Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
22
comments

Tentang Sebuah Negeri Yang Memprihatinkan

December 6th, 2007

Sebuah Kisah Tentang Korupsi

Siang itu saya berkesempatan makan bersama seorang teman. Teman saya ini dulunya adalah maniak pemanjat tower, kesehariannya adalah memanjat tower dan pointing antenna. Namun kini dia terlibat dalam proyek-proyek besar Teknologi Informasi untuk Pemda-pemda.

Dalam kesempatan itu, berkali-kali saya lihat dia agak lesu dan seperti melamun sendiri. Setelah saya pancing-pancing ternyata dia sedang bermasalah dengan proyeknya yang terakhir, dimana ada kesalahan perhitungan sehingga dana meleset sangat besar, hingga mencapai ratusan juta.

Namun, setelah itu, dia kemudian menceritakan kepada saya tentang apa yang dia lakukan dalam beberapa bulan ini, yang akhirnya memberi gambaran gamblang kepada saya tentang busuknya negeri ini. Dalam kesempatan itu pula, dia menunjukkan aliran dana di rekening tabungannya. Buset! Dalam tiga bulan terhitung hampir 9 Milyar uang beredar melalui rekening tersebut. Untuk apa saja? Tidak jelas, yang saya tangkap hanyalah uang tersebut kemudian lari ke beberapa person (yang notabene adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif negeri ini).

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | by rony
18
comments

Catatan Mata Air #2

November 27th, 2007

Mata Air di suatu pagi

Jenis Kelamin: Laki-laki
Hobi: Tidur, Pipis, Eek dan Mimik ASI
Usia: 3 Minggu

Saat ini sedang penuh dengan bintik-bintik di wajah, katanya sih buras ASI, namun dokternya bilang itu semacam alergi hanya saja tidak tahu alergi apa. Berdasar informasi banyak orang, baik dokter maupun mas Sonson tetangga sebelah, tidak perlu diobati apapun. Ya sudah, semoga nanti hilang dan mulus kembali.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | by rony
34
comments

Selamat datang Mata Air

November 1st, 2007

Sore itu adalah sore ke sekian. Sebuah penantian yang makin ke sini semakin panjang dirasa di hati. Pukul 15:00 WIB, tanggal 31 Oktober 2007, adalah kali ketika kontraksi terjadi semakin sering dan berpola. Istri saya memilih untuk menunggu di rumah, daripada menunggu di rumah sakit, sehingga kamipun kembali kepada kesibukan.

Pukul 17:00 WIB, istri saya terlihat semakin kesakitan. Kamipun menghitung jarak kontraksi masing-masing. Antara yakin dengan tidak yakin bahwa itu kontraksi beneran, kami putuskan untuk online dan mencari jawaban atas pertanyaan ataupun ketidakyakinan tersebut. Hasilnya? Hampir nihil. Segala hal berkait kontraksi yang kami peroleh, tidak memberikan gambaran yang cukup detil mengenai apa bagaimana dan seperti apa kontraksi itu. Juga kaitannya dengan bukaan, adakah relasinya?

Satu garis bawah saya pertebal pada kalimat yang saya peroleh dari tiga artikel temuan mengenai kontraksi ini, yaitu bahwa harus segera ke rumah sakit begitu kontraksi sudah berjalan kontinyu, teratur dan berjarak 10 menit sekali. Dan mulai pukul 17:30 WIB, kontraksi istri saya sudah mulai teratur pada irama delapan menit sekali.

The Kronologi

Pukul 18:00 WIB, akhirnya bersama mertua dengan mobil mertua (tentu saja, wong saya belum punya), kami berangkat ke happyland. Perjalanan terasa sangat lama. Apalagi perjalanan dari Purwomartani ke daerah Timoho haruslah melalui sekian polisi tidur dan jalan yang berlobang. Istri saya akhirnya merebahkan diri ke pangkuan saya. Kontraksi masih terus terjadi. Tarik napas panjang dari hidung, lepaskan dari mulut, selalu itu saya ulang sepanjang perjalanan.

