Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Yogyakarta’

Ledek, Sebuah Kisah tentang Peralihan    Print This Post   Email This Post

Tuesday, April 5th, 2011

Apa yang teman-teman ketahui tentang lèdhèk? Masihkah kalian mengingatnya? Saya bukan sedang membicarakan lèdhèk munyuk (kera), tetapi tari lèdhèk yang dimainkan oleh manusia. Jika teman-teman masih ingat, saya sungguh ikut berbahagia, mungkin bisa sedikit menambahkan apa yang belum saya paparkan di sini. Bagi teman-teman, yang ingat maupun tidak, tahu maupun tidak, ijinkan saya bercerita tentang sebuah kisah di masa lalu, di tahun 1980-an, di sebuah wilayah di Bantul Selatan.

Berkah pada Sebuah Ciuman Penari Lèdhèk

Saya tidak sedang mengada-ada atau mengarang, meski mungkin saja bisa jadi apa yang saya ceritakan ini belum ada di wikipedia.org hehe. Kisah ini tentang teman saya, seorang muda dengan kulit putih bersih anak dari keluarga pedagang. Saya ingat betul, meskipun konsep warung 24 jam belum membudaya di dunia, warung ini sudah menerapkan prinsip tersebut. Bukan berarti warungnya buka 24 jam, tapi Anda boleh mengetuk pintunya kapan saja, jika memang ada kebutuhan mendesak. Tapi mungkin memang demikianlah adanya sebuah warung di kampung. :)

Rumah saya dengan rumah teman saya ini terpaut kurang lebih 500 meter jaraknya. Mungkin kalau ditarik garis lurus sih tidak sampai sejauh itu, namun meskipun sudah lewat halaman tetangga, tetap harus berbelok-belok untuk mencapai rumahnya. Saya termasuk jarang main dengannya sebenarnya, tetapi bisa dipastikan minimal sebulan sekali, tubuh kecil saya mendatangi rumahnya, dan sebuah suara yang juga kecil menyeruak di antara obrolan para pembeli,”lék, nyuwun lisah patra sedasa liter”. Lalu pulang menempuh jalan yang berbelok-belok tadi, dengan minimal meletakkan jerigen satu kali untuk mengistirahatkan tangan. Maklum, tubuh saya kecil sekali waktu itu.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 7 Comments »

Tentang Sesuatu yang Dimulai dari Kecil    Print This Post   Email This Post

Thursday, March 17th, 2011

Adalah kebetulan, terserah bagaimana Anda memaknai tentang kata kebetulan itu, saya hari ini bertemu dengan orang hebat. Dia adalah Invani, seorang pemudi yang mempunyai semangat luar biasa, yang sedemikian pedulinya dengan lingkungan sosialnya, lingkungan sosial kita juga.

Pertemuan ini memang diawali dengan sebuah kegiatan yang bersifat kerjaan, karena kebetulan (sekali lagi) dia adalah manajer untuk sebuah pertunjukan/performance dari seorang seniman Yogya, Eko Nugroho. Hal tentang Eko, perlu kusimpan dulu, karena tidak cukup melalui satu tulisan menjabarkan tentang dia. :)

Vani, demikian dia akrab dipanggil, bersama kekasihnya (semacam kisah romantis aktivis :D) menggagas sebuah ruang bernama Kecil Bergerak. Ruang yang tanpa dinding menurutku, karena melalui obrolan panjang yang dilahirkan oleh hujan deras di seputaran Taman Budaya Yogyakarta ini, uraian dia tentang kegiatannya sungguh sangat luar biasa. Menciptakan ruang yang hingga saat ini kita belum pernah temukan dimanapun.

[ detail ]

Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 6 Comments »

Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, December 15th, 2010

Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?

Tulisan ini hadir sebagai reaksi atas ungkapan Bapak Ichlasul Amal, mantan rektor UGM, di surat kabar online Suara Merdeka. Pernyataan beliau dalam menanggapi Sidang Rakyat Yogya sungguh di luar perkiraan. Dalam berita tersebut Bapak Ichlasul Amal memilih kalimat yang menyakitkan, dengan menyebut bahwa Sidang Rakyat Yogyakarta sebagai aksi show of force, cara lama yang dipakai PKI.

