Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Yogyakarta’

Tentang Pungli di Lokasi Wisata Kaliurang    Print This Post   Email This Post

Monday, February 15th, 2010

Obyek wisata Kaliurang, salah satu ikon wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada di kaki Gunung Merapi, menjanjikan suasana adem dan romantis. Di daerah ini selain tersebar berbagai villa dan penginapan yang mengundang pengunjung untuk melewatkan waktu dan melepas lelah dalam suasana yang nyaman, juga hadir taman rekreasi untuk anak-anak. Atas alasan kedua inilah saya mengajak anak dan istri ke sana.

Dulu, ketika masih berpacaran, sering juga kami (saya dan istri) mengunjungi daerah ini. Berbincang tentang berbagai hal, yang sebenarnya lebih sering diskusi membahas kebusukan dunia luar, hingga lewat sekian penanda waktu. Maka mengajak anak ke sini seakan mengajak dia untuk napak tilas perjalanan cinta orang tuanya. Walaupun pacarannya orang tua Mata Air sebenarnya agak jauh juga dari kata romantis :)

Dengan berbekal karunia Allah berupa sebuah mobil tua, menembus rintik hujan di awal tahun baru Imlek, penuh semangat kami menuju daerah wisata itu. Tidak banyak yang berubah dari suasana perjalanan, selain lalu lalang kendaraan mewah yang semakin hari sepertinya semakin banyak saja di Yogya.

Pungli! Itu namanya.
Kaget sekaligus sedih saya mendapati kenyataan ini. Untunglah saat itu, Mata Air sedang bobok sehingga dia tidak melihat secara langsung kebobrokan pengelola taman wisata ini. Kami memasuki gerbang lokasi wisata ini, disambut oleh bapak petugas dengan kertas di tangannya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, blog, Daily Life | 15 Comments »

Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 27th, 2010

Sedih sekali saya mendapatkan kabar ini, kenapa masih juga hal seperti ini terjadi? Berikut ini adalah paparan dari istri kawan saya, yang kemudian ditulis di notes Facebook beliau di sini. Saya copy paste dengan mengubah layout text agar lebih mudah dibaca.

RS JIH Yogyakarta dan dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA sama sekali tidak Professional

NOTE :

1. Tulisan ini dibuat oleh istri saya dan dikirimkan melalui email kepada saya atas permintaan saya , dan saya (bino oetomo) yang menyebarkan nya. Dengan demikian saya mengambil alih segala konsekuensi hukum yang mungkin timbul atas penyebaran tulisan ini.
2. Mohon bantuan untuk menyebarkan tulisan ini seluas luas nya, tanpa melakukan perubahan apapun
3. Orisinalitas penyebaran akan dibandingkan dengan yang ada di facebook saya

=============================================================================

Kronologis:
Selasa 26 Januari 2009, jam 09.30 saya membawa putri saya Jasmine Prameswari ke RS JIH.

Kami mendaftar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Elisa SpA. Sudah 5 hari jasmine demam,sakit kepala dan sakit perut yang terus berulang.

Dokter Elisa mencurigai demam berdarah,jadi jasmine diminta untuk cek darah. Hasilnya semuanya bagus kecuali Leukosit yang tinggi,jadi mungkin ada infeksi tapi tidak jelas dimana. Karena sakit perut yang berulang, dokter Elisa merujuk kami ke dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA.

Kami dibuatkan janji dengan dokter bedah tersebut saat kami masih diruangan dokter Elisa,dan dikonfirm oleh perawat bahwa nanti dokter bedahnya jam 15.00 wib.

Tentunya karena masih jam 12.20 kami pulang kerumah.

Selasa 26 januari 2009,
Jam 14.30 saya menelpon JIH untuk menyanyakan apakah dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA jadwalnya jam 15.00??
Jawabnya, nanti jam !6.00 ibu.
Ok lah,kami undur satu jam,padahal kami sudah siap berangkat.

Pukul 15.30 kami berangkat ke JIH,dalam perjalanan (krg lebih 300 meter sblm JIH) saya ditelpon oleh entah perawat atau front office menanyakan apakah appointment dengan dokter Ahmad Mahmudi akan dilaksanakan, saya jawab “iya,kami sudah dekat dari JIH”.

Kami mendaftar dan mendapat nomor urut satu, kemudian saya ingat betul,petugas pendaftaran mengatakan dokternya sedang dalam perjalanan.

Kami menunggu di depan ruang periksa dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA di poliklinik sebelah timur. Setelah 30 menit,suami mulai bertanya ke petugas jam berapa dokternya mau datang, dan dijawab beliaunya sedang dalam perjalanan.
Perasaan dari jam 16.00 tadi jawabnya masih dalam perjalanan, perjalanan dari mana ke mana nih?

