Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Yogyakarta’

Seandainya Irul itu New 7 Wonder..    Print This Post   Email This Post

Monday, October 17th, 2011

Ya, ini berandai-andai saja. Sebenarnya perandaian ini dipicu oleh maraknya –lagi– isu soal New 7 Wonder. Bagi teman-teman yang mengikuti kabar kabur seputar kontes idol-idolan ini tentu tahu, bahwa kontes ini sudah berlangsung semenjak tahun 2000. Dan semenjak tahun itu pula, meski sudah memajang deretan “pemenang”, masih juga belum ada kejelasan tentang beberapa hal. Detilnya sih teman-teman bisa baca di blognya Priyadi

Setelah perusahaan (ya, perusahaan, bukan lembaga/foundation) kecil dari Swiss ini mengancam mencopot pulau komodo dari daftar New 7 Wondernya, sebenarnya hiruk pikuk soal inipun sempat mereda. Dikabarkan waktu itu, Indonesia (dalam hal ini dinas budaya dan pariwisata) sempat dengan PD mengajukan diri sebagai tempat pelaksanaan penyerahan award. Namun ternyata perusahaan kecil dari Swiss ini minta sejumlah uang lagi. Karena –mungkin– disbudpar sudah keluar uang banyak untuk kampanye, tidak ada anggaran untuk ini, maka disbudpar menyatakan membatalkan usulan itu. Eh, diancam mau dihapus. Seingatku sih waktu itu sikap pemerintah kita, yaudah hapus saja.

Waktu berlalu, bulan berganti, tahu-tahu muncullah satu sosok politikus. Bak pahlawan, dia katakan “votinglah” biaya sms premium sudah ditanggung olehnya (atau oleh sponsor, demikian bahasa resminya). Maka ramai lagilah kampanye soal New 7 Wonder ini. Masih dibutuhkan 120 juta vote untuk “memenangkan” Pulau Komodo dalam ajang ini.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, blog, Daily Life | 6 Comments »

Apa sih Komunitas Itu?    Print This Post   Email This Post

Monday, October 10th, 2011

Akhir-akhir ini, semakin banyak kegiatan/event yang melibatkan komunitas. Entah mana yang lebih dulu mulai, yang jelas hampir berbarengan pula, muncul berbagai komunitas (terutama online) marak di mana-mana. Menyenangkan sekali menurutku, karena dengan munculnya komunitas ini, terutama saya fokus di komunitas online, memberikan kemungkinan yang lebih luas dalam hal beraktivitas dan pengembangan diri anggotanya.

Saya teringat ketika terjadi musibah bencana erupsi Merapi di Jogja. Koordinasi komunikasi dan bantuan menjadi lebih enak, pengumpulan orang-orangnya juga jadi lebih beragam dan luas dengan adanya komunitas ini. 

Sebenarnya, apa sih komunitas itu?

Sependek pengetahuan saya, komunitas adalah tempat di mana sekelompok orang berkumpul dikarenakan kesamaan ide atau platform, untuk bersama-sama melakukan kegiatan, baik itu untuk mencari pemecahan masalah hingga usaha menawarkan solusi kepada masyarakat sekitar.

Di Yogyakarta sendiri, definisi komunitas ini sangatlah beragam. Satu-satunya cara untuk memperoleh gambaran apa dan bagaimana komunitas itu, yaitu dengan melihatnya lebih dekat. Saya coba absen satu-satu dengan gambaran singkat kegiatan mereka. Sekedar catatan saja, semoga dari teman-teman yang membaca bisa menambahkan komunitas apa yang ada di daerahnya, tidak harus di Yogyakarta saja tentunya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, blog, Daily Life | 22 Comments »

Arogansi Pusat, Arogansi para Penjilat    Print This Post   Email This Post

Tuesday, September 27th, 2011

Hari ini mendapat kabar yang kurang menyenangkan. Kisah usang tentang perlakuan orang pusat kepada orang daerah. Saya ungkap sedikit saja kisahnya. Jadi, sudah beberapa hari ini berlangsung sebuah event besar di satu gedung expo di Yogyakarta. Event ini digelar oleh kementrian dari Jakarta. Tak kurang pimpinan lembaga kementrian itu hadir pada saat pembukaan. Singkat cerita, dimintalah teman-teman Yogya untuk mengisi acara. 

