Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Yogyakarta’

Ritual Ngalap Berkah dan Budaya Pop di Blogosphere    Print This Post   Email This Post

Wednesday, December 27th, 2006

Sebuah produk budaya dikatakan pop ketika memiliki ciri-ciri populer dalam rentang waktu tertentu untuk kemudian tergantikan oleh keluaran produk budaya lain. Definisi ini belum saya cek ke wikipedia tertentu, paling tidak ketika saya menulis ini, tapi ya gapapa wong ini bukan tulisan serius hehe.

Tanpa harus menunggu, saya lanjutkan saja tulisan ini. Tulisan ini sebenarnya berawal dari sebuah gelitikan diri, cerminan atas perilaku saya ketika ada kegiatan “turba” dari para priyagung di dunia blog. Ah..iya, jadi ingat saya dengan istilah seleb blog dan budaya komeng..eh komen itu. Nah, saya singgung dulu soal ini.

Gaya penulisan saya *halah kok jadi ke sini* kali ini bisa dibilang cukup nge-pop. Saya yakin kalo Samuel atau Agung Leak membacanya, pasti mereka akan mengatakan demikian, mereka kan “polisi budaya” haha. Nah, mengenai gerakan jangang komeng itu (memang saya beri tambahan g, karena cengeng). Itu satu bukti bahwa ada budaya pop di lingkungan blogosphere.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 17 Comments »

Dua Ribu Lima Ratus Rupiah Saja!    Print This Post   Email This Post

Saturday, December 9th, 2006

Inilah hal yang membuatku merasa nyaman di kota kelahiranku (eh aku kan lahir di Bantul). Selalu saja ada tempat dimana kita bisa makan enak dengan harga murah. Lebih nyaman lagi, tempat yang ini justru berada di depan kantorku. Luar biasa! :D

Hal seperti ini penting bagi saya. Tentu saja bagi Anda juga, terutama yang mencoba hidup mandiri dan kerja dengan keringat sendiri alias tidak dibawah perusahaan apapun. Penghasilan yang pas-pasan harus bisa diatur sedemikian rupa sehingga bisa mencukupi. Belum lagi kalau Anda sudah menikah, tentu kebutuhan hidup lebih banyak. :D

Nah, kali ini saya menemukan tempat yang layak jadi langganan. Sebuah warung soto sederhana. Warung ini diapit oleh penjual burjo dan penjual gorengan. Dari kantorku cukup menyeberang kurang lebih 7 meter saja.

Kemarin adalah pertama kalinya aku beli di sini. Biasanya aku beli di warung sebelah kantor, gak usah nyebrang. Atau justru cari tempat yang jauh, seperti lotek sagan. Biasanya beli lotek kalau sudah merasa kebutuhan sayur belum tercukupi. Nah, kemarin saya malas kemana-mana, dan melihat warung soto di seberang. Akhirnya saya melangkah ke sana.

“Soto komplit satu bu, sama es teh satu”, kata saya kepada penjual Soto. Ibu penjual soto yang tidak terlalu tinggi itu, dengan sigap melayani. Kacamata yang nangkring di atas hidungnya seakan cukup kontras. Bagaimanapun juga, untuk seusia dia, kalau berkacamata pasti langsung saja muncul pikiran bahwa si Ibu adalah kutu buku atau sejenisnya. Yang jelas, badannya cukup subur untuk menegaskan bahwa dia memang pantas jualan makanan :).

Tak lama kemudian, soto datang. Masih mengepul, tandanya cukup panas. Es teh menyusul tak lama kemudian. Ritual selanjutnya adalah memeras jeruk di atas mangkok dan menuang sedikit sambal serta kecap. Lantas.. nyam.. lumayan enak. Tak sampai 10 menit hidangan sudah saya habiskan. Es teh juga tidak menunggu lama untuk tandas. Tibalah saatnya membayar.

“Es teh satu sama soto ayam satu, berapa bu?” tanya saya. Si ibu menjawab,”Oh njih, dua ribu lima ratus saja mas”. Antara kaget dan senang, saya serahkan duit dua ribu lima ratus rupiah. Saya pun melenggang kembali ke kantor dengan senyum mengembang. Akhirnya nemu juga tempat langganan! :D

Vale, demi makan siang.. eh demi kesehatan.