Sementara Jasmine mulai demam lagi, mengeluh perutnya sakit dan badannya pegal.
Saya mencoba menenangkan Jasmine dengan memintanya untuk tidur sambil saya gendong.
Semakin lama saya merasa suhu tubuhnya semakin hangat,dan saya minta suami bertanya lagi jam berapa dokternya datang.
Dan lagi2 dijawab masih diperjalanan.

Pukul 16.50 sambil menggendong Jasmine saya ke meja perawat dipoliklinik timur,” Mbak ini dokternya jadi datang nggak sih?? ini anak saya demam,jam berapa datangnya??”
Perawat menjawab ” barusan saya hubungi,beliau baru sampai taman siswa”.
Saya menuju lobby,dan kami bertanya lagi dan lagi2 belum mendapat kepastian.
Petugas pendaftaran terakhir bilang, “pak katanya 25 menit lagi”.
Kami minta untuk bertemu manajer tapi dengan berbagai macam alasan belum bisa.
Setelah suami mengancam untuk menyalakan alarm kebakaran (catatan#A),baru PR manajernya mau menemui padahal beliaunya dari tadi ada di depan mata kita.

Selanjutnya kami putuskan untuk pulang , dalam perjalanan kami kembali di telpon untuk menanyakan,apakah jadi bertemu dengan dokter Ahmad Mahmudi
SpB,SpBA, tentu saja kami jawab TIDAK (catatan#B).

dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA/ RS JIH yang terhormat,
Kami datang ke JIH untuk berkonsultasi dgn anda,
membawa anak kami yang sedang sakit,bukan untuk piknik.
Kami sudah semalaman tidak bisa tidur,seharian dirumah sakit mengantri,menunggu hasil laboratorium,dirujuk kepada anda oleh dokter yang sangat kami percaya (kami sudah 7 tahun bersama dr.Elisa dan blm pernah kecewa). Dan secara psikologis kami disiksa karena harus menunggu anda selama satu jam,dan akhirnya tanpa hasil karena sampai kami memutuskan pulang anda belum datang dengan alasan masih dalam perjalanan( dari jam 16.00 sampai 17.00),padahal di jadwal praktek jelas tertulis pukul 15.00-17.00.

Dokter yang terhormat kalau anda memang tidak bisa datang atau harus terlambat sampaikan,informasikan,jadi anda tidak membuat pasien resah.
Apakah karena anda merasa dibutuhkan jadi anda bisa datang seenaknya,tanpa perlu berpikir apakah pasien anda sedang demamtinggi,atau sedang nyeri perutnya, atau apapun rasa sakit yang diderita.

Untuk rumah sakit mohon bisa lebih tegas dengan peraturan yang anda buat,dan jadwal yang pastinya sudah disepakati oleh rumah sakit dan dokter yang bersangkutan.
Kami pasien/ orangtua pasien merasa diperlakukan seenaknya oleh salah satu dokter anda. atau karena ini sudah bukan rahasia umum bahwa “doctor’s playing God” jadi hanya perlu minta maaf dan menganggap semuanya selesai tanpa ada perbaikan apapun.

Sangat TIDAK PROFESIONAL

Catatan :
#A. Urutan bertemu “manager” .. kurang lebih nya :
1. Saya mengatakan “saya ingin bertemu manager” , dan di jawab “Bapak silahkan tunggu
2. Saya menunggu
3. Beberapa menit kemudian saya kembali menanyakan dan sekalian mengancam akan menyalakan alarm kebakaran sebagai salah satu cara memanggil manager.
4. Saya juga dua kali di temui karyawati yang berusaha menanyakan permasalahan , saya menjawab “MBak saya ini mau marah. Apakah mbak mau menerima kemarahan saya .. atau panggil manager anda”

#B : Tepatnya saya mengatakan : “Persetan dengan dokter itu”

-Bino-

Posted in Kesehatan, Neolib, Yogyakarta | 8 Comments »

Parkir Menginap di Bandara Adisutjipto    Print This Post   Email This Post

Saturday, July 4th, 2009

Informasi ini sebenarnya sudah sangat terlambat, artinya fasilitas parkir menginap di bandara tersebut sudah lama ada. Namun saya ingin membagi informasi yang lain, bagaimana mengakali parkir menginap di bandara? :)

Sekedar informasi, parkir menginap di bandara disediakan oleh penduduk sekitar, jadi bukan fasilitas resmi dari bandara. Biasanya saya ke Jakarta hanyalah sebentar, berangkat pagi dari Yogya, sore sudah di Yogya lagi. Jadi parkir non menginap sudah cukup bagi saya. Namun akhir-akhir ini saya harus menginap di kota tujuan, baik Jakarta maupun yang terakhir kemarin ke Balikpapan.

