Meski Panas, Akhirnya Beban Terangkat
Wednesday, October 4th, 2006
Kemarin, 03 Oktober 2006, adalah hari yang kami, saya dan Agus, rencanakan untuk berangkat ke Pundong. Seperti telah saya tuliskan dulu bahwa ada teman dari Jakarta yang ingin menyalurkan bantuan ke SD di wilayah Bantul Selatan, maka bantuan tersebut sudah bertengger di kantor saya semenjak hari Sabtu dua minggu yang lalu.
Oleh karenanya, sebelum saya menulis lebih panjang lebar, terlebih dahulu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Yayasan Tunas Cendekia dalam hal ini Mas Yudhis, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya tetapi ternyata pelaksanaannya molor tak karuan. Sungguh ini bukanlah kesengajaan. Di samping kedatangan bantuan buku gelombang kedua yang agak terlambat, juga karena kesibukan saya yang seakan tanpa jeda.
Posted in Yogyakarta, Daily Life | 10 Comments »
Dunia Kecil
Wednesday, September 27th, 2006
Sebuah dunia yang asyik, sebuah dunia yang selalu saja membuahkan rindu. Seakan ingin kita kembali meringkuk, dalam belaian ibu, dalam lindungan sepenuhnya. Mungkin masa kecil Anda tidaklah seindah ini, masa kecil saya juga tidak hanya satu warna, tapi dunia anak kecil tetap saja dunia anak kecil, selalu menarik.
Dunia ketika kita tidak pusing dengan apa yang akan dikatakan orang atas sikap kita, dunia ketika kita bisa dengan bebas meminta maaf, dunia ketika kita melihat segalanya sebagai aksi-reaksi langsung, tidak ada konspirasi, tidak ada dendam. Itulah dunia anak kecil. Indah bukan?
Lantas kenapa saya menuliskan ini? Di minggu pertama Ramadhan pula? Ah tidak ada hubungannya dengan Ramadhan, atau mungkin ada juga, intinya jangan ada dendam. Hehe, saya menipu, alasan sebenarnya adalah dua buah cerita anak kecil yang menggelitik, yang membawa angan saya ke masa-masa ini. Mereka adalah Amar dan Rahim.
Posted in Yogyakarta, Daily Life | 13 Comments »
Komunike #414 - Selamat Datang Globalisasi
Tuesday, September 19th, 2006
Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan komunike. Ah, jadi kepingin nulis lagi. Kebetulan tadi malam saya baru dapat cerita bagus, tepat sebelum saya mimpi.
Di suatu hari yang terik, di sebuah kota lama yang masih menyisakan riak gelombang sungai dan beberapa bayang rindang pepohonan, seorang kakek tua tidur di bawah salah satu naungannya. Di sebelah kirinya tergeletak alat pancing, sementara di samping alat pancing tersebut terdapat dua ekor ikan yang agak besar. Kakek itu tidur dengan tenang dan damai, rindangnya pohon dan angin terik yang sudah disejukkan oleh merdu gesekan daun, menambah suasana damai di sekitarnya.
Selang beberapa saat tampak seorang pengelana, nampaknya dia seorang pedagang atau semacam itu. Demi melihat kakek yang sedang tertidur itu, dia nampak kasihan. Kondisi baju seadanya, dengan alas tanah dan dua ekor ikan tergeletak di atas lembaran daun, adalah potret yang layak mendapat predikat kasihan bagi siapa saja yang pernah mengecap dunia modern.
Setelah termangu sejenak, sang pengelana tersebut akhirnya membangunkan si kakek. Si kakek tidak marah, tampaknya dia sudah puas dengan tidurnya. Lantas terjadilah sebuah perbincangan antara si pengelana dengan si kakek.