Saya tiba-tiba merasa seakan sedang melihat sosok yang berbeda, sosok yang sama sekali lain dengan yang dulu sempat saya kenal. Bukankah beliau juga ikut dalam Pisowanan Ageng pada Mei 1998, ketika terjadi kekisruhan dan penculikan dimana-mana? Bukankah beliau juga ada di antara kami ketika berjalan dari UGM ke Alun-Alun Yogyakarta? Ataukah waktu itu adalah beliau yang lain? Beliau yang masih murni dan masih bisa mendengar suara rakyat, mungkin?

Dua Kesalahan Besar Ichlasul Amal

Terkait pernyataan beliau tersebut, saya menggarisbawahi dua hal yang seakan tidak digubris oleh beliau. Kesalahan pertama beliau adalah memandang rendah semangat guyub rukun dan bahu membahu masyarakat Yogya. Saya tidak percaya kalau beliau tidak tahu mengenai hal ini, dan saya sangat tidak percaya kalau beliau tidak pernah mendapat ajakan kerjabakti sekalipun dari kampung tempat beliau tinggal di Yogya.

Atau bisa jadi saya salah? Bisa jadi beliau memang tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitarnya? Sibuk dengan menara gading dan singgasana kegurubesarannya? Sungguh ironis seorang guru ilmu sosial tapi tidak bersosial. Kebetulan saya tinggal di kampung yang aktif membuat pertemuan sebulan sekali pak, belum lama ini kami bekerja bakti memperbaiki jalan yang rusak. Tidak ada uang yang bicara di sana, tidak ada kepentingan politik, sepenuhnya didasari oleh kebutuhan bersama. Tidakkah bapak melihat semangat ini di balik berbondong-bondongnya warga Yogyakarta di Sidang Rakyat kemarin? Atau memang tuduhan saya benar, sampeyan lebih nyaman bertahta di singgasana keilmuan sampeyan, dan beranggapan mempunyai kuasa sehingga rakyat yang sampeyan pandang seperti pion-pion itu bisa sampeyan baca satu per satu isi kepala dan hatinya?

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 12 Comments »

Yogyakarta: Untuk Apa Mempertahankan Status Istimewa    Print This Post   Email This Post

Monday, December 13th, 2010

Polemik tentang hal ini sudah sebulan ini bergulir. Tentu guliran isu ini tidak akan sebesar dan semasif ini kalau tidak ada pemicu utamanya, dan alangkah kebetulan pemicunya justru pucuk pimpinan di negeri ini sendiri, SBY. Penggalan kalimat yang dirasa paling menyakitkan bagi rakyat Yogyakarta adalah “Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi”. Pernyataan ini menohok dalam ke hati warga Yogyakarta. Kelas menengah di wilayah ini, mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tentu saja tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena sudah tercatat dalam sejarah dari awal hingga keberadaan negeri ini saat ini, Yogyakarta tak pernah lekang menjadi tempat yang aktif menjadi penggerak demokrasi. Kelas menengah yang selama ini bisa dibilang hidup di dunianya, sibuk dengan kehidupannya, kini turun ke gelanggang dengan opini dan aksinya.

Pak Beye sudah “meralat” pernyataannya itu dengan mengatakan bahwa tujuan dia adalah menegakkan demokrasi di wilayah ini, dan salah satu pilar yang harus ditegakkan adalah bentuk pemilihan langsung kepala daerah. Namun reaksi atas reaksi ini justru menimbulkan reaksi lebih baru lagi, kini pernyataan “Penetapan adalah harga mati” mulai mencuat. Aksi reaksi ini, patut dicatat, adalah bentuk ketidak arifan penguasa dalam menyikapi rakyatnya.

Namun, terlepas dari ketidakcakapan pemimpin kita, yang mana sebenarnya tidak bisa kita tuntut karena dalam kampanyenya dulu yang ditonjolkan adalah “ganteng”-nya, mari kita bertanya kembali, apakah memang perlu mempertahankan status keistimewaan Yogyakarta?