Acara berlangsung tadi malam, 27 September 2011 pukul 18.20WIB. Teman-teman yang memang selalu bergerak tanpa pamrih, tidak melulu memburu uang, bahu membahu menyiapkan acaranya. Alangkah mengecewakannya ketika ternyata di saat acara akan dimulai, panitia masih juga belum memberikan kejelasan soal blocking waktu dan tempat. Hal ini bertambah parah dengan tidak disiapkannya kondisi dan suasana, sehingga konsep acara yang bersifat obrolan jadi berantakan karena ada suara dari booth lain yang mendominasi.

Saya merasakan betul kekecewaan teman-teman yang seakan –istilah jawanya– tidak diuwongke. Apalagi Argamoja yang sudah pontang-panting menyiapkan segalanya, termasuk mengontak para pembicara. Anda semua bisa membayangkan bagaimana jika berada pada posisi dia, sementara dia yang mengundang pembicara, ternyata di lokasi, slide yang disiapkan oleh pembicarapun tidak bisa ditampilkan. Sungguh sebuah hal yang –menurut saya– kurang ajar apa yang dilakukan oleh penyelenggara kegiatan tersebut. Entah di Event Organizer-nya, atau bisa juga di mentalitas khas pegawai yang makan gaji buta, yang jelas apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mencerminkan upaya paling minimal untuk menghargai teman-teman yang tanpa pamrih membantu mereka.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, blog | 8 Comments »

Yogya dalam kepungan proyek    Print This Post   Email This Post

Friday, September 23rd, 2011

Bulan-bulan jelang akhir tahun, sepertinya menjadi bulan langganan untuk proyek-proyek pembangunan fisik. Seperti bulan ini, terhitung semenjak bulan kemarin bahkan, proyek perbaikan jalan, perbaikan gorong-gorong hingga jembatan dan penanaman kabel optik, mewarnai hampir tiap sudut bumi Yogyakarta.

Atas nama mempercantik kota, juga perawatan serta mungkin juga perbaikan fasilitas, hal ini tentu saja tidak menjadi masalah. Seperti kondisi ruas jalan di seputar Jalan Magelang misalnya, batalnya proyek jembatan layang di penggal ring road utara ini menyisakan bopeng di jalanan. Jalanan bergelombang ini, tentunya akan membantu para pengguna jalan jika segera diperbaiki. Harapannya tentu saja jalanan ini bisa sehalus jalanan di penggal ringroad seputaran Demak Ijo, atau seperti ringroad selatan.

Namun sepertinya hal ini bukanlah prioritas saat ini. Meskipun jalanan sudah berlubang sehingga membahayakan pengguna jalan, namun batalnya proyek pembangunan jembatan layang bukan berarti melanjutkannya dengan perbaikan kerusakan yang diakibatkannya.

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Politik, Yogyakarta, Daily Life | 4 Comments »

Menjadi Manusia    Print This Post   Email This Post

Friday, July 29th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Tersentil oleh ucapan kek Ivo, “Hanuman bisa bertindak jauh lebih manusiawi daripada semua orang lainnya, karena seumur hidup dia ingin menjadi manusia”. Kalimat yang lugas namun penuh makna. Mengingatkan kita untuk berkaca, apakah kita benar-benar sudah menjadi manusia?

Dalam budaya Jawa –maaf, saya orang Jawa, jadi memang budaya ini saja yang benar-benar saya tahu– terdapat satu ungkapan yang terkenal, “ojo diseneni, cah cilik kuwi pancen durung Jowo”. Arti langsungnya adalah “jangan dimarahi, anak kecil itu memang belum Jawa”. Bagi saya pribadi, keberadaan kata Jawa di sini tidak berhenti di tanah Jawa saja, atau wilayah mataram semata. Kata Jawa mewakili dunia seluruhnya, hal ini wajar karena dunia manusia Jawa waktu itu, memang hanyalah seputar wilayahnya berada.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 1 Comment »

