teman-teman. Juga mengenai celana dan baju. Esprit, Lea, Levis, adalah sederet nama yang berkali-kali dijadikan bahan. Atau kalau untuk sepatu pilihannya adalah Eagle (entah ini merk atau model).

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Semiotics | by rony
12
comments

Nyété, Kreativitas Anak Muda

July 23rd, 2007

NyétéNyété adalah kegiatan rutin anak-anak muda di kawasan Blora. Kegiatan ini sebenarnya cukup marak di daerah Jawa Timur. Mereka bergerombol membatik di atas sebatang rokok, dengan bahan dasar kopi.

Di daerah Blora ini, kopi yang terkenal adalah kopi Kothok. Sayang saya tidak sempat mengambil foto pembuatan kopi ini. Jadi tiap pelanggan digodokkan kopi di wadah kaleng susu kecil. Pelanggan di-godok-kan satu per satu. Kopi yang dipakai juga sedikit berbeda, teksturnya sangat lembut.

Setelah kopi diminum, ampasnya kemudian dikeringkan dengan tissue. Lantas ditetesi sedikit susu, sehingga endapan kopi menjadi kental. Dan endapan kental inilah yang dipergunakan untuk nyété. Saya sempat mencoba menggambar di atas sebatang rokok, ternyata tidak bisa, hasilnya hancur. :D

Keahlian dan Kreativitas

Hasil Batikan RokokTak pelak lagi, dua hal di atas sangatlah dibutuhkan. Silakan lihat saja hasil yang ada di sebelah ini. Keterampilan, ketelitian dan kreativitas menghasilkan beragam corak batik di atas batang rokok yang kecil. Rokok apapun bisa dilukisi oleh mereka.

Kegiatan ini berlangsung di sekitar timur alun-alun Blora. Mereka berkumpul, menurut mereka sendiri, setiap malam jumat. Ngobrol, ngopi disambung nyété. Kebetulan waktu itu saya bersama kemo, kubil dan paijo, sedang bersantai-santai setelah seharian menempuh perjalanan Yogya-Blora melewati daerah Purwodadi yang jalannya super halus. :)

Para pe-nyétéMereka yang selalu ngumpul di malam Jumat itu adalah Agus, Hendri, Alfian, Herman, Rahman dan Angga. Mereka rata-rata anak SMA atau MTS. Nampak rukun dan akrab. Waktu kami sampaikan bahwa di Jogja pernah ada lomba nyété, mereka tampak antusias. Sayangnya saya sendiri sudah nggak tahu, apakah lomba ini masih ada atau tidak. Tapi nanti kalau memang ada lagi, saya sudah janji pada mereka, saya akan mengabari mereka.

Vale, demi kreativitas

El rony, nyoba-nyoba nyété :)

Posted in Culture | by rony
17
comments

Jangan-jangan Dia Teroris…

July 13th, 2007

Akhir-akhir ini pertanyaan bernada khawatir sekaligus tuduhan ini nampaknya semakin melanda masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman. Berita besar-besaran menyangkut penangkapan “what so called” teroris di beberapa daerah di Sleman, telah berhasil menciptakan stigma baru di benak penduduk wilayah ini.

Tak kurang, saya-pun mendapati bagiannya. Kebetulan saya mengontrak sebuah rumah di wilayah Donoharjo Sleman. Rumah ini sudah saya kontrak semenjak akhir Januari 2007, dan sampai sekarang belum sempat saya tempati. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib yang menjadikannya begini. Bagaimana tidak, dari mulai saya berangkat ke Kalimantan, disusul saya sakit sehingga musti berhari-hari terkapar. Belum cukup ini saja, selang beberapa hari kemudian saya mendapati bahwa istri saya hamil. Tentunya trimester pertama tidak bisa atau dalam kata lain tidak saya relakan istri saya untuk tinggal di rumah kontrakan yang belum sempat saya urus itu.