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 27 Comments »

Yogya, Tempat Harapan Tak Pernah Padam    Print This Post   Email This Post

Sunday, November 7th, 2010

Merapi bergolak kembali tiga hari yang lalu, hujan pasir melanda sebagian besar wilayah Jogja utara. Para pencetus kata “seyogyanya saya utarakan” berbondong-bondong mengungsi ke bawah. Kedatangan para pengungsi ini, langsung disambut dengan berbagai hal yang mengharukan. Dari mulai siraman air bersih ke kaca-kaca mobil yang lewat, yang tertutup pasir dan abu, hingga tulisan besar-besar “silakan masuk ke sini bagi para pengungsi” di beberapa rumah. Saya terharu

Tidak harus menunggu lama, tanpa ada satu instruksi berupa rentetan keharusan-keharusan, warga Jogja bahu membahu membantu para pengungsi. Bahkan simbah-simbahpun ikut membuat nasi bungkus agar para pengungsi tidak kelaparan. Para pemuda bergabung dalam posko-posko mengkoordinir bantuan dan mendistribusikannya. JalinMerapi, lingkar komunitas yang terdiri dari pegiat radio komunitas, yang sudah berada di seputar merapi sejak beberapa minggu, menjadi sumber informasi utama pendistribusian bantuan.

Menanggapi kejadian ini pula, warga online Jogja, mereka yang aktif di dunia blog, twitter, plurk, facebook, friendster, komunitas blackberry dan lain-lain, bergabung dalam satu jaringan koordinasi JogjaOnliners. Keberadaan mereka seakan menjawab kegelisahan sebagian besar pengamat sosial akan punahnya kebersamaan dikarenakan hadirnya teknologi.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 5 Comments »

Apa Salahnya Mengkaitkan Bencana dengan Moral?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, October 27th, 2010

Bencana kembali lagi terjadi di negeri ini. Di Wasior, Papua, banjir bandang menyapu wilayah tersebut. Kini penduduk di sana masih dalam pengungsian. Disusul kemudian dengan status Merapi yang naik menjadi waspada, lalu dikejutkan dengan Tsunami di Mentawai Sumatera Barat. Lalu Merapi benar-benar bergolak, memakan korban jiwa –yang hingga saat ini tercatat– 16 orang.

Pada saat seperti ini, nuansa kesatuan bangsa menguat. Aliran dukungan dari mulai ucapan, twit, hingga bantuan bergerak dengan pasti. Tak kurang gaung terjadinya bencana ini mendapat sorotan publik internasional sehingga bahkan aktor terkenal seperti Tom Cruise-pun menyempatkan diri menggoogle translatekan ungkapan hatinya dan menyampaikannya lewat twitter. Bukan masalah siapa menyampaikan apa, saya hanya mencatat ini sebagai sebuah wujud sisi kemanusiaan yang nyata.

Permasalahan Moral

Lalu mencuatlah kembali soal moral, sebuah upaya mengcounter dan membenarkan diri sendiri, sebuah pemosisian untuk tidak mau mengakui diri bersalah. Saya tidak mau peduli dengan itu, saya hanya ingin menyampaikan ini kepada sahabatku semua. Tentang judul postingan kali ini.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 8 Comments »

Tentang Pungli di Lokasi Wisata Kaliurang    Print This Post   Email This Post

Monday, February 15th, 2010

Obyek wisata Kaliurang, salah satu ikon wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada di kaki Gunung Merapi, menjanjikan suasana adem dan romantis. Di daerah ini selain tersebar berbagai villa dan penginapan yang mengundang pengunjung untuk melewatkan waktu dan melepas lelah dalam suasana yang nyaman, juga hadir taman rekreasi untuk anak-anak. Atas alasan kedua inilah saya mengajak anak dan istri ke sana.

Dulu, ketika masih berpacaran, sering juga kami (saya dan istri) mengunjungi daerah ini. Berbincang tentang berbagai hal, yang sebenarnya lebih sering diskusi membahas kebusukan dunia luar, hingga lewat sekian penanda waktu. Maka mengajak anak ke sini seakan mengajak dia untuk napak tilas perjalanan cinta orang tuanya. Walaupun pacarannya orang tua Mata Air sebenarnya agak jauh juga dari kata romantis :)

Dengan berbekal karunia Allah berupa sebuah mobil tua, menembus rintik hujan di awal tahun baru Imlek, penuh semangat kami menuju daerah wisata itu. Tidak banyak yang berubah dari suasana perjalanan, selain lalu lalang kendaraan mewah yang semakin hari sepertinya semakin banyak saja di Yogya.

