Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Yogyakarta’

Quovadis FKY: Tentang Modernitas dan Tradisionalisme    Print This Post   Email This Post

Wednesday, June 13th, 2007

Sebuah perbincangan sore di antara kantuk dan capek. Antara saya dengan teman baik saya, mas Iwan alias temukonco yang manggon di theaterofmind.com. Perbincangan ini sebenarnya lagi, diawali oleh rasan-rasan mbikin mainan baru. Iya, mainan, karena kami bermain biar dapat duit. Bekerja berdasar hobi, hehe.

Seperti biasanya, sebagaimana obrolan sore para warga Jogja yang lain, obrolanpun mengalir ke wilayah sekitar, melebar dan akhirnya menyentuh FKY. Festival Kebudayaan Yogyakarta, sebuah ikon kebudayaan yang lahir dari kreativitas pemuda dan sekaligus seniman yang ada di Yogyakarta.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Semiotics | 10 Comments »

Taspen I - Mengurus UDW    Print This Post   Email This Post

Monday, May 14th, 2007

Tulisan ini saya buat dengan tujuan berbagi informasi mengenai lika-liku mengurus surat-surat berkait dengan PT TASPEN. Tulisan ini rencananya akan saya buat minimal dalam dua tahap, yaitu dari mulai mengurus UDW (uang duka wafat) hingga SPPT Janda. Semoga berguna.

Bagi teman-teman dan saudara sekalian yang memiliki orang tua pegawai negeri, atau bahkan Anda sendiri yang pegawai negeri sipil, tentu tidak asing dengan nama TASPEN. Tabungan Asuransi Pensiun adalah sebuah perusahaan yang menangani biaya pensiun untuk pegawai negeri. Kebetulan almarhum ayah saya adalah pensiunan pegawai negeri sipil, dulu beliau menjabat sebagai Kepala SMP.

Pada tulisan awal ini saya akan berbagi mengenai urutan pengurusan dana UDW (uang duka wafat). Informasi ini tentu saja hanya berlaku bagi pensiunan pegawai negeri yang meninggal. Dan pegawai negeri tersebut pensiun secara normal (bukan tidak terhormat atau alasan lain).
[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, how to | 19 Comments »

Selamat Pulang    Print This Post   Email This Post

Monday, May 7th, 2007

Ayah..

Kamis, 3 Mei 2007 05:45 WIB

Semoga Allah menerimamu.

vale, demi…
el rony, merencanakan berbagi langkah mengurus pensiun janda

nb: manusia selalu saja hanya bisa menyesal.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 19 Comments »

Untuk Kang Pur, Mantan Calon Rektor UGM    Print This Post   Email This Post

Monday, April 23rd, 2007

Terhambat ya kang. Administrasi katanya ya.. Hehe.. ya begitulah. Syarat “berpengalaman” mau nggak mau memang saringan paling handal untuk “menyingkirkan” orang-orang dengan pola pikir “aneh” seperti sampeyan. Sing sabar kang! :)

Seperti telah saya sampaikan kemarin, dalam tulisan Kabar dari Yogya (lagi), bahwa Kang Pur menjagokan diri menjadi rektor UGM. Kenyataannya langkahnya harus terhenti karena syarat administratif.

Salah satu syarat menjadi rektor adalah memiliki pengalaman tiga tahun menjabat jabatan struktural di lingkungan kampus. Menurut salah satu pengurus senat, syarat ini merujuk pada pengalaman individu memimpin dari mulai KaJur (kepala jurusan) hingga jabatan struktural tinggi baik di tingkat dekanat maupun rektorat.

Kang Pur, dalam formulir persyaratan menuliskan pengalaman sebagai Rektor ISBUJA. ISBUJA sendiri adalah Institut Budaya Jawa, yang didirikannya semenjak tahun 2001 yang lalu. Permasalahannya adalah ISBUJA ini tidak terdaftar dalam KOPERTIS. Sehingga dinyatakan bahwa hal ini tidak sah demi hukum, atau semacam itu. Maka gagallah dia menjadi rektor. [ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, blog | 15 Comments »

Kabar dari Yogya (lagi)    Print This Post   Email This Post

Saturday, April 14th, 2007

“Apakabar?” adalah sebuah kalimat standar bagi siapa saja yang jarang bertemu. Atau sering ketemu tapi hanya sebatas “sliringan” alias ketemu sekilas, begitu ada kesempatan tentunya kita akan menanyakan kabarnya. Itu kalau kita memang peduli, kalau nggak peduli, ngapain ketemu? *lah ngomong apa sih*

Baiklah, saya menulis ini sebenarnya hanya ingin berkabar saja. Tentang suksesi di Yogyakarta. Sedang ada pesta besar di sini, yaitu menghadapi suksesi gubernur dan suksesi rektor UGM.

Kangmas (biar dikira saya berdarah biru gitu) Sultan Hamengkubuwono X, sudah menyatakan bahwa beliau tidak mau lagi menjabat sebagai gubernur. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak tanggapan. Antara lain:

  • Dari Para Lurah/kepala desa:
    Mereka menyatakan bahwa masyarakat Yogyakarta masih ingin mempunyai gubernur seorang sultan. Kecintaan rakyat Yogyakarta atas Sultan-nya, tidak mengering. Kurang lebih demikian yang disampaikan.
  • Dari Pejabat Keraton (Gusti Tirun dan Jaya):
    Itu hak Sultan. Kalau memang beliau sudah berkeputusan, maka sabda pandhita ratu harus dipatuhi, bukan hanya oleh para kawula tetapi bahkan oleh sang raja sendiri. Kedua orang ini bahkan mengatakan bahwa gubernur tidak harus dari lingkungan kraton. Saya kok sepakat dengan mereka ya, biar sosok sultan tetap bersih dari kotoran-naif bernama politik praktis kekuasaan.
  • Dari Roy Suryo:
    Itu hanya kiasan saja, pertanda. Kalau sultan saja yang paling pantas memimpin Yogya bilang tidak mau dipilih, apalagi yang lain yang jauh lebih tidak berhak, sebaiknya tidak usah mengajukan diri jadi gubernur.

Nah, kurang lebih itu pendapat yang beredar. Pendapat terakhir dari KRMT (yang sekarang sudah jadi KRT karena bukan “mas” lagi) adalah pendapat yang saya rasa paling tidak masuk akal.

Bukan karena saya pro-proletar, ataupun karena saya anti-feodal, ataupun yang lain lagi, tetapi saya hanya tidak membayangkan kalau sampai ada kekosongan kekuasaan. Emangnya Yogyakarta mau menjadi propinsi tanpa Gubernur? Gubernur tidak harus Sultan, bahkan tidak harus dari lingkungan Keraton. Hal itu sudah ditegaskan oleh beliau kangmas (asyik, kayaknya makin akrab saja saya) Sultan sendiri. Saya baik sebagai kawula Yogya maupun sebagai bagian dari masyarakat modern bernama propinsi DIY, menyatakan mendukung penuh hal ini.

Sudah saatnya kedewasaan berpolitik di wilayah ini untuk beranjak ke sana. Memberi kesempatan bagi siapa saja, siapa tahu bisa muncul sosok alim dan dekat dengan rakyat sekaliber Ahmad Dineejad. Bukan begitu? [ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 11 Comments »

Apa Yang Haram di Negeri Ini?    Print This Post   Email This Post

Friday, March 30th, 2007

Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.

Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.

[ detail ]

Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 17 Comments »

TK dan SD yang Bagus Menurut Saya    Print This Post   Email This Post

Monday, March 26th, 2007

Sekali lagi, menurut saya. Jadi sangat mungkin informasi ini tidak sesuai atau kurang cocok dengan keinginan/kebutuhan bapak/ibu sekalian. Maka, katakanlah, ini adalah disclaimer awal saya atas informasi di bawah ini. :)

Tulisan ini dipicu dari beberapa pertanyaan baik di shoutbox lama saya (yang sementara saya tutup dulu, sampai saya sempat bikin template baru), maupun di tulisan saya terdahulu yang berjudul Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta.

Taman Kanak-kanak dan Playgroups

Bagi saya, dan menurut beberapa psikolog terkenal (silakan cari sendiri di wikipedia), usia balita sampai 8 tahun adalah usia kritis. Usia dimana anak membutuhkan perhatian lebih, sehingga dia akan mendapatkan dasar yang paling mantap untuk menapaki dunia kedewasaannya nanti.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta | 60 Comments »

Blandongan, Ketika Jawa Timur Menguasai Jogja    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 31st, 2007

Tidak ada term politik secara langsung dari kalimat judul di atas. Kisah ini adalah kisah kuliner biasa saja, sebuah kekaguman. Blandongan adalah nama sebuah tempat ngangkring (duduk santai, ngobrol dan minum kopi atau sejenisnya) di wilayah selatan Gowok.

