Catatan Mata Air #2
Tuesday, November 27th, 2007

Jenis Kelamin: Laki-laki
Hobi: Tidur, Pipis, Eek dan Mimik ASI
Usia: 3 Minggu
Saat ini sedang penuh dengan bintik-bintik di wajah, katanya sih buras ASI, namun dokternya bilang itu semacam alergi hanya saja tidak tahu alergi apa. Berdasar informasi banyak orang, baik dokter maupun mas Sonson tetangga sebelah, tidak perlu diobati apapun. Ya sudah, semoga nanti hilang dan mulus kembali.
Posted in Yogyakarta, Daily Life | 18 Comments »
Playgroup, Pilihan ataukah Keterpaksaan?
Saturday, July 28th, 2007
Dua hari yang lalu saya tersentil oleh sebuah komentar di blog saya ini. Pengirimnya tidak menyertakan alamat blog dia, mengaku sebagai mas koko. Isinya adalah sebagai berikut:
koko Says:
July 26th, 2007 at 3:32 pm
Kayaknya lmyan juga da playgrup kayak gitu.Kita jd ga ssah ngurus anak,klo rewel bawa ja kplaygroup itu.
Ada dua hal yang menggelitik di pikiran saya. Pertama, adalah perasaan bahwa informasi mengenai playgroup ini cukup bermanfaat. Namun pikiran saya yang lain, yang justru membuat saya merasa perlu untuk menuliskan opini ini adalah bahwa playgroup dilihat sebagai tempat penitipan anak. Wah, saya jadi tersentil. Terimakasih Mas Koko
Manusia Karir dan Mandat re-Generasi
Sub-judul saya jadinya cukup menyentil juga, sekedar mengimbangi sentilan cerdas tersebut.
Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan teknologi dan percepatan pergerakan jaman menuntut kita semua untuk bekerja lebih keras. Beratnya kehidupan ditambah dengan bayang-bayang beban pendidikan bagi anak, generasi penerus kita, tentunya mau tak mau mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi.
Kehidupan di negeri ini memang membuat segala sesuatunya bisa dipandang tidak adil, ialah manakala kita lihat betapa jenjang/gap yang sedemikian tinggi di antara tiap kelas. Orang yang bekerja keras membanting tulang dari pagi hingga petang, penghasilannya bisa jadi jauh di bawah mereka yang justru –kelihatannya– tidak bekerja.
Posted in Pendidikan, Yogyakarta | 13 Comments »
Jangan-jangan Dia Teroris…
Friday, July 13th, 2007
Akhir-akhir ini pertanyaan bernada khawatir sekaligus tuduhan ini nampaknya semakin melanda masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman. Berita besar-besaran menyangkut penangkapan “what so called” teroris di beberapa daerah di Sleman, telah berhasil menciptakan stigma baru di benak penduduk wilayah ini.
Tak kurang, saya-pun mendapati bagiannya. Kebetulan saya mengontrak sebuah rumah di wilayah Donoharjo Sleman. Rumah ini sudah saya kontrak semenjak akhir Januari 2007, dan sampai sekarang belum sempat saya tempati. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib yang menjadikannya begini. Bagaimana tidak, dari mulai saya berangkat ke Kalimantan, disusul saya sakit sehingga musti berhari-hari terkapar. Belum cukup ini saja, selang beberapa hari kemudian saya mendapati bahwa istri saya hamil. Tentunya trimester pertama tidak bisa atau dalam kata lain tidak saya relakan istri saya untuk tinggal di rumah kontrakan yang belum sempat saya urus itu.
Dengan demikian kondisi rumah kontrakan saya barulah berisi dus-dus yang masih berantakan. Lampu-lampu juga belum terpasang sehingga kondisinya selalu gelap. Kecuali lampu depan, karena lampu teras selalu saya hidupkan. Rencana untuk mulai menempati rumah kontrakan setelah trimester pertama lewat, terpaksa tidak bisa saya lakukan. Hal ini karena disusul dengan meninggalnya ayah saya. Kesibukan perjalanan Bantul-Yogyakarta, jelas menyita waktu dan tenaga saya. Dan sialnya, motor saya yang kemudian protes duluan. Dari mulai stang seker (stang piston) sampai laker roda dan shock depan motor, semuanya harus diganti. Walhasil hari-hari saya dipenuhi dengan target mencapai 1500km, alias inreyen. Dengan kondisi ini, mau tak mau rencana untuk menata rumah kontrakan sekali lagi terhambat.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 17 Comments »
Dagadukan Katamu!
Wednesday, July 4th, 2007
Ceritanya saya mendapatkan ide dari script pembalik kata. Pembalik kata itu bisa Anda dapatkan di sini.
Kemudian saya teringat dengan scriptnya Hericz di hericz.net, text ABG Generator. Saya jadi inget dulu pernah pingin bikin script buat bikin dagadu-style. Maka, setelah hantam kromo kanan-kiri, jadilah:
http://rony.dgworks.net/uploads/dagadu/index.html
Masih banyak error, tapi ya … daripada tidak ada. Hihihi..
Vale, demi budaya
el rony, mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada pak Andika Triwidada.
tambahan:
untuk ulasan bahasa “prokem” dagadu, bisa dibaca di blognya matriphe di sini.
Posted in Bahasa Jawa, Yogyakarta, Culture, Technology | 30 Comments »
Taman Pintar Yogyakarta, Tambah Pintarkah Kita?
Wednesday, June 20th, 2007
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya terdidik
- Rony Agung Rahmanto
Yogyakarta, yang telah cukup lama di-sekaligus ter-tasbihkan sebagai kota pendidikan, memperkuat ciri dirinya dengan menghadirkan sebuah sarana bermain sekaligus menambah pengetahuan. Tempat tersebut dinamakan Taman Pintar. Lokasi Taman Pintar ada di bekas Shopping Center (pusat jual-beli buku dengan harga miring), jadi menurut saya dari sebuah taman pintar menuju the taman pintar (pakai the karena lebih modern dan memang bentuknya “lebih taman”).
Saya tidak sedang ingin menceritakan detil mengenai taman tersebut. Tulisan ini saya buat untuk memperlihatkan taman pintar melalui sisi pengunjungnya, anak-anak dari kelas bawah. Maaf jika saya menggunakan terminologi kelas dan kemudian diikuti dengan kata bawah, saya sekedar ingin mempermudah identifikasi kelompok yang saya tunjuk bagi pembaca, dan terminologi kelas bawah sudahlah sangat jamak dan dimahfumi. Jadi, maaf.
Rumah Pengetahuan Amartya
Tersebutlah sebuah pondok rakyat, sebuah rumah yang disetting sebagai rumah tempat bertemunya pengetahuan. Tempat ini menampung kehausan-kehausan pengetahuan anak-anak. Sebuah rumah yang dikontrak oleh seorang aktivis HAM, seorang yang sudah tidak asing lagi bagi banyak khalayak, Eko Prasetyo sang penulis “orang miskin dilarang sekolah”.
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, Culture | 21 Comments »
Quovadis FKY: Tentang Modernitas dan Tradisionalisme
Wednesday, June 13th, 2007
Sebuah perbincangan sore di antara kantuk dan capek. Antara saya dengan teman baik saya, mas Iwan alias temukonco yang manggon di theaterofmind.com. Perbincangan ini sebenarnya lagi, diawali oleh rasan-rasan mbikin mainan baru. Iya, mainan, karena kami bermain biar dapat duit. Bekerja berdasar hobi, hehe.
Seperti biasanya, sebagaimana obrolan sore para warga Jogja yang lain, obrolanpun mengalir ke wilayah sekitar, melebar dan akhirnya menyentuh FKY. Festival Kebudayaan Yogyakarta, sebuah ikon kebudayaan yang lahir dari kreativitas pemuda dan sekaligus seniman yang ada di Yogyakarta.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Semiotics | 9 Comments »
Taspen I - Mengurus UDW
Monday, May 14th, 2007
Tulisan ini saya buat dengan tujuan berbagi informasi mengenai lika-liku mengurus surat-surat berkait dengan PT TASPEN. Tulisan ini rencananya akan saya buat minimal dalam dua tahap, yaitu dari mulai mengurus UDW (uang duka wafat) hingga SPPT Janda. Semoga berguna.
Bagi teman-teman dan saudara sekalian yang memiliki orang tua pegawai negeri, atau bahkan Anda sendiri yang pegawai negeri sipil, tentu tidak asing dengan nama TASPEN. Tabungan Asuransi Pensiun adalah sebuah perusahaan yang menangani biaya pensiun untuk pegawai negeri. Kebetulan almarhum ayah saya adalah pensiunan pegawai negeri sipil, dulu beliau menjabat sebagai Kepala SMP.
Pada tulisan awal ini saya akan berbagi mengenai urutan pengurusan dana UDW (uang duka wafat). Informasi ini tentu saja hanya berlaku bagi pensiunan pegawai negeri yang meninggal. Dan pegawai negeri tersebut pensiun secara normal (bukan tidak terhormat atau alasan lain).
[ detail ]
Posted in Yogyakarta, Culture, how to | 13 Comments »
Selamat Pulang
Monday, May 7th, 2007
Ayah..
Kamis, 3 Mei 2007 05:45 WIB
Semoga Allah menerimamu.
vale, demi…
el rony, merencanakan berbagi langkah mengurus pensiun janda
nb: manusia selalu saja hanya bisa menyesal.
Posted in Yogyakarta, Daily Life | 19 Comments »
Untuk Kang Pur, Mantan Calon Rektor UGM
Monday, April 23rd, 2007
Terhambat ya kang. Administrasi katanya ya.. Hehe.. ya begitulah. Syarat “berpengalaman” mau nggak mau memang saringan paling handal untuk “menyingkirkan” orang-orang dengan pola pikir “aneh” seperti sampeyan. Sing sabar kang!
Seperti telah saya sampaikan kemarin, dalam tulisan Kabar dari Yogya (lagi), bahwa Kang Pur menjagokan diri menjadi rektor UGM. Kenyataannya langkahnya harus terhenti karena syarat administratif.
Salah satu syarat menjadi rektor adalah memiliki pengalaman tiga tahun menjabat jabatan struktural di lingkungan kampus. Menurut salah satu pengurus senat, syarat ini merujuk pada pengalaman individu memimpin dari mulai KaJur (kepala jurusan) hingga jabatan struktural tinggi baik di tingkat dekanat maupun rektorat.
Kang Pur, dalam formulir persyaratan menuliskan pengalaman sebagai Rektor ISBUJA. ISBUJA sendiri adalah Institut Budaya Jawa, yang didirikannya semenjak tahun 2001 yang lalu. Permasalahannya adalah ISBUJA ini tidak terdaftar dalam KOPERTIS. Sehingga dinyatakan bahwa hal ini tidak sah demi hukum, atau semacam itu. Maka gagallah dia menjadi rektor. [ detail ]
Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, blog | 15 Comments »
Kabar dari Yogya (lagi)
Saturday, April 14th, 2007
“Apakabar?” adalah sebuah kalimat standar bagi siapa saja yang jarang bertemu. Atau sering ketemu tapi hanya sebatas “sliringan” alias ketemu sekilas, begitu ada kesempatan tentunya kita akan menanyakan kabarnya. Itu kalau kita memang peduli, kalau nggak peduli, ngapain ketemu? *lah ngomong apa sih*
Baiklah, saya menulis ini sebenarnya hanya ingin berkabar saja. Tentang suksesi di Yogyakarta. Sedang ada pesta besar di sini, yaitu menghadapi suksesi gubernur dan suksesi rektor UGM.
Kangmas (biar dikira saya berdarah biru gitu) Sultan Hamengkubuwono X, sudah menyatakan bahwa beliau tidak mau lagi menjabat sebagai gubernur. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak tanggapan. Antara lain:
- Dari Para Lurah/kepala desa:
Mereka menyatakan bahwa masyarakat Yogyakarta masih ingin mempunyai gubernur seorang sultan. Kecintaan rakyat Yogyakarta atas Sultan-nya, tidak mengering. Kurang lebih demikian yang disampaikan. - Dari Pejabat Keraton (Gusti Tirun dan Jaya):
Itu hak Sultan. Kalau memang beliau sudah berkeputusan, maka sabda pandhita ratu harus dipatuhi, bukan hanya oleh para kawula tetapi bahkan oleh sang raja sendiri. Kedua orang ini bahkan mengatakan bahwa gubernur tidak harus dari lingkungan kraton. Saya kok sepakat dengan mereka ya, biar sosok sultan tetap bersih dari kotoran-naif bernama politik praktis kekuasaan. - Dari Roy Suryo:
Itu hanya kiasan saja, pertanda. Kalau sultan saja yang paling pantas memimpin Yogya bilang tidak mau dipilih, apalagi yang lain yang jauh lebih tidak berhak, sebaiknya tidak usah mengajukan diri jadi gubernur.
Nah, kurang lebih itu pendapat yang beredar. Pendapat terakhir dari KRMT (yang sekarang sudah jadi KRT karena bukan “mas” lagi) adalah pendapat yang saya rasa paling tidak masuk akal.
Bukan karena saya pro-proletar, ataupun karena saya anti-feodal, ataupun yang lain lagi, tetapi saya hanya tidak membayangkan kalau sampai ada kekosongan kekuasaan. Emangnya Yogyakarta mau menjadi propinsi tanpa Gubernur? Gubernur tidak harus Sultan, bahkan tidak harus dari lingkungan Keraton. Hal itu sudah ditegaskan oleh beliau kangmas (asyik, kayaknya makin akrab saja saya) Sultan sendiri. Saya baik sebagai kawula Yogya maupun sebagai bagian dari masyarakat modern bernama propinsi DIY, menyatakan mendukung penuh hal ini.
Sudah saatnya kedewasaan berpolitik di wilayah ini untuk beranjak ke sana. Memberi kesempatan bagi siapa saja, siapa tahu bisa muncul sosok alim dan dekat dengan rakyat sekaliber Ahmad Dineejad. Bukan begitu? [ detail ]
Posted in Politik, Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 11 Comments »