“Kek, kenapa kamu malah tidur? Kenapa tidak kamu ke sungai dan memancing lagi?” Tanya si pengelana. Si kakek menjawab,”Buat apa nak? Dua ekor sudah cukup untuk makan hari ini”. “Kalau ikan yang kakek tangkap banyak, kakek bisa menjual sisanya” lanjut si pengelana. Si kakek makin tampak kebingunan, kalimat tanya yang sama muncul lagi,”Untuk apa?”. “Agar kakek bisa membeli jala kek. Dengan jala, tentu ikan yang kakek tangkap bisa lebih banyak lagi bukan?” sang pengelana dengan sabar menjabarkan teorinya.
“Aku makan sehari cukup dengan dua ekor ikan nak, buat apa ikan banyak-banyak?” Si kakek masih tampak tidak mengerti. Sang pengelana kemudian menerangkan,”Kalau ikannya banyak, kakek bisa menjual lagi, nanti kakek bisa membeli motor kek, membeli mobil bahkan”. “Mobil untuk apa nak?” “Biar bisa kemana-mana kek. Sesudah itu kakek bisa membeli perahu” “Buat apa pula perahu?”
Sang pengelana tampak masih sabar, dia meneruskan,”dengan perahu kakek bisa menjala lebih banyak lagi ikan sampai ke tengah laut” “Dua ekor cukup untuk saya makan hari ini nak, mengapa harus sampai ke tengah laut?” Si kakek masih tampak bingung. “Nanti kakek bisa kaya, jadi nanti kakek bisa punya pekerja” sahut si pengelana lagi. “Lantas?” si kakek mendengarkan. “Ya, kalau sudah punya pekerja, kakek bisa santai. Bisa tenang. Kakek tinggal menggaji mereka sementara kakek bisa santai, relax, minum-minuman enak, menikmati indahnya hari di bawah pohon rindang” lanjut sang pengelana bersemangat.
Lantas si kakek dengan lugu menjawab,”Sampeyan pikir saya tadi sedang apa?”
Posted in Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 16 Comments »
Setelah Mimpi, Saatnya Membumi
Tuesday, September 12th, 2006
Tak perlu lama-lama bermimpi di negeri ini, tidak baik untuk kesehatan. Maka saya-pun memutuskan untuk segera berkumpul lagi dengan masyarakat. Sebuah panggilan atas jiwa sosial, satu hal yang membuat saya masih boleh dan merasa maklum disebut sebagai manusia.
Seorang teman meminta saya untuk mencari informasi atas SD-SD di seputaran Yogyakarta, terutama yang menjadi korban gempa. Sebuah permintaan yang segera saja saya sambut dengan gembira. Dalam pikiran saya, orang yang paling tepat saya mintai bantuan adalah Mas Agus. Ya, daerah Pundong adalah satu tempat yang saya jadikan pilihan pertama.
Pleret, Imogiri, dan daerah lainnya yang juga menjadi korban gempa, saya jadwalkan belakangan. Dalam pikiran saya sih, mending berjalan dari selatan.
Maka jadilah, saya dan Bagus tadi pagi berboncengan menembus panas dan debu *halah* menuju Desa Seloharjo.
SD BeciranBecari adalah tempat pertama yang kami tuju. Kebetulan kami masih sempat bertemu dengan empat Guru di sana. Ibu-ibu semua, Bapak Kepala Sekolah sudah lebih dahulu pulang. Hari memang sudah siang. Dari ibu-ibu ini, kami mendapat informasi bahwa sekolah tersebut sudah dijangkau oleh bantuan. Untuk buku-buku, bahkan sudah mendapatkan dari penerbit besar. Hanya saja untuk buku PKN dan IPS, sekolah ini belum mendapatkannya.
Posted in Yogyakarta, Daily Life | 17 Comments »
History Tends To Corrupt!
Wednesday, September 6th, 2006
Koneksi internet sedang rada mabuk, jadinya saya gak bisa blogwalking secara “bebas”. Contohnya saya tidak bisa berkunjung ke Om Tyo a.k.a Pakdhe Kéré ataupun ke Sridewa Raja Curang. Ya sudah, akhirnya saya putuskan untuk ngomyang saja.
Pikiran saya soal sejarah ini, sebenarnya sudah mengemuka berhari-hari. Semalam menguat, entah apa sebabnya, dan ingin menuliskannya. Kebetulan Bang Pi’i kok ya menulis tentang budaya. Saya jadi semakin pingin menuliskan ini, ngomyang beneran pokoknya.
Sebenarnya judul di atas muncul dari sebuah quote yang diungkapkan oleh Lord Acton dan menjadi terkenal di seantero jagad:
Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 10 Comments »
Tetes Telinga untuk Mata? Duh.. Keponakan..
Tuesday, September 5th, 2006
Ini sudah hari ke 11 semenjak keponakan saya, Muhammad Rasyad Mufarid, yang baru berumur 2 minggu, mendapatkan perawatan yang salah dari pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Srandakan.
Ya, perawatan yang salah. Bagaimana tidak? Obat tetes mata yang diberikan kepada anak itu, ternyata ketika di cek (pada hari ke enam) oleh kakak saya, ternyata berupa obat tetes telinga. Label obat tetes mata yang berupa tempelan itu, ternyata telah menutupi sebuah bencana. Semoga kondisi mata keponakan saya– yang ya Allah, baru dua minggu umurnya– baik-baik saja
Setelah tadi malam, hingga pukul 23:00 WIB saya berdebat dan berpeluk dingin mendatangi pihak manajemen rumah sakit, akhirnya pagi ini membuahkan hasil. Saat ini keponakan saya sedang dalam perjalanan dibawa ke Rumah Sakit Mata Dr. Yap.
Keteledoran Itu
Beginilah kronologis kejadiannya:
Pada hari Sabtu, 26 Agustus 2006, pihak rumah sakit mendiagnosis bahwa keponakan saya harus diberikan obat tetes mata. Perawatan ini harus secara intensif dilakukan, dua hari sekali, dua tetes tiap kali.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 29 Comments »
Negara Super Nanggung
Thursday, August 31st, 2006
Sebuah obrolan di pos ronda, memang kadang membawa kita kemana-mana. Latar belakang yang berbeda-beda, hebatnya, bisa dijembatani dengan sebuah mantra kuno: bola. Dan ketika mantra kuno itu sudah mengudara, semua opinipun berkembang dengan sendirinya. Kekalahan tim Indonesia (PSSI) atas Myanmar, disinyalir karena memang Indonesia tidak serius dalam menangani tim sepakbola. Semuanya generasi tua, sementara dari Myanmar rata-rata anak muda usia 24 tahun semua. Jadi, selain kalah strategi, Indonesia juga kalah stamina dan kelincahan.
Saya sendiri mengungkapkan analisa semena-mena. Saya bilang, karena saya tidak terlalu mengerti bola, kemungkinan Indonesia nggak bagus sepakbolanya karena negara kita ini nanggung. “Maksudnya gimana mas?” celetuk kang Kimu. Jadi gini lho kang, negara ini dikatakan miskin, nyatanya tidak semiskin Afrika. Dikatakan kaya, walah jelas tidak, kalah jauh sama Korsel misalnya. Nah, nyatanya negara seperti Afrika ataupun Australia itu bisa toh menghasilkan tim sepakbola handal? Lantas saya pun mengembara ke dunia akhir orde baru.
Era Tinggal Landas, Era Super Kandas
Nah, kalau dimulai dari sini, jadinya enak. Anda semua ingat nggak dengan jargon itu? Dikatakan bahwa kita memasuki era tinggal landas. Bayangannya adalah teknologi pesawat super canggih, yang membawa Indonesia ke awang-awang, ke kelas yang melesat menembus awan. Tetapi, apa ya begitu?
Posted in Neolib, Yogyakarta, blog, Technology, Daily Life | 21 Comments »
Gimana Kabar Yogya, Ron?