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Daily Life | by rony
15
comments

Hikmah Tidur

October 7th, 2007

Bukan, bukan. Ini bukan sebuah tulisan ala Gede Parma maupun Samuel Mulia, juga bukan naskah pidato khotbah Jumat. Saya hanya ingin berbagi tentang hal sepele yang selintas berkelebat di benak saya, tentu saja setelah saya sempat sharing dengan istri mengenai hal ini.

Siang kemarin, 5 Oktober 2007, seharian saya berada di jalanan. Jalan Yogya bagian selatan yang penuh dengan kendaraan, ditambah dengan teriknya panas matahari karena sang penguasa panas sedang beralih ke peraduannya yang baru demi terciptanya pergantian musim, benar-benar terasa menyiksa karena bulan ini saya sudah berjanji tidak seenaknya melepas dahaga di siang hari.

Sebuah perjalanan demi pemenuhan harapan atas segala kebutuhan berkait dengan kehadiran si kecil, satu keharusan yang sama sekali tidak terbayang untuk dikeluhkan. Bahkan sejujurnya, saya senang dan bahagia. Hanya saja tenggorokan serasa dipanggang.

Macetnya kondisi ruas jalan dari mulai Pojok Beteng Timur ke utara hingga seputaran Jalan Mataram, membuat panas dan dahaga melahirkan hal baru pada tubuh, sebuah kelelahan. Belum lagi dengan posisi foot-step yang tepat sejajar dengan barisan knalpot yang ikut antri menuju sebuah ujung, memapar permukaan kulit yang tak terbungkus alas. Kebetulan saya memang tidak hobi memakai sepatu.

Episode Selanjutnya: Kantor

Setelah penat melanda sepanjang jalan, barulah saya mampir ke kantor. AC tidak pernah saya nyalakan karena saya memang orang desa yang tidak tahan AC. Dan kali kemarinpun, saya tetap tidak menghidupkan AC, pengalaman mengajarkan dalam kondisi seperti itu kalau dijawab dengan AC yang terjadi justru hidung tersumbat dan badan menggigil. Ya sudahlah, ruang 3 x 3 saya biarkan panas.

[ detail ]

Posted in Daily Life | by rony
23
comments

Tercabiknya Harga Diri Bangsa

August 28th, 2007

Beberapa hari ini kita dikagetkan dengan berita pemukulan polisi Malaysia terhadap wakil Indonesia untuk menjadi wasit kejuaraan internasional karate. Pemukulan itu terjadi dengan dalih imigran gelap. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal.

Dua hal utama yang patut disoroti adalah label imigran gelap dan pemukulan. Setahu saya pengadilan hanya bisa dilakukan oleh lembaga peradilan melalui mekanisme meja hijau. Jadi pemukulan itu sendiri sudah menyalahi HAM. Lantas keberadaan label yang seakan bisa dilekatkan pada siapa saja,”imigran gelap”. Label tersebut seakan sama nilainya dengan label subversif di jaman Soeharto dulu. Dan label itu bisa diberlakukan pada siapa saja, termasuk wasit yang jelas-jelas membawa tanda/atribut serta identitas jelas. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak memiliki identitas bertaraf internasional, murni datang ke negeri jiran demi sesuap nasi.

Mempertanyakan Ulang Kedaulatan Bangsa

Maka dalam tulisan kali ini penulis merasa perlu untuk menanyakan lagi tentang kedaulatan bangsa ini. Apa artinya disebut sebagai negara merdeka jika pengakuan hanya sebatas bibir? Kenyataannya negara ini tidak memiliki harga diri di mata polisi Malaysia.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Semiotics | by rony
11
comments