Waktu ke Jakarta, sekitar seminggu yang lalu, saya memarkir kendaraan saya di bandara. Biaya parkir membuat saya tersedak. Untuk motor  biayanya Rp. 10.000,- per malam, sementara untuk mobil Rp. 20.000,- per malam. Karena sudah terlanjur memasukkan motor ke tempat parkir, dan waktu boarding tinggal sebentar lagi, maka saya tetap parkir di sana. Waktu bayar terasa nyesek di dada :D lha kan mending naik taksi, biaya cuma terpaut sekitar Rp. 5.000,- tapi bisa duduk tenang dan bawaan tidak menjadi beban (ke Jakarta kemarin sekitar 3 hari saya).

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, blog, how to, Daily Life | 6 Comments »

Sekedar Urun Rembug buat Para Caleg dan Partai    Print This Post   Email This Post

Thursday, February 19th, 2009

Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.

Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?

Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.

Inti dari Kampanye

Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »

Heroisme Bodoh!    Print This Post   Email This Post

Monday, October 13th, 2008

Selamat siang semuanya, lama tak ngeblog ya. Sehat saja kan? Maaf lahir bathin buat semuanya. Kali ini saya sedang digelisahkan dengan kebodohan-kebodohan kecil namun fatal dari masyarakat di sekitar kita. Oh ya, mari kita sejenak melipir, minggir, dari segala kampanye politik para partaiers yang makin menggila di berbagai media. Mari kita membahas yang menyangkut hidup kita saja.

Kebodohan seperti apa yang menggelisahkan saya?  Saya mengatakannya kebodohan sok heroik yang diulang-ulang hanya dengan alasan non rasional seperti “toh selama ini baik-baik saja”. Heroisme yang menunggu dirinya sendiri bertemu dengan si naas.

Perilaku Para Pertaminaers Swasta

Ya, merekalah yang saya soroti. Para penjual bensin eceran, para penjaja keliling gas. Pagi hari kemarin, saya memilih mengalah mengerem kendaraan saya agar berjarak cukup jauh dengan sebuah pickup yang mengangkut tabung-tabung LPG 12 kg. Jeritan klakson di belakang saya dengan sengaja saya acuhkan, kebetulan Mata Air (anak saya) justru menikmatinya. Apa pasal saya melakukan hal itu?

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 13 Comments »

Catatan Mata Air #2    Print This Post   Email This Post

Tuesday, November 27th, 2007

Mata Air di suatu pagi

Jenis Kelamin: Laki-laki
Hobi: Tidur, Pipis, Eek dan Mimik ASI
Usia: 3 Minggu

Saat ini sedang penuh dengan bintik-bintik di wajah, katanya sih buras ASI, namun dokternya bilang itu semacam alergi hanya saja tidak tahu alergi apa. Berdasar informasi banyak orang, baik dokter maupun mas Sonson tetangga sebelah, tidak perlu diobati apapun. Ya sudah, semoga nanti hilang dan mulus kembali.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 18 Comments »

Playgroup, Pilihan ataukah Keterpaksaan?    Print This Post   Email This Post

Saturday, July 28th, 2007

Dua hari yang lalu saya tersentil oleh sebuah komentar di blog saya ini. Pengirimnya tidak menyertakan alamat blog dia, mengaku sebagai mas koko. Isinya adalah sebagai berikut:

koko Says:
July 26th, 2007 at 3:32 pm
Kayaknya lmyan juga da playgrup kayak gitu.Kita jd ga ssah ngurus anak,klo rewel bawa ja kplaygroup itu.

Ada dua hal yang menggelitik di pikiran saya. Pertama, adalah perasaan bahwa informasi mengenai playgroup ini cukup bermanfaat. Namun pikiran saya yang lain, yang justru membuat saya merasa perlu untuk menuliskan opini ini adalah bahwa playgroup dilihat sebagai tempat penitipan anak. Wah, saya jadi tersentil. Terimakasih Mas Koko :)

Manusia Karir dan Mandat re-Generasi

Sub-judul saya jadinya cukup menyentil juga, sekedar mengimbangi sentilan cerdas tersebut. :)

Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan teknologi dan percepatan pergerakan jaman menuntut kita semua untuk bekerja lebih keras. Beratnya kehidupan ditambah dengan bayang-bayang beban pendidikan bagi anak, generasi penerus kita, tentunya mau tak mau mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi.

Kehidupan di negeri ini memang membuat segala sesuatunya bisa dipandang tidak adil, ialah manakala kita lihat betapa jenjang/gap yang sedemikian tinggi di antara tiap kelas. Orang yang bekerja keras membanting tulang dari pagi hingga petang, penghasilannya bisa jadi jauh di bawah mereka yang justru –kelihatannya– tidak bekerja.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Yogyakarta | 18 Comments »

Jangan-jangan Dia Teroris…    Print This Post   Email This Post

Friday, July 13th, 2007

Akhir-akhir ini pertanyaan bernada khawatir sekaligus tuduhan ini nampaknya semakin melanda masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman. Berita besar-besaran menyangkut penangkapan “what so called” teroris di beberapa daerah di Sleman, telah berhasil menciptakan stigma baru di benak penduduk wilayah ini.

Tak kurang, saya-pun mendapati bagiannya. Kebetulan saya mengontrak sebuah rumah di wilayah Donoharjo Sleman. Rumah ini sudah saya kontrak semenjak akhir Januari 2007, dan sampai sekarang belum sempat saya tempati. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib yang menjadikannya begini. Bagaimana tidak, dari mulai saya berangkat ke Kalimantan, disusul saya sakit sehingga musti berhari-hari terkapar. Belum cukup ini saja, selang beberapa hari kemudian saya mendapati bahwa istri saya hamil. Tentunya trimester pertama tidak bisa atau dalam kata lain tidak saya relakan istri saya untuk tinggal di rumah kontrakan yang belum sempat saya urus itu.

Dengan demikian kondisi rumah kontrakan saya barulah berisi dus-dus yang masih berantakan. Lampu-lampu juga belum terpasang sehingga kondisinya selalu gelap. Kecuali lampu depan, karena lampu teras selalu saya hidupkan. Rencana untuk mulai menempati rumah kontrakan setelah trimester pertama lewat, terpaksa tidak bisa saya lakukan. Hal ini karena disusul dengan meninggalnya ayah saya. Kesibukan perjalanan Bantul-Yogyakarta, jelas menyita waktu dan tenaga saya. Dan sialnya, motor saya yang kemudian protes duluan. Dari mulai stang seker (stang piston) sampai laker roda dan shock depan motor, semuanya harus diganti. Walhasil hari-hari saya dipenuhi dengan target mencapai 1500km, alias inreyen. Dengan kondisi ini, mau tak mau rencana untuk menata rumah kontrakan sekali lagi terhambat.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 18 Comments »

Dagadukan Katamu!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, July 4th, 2007

Ceritanya saya mendapatkan ide dari script pembalik kata. Pembalik kata itu bisa Anda dapatkan di sini.

Kemudian saya teringat dengan scriptnya Hericz di hericz.net, text ABG Generator. Saya jadi inget dulu pernah pingin bikin script buat bikin dagadu-style. Maka, setelah hantam kromo kanan-kiri, jadilah:

http://rony.dgworks.net/uploads/dagadu/index.html

Masih banyak error, tapi ya … daripada tidak ada. Hihihi..

Vale, demi budaya

el rony, mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada pak Andika Triwidada. :)

tambahan:
untuk ulasan bahasa “prokem” dagadu, bisa dibaca di blognya matriphe di sini.

Posted in Bahasa Jawa, Yogyakarta, Culture, Technology | 35 Comments »

Taman Pintar Yogyakarta, Tambah Pintarkah Kita?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, June 20th, 2007

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya terdidik
- Rony Agung Rahmanto

 

Yogyakarta, yang telah cukup lama di-sekaligus ter-tasbihkan sebagai kota pendidikan, memperkuat ciri dirinya dengan menghadirkan sebuah sarana bermain sekaligus menambah pengetahuan. Tempat tersebut dinamakan Taman Pintar. Lokasi Taman Pintar ada di bekas Shopping Center (pusat jual-beli buku dengan harga miring), jadi menurut saya dari sebuah taman pintar menuju the taman pintar (pakai the karena lebih modern dan memang bentuknya “lebih taman”).

Saya tidak sedang ingin menceritakan detil mengenai taman tersebut. Tulisan ini saya buat untuk memperlihatkan taman pintar melalui sisi pengunjungnya, anak-anak dari kelas bawah. Maaf jika saya menggunakan terminologi kelas dan kemudian diikuti dengan kata bawah, saya sekedar ingin mempermudah identifikasi kelompok yang saya tunjuk bagi pembaca, dan terminologi kelas bawah sudahlah sangat jamak dan dimahfumi. Jadi, maaf.

Rumah Pengetahuan Amartya
Tersebutlah sebuah pondok rakyat, sebuah rumah yang disetting sebagai rumah tempat bertemunya pengetahuan. Tempat ini menampung kehausan-kehausan pengetahuan anak-anak. Sebuah rumah yang dikontrak oleh seorang aktivis HAM, seorang yang sudah tidak asing lagi bagi banyak khalayak, Eko Prasetyo sang penulis “orang miskin dilarang sekolah”.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, Culture | 39 Comments »