Dengan demikian kondisi rumah kontrakan saya barulah berisi dus-dus yang masih berantakan. Lampu-lampu juga belum terpasang sehingga kondisinya selalu gelap. Kecuali lampu depan, karena lampu teras selalu saya hidupkan. Rencana untuk mulai menempati rumah kontrakan setelah trimester pertama lewat, terpaksa tidak bisa saya lakukan. Hal ini karena disusul dengan meninggalnya ayah saya. Kesibukan perjalanan Bantul-Yogyakarta, jelas menyita waktu dan tenaga saya. Dan sialnya, motor saya yang kemudian protes duluan. Dari mulai stang seker (stang piston) sampai laker roda dan shock depan motor, semuanya harus diganti. Walhasil hari-hari saya dipenuhi dengan target mencapai 1500km, alias inreyen. Dengan kondisi ini, mau tak mau rencana untuk menata rumah kontrakan sekali lagi terhambat.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | by rony
18
comments

Saya Memilih Bercerita

July 11th, 2007

Sudah beberapa kali saya mendengar tentang Mozart Effect. Keyakinan bahwa kemampuan IQ seorang anak akan lebih cepat berkembang jika diperdengarkan musik-musik klasik. Oleh karenanya, sudah beberapa kali pula saya mendapatkan himbauan agar melakukan hal yang sama.

Terlepas dari itu, saya memilih bercerita. Entah apakah ini sesuai dengan teori tersebut atau tidak, yang jelas anak saya yang masih dalam kandungan sepertinya senang tiap kali saya bercerita. Bahkan akhir-akhir ini, dia seperti “menagih” tiap sudah jamnya dan saya belum juga bercerita.

Lagu-lagu Sebelum Cerita

Sebetulnya, sebelum ini saya juga menyanyikan lagu. Pikiran saya sederhana saja, biarkan anak saya terbiasa dengan suara dan intonasi saya. Kalau toh ada yang bilang suara saya sumbang, itu soal lain. Yang penting bagi saya, anak saya merasakan curahan cinta saya. :)

[ detail ]

Posted in Pendidikan, blog, Daily Life | by rony
30
comments

Dagadukan Katamu!

July 4th, 2007

Ceritanya saya mendapatkan ide dari script pembalik kata. Pembalik kata itu bisa Anda dapatkan di sini.

Kemudian saya teringat dengan scriptnya Hericz di hericz.net, text ABG Generator. Saya jadi inget dulu pernah pingin bikin script buat bikin dagadu-style. Maka, setelah hantam kromo kanan-kiri, jadilah:

http://rony.dgworks.net/uploads/dagadu/index.html

Masih banyak error, tapi ya … daripada tidak ada. Hihihi..

Vale, demi budaya

el rony, mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada pak Andika Triwidada. :)

tambahan:
untuk ulasan bahasa “prokem” dagadu, bisa dibaca di blognya matriphe di sini.

Posted in Bahasa Jawa, Yogyakarta, Culture, Technology | by rony
21
comments

Ubuntu Fiesty Feisty Fawn: Catatan Seorang Nubi

June 26th, 2007

Nubi diambil dari kata Newbie, sebuah istilah slang di dunia internet untuk melabeli (ya.. dunia ini penuh dengan label) orang seperti saya.

Awal Mula Cerita

Dua minggu yang lalu, saya mendapat sebuah keping CD Ubuntu 7.04 dari rekan kantor. Dia kebetulan memesan beberapa keping CD. Saya belum tertarik menggunakannya, mengingat pengalaman saya dengan Ubuntu versi lawas (lupa versi berapa), Warty. Saya melewatkan Edgy, dan entah apalagi.

Saya kurang begitu suka dengan Ubuntu, karena apa yang saya butuhkan justru terpenuhi oleh SuseLinux, distro yang dikenalkan oleh saudara saya terkasih, Idban Secandri. Kebetulan Idban juga merupakan penggagas id-anime, dan saya adalah penggemar anime :).

Namun, kawan saya yang lain, Godril Si Raja Analis, berkali-kali memamerkan kemampuan Ubuntu Fiesty Feisty ini, bahkan semenjak saya belum memperoleh CD Ubuntu Fiesty Feisty. Dan beberapa minggu yang lalu, ketika saya sedang membantu kawan saya yang lain lagi untuk meng-installkan windows di laptopnya, Godril memamerkan kemampuan Ubuntu di depan saya, tepat di muka saya. Zwiingg.. zwiingg… animasi desktop Ubuntu mengingatkan saya pada iBook milik beberapa teman Bandung.

Sayapun Mencoba, dan Berikut Catatan KendalaBuntu

Install Ubuntu di komputer saya yang memiliki 3 hardisk (40Gb, 80Gb dan 100Gb) dengan CD-RW Asus ternyata menemui kendala. Muncul error:

Can’t access tty, job control turned off

[ detail ]

Posted in Technology, Daily Life | by rony