El rony, melirik dompet. Kalkulasi, hitung-hitung.. wah.. masih bisa bertahan sebulan! :D

NB: Ingridients soto: mie, suwiran ayam, potongan tempe, kuah, tauge, nasi.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 30 Comments »

Asuransi Kematian “Peduli Warga Koe”    Print This Post   Email This Post

Friday, November 10th, 2006

Informasi saya dapat dari blog Kenz

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu 5 November 2006, kami warga Lesehan menerima kabar yang bertolak belakang. Hari itu kawan kami Dani melangsungkan pernikahan di Wates, Kulon Progo. Pada hari itu juga, ternyata teman kami yang lain, Abenk alias Bambang, kehilangan ayahnya tercinta. Maka rombongan pernikahanpun berlanjut menuju ke Budi Abadi tempat bapak kawan kami itu disemayamkan.

Hari ini, kawan kami Abenk tiba-tiba menanyakan soal asuransi kematian. Saya tidak tahu-menahu soal ini. Menurut dia, setiap warga yang memiliki KTP biru, berhak mendapatkan asuransi kematian sebesar Rp. 500.000,-. Saya kemudian membuka google untuk mencari keterangan soal ini. Dan sampailah saya pada blog Kenz tersebut di atas.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, how to, Daily Life | 9 Comments »

Selamat Pagi Pak Artidjo!    Print This Post   Email This Post

Friday, October 6th, 2006

Sudah lama sekali kita tidak saling berjumpa ya pak, bagaimana kabarnya? Saya yang sudah semakin jauh dan terjarak dari bapak, hanya bisa mengamati dari luar dengan disertai do’a agar bapak senantiasa sehat dan teguh pendirian.

Sudah lama juga ya pak, terakhir kita berada dalam satu atap, bekerja bersama merintis sebuah lembaga HAM di Yogyakarta. Waktu itu, saya ingat, bapak masih aktif mengumpulkan berbagai renik berkait kasus Soeharto. Dari bapak pula saya mendapat pelajaran yang berharga. Bapak membeli buku Soeharto, dan mengajari saya bahwa dari buku tersebut Soeharto mengakui dirinya sebagai dalang sekaligus makhluk penghisap darah berkait kasus Petrus (penembak misterius). Kasus yang di desa saya dikenal sebagai Garnisun, nama kelompok militer yang datang ke desa seiring kejadian petrus.

Bagaimana ya pak dengan kasus Soeharto itu? Saya sendiri merasa sedih dan sangat prihatin atas kondisi Pak Artidjo di kantor bapak yang sekarang. Waktu itu saya masih menaruh harapan akan nama-nama besar seperti Bagir Manan dan sebagainya, namun ternyata semuanya sampah saja. Bapak benar-benar sendirian, apalagi setelah Tommy membunuh salah satu jaksa yang layak dipercaya. Oh ya, dan Tommy mendapat grasi. Sungguh miris saya pak.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 7 Comments »

Meski Panas, Akhirnya Beban Terangkat    Print This Post   Email This Post

Wednesday, October 4th, 2006

Agus KliknetKemarin, 03 Oktober 2006, adalah hari yang kami, saya dan Agus, rencanakan untuk berangkat ke Pundong. Seperti telah saya tuliskan dulu bahwa ada teman dari Jakarta yang ingin menyalurkan bantuan ke SD di wilayah Bantul Selatan, maka bantuan tersebut sudah bertengger di kantor saya semenjak hari Sabtu dua minggu yang lalu.

bantuan5.jpgOleh karenanya, sebelum saya menulis lebih panjang lebar, terlebih dahulu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Yayasan Tunas Cendekia dalam hal ini Mas Yudhis, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya tetapi ternyata pelaksanaannya molor tak karuan. Sungguh ini bukanlah kesengajaan. Di samping kedatangan bantuan buku gelombang kedua yang agak terlambat, juga karena kesibukan saya yang seakan tanpa jeda.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 10 Comments »

Dunia Kecil    Print This Post   Email This Post

Wednesday, September 27th, 2006

Sebuah dunia yang asyik, sebuah dunia yang selalu saja membuahkan rindu. Seakan ingin kita kembali meringkuk, dalam belaian ibu, dalam lindungan sepenuhnya. Mungkin masa kecil Anda tidaklah seindah ini, masa kecil saya juga tidak hanya satu warna, tapi dunia anak kecil tetap saja dunia anak kecil, selalu menarik.