Di Blandongan ini pula, ratusan anak muda ngumpul pas malam minggu. Kebetulan malam minggu kemarin saya berkesempatan ngobrol dengan teman-teman lama di tempat ini. Ramai sekali. Dari teman saya yang sangat rajin keliling daerah, saya mendapatkan informasi lebih tentang tempat ini.

Kawan saya itu, Rinto Andriono, mengatakan bahwa blandongan sebenarnya adalah tempat ngopi biasa di Jawa Timur. Hampir di setiap pinggir jalan ada tempat minum kopi yang santai seperti ini. Nah, akhirnya dibawalah konsep tersebut ke Yogyakarta. Dipadukan dengan budaya ngangkring dan lesehan, jadilah tempat ini menjadi tempat favorit.

Ada hal-hal yang cukup unik di tempat ini, saya akan review satu per satu sependek pengetahuan saya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 27 Comments »

Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 17th, 2007

Pendidikan anak, dalam hemat saya, adalah sebuah pijakan awal bagi seseorang untuk mencapai satu “bentuk”. Proses awal pendewasaan, ibarat penempatan pondasi ketika kita sedang membangun rumah.

Oleh karenanya saya sangat peduli dengan pendidikan ini, apalagi jika kita mencoba mengikuti sebuah teori tentang perkembangan sikap seseorang. Menurut teori tersebut, sebuah sikap dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu: lingkungan, pendidikan dan orang tua. Dari sini terlihat bahwa pendidikan memiliki porsi yang lumayan besar.

Maka kali ini saya akan coba mengulas dua metode pendidikan yang dilangsungkan oleh dua lembaga pendidikan yang berbeda.

Metode I : Disiplin Adalah Segalanya

Metode ini digunakan oleh sebuah lembaga pendidikan swasta yang terkenal di Yogyakarta. Lebih tepatnya, hampir semua lembaga pendidikan di kota ini menganut kepercayaan bahwa seorang anak harus diajarkan disiplin secara ketat sejak dini. Dan lembaga pendidikan yang terkenal sebagai lembaga teladan di kota ini, sebuah sekolah dasar muhammadiyah terkenal ataupun TK yang tak kalah terkenal dengan embel-embel anak sholeh, adalah contoh lembaga yang menerapkannya dengan patuh.

Mari kita tengok bagaimana mereka memulai aktivitas belajar-mengajar. Dalam lembaga ini, terutama SD yang terkenal tersebut, aktivitas dimulai sejak pagi sekali. Guru diharuskan datang sebelum murid datang. Maka tak heran jika guru sudah berjejer di depan sekolah ketika murid-murid datang.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 45 Comments »

Orang Dewasa Itu.. Anak-anak Itu…    Print This Post   Email This Post

Tuesday, January 9th, 2007

Sebuah pagi yang cerah, hari Minggu kemarin, dengan kelelahan yang menumpuk menunggu untuk dilampiaskan dengan bermalasan seharian. Sebenarnya bulan ini tidak pantas untuk menikmati hari cerah, bagaimanapun kita belum cukup puas dengan hujan yang turun, namun tak apalah toh tubuh butuh istirahat.

Jam 10:00 pagi, ketika sedang menimbang pertanyaan sulit “mandi atau tidak”, saya kedatangan tamu. Teman saya, Rinto dan Dati dengan anaknya. Wah, senang saya. Pertama karena alasan untuk menunda mandi jadi jelas, kedua karena saya memang merindukan mereka.

Rinto dan Dati ini adalah pegiat organisasi yang saya kenal sudah sejak lama. Kedatangan mereka dengan anaknya, Lintang, mewarnai hari cerah itu dengan warna yang lebih sejuk. Terutama Lintang, yang mengenal saya sebagai orang gondrong. Apa daya, rambut sudah terpotong. :)

Mengapa sih..

Dan di sinilah awal kisah alasan saya untuk menulis artikel ini. Lintang, perempuan kecil usia 3 atau 4 tahun, yang lincah dan lucu ternyata menyimpan kisah-kisah yang dalam pandangan saya layak dicatat.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 20 Comments »