Berbagai Kelompok Bermain di Yogyakarta    Print This Post   Email This Post

Friday, July 22nd, 2011

Sebelum saya memulai bercerita, saya ingin menyampaikan permohonan maaf sekaligus pengakuan. Hal ini sekaligus pertanggungjawaban saya sebagai salah satu pencetus satu minggu satu posting, dimana seminggu kemarin saya terpaksa tidak bisa memposting apapun di blog ini, dikarenakan tubuh sedang mengalami penuaan dini. Sudah hampir dua minggu ini saya diserang migraine, hal ini sepertinya diakibatkan oleh pola tidur yang berubah. Sekarang, alhamdulillah, “jadwal” kumatnya sudah tidak sesering minggu lalu.

Oke, cukup tentang diri saya. Saya sebetulnya ingin bercerita tentang sekolah. Kebetulan kemarin saya berputar-putar keliling jogja, mencarikan sekolah untuk anak saya, Mata Air. Terlambat sebenarnya, karena sebenarnya ajaran baru sudah berlangsung. Namun apa mau dikata, kondisi tubuh membuat hal-hal mundur, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan :D. Dan ternyata, sekali lagi alhamdulillah, untuk kelompok bermain, keterlambatan ini tidak cukup berpengaruh, karena anak bisa masuk kapan saja.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, blog | 6 Comments »

Pesan dari Negeri Dagelan    Print This Post   Email This Post

Saturday, June 18th, 2011

Apa jadinya jika sekelompok pendagel senior berkumpul dan manggung bersama? Yang saya rasakan adalah perut mengeras, mata beleken karena air mata segera mengering begitu terterpa AC, dan tenggorokan kering. Tertawa tanpa henti dari awal hingga tiga jam kemudian, ketika mereka selesai manggung.

Saya sedang bercerita tentang lasykar dagelan. Satu pertunjukan yang digelar oleh seniman-seniman Yogya dengan iringan hentakan musik hiphop dari Jogja Hiphop Foundation dari awal hingga akhir. Kemasan cerita yang apik tidak bertabrakan dengan improvisasi-improvisasi para pemain handal di negeri ini, negeri Yogyakarta.

Sak tleraman.

Tepat sebelum acara dimulai, saya bersama istri menyempatkan mengisi perut dulu di angkringan pasar kangen Yogyakarta yang digelar di halaman TBY, tempat acara berlangsung. Pasar Kangen sendiri masih berlangsung hingga… usai (kata mas Anang Batas). Di depan warungnya mbah darmo, kami menyantap bakso dan teh anget. 

Sambil menyiapkan kamera, saya melihat-lihat ke sekeliling, mencari obyek yang sekiranya bisa dijadikan obyek “saalh fouks” alias mencuri potret. Saat mendongak, saya kaget karena melihat ada segumpal bara yang melayang lurus dari utara ke selatan. Ternyata bukan saya saja yang melihat ini, mas @faridRT juga melihatnya. Saya bukan mistiskus sejati, jadi yang di pikiran saya saat itu ya cuma, “wah lucu ini”.

Dihibur dan Menghibur.

Lalu tiba saatnya masuk ke dalam gedung, acara segera dimulai. Tampil pertama setelah kata pembuka dari Butet Kertaradjasa adalah pasangan Wisben dan mas Joned. Saya agak terkesima dan khawatir juga, karena Mas Joned baru saja (lima hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu dari waktu dia pentas) ditinggal istrinya untuk selamanya, menghadap Allah SWT. Saya sudah siap-siap, terus terang, untuk teraduk-aduk perasaan jika saja mas Joned sedikit saja menampakkan kegalauan.

Namun, saya salah. Beliau adalah aktor kawakan. Pendagel profesional yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh potensinya meskipun dalam keadaan seperti itu. Saya bahkan lupa kalau beliau sedang berkabung, hingga ketika tiba scene dimana yu Soimah Poncowati yang berperan sebagai istri muncul. Mas Joned sendiri yang justru bilang,”sebentar.. ini sensitif, soalnya istri saya baru saja meninggal kemarin je”. Tapi itupun bukan menghalangi jalan cerita. Timpalan dari Wisben dan Gareng serta tanggapan dari Mas Joned sendiri kemudian, justru mengangkat lagi suasana menjadi jauh lebih lucu.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog | No Comments »

Tegakah Menggali Kubur Anak Cucu Sendiri?    Print This Post   Email This Post

Monday, May 30th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Proyek penambangan pasir besi di Kulonprogo seperti tak terbendung. Petani seputar pantai yang menolaknyapun suaranya terpecah. Ada hal yang cukup membuat miris di sini yang nampaknya kurang menjadi perhatian warga Yogyakarta khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Yang saya maksud adalah mengenai konservasi alam.

