Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Yogyakarta’

Apa Yang Haram di Negeri Ini?    Print This Post   Email This Post

Friday, March 30th, 2007

Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.

Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.

[ detail ]

Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 16 Comments »

TK dan SD yang Bagus Menurut Saya    Print This Post   Email This Post

Monday, March 26th, 2007

Sekali lagi, menurut saya. Jadi sangat mungkin informasi ini tidak sesuai atau kurang cocok dengan keinginan/kebutuhan bapak/ibu sekalian. Maka, katakanlah, ini adalah disclaimer awal saya atas informasi di bawah ini. :)

Tulisan ini dipicu dari beberapa pertanyaan baik di shoutbox lama saya (yang sementara saya tutup dulu, sampai saya sempat bikin template baru), maupun di tulisan saya terdahulu yang berjudul Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta.

Taman Kanak-kanak dan Playgroups

Bagi saya, dan menurut beberapa psikolog terkenal (silakan cari sendiri di wikipedia), usia balita sampai 8 tahun adalah usia kritis. Usia dimana anak membutuhkan perhatian lebih, sehingga dia akan mendapatkan dasar yang paling mantap untuk menapaki dunia kedewasaannya nanti.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta | 18 Comments »

Blandongan, Ketika Jawa Timur Menguasai Jogja    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 31st, 2007

Tidak ada term politik secara langsung dari kalimat judul di atas. Kisah ini adalah kisah kuliner biasa saja, sebuah kekaguman. Blandongan adalah nama sebuah tempat ngangkring (duduk santai, ngobrol dan minum kopi atau sejenisnya) di wilayah selatan Gowok.

Di Blandongan ini pula, ratusan anak muda ngumpul pas malam minggu. Kebetulan malam minggu kemarin saya berkesempatan ngobrol dengan teman-teman lama di tempat ini. Ramai sekali. Dari teman saya yang sangat rajin keliling daerah, saya mendapatkan informasi lebih tentang tempat ini.

Kawan saya itu, Rinto Andriono, mengatakan bahwa blandongan sebenarnya adalah tempat ngopi biasa di Jawa Timur. Hampir di setiap pinggir jalan ada tempat minum kopi yang santai seperti ini. Nah, akhirnya dibawalah konsep tersebut ke Yogyakarta. Dipadukan dengan budaya ngangkring dan lesehan, jadilah tempat ini menjadi tempat favorit.

Ada hal-hal yang cukup unik di tempat ini, saya akan review satu per satu sependek pengetahuan saya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 25 Comments »

Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 17th, 2007

Pendidikan anak, dalam hemat saya, adalah sebuah pijakan awal bagi seseorang untuk mencapai satu “bentuk”. Proses awal pendewasaan, ibarat penempatan pondasi ketika kita sedang membangun rumah.

Oleh karenanya saya sangat peduli dengan pendidikan ini, apalagi jika kita mencoba mengikuti sebuah teori tentang perkembangan sikap seseorang. Menurut teori tersebut, sebuah sikap dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu: lingkungan, pendidikan dan orang tua. Dari sini terlihat bahwa pendidikan memiliki porsi yang lumayan besar.

Maka kali ini saya akan coba mengulas dua metode pendidikan yang dilangsungkan oleh dua lembaga pendidikan yang berbeda.

Metode I : Disiplin Adalah Segalanya

Metode ini digunakan oleh sebuah lembaga pendidikan swasta yang terkenal di Yogyakarta. Lebih tepatnya, hampir semua lembaga pendidikan di kota ini menganut kepercayaan bahwa seorang anak harus diajarkan disiplin secara ketat sejak dini. Dan lembaga pendidikan yang terkenal sebagai lembaga teladan di kota ini, sebuah sekolah dasar muhammadiyah terkenal ataupun TK yang tak kalah terkenal dengan embel-embel anak sholeh, adalah contoh lembaga yang menerapkannya dengan patuh.

Mari kita tengok bagaimana mereka memulai aktivitas belajar-mengajar. Dalam lembaga ini, terutama SD yang terkenal tersebut, aktivitas dimulai sejak pagi sekali. Guru diharuskan datang sebelum murid datang. Maka tak heran jika guru sudah berjejer di depan sekolah ketika murid-murid datang.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 39 Comments »

Orang Dewasa Itu.. Anak-anak Itu…    Print This Post   Email This Post

Tuesday, January 9th, 2007

Sebuah pagi yang cerah, hari Minggu kemarin, dengan kelelahan yang menumpuk menunggu untuk dilampiaskan dengan bermalasan seharian. Sebenarnya bulan ini tidak pantas untuk menikmati hari cerah, bagaimanapun kita belum cukup puas dengan hujan yang turun, namun tak apalah toh tubuh butuh istirahat.