Pungli! Itu namanya.
Kaget sekaligus sedih saya mendapati kenyataan ini. Untunglah saat itu, Mata Air sedang bobok sehingga dia tidak melihat secara langsung kebobrokan pengelola taman wisata ini. Kami memasuki gerbang lokasi wisata ini, disambut oleh bapak petugas dengan kertas di tangannya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, blog, Daily Life | 15 Comments »

Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 27th, 2010

Sedih sekali saya mendapatkan kabar ini, kenapa masih juga hal seperti ini terjadi? Berikut ini adalah paparan dari istri kawan saya, yang kemudian ditulis di notes Facebook beliau di sini. Saya copy paste dengan mengubah layout text agar lebih mudah dibaca.

RS JIH Yogyakarta dan dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA sama sekali tidak Professional

NOTE :

1. Tulisan ini dibuat oleh istri saya dan dikirimkan melalui email kepada saya atas permintaan saya , dan saya (bino oetomo) yang menyebarkan nya. Dengan demikian saya mengambil alih segala konsekuensi hukum yang mungkin timbul atas penyebaran tulisan ini.
2. Mohon bantuan untuk menyebarkan tulisan ini seluas luas nya, tanpa melakukan perubahan apapun
3. Orisinalitas penyebaran akan dibandingkan dengan yang ada di facebook saya

=============================================================================

Kronologis:
Selasa 26 Januari 2009, jam 09.30 saya membawa putri saya Jasmine Prameswari ke RS JIH.

Kami mendaftar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Elisa SpA. Sudah 5 hari jasmine demam,sakit kepala dan sakit perut yang terus berulang.

Dokter Elisa mencurigai demam berdarah,jadi jasmine diminta untuk cek darah. Hasilnya semuanya bagus kecuali Leukosit yang tinggi,jadi mungkin ada infeksi tapi tidak jelas dimana. Karena sakit perut yang berulang, dokter Elisa merujuk kami ke dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA.

Kami dibuatkan janji dengan dokter bedah tersebut saat kami masih diruangan dokter Elisa,dan dikonfirm oleh perawat bahwa nanti dokter bedahnya jam 15.00 wib.

Tentunya karena masih jam 12.20 kami pulang kerumah.

Selasa 26 januari 2009,
Jam 14.30 saya menelpon JIH untuk menyanyakan apakah dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA jadwalnya jam 15.00??
Jawabnya, nanti jam !6.00 ibu.
Ok lah,kami undur satu jam,padahal kami sudah siap berangkat.

Pukul 15.30 kami berangkat ke JIH,dalam perjalanan (krg lebih 300 meter sblm JIH) saya ditelpon oleh entah perawat atau front office menanyakan apakah appointment dengan dokter Ahmad Mahmudi akan dilaksanakan, saya jawab “iya,kami sudah dekat dari JIH”.

Kami mendaftar dan mendapat nomor urut satu, kemudian saya ingat betul,petugas pendaftaran mengatakan dokternya sedang dalam perjalanan.

Kami menunggu di depan ruang periksa dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA di poliklinik sebelah timur. Setelah 30 menit,suami mulai bertanya ke petugas jam berapa dokternya mau datang, dan dijawab beliaunya sedang dalam perjalanan.
Perasaan dari jam 16.00 tadi jawabnya masih dalam perjalanan, perjalanan dari mana ke mana nih?

Sementara Jasmine mulai demam lagi, mengeluh perutnya sakit dan badannya pegal.
Saya mencoba menenangkan Jasmine dengan memintanya untuk tidur sambil saya gendong.
Semakin lama saya merasa suhu tubuhnya semakin hangat,dan saya minta suami bertanya lagi jam berapa dokternya datang.
Dan lagi2 dijawab masih diperjalanan.

Pukul 16.50 sambil menggendong Jasmine saya ke meja perawat dipoliklinik timur,” Mbak ini dokternya jadi datang nggak sih?? ini anak saya demam,jam berapa datangnya??”
Perawat menjawab ” barusan saya hubungi,beliau baru sampai taman siswa”.
Saya menuju lobby,dan kami bertanya lagi dan lagi2 belum mendapat kepastian.
Petugas pendaftaran terakhir bilang, “pak katanya 25 menit lagi”.
Kami minta untuk bertemu manajer tapi dengan berbagai macam alasan belum bisa.
Setelah suami mengancam untuk menyalakan alarm kebakaran (catatan#A),baru PR manajernya mau menemui padahal beliaunya dari tadi ada di depan mata kita.