Komunike #333 - Surat untuk Rahim

August 16th, 2007
“Ibu, di Bumi ini, ada tidak sih orang yang bersalah?”
“Oh ada, yaitu orang-orang yang menebangi hutan, orang kaya yang di sekitar rumahnya banyak orang kekurangan”
“Wah, dilaporkan ke pak polisi saja bu”
“Nah, sayangnya banyak juga pak polisi yang dibayar oleh orang-orang yang bersalah itu agar tidak menangkap mereka”

Kamu ingat dengan fragment itu kan Rahim? Ya, itu percakapan antara kamu dengan ibumu. Darimu aku jadi belajar banyak hal. Dari pikiran-pikiranmu yang masih murni itu, muncul pula pikiran-pikiran di kepalaku. Sebelumnya aku sampaikan terimakasih banyak-banyak kepadamu.

Tidak Ada yang Abu-abu di Depan Hukum

Kamu tahu, aku tahu, dan para penegak hukum semestinya lebih tahu bahwa hal itu benar. Orang yang bersalah, sudah semestinya mendapatkan perlakuan hukum yang semestinya; ditangkap dan diadili. Namun yang terjadi di negeri ini memanglah sungguh berbeda.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib | by rony
10
comments

Selamat Ulang Tahun sayang..

August 15th, 2007

Ribuan (anggap saja demikian) anak Gajah ikut mengucapkan.

Jutaan (anggap saja demikian) pm di yahoo messenger membuat agak repot juga.

Semoga selalu menjadi istri yang keren dan bunda yang super-cool untuk anak kita.

I love you! :)

Posted in Daily Life | by rony
9
comments

Aku Cuek, Maka Aku Ada

August 13th, 2007

Prinsip yang diplesetkan dari prinsipnya Rene DescratesDescartes ini sepertinya sekarang banyak dianut oleh penduduk negeri. Mari kita lihat saja kecuekan orang-orang di jalanan. Fokus tulisan ini memang lebih ke jalan.

1. Cuek Membelok

Entah mengapa, hal ini sering terjadi pada kaum perempuan. Maka tak heran jika ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kecuekan orang yang belok tanpa lihat kanan-kiri depan-belakang, bahkan kadang tanpa sein. Dan ketika yang berlaku cuek adalah perempuan, maka akan terdengar nada sumbang,”ooo..pantes”.

Yang membuat saya heran adalah kenapa sih mereka tidak melihat dulu keadaan sekeliling? Asal sudah belok saja maunya menang sendiri. Mungkin hal ini hanya bisa dijawab oleh pelakunya. Jika Anda termasuk salah satu yang seperti itu, mohon diberi info.

2. Cuek Merokok sambil Jalan

Di Yogyakarta, hal ini semakin banyak ditemui. Entah siang entah malam. Tidak pernah terpikir rupanya kalau abu rokok bisa terbang dan masuk ke mata orang-orang di belakangnya. Saya sendiri perokok, tapi saya merasa harus berfikir 5000 kali untuk melakukan hal konyol semacam ini.

Sayangnya belum pernah ada laporan pasti mengenai orang yang matanya kemasukkan abu rokok (apalagi yang masih menyala bara-nya) dan akhirnya jatuh. Semoga saja tidak terjadi. Namun mbok yao, teman-teman yang melakukan ini instropeksi. Terutama bagi pengendara motor lho ya, kalo di dalam mobil dan kemudian ada asbak di dashboard, saya ndak bisa komen.

3. Cuek Melintasi Jalan Sempit dengan Mobil

Herannya yang melakukan ini banyak sekali. Lihat saja sepanjang selokan mataram, kadang harus berhenti lama sekali gara-gara ada dua mobil yang bertemu di jalan sempit itu. Dan lebih mengherankan lagi, mobil mewah yang masih baru kinyis-kinyispun lewat sini. Ketakutan mobilnya tergores jelas terlihat dari wajah goblok mereka. Lha jelas goblok, wong takut kegores kok lewat jalan sempit.

Tentu hal ini tidak berlaku bagi yang terpaksa, alias memang rumahnya di pinggir selokan sehingga tidak ada jalan lain. Tapi kadang mengherankan juga, rumahnya memang di pinggir selokan, tapi dia memilih menyusuri selokan daripada –misalnya– belok kiri yang lebih dekat ke jalan raya.

Mutar sedikit gak masalah lah harusnya, orang punya mobil kan artinya kaya. Kalau nggak mampu beli bensin, mbok ya jalan kaki saja.

4. Cuek Mengumumkan Kesalahan di depan Publik

Ini sih berkait dengan postingan saya yang kemarin, Krisis Kepemimpinan. Cuek mereka. Ndak perlu dibahas lagi, politikus memang harus ndableg kali ya.

Dan masih banyak lagi cuek-cuek yang lain, saya sampai capek untuk me-list satu per satu. Capek hati karena teringat bagaimana paramedis cuek dengan pasien yang miskin, capek hati karena melihat bagaimana orang kaya cuek dengan tetangganya yang miskin malah pamer mobil baru terus, dan seterusnya dan sebagainya.

Di jaman sekarang ini, bisa jadi mereka yang tidak cuek justru dianggap aneh. Kecuekan telah menjadi tolok ukur kesuksesan tiap-tiap diri dalam menghadapi kehidupan. Orang yang mengomentari orang lain karena kecuekannya, seperti yang saya lakukan ini, justru menjadi aneh.

Tapi semua ini hanya opini saja, opini pribadi yang tidak memiliki kekuatan hukum maupun kaidah analisis ilmiah. Jadi, monggo sajalah.

vale, ikutan cuek..

el rony, tak cuek matamu!

nb: tiba-tiba inget saja (gak ada kaitannya sih) dengan tulisan di sebuah kaos “Jogja, nyeni sak modare”.

Posted in Culture, Daily Life | by rony
6
comments

Seratus Hari

August 9th, 2007

Tak jauh berbeda, ayah
Anakmu masih bergelut mencoba bertahan
Tak jauh berbeda, ayah
Tak sempat anakmu ini menengok semaian

Kini membunuh waktu,
Mengejar detik untukmu
Menunggu hadirnya cucumu

Lepas hari lepas pula letih
Tenggelam dalam selimut malam
Mohon maafkan sekali lagi maafkan
Hariku menjauh dari pusaramu

Kalau kuingat, ayah
Titik air mata tak banyak tercurah
Kadang rasa heran membawa marah
Kenapa aku tak bisa menangis untukmu?

Ayah, semoga engkau tenang di sana
Anakmu akan selalu berusaha
Menjaga
Wasiat keyakinan titipan semangat

——- di telinga kini suara Ebiet G Ade menemani

Ayah, cucumu sekarang sudah 7 (tujuh) bulan di kandungan. Semoga dia sehat ya ayah, semoga dia tidak seperti ayahnya, yang terkungkung oleh kesibukan yang dibayangi kemasygulan, tiap saat.

Ayah, apakah dingin di sana?

Posted in Daily Life | by rony
11
comments

Krisis Kepemimpinan?

August 6th, 2007

Tidak juga bisa dikatakan demikian, tetapi kegelisahan akan sosok pemimpin memang selalu menjadi kegelisahan berjama’ah. Dalam sebuah sistem pemerintahan kita, semestinya tidak muncul kegelisahan ini karena toh ada tiga kekuatan utama peletak kestabilan negara; eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Namun berhubung ini kegelisahan banyak orang, termasuk saya, maka saya pikir saya sampaikan saja uneg-uneg ini. Kegelisahan ini berkait dengan kebobrokan kualitas orang-orang yang merasa -sekaligus dipandang- dirinya adalah pemimpin.

Salah malah Bangga

Satu hal ini yang paling banyak kita lihat di negeri ini.  Tengok saja kasus Dana DKP kemarin, dimana salah seorang yang selama ini disebut tokoh reformasi, justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menerima dana DKP.

[ detail ]

Posted in Politik, Semiotics, Daily Life | by rony