Dunia ketika kita tidak pusing dengan apa yang akan dikatakan orang atas sikap kita, dunia ketika kita bisa dengan bebas meminta maaf, dunia ketika kita melihat segalanya sebagai aksi-reaksi langsung, tidak ada konspirasi, tidak ada dendam. Itulah dunia anak kecil. Indah bukan?

Lantas kenapa saya menuliskan ini? Di minggu pertama Ramadhan pula? Ah tidak ada hubungannya dengan Ramadhan, atau mungkin ada juga, intinya jangan ada dendam. Hehe, saya menipu, alasan sebenarnya adalah dua buah cerita anak kecil yang menggelitik, yang membawa angan saya ke masa-masa ini. Mereka adalah Amar dan Rahim.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 13 Comments »

Komunike #414 - Selamat Datang Globalisasi    Print This Post   Email This Post

Tuesday, September 19th, 2006

Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan komunike. Ah, jadi kepingin nulis lagi. Kebetulan tadi malam saya baru dapat cerita bagus, tepat sebelum saya mimpi. :)

Di suatu hari yang terik, di sebuah kota lama yang masih menyisakan riak gelombang sungai dan beberapa bayang rindang pepohonan, seorang kakek tua tidur di bawah salah satu naungannya. Di sebelah kirinya tergeletak alat pancing, sementara di samping alat pancing tersebut terdapat dua ekor ikan yang agak besar. Kakek itu tidur dengan tenang dan damai, rindangnya pohon dan angin terik yang sudah disejukkan oleh merdu gesekan daun, menambah suasana damai di sekitarnya.

Selang beberapa saat tampak seorang pengelana, nampaknya dia seorang pedagang atau semacam itu. Demi melihat kakek yang sedang tertidur itu, dia nampak kasihan. Kondisi baju seadanya, dengan alas tanah dan dua ekor ikan tergeletak di atas lembaran daun, adalah potret yang layak mendapat predikat kasihan bagi siapa saja yang pernah mengecap dunia modern.

Setelah termangu sejenak, sang pengelana tersebut akhirnya membangunkan si kakek. Si kakek tidak marah, tampaknya dia sudah puas dengan tidurnya. Lantas terjadilah sebuah perbincangan antara si pengelana dengan si kakek.

“Kek, kenapa kamu malah tidur? Kenapa tidak kamu ke sungai dan memancing lagi?” Tanya si pengelana. Si kakek menjawab,”Buat apa nak? Dua ekor sudah cukup untuk makan hari ini”. “Kalau ikan yang kakek tangkap banyak, kakek bisa menjual sisanya” lanjut si pengelana. Si kakek makin tampak kebingunan, kalimat tanya yang sama muncul lagi,”Untuk apa?”. “Agar kakek bisa membeli jala kek. Dengan jala, tentu ikan yang kakek tangkap bisa lebih banyak lagi bukan?” sang pengelana dengan sabar menjabarkan teorinya.

“Aku makan sehari cukup dengan dua ekor ikan nak, buat apa ikan banyak-banyak?” Si kakek masih tampak tidak mengerti. Sang pengelana kemudian menerangkan,”Kalau ikannya banyak, kakek bisa menjual lagi, nanti kakek bisa membeli motor kek, membeli mobil bahkan”. “Mobil untuk apa nak?” “Biar bisa kemana-mana kek. Sesudah itu kakek bisa membeli perahu” “Buat apa pula perahu?”

Sang pengelana tampak masih sabar, dia meneruskan,”dengan perahu kakek bisa menjala lebih banyak lagi ikan sampai ke tengah laut” “Dua ekor cukup untuk saya makan hari ini nak, mengapa harus sampai ke tengah laut?” Si kakek masih tampak bingung. “Nanti kakek bisa kaya, jadi nanti kakek bisa punya pekerja” sahut si pengelana lagi. “Lantas?” si kakek mendengarkan. “Ya, kalau sudah punya pekerja, kakek bisa santai. Bisa tenang. Kakek tinggal menggaji mereka sementara kakek bisa santai, relax, minum-minuman enak, menikmati indahnya hari di bawah pohon rindang” lanjut sang pengelana bersemangat.