Seperti dituturkan mas Eko Teguh di Harian Kompas hari ini, pasir besi di pantai Kulonprogo ditambang dengan metode diambil pasirnya lalu disaring untuk dipisahkan antara pasir biasa dengan pasir besi. Kandungan pasir besi di pantai Kulonprogo, menurut mas Eko Teguh, adalah 40% hingga 80% tiap bagian pasir pantai. Artinya setiap pasir yang diambil dari wilayah pantai Kulonprogo ini, hanya akan dikembalikan sebanyak maksimal 20% saja. 

Maka akan sampai tahun kapankah pantai di wilayah Kulonprogo akan tetap ada?

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 6 Comments »

Jangan malu berbahasa ibu    Print This Post   Email This Post

Saturday, May 14th, 2011

Jangan malu berbahasa ibu, itu adalah buah budaya nenek moyangmu. Lihat anak-anak muda yang memilih berbahasa Jawa, mereka semakin dikenal dunia, tak kurang New York Times memuat beritanya. Saya sedang bercerita tentang rombongan teman-teman Jogja Hiphopfoundation, pembawa bendera Hiphopdiningrat. Mereka saat ini sedang berada di New York City untuk manggung Sabtu malam ini.

Bagi teman-teman yang kebetulan sempat menonton launching film dokumenter Hiphopdiningrat, tentu paham kenapa saya menyebutkan soal bahasa ibu di sini. Benar, bahasa jawa sengaja mereka jadikan pilihan untuk lirik-lirik lagunya. Bahkan “kejawaan” atau “kejogjaan” itu mendarah daging pada beberapa anggotanya, sehingga tak heran muncul celetukan seperti “di Singapura ndak ada awul-awul ya?”. p.s. awul-awul adalah istilah orang jogja untuk lapak baju bekas. Ada kesederhanaan yang dengan sadar mereka pupuk sendiri, seakan tak rela luntur meski digerogoti oleh tv setiap hari.

[ detail ]

Posted in Bahasa Jawa, Yogyakarta, Culture | 4 Comments »

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata    Print This Post   Email This Post

Friday, April 29th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Sebuah falsafah lama yang hidup di tanah Jogja. Sebagai pengingat bagi kita, bahwa masing-masing kita hidup dengan sistem yang berbeda-beda. Ada sedikit kemiripan dengan pepatah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, yang membedakan hanyalah bahwa pepatah tersebut lebih merujuk ke perbedaan individu-individu dari sebuah kelompok dengan individu-individu di kelompok lain. 

Desa mawa cara negara mawa tata menyentuh wilayah lain, wilayah budaya. Bahwa masing-masing kelompok memiliki tatacara dan aturannya masing-masing. Mengajarkan kita bahwa pemaksaan atas satu aturan dari satu kelompok ke kelompok lain hanya akan memicu konflik. Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengajarkan cara pandang.

Tentang Perbedaan Ukuran Baju

Ini adalah satu pepatah lain lagi yang nampaknya senada, tentang mengukur baju. Tentang adanya kemungkinan salah-salah apabila kita menggunakan ukuran badan kita untuk baju orang lain, demikian juga sebaliknya. Maka, terapkan aturanmu untuk dirimu sendiri, jangan paksakan untuk orang lain. Kurang lebih begitu.

Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengingatkan kita bahwa adalah satu hal yang mustahil menerapkan satu sistem dari sebuah masyarakat ke masyarakat yang lain. Patokan akan ukuran-ukuran kepantasan, ukuran kesopanan dan lain-lain, menjadi batasan-batasan yang tidak elok jika dilanggar.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 4 Comments »