Jam 10:00 pagi, ketika sedang menimbang pertanyaan sulit “mandi atau tidak”, saya kedatangan tamu. Teman saya, Rinto dan Dati dengan anaknya. Wah, senang saya. Pertama karena alasan untuk menunda mandi jadi jelas, kedua karena saya memang merindukan mereka.

Rinto dan Dati ini adalah pegiat organisasi yang saya kenal sudah sejak lama. Kedatangan mereka dengan anaknya, Lintang, mewarnai hari cerah itu dengan warna yang lebih sejuk. Terutama Lintang, yang mengenal saya sebagai orang gondrong. Apa daya, rambut sudah terpotong. :)

Mengapa sih..

Dan di sinilah awal kisah alasan saya untuk menulis artikel ini. Lintang, perempuan kecil usia 3 atau 4 tahun, yang lincah dan lucu ternyata menyimpan kisah-kisah yang dalam pandangan saya layak dicatat.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 20 Comments »

Ritual Ngalap Berkah dan Budaya Pop di Blogosphere    Print This Post   Email This Post

Wednesday, December 27th, 2006

Sebuah produk budaya dikatakan pop ketika memiliki ciri-ciri populer dalam rentang waktu tertentu untuk kemudian tergantikan oleh keluaran produk budaya lain. Definisi ini belum saya cek ke wikipedia tertentu, paling tidak ketika saya menulis ini, tapi ya gapapa wong ini bukan tulisan serius hehe.

Tanpa harus menunggu, saya lanjutkan saja tulisan ini. Tulisan ini sebenarnya berawal dari sebuah gelitikan diri, cerminan atas perilaku saya ketika ada kegiatan “turba” dari para priyagung di dunia blog. Ah..iya, jadi ingat saya dengan istilah seleb blog dan budaya komeng..eh komen itu. Nah, saya singgung dulu soal ini.

Gaya penulisan saya *halah kok jadi ke sini* kali ini bisa dibilang cukup nge-pop. Saya yakin kalo Samuel atau Agung Leak membacanya, pasti mereka akan mengatakan demikian, mereka kan “polisi budaya” haha. Nah, mengenai gerakan jangang komeng itu (memang saya beri tambahan g, karena cengeng). Itu satu bukti bahwa ada budaya pop di lingkungan blogosphere.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 17 Comments »

Dua Ribu Lima Ratus Rupiah Saja!    Print This Post   Email This Post

Saturday, December 9th, 2006

Inilah hal yang membuatku merasa nyaman di kota kelahiranku (eh aku kan lahir di Bantul). Selalu saja ada tempat dimana kita bisa makan enak dengan harga murah. Lebih nyaman lagi, tempat yang ini justru berada di depan kantorku. Luar biasa! :D

Hal seperti ini penting bagi saya. Tentu saja bagi Anda juga, terutama yang mencoba hidup mandiri dan kerja dengan keringat sendiri alias tidak dibawah perusahaan apapun. Penghasilan yang pas-pasan harus bisa diatur sedemikian rupa sehingga bisa mencukupi. Belum lagi kalau Anda sudah menikah, tentu kebutuhan hidup lebih banyak. :D

Nah, kali ini saya menemukan tempat yang layak jadi langganan. Sebuah warung soto sederhana. Warung ini diapit oleh penjual burjo dan penjual gorengan. Dari kantorku cukup menyeberang kurang lebih 7 meter saja.

Kemarin adalah pertama kalinya aku beli di sini. Biasanya aku beli di warung sebelah kantor, gak usah nyebrang. Atau justru cari tempat yang jauh, seperti lotek sagan. Biasanya beli lotek kalau sudah merasa kebutuhan sayur belum tercukupi. Nah, kemarin saya malas kemana-mana, dan melihat warung soto di seberang. Akhirnya saya melangkah ke sana.

“Soto komplit satu bu, sama es teh satu”, kata saya kepada penjual Soto. Ibu penjual soto yang tidak terlalu tinggi itu, dengan sigap melayani. Kacamata yang nangkring di atas hidungnya seakan cukup kontras. Bagaimanapun juga, untuk seusia dia, kalau berkacamata pasti langsung saja muncul pikiran bahwa si Ibu adalah kutu buku atau sejenisnya. Yang jelas, badannya cukup subur untuk menegaskan bahwa dia memang pantas jualan makanan :).

Tak lama kemudian, soto datang. Masih mengepul, tandanya cukup panas. Es teh menyusul tak lama kemudian. Ritual selanjutnya adalah memeras jeruk di atas mangkok dan menuang sedikit sambal serta kecap. Lantas.. nyam.. lumayan enak. Tak sampai 10 menit hidangan sudah saya habiskan. Es teh juga tidak menunggu lama untuk tandas. Tibalah saatnya membayar.

“Es teh satu sama soto ayam satu, berapa bu?” tanya saya. Si ibu menjawab,”Oh njih, dua ribu lima ratus saja mas”. Antara kaget dan senang, saya serahkan duit dua ribu lima ratus rupiah. Saya pun melenggang kembali ke kantor dengan senyum mengembang. Akhirnya nemu juga tempat langganan! :D

Vale, demi makan siang.. eh demi kesehatan.

El rony, melirik dompet. Kalkulasi, hitung-hitung.. wah.. masih bisa bertahan sebulan! :D

NB: Ingridients soto: mie, suwiran ayam, potongan tempe, kuah, tauge, nasi.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 30 Comments »

Asuransi Kematian “Peduli Warga Koe”    Print This Post   Email This Post

Friday, November 10th, 2006

Informasi saya dapat dari blog Kenz

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu 5 November 2006, kami warga Lesehan menerima kabar yang bertolak belakang. Hari itu kawan kami Dani melangsungkan pernikahan di Wates, Kulon Progo. Pada hari itu juga, ternyata teman kami yang lain, Abenk alias Bambang, kehilangan ayahnya tercinta. Maka rombongan pernikahanpun berlanjut menuju ke Budi Abadi tempat bapak kawan kami itu disemayamkan.

Hari ini, kawan kami Abenk tiba-tiba menanyakan soal asuransi kematian. Saya tidak tahu-menahu soal ini. Menurut dia, setiap warga yang memiliki KTP biru, berhak mendapatkan asuransi kematian sebesar Rp. 500.000,-. Saya kemudian membuka google untuk mencari keterangan soal ini. Dan sampailah saya pada blog Kenz tersebut di atas.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, how to, Daily Life | 8 Comments »

Selamat Pagi Pak Artidjo!    Print This Post   Email This Post

Friday, October 6th, 2006

Sudah lama sekali kita tidak saling berjumpa ya pak, bagaimana kabarnya? Saya yang sudah semakin jauh dan terjarak dari bapak, hanya bisa mengamati dari luar dengan disertai do’a agar bapak senantiasa sehat dan teguh pendirian.

Sudah lama juga ya pak, terakhir kita berada dalam satu atap, bekerja bersama merintis sebuah lembaga HAM di Yogyakarta. Waktu itu, saya ingat, bapak masih aktif mengumpulkan berbagai renik berkait kasus Soeharto. Dari bapak pula saya mendapat pelajaran yang berharga. Bapak membeli buku Soeharto, dan mengajari saya bahwa dari buku tersebut Soeharto mengakui dirinya sebagai dalang sekaligus makhluk penghisap darah berkait kasus Petrus (penembak misterius). Kasus yang di desa saya dikenal sebagai Garnisun, nama kelompok militer yang datang ke desa seiring kejadian petrus.

Bagaimana ya pak dengan kasus Soeharto itu? Saya sendiri merasa sedih dan sangat prihatin atas kondisi Pak Artidjo di kantor bapak yang sekarang. Waktu itu saya masih menaruh harapan akan nama-nama besar seperti Bagir Manan dan sebagainya, namun ternyata semuanya sampah saja. Bapak benar-benar sendirian, apalagi setelah Tommy membunuh salah satu jaksa yang layak dipercaya. Oh ya, dan Tommy mendapat grasi. Sungguh miris saya pak.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 7 Comments »

Meski Panas, Akhirnya Beban Terangkat    Print This Post   Email This Post

Wednesday, October 4th, 2006

Agus KliknetKemarin, 03 Oktober 2006, adalah hari yang kami, saya dan Agus, rencanakan untuk berangkat ke Pundong. Seperti telah saya tuliskan dulu bahwa ada teman dari Jakarta yang ingin menyalurkan bantuan ke SD di wilayah Bantul Selatan, maka bantuan tersebut sudah bertengger di kantor saya semenjak hari Sabtu dua minggu yang lalu.

bantuan5.jpgOleh karenanya, sebelum saya menulis lebih panjang lebar, terlebih dahulu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Yayasan Tunas Cendekia dalam hal ini Mas Yudhis, yang telah memberikan kepercayaan kepada saya tetapi ternyata pelaksanaannya molor tak karuan. Sungguh ini bukanlah kesengajaan. Di samping kedatangan bantuan buku gelombang kedua yang agak terlambat, juga karena kesibukan saya yang seakan tanpa jeda.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 10 Comments »