Lantas si kakek dengan lugu menjawab,”Sampeyan pikir saya tadi sedang apa?”

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 16 Comments »

Setelah Mimpi, Saatnya Membumi    Print This Post   Email This Post

Tuesday, September 12th, 2006

Tak perlu lama-lama bermimpi di negeri ini, tidak baik untuk kesehatan. Maka saya-pun memutuskan untuk segera berkumpul lagi dengan masyarakat. Sebuah panggilan atas jiwa sosial, satu hal yang membuat saya masih boleh dan merasa maklum disebut sebagai manusia.

Seorang teman meminta saya untuk mencari informasi atas SD-SD di seputaran Yogyakarta, terutama yang menjadi korban gempa. Sebuah permintaan yang segera saja saya sambut dengan gembira. Dalam pikiran saya, orang yang paling tepat saya mintai bantuan adalah Mas Agus. Ya, daerah Pundong adalah satu tempat yang saya jadikan pilihan pertama.

Pleret, Imogiri, dan daerah lainnya yang juga menjadi korban gempa, saya jadwalkan belakangan. Dalam pikiran saya sih, mending berjalan dari selatan. :) Maka jadilah, saya dan Bagus tadi pagi berboncengan menembus panas dan debu *halah* menuju Desa Seloharjo.

SD Beciran SD BeciranBecari adalah tempat pertama yang kami tuju. Kebetulan kami masih sempat bertemu dengan empat Guru di sana. Ibu-ibu semua, Bapak Kepala Sekolah sudah lebih dahulu pulang. Hari memang sudah siang. Dari ibu-ibu ini, kami mendapat informasi bahwa sekolah tersebut sudah dijangkau oleh bantuan. Untuk buku-buku, bahkan sudah mendapatkan dari penerbit besar. Hanya saja untuk buku PKN dan IPS, sekolah ini belum mendapatkannya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 17 Comments »

History Tends To Corrupt!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, September 6th, 2006

Koneksi internet sedang rada mabuk, jadinya saya gak bisa blogwalking secara “bebas”. Contohnya saya tidak bisa berkunjung ke Om Tyo a.k.a Pakdhe Kéré ataupun ke Sridewa Raja Curang. Ya sudah, akhirnya saya putuskan untuk ngomyang saja. :)

Pikiran saya soal sejarah ini, sebenarnya sudah mengemuka berhari-hari. Semalam menguat, entah apa sebabnya, dan ingin menuliskannya. Kebetulan Bang Pi’i kok ya menulis tentang budaya. Saya jadi semakin pingin menuliskan ini, ngomyang beneran pokoknya.

Sebenarnya judul di atas muncul dari sebuah quote yang diungkapkan oleh Lord Acton dan menjadi terkenal di seantero jagad:

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 10 Comments »

Tetes Telinga untuk Mata? Duh.. Keponakan..    Print This Post   Email This Post

Tuesday, September 5th, 2006

Ini sudah hari ke 11 semenjak keponakan saya, Muhammad Rasyad Mufarid, yang baru berumur 2 minggu, mendapatkan perawatan yang salah dari pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Srandakan.

Ya, perawatan yang salah. Bagaimana tidak? Obat tetes mata yang diberikan kepada anak itu, ternyata ketika di cek (pada hari ke enam) oleh kakak saya, ternyata berupa obat tetes telinga. Label obat tetes mata yang berupa tempelan itu, ternyata telah menutupi sebuah bencana. Semoga kondisi mata keponakan saya– yang ya Allah, baru dua minggu umurnya– baik-baik saja

Setelah tadi malam, hingga pukul 23:00 WIB saya berdebat dan berpeluk dingin mendatangi pihak manajemen rumah sakit, akhirnya pagi ini membuahkan hasil. Saat ini keponakan saya sedang dalam perjalanan dibawa ke Rumah Sakit Mata Dr. Yap.

Keteledoran Itu

Beginilah kronologis kejadiannya:

Pada hari Sabtu, 26 Agustus 2006, pihak rumah sakit mendiagnosis bahwa keponakan saya harus diberikan obat tetes mata. Perawatan ini harus secara intensif dilakukan, dua hari sekali, dua tetes tiap kali.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 29 Comments »