Tuesday, August 29th, 2006
Biasanya aku tergagap untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Bagi siapa saja yang menjalani hidup dengan segala rutinitas, sudah barang tentu dia juga kesulitan untuk identifikasi tentang hal-hal baru di sekitarnya. Apalagi jika proses perubahan di sekitarnya itu, secara alam bawah sadar, diikuti. Artinya hal baru bukanlah hal baru baginya, karena dia melihat dari mulai lahir, merangkak, berdiri dan seterusnya. Apa yang aneh dan layak dilaporkan?
Tetapi siang ini, setelah saya menyempatkan keluar dari kesibukan-gak-penting-karena-sebenarnya-hanyalah-sok-sibuk-yang-gak-mutu saya, maka saya mendapati ada hal baru. Dan hari ini saya siap untuk menjawab kalau ada yang bertanya. Ini dia jawaban saya.
UGM Punya Mall
Oh ya, isu ini sudah lama banget. Bangunan itu sudah lama menunjukkan rangka-rangkanya secara mencolok. Lengkap dengan bandulan batu beton yang melayang-layang di atas badan jalan. Sudah lama sekali, sehingga ketika sekarang mulai muncul bentuk luarnya –secara lebih jelas– tentu bukan barang aneh lagi.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 8 Comments »
Javanese WordPress Blog. Do You Want Some?
Friday, August 25th, 2006
Karena Jawa adalah Kunci!
–Sorry for my bad grammar–
English Version
Finally, I’m coming up with this new plugins. Actually it’s a language set to let your WordPress appear as Javanese style. I’m building it in three days by myself
(crazy enough, heh?) so if later you found any mistake or wrong translation, please let me know. Well, let’s not wasting our time, here it’s the steps to make your Javanese WordPress Blog:
- Download this file http://rony.dgworks.net/uploads/jv.mo
- Copy it to your “wp-includes/languages” directory
- Open your config.php file, and edit this part define (’WPLANG’, ”); and change it to ==> define (’WPLANG’, ‘jv’);
- Done!
Katerangan Mawi Basa Jawi
Alhamduilllah, sak meniko kulo sampun kelar anggenipun ndamel “plugins” kagem WordPress. Plugins meniko inggih kagem ndamel WordPress panjenengan supados tampil mawi cara Basa Jawi.
Posted in Yogyakarta, Bahasa Jawa, Culture, blog, Technology, Daily Life | 29 Comments »
Lat, Saya Masih Latihan..
Thursday, August 24th, 2006
Namanya Latiyono. Dari namanya sudah terlihat seberapa kental kadar ke-jawa-annya. Hurup “o” yang bertebaran memang selalu identik dengan wilayah satu ini. Arti dari nama tersebut adalah “berlatihlah”. Dan ingatan saya akan dia, mengajakku merenung akan hidup.
Aku mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMP. Kami satu kelas. Dari dia pula aku mendapatkan beberapa ilmu –yang sayangnya sekarang sudah agak lupa detilnya– dari mulai bagaimana membuat es puter (es cream ala desa, atau yang sering kami sebut es dong-dong) hingga cara untuk njathil (tarian dalam jathilan).
Berteman dengan Terik
Siang hari sepulang dari sekolah, yang dilakukan temanku ini adalah mengambil satu termos es puter. Tempat mengambilnya tidak jauh dari rumahnya. Termos tersebut adalah jatah dia, dia pula yang membuatnya di pagi hari sebelum berangkat sekolah. Termos sederhana dari bahan seng, tabung kecil nan panjang. Di sekeliling tabung ini ditaburi butiran es ditambah sedikit garam. Waktu itu saya bertanya mengapa diberi garam, dan jawaban yang saya terima adalah biar gurih, katanya. Namun ternyata garam membantu membuat es mencapai titik terdinginnya.
Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 7 Comments »