Selanjutnya kami putuskan untuk pulang , dalam perjalanan kami kembali di telpon untuk menanyakan,apakah jadi bertemu dengan dokter Ahmad Mahmudi
SpB,SpBA, tentu saja kami jawab TIDAK (catatan#B).

dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA/ RS JIH yang terhormat,
Kami datang ke JIH untuk berkonsultasi dgn anda,
membawa anak kami yang sedang sakit,bukan untuk piknik.
Kami sudah semalaman tidak bisa tidur,seharian dirumah sakit mengantri,menunggu hasil laboratorium,dirujuk kepada anda oleh dokter yang sangat kami percaya (kami sudah 7 tahun bersama dr.Elisa dan blm pernah kecewa). Dan secara psikologis kami disiksa karena harus menunggu anda selama satu jam,dan akhirnya tanpa hasil karena sampai kami memutuskan pulang anda belum datang dengan alasan masih dalam perjalanan( dari jam 16.00 sampai 17.00),padahal di jadwal praktek jelas tertulis pukul 15.00-17.00.

Dokter yang terhormat kalau anda memang tidak bisa datang atau harus terlambat sampaikan,informasikan,jadi anda tidak membuat pasien resah.
Apakah karena anda merasa dibutuhkan jadi anda bisa datang seenaknya,tanpa perlu berpikir apakah pasien anda sedang demamtinggi,atau sedang nyeri perutnya, atau apapun rasa sakit yang diderita.

Untuk rumah sakit mohon bisa lebih tegas dengan peraturan yang anda buat,dan jadwal yang pastinya sudah disepakati oleh rumah sakit dan dokter yang bersangkutan.
Kami pasien/ orangtua pasien merasa diperlakukan seenaknya oleh salah satu dokter anda. atau karena ini sudah bukan rahasia umum bahwa “doctor’s playing God” jadi hanya perlu minta maaf dan menganggap semuanya selesai tanpa ada perbaikan apapun.

Sangat TIDAK PROFESIONAL

Catatan :
#A. Urutan bertemu “manager” .. kurang lebih nya :
1. Saya mengatakan “saya ingin bertemu manager” , dan di jawab “Bapak silahkan tunggu
2. Saya menunggu
3. Beberapa menit kemudian saya kembali menanyakan dan sekalian mengancam akan menyalakan alarm kebakaran sebagai salah satu cara memanggil manager.
4. Saya juga dua kali di temui karyawati yang berusaha menanyakan permasalahan , saya menjawab “MBak saya ini mau marah. Apakah mbak mau menerima kemarahan saya .. atau panggil manager anda”

#B : Tepatnya saya mengatakan : “Persetan dengan dokter itu”

-Bino-

Posted in Kesehatan, Neolib, Yogyakarta | 10 Comments »

Parkir Menginap di Bandara Adisutjipto    Print This Post   Email This Post

Saturday, July 4th, 2009

Informasi ini sebenarnya sudah sangat terlambat, artinya fasilitas parkir menginap di bandara tersebut sudah lama ada. Namun saya ingin membagi informasi yang lain, bagaimana mengakali parkir menginap di bandara? :)

Sekedar informasi, parkir menginap di bandara disediakan oleh penduduk sekitar, jadi bukan fasilitas resmi dari bandara. Biasanya saya ke Jakarta hanyalah sebentar, berangkat pagi dari Yogya, sore sudah di Yogya lagi. Jadi parkir non menginap sudah cukup bagi saya. Namun akhir-akhir ini saya harus menginap di kota tujuan, baik Jakarta maupun yang terakhir kemarin ke Balikpapan.

Waktu ke Jakarta, sekitar seminggu yang lalu, saya memarkir kendaraan saya di bandara. Biaya parkir membuat saya tersedak. Untuk motor  biayanya Rp. 10.000,- per malam, sementara untuk mobil Rp. 20.000,- per malam. Karena sudah terlanjur memasukkan motor ke tempat parkir, dan waktu boarding tinggal sebentar lagi, maka saya tetap parkir di sana. Waktu bayar terasa nyesek di dada :D lha kan mending naik taksi, biaya cuma terpaut sekitar Rp. 5.000,- tapi bisa duduk tenang dan bawaan tidak menjadi beban (ke Jakarta kemarin sekitar 3 hari saya).

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, blog, how to, Daily Life | 6 Comments »

Sekedar Urun Rembug buat Para Caleg dan Partai    Print This Post   Email This Post

Thursday, February 19th, 2009

Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.

Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?

Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.

Inti dari Kampanye

Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »