Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Semiotics’

Komunike #2007 - Kisah Kelelawar    Print This Post   Email This Post

Wednesday, March 28th, 2007

Bagi teman-teman yang pernah mendengar kisah ini, silakan rehat. Istirahat sejenak. Bagi yang belum, mari bersama saya, menjelajahi dunia lama.

Kisah ini lahir ketika jaman hewan berbicara. Ketika bahasa belum menjadi dominasi manusia, dan ketika gugatan “akal” belum menjadi “tuhan” penentu gerak roda alam. Kisah ini muncul ketika nafsu hewan bersimaharaja, sebagaimana nafsu manusia jaman ini.

Terbelahlah waktu itu, antara kekuatan hewan udara dan hewan darat. Bagaimana dengan laut? Pada intinya adalah hewan yang menguasai udara dan hewan yang tidak menguasai udara. Jadi, hewan lautpun masuk dalam golongan partai hewan darat.

[ detail ]

Posted in Politik, Culture, Semiotics | 9 Comments »

Quo Vadis Pengadilan HAM?    Print This Post   Email This Post

Monday, December 11th, 2006

Sebuah pertanyaan yang sepertinya tak akan berujung :) lebih karena harapan atas penegakan hukum di negeri ini yang seakan sudah mencapai posisi utopia. Kita selalu saja terbentur dalam mengharapkan keadilan, apalagi ketika berhadapan dengan tembok kebal hukum, yaitu ketika menyangkut penguasa, terutama penguasa militer.

Komnas HAM dengan komisi adhoc untuk menangani kasus korban penculikan, sudah mencapai titik kemajuan. Walaupun kesimpulan yang diperoleh sebenarnya sudah diketahui oleh semua masyarakat, namun usulan yang dilontarkan sungguh layak untuk didukung.

Di televisi pagi ini, Zoemrotin berbicara mengenai hal ini. Kesimpulan dari tim adhoc juga sudah diedarkan oleh komnas ham, dan bisa di download di sini. Dari siaran pers ini, dapat kita lihat siapa saja yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM berupa penculikan beberapa aktivis pada masa 1997-1998.

RCTI sendiri mendapatkan dokumen lengkap yang bahkan menyebutkan nama-nama seperti Soeharto (tentu saja), Wiranto (pasti), Faisal Tanjung (ah semua juga tahu), Prabowo (dia yang ngomong keras soal ini juga waktu itu) dan juga Sutiyoso (ada yang gak kenal?). Dan masih banyak lagi yang belum tersorot, namun jelas dari kesimpulan tim adhoc ini bahwa para petinggi militer terlibat dalam kasus ini.

[ detail ]

Posted in Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »

Kala Manusia Bicara Rasa    Print This Post   Email This Post

Tuesday, December 5th, 2006

Banyak dari kita yang menempatkannya cukup tinggi. Rasa menjadi satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Rasa bisa juga menjadi tujuan ataupun capaian dalam kehidupan.

Tak jarang kita menemukan satu kata yang berawalan dengan “perasaan..” ataupun ungkapan ketidaksukaan karena “rasa”-nya tidak enak. Lantas dimana itu rasa berada? Tentu saja ada dua jenis rasa di sini, yaitu yang bersifat fisik dan psikis.

Sebuah nilai rasa dalam dunia fisik bisa bersifat cukup jamak, banyak orang bisa mengatakan sebuah nilai rasa dengan hasil yang seragam, entah itu asin, manis, pedas atau yang lainnya. Bahkan nilai rasa yang satu ini bisa dibilang tidak terbatas oleh samudera.

Namun ketika sudah menginjak pada kata “enak”, maka nilai rasa ini mengerucut, tidak lagi universal. Sebagian warga Yogya mengatakan gudeg itu enak, sementara orang di belahan dunia lain bisa bilang bahwa gudeg itu terlalu manis. Demikian juga dengan hal yang lain, ketika menyangkut rasa fisik berupa pedas atau asin. Nah, hasil ini sudah menyentuh ke wilayah psikis. Dan rasa di dunia psikis mengalami metamorfosa yang sangat banyak. Penilaiannya menjadi sangat subyektif dan membawa apa-yang-diyakini sebagai kata hati.

Bagaimana Orang Jawa Menyikapi?

Sebagai bagian orang Jawa, saya berusaha untuk mendokumentasikan nilai sikap yang dilahirkan oleh budaya nenek moyang saya. Nah, mengenai rasa ini, orang Jawa mengeluarkan satu kalimat yang bermakna luas, yaitu:

“Aja ngombé lêgi, nèk bar mangan têbu, mêngko mundhak mati”

[ detail ]

Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »

Harga Diri, Posisi Tawar, dan Yang Tak Ada di Negeri Ini    Print This Post   Email This Post

Saturday, November 11th, 2006

Bush betapa miripnya dikau dengan primataApalagi? Sementara ini cukup kita sebutkan itu saja dahulu. Harga diri dan posisi tawar kita sama sekali tidak ada. Sebagai bangsa, kita tidak mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang layak dari bangsa lain.

Sebut saja perlindungan atas Tenaga Kerja kita di luar negeri. Beberapa kali kasus penganiayaan muncul di media, dan kasus ini bukannya menghilang namun justru bertambah. Orang di luar negeri tidak takut menyakiti warga negara Indonesia, karena negara Indonesia sendiri tidak peduli atau tidak berani melindungi warganya. Dalam sebuah novel “Ayat-ayat Cinta” digambarkan tentang perilaku semena-mena yang didapati oleh warga kita di negeri Arab. Sebutan kaum indon, yang bahkan lekat dalam setiap baris iklan alat keamanan di negeri Malaysia, bisa juga dijadikan sebagai gambaran atas rendahnya penghargaan bangsa lain atas kita.

Dan Itu Masih Belum Cukup

Harga diri kita saat ini diinjak lebih dalam lagi. Saya kira semua sudah mendengar kabar akan datangnya Bush sang penghancur dunia ke negeri kita. Layaknya sekumpulan penguasa underbow negara jajahan, maka ketika sang penjajah datang, para penguasa dibikin sibuk olehnya.

Warga kita sendiri, para pengayuh becak, dilarang mengais rejeki bahkan semenjak jauh-jauh hari sebelum Bush datang. Rute angkot juga diubah demi lancarnya sang penjarah menikmati keindahan Bogor.

Dan layaknya seorang penguasa yang datang dari negeri jauh, Bush membawa 6 (!) kontainer yang –katanya– isinya rahasia. Ini sudah keterlaluan! Terus terang hal ini pula yang membawa saya pada kesimpulan akan rendahnya harga diri kita, kesimpulan pahit atas betapa lemahnya kita menghadapi bangsa lain.

[ detail ]

Posted in Neolib, Semiotics, Daily Life | 22 Comments »

Kepada Senioritas..    Print This Post   Email This Post

Monday, October 9th, 2006

Dengan tulisan ini, saya juga ingin mengingatkan diri saya sendiri akan godaan senioritas.

Setiap kita lahir bersama dengan berjalannya waktu. Waktu yang membuat sumbu untuk dirinya sendiri, tidak pernah mau berbalik, maka Tuhanpun membuat ayat khusus tentangnya. Dan waktu yang terus berjalan itu, menorehkan kekuasaannya pada diri kita, membuat alur waktu yang mengindikasikan kita semakin tua.

Seiring bertambahnya goresan alur waktu itu, memadat pula ego kita. Ukuran-ukuran akan kesempurnaan, berkembang untuk kemudian mencapai titik stagnan. Kita mencapai apa yang disebut sebagai kemapanan.

[ detail ]

Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 13 Comments »

Menjadi Terkenal dan Kaya!    Print This Post   Email This Post

Thursday, August 3rd, 2006

Bagaimana caranya untuk menjadi terkenal dan kaya di negeri ini? Ulasan ini sama sekali bukan pengalaman pribadi saya, ini hanyalah hasil pengamatan saja. Akan tetapi, kemanjuran dari “ramuan” ini sudah terbukti membawa keberhasilan kepada banyak orang. Mari kita lihat saja bersama :)

1. Pahami: Masyarakat Indonesia itu Bodoh!

Ya, pernyataan itu tentu saja salah. Tapi sebagai calon terkenal dan kaya, Anda harus selalu menanamkan pemahaman itu. Bukan hanya pengertian lho ya, lebih dalam lagi, pemahaman. Artinya setiap perkataan Anda nantinya harus didasarkan pada analisa pemahaman bahwa masyarakat Indonesia itu bodoh. Dalam bahasa yang lain omongan Anda adalah upaya pencerdasan, sebuah misi suci.

[ detail ]

Posted in Culture, blog, how to, Semiotics, Daily Life | 33 Comments »

Etika? eh tika?    Print This Post   Email This Post

Tuesday, July 4th, 2006

Ini pikiran blong saja, gak mutu. Layak untuk dipertanyakan tiap senti tulisannya. Tulisan ini terpicu oleh postingan Priyadi yang dilempar ke milis id-blog. Isi postingan itu sendiri tentang postingan *asyik belibet* mdamt –yang aku gak kenal– tentang milis tersebut.

Priyadi merasa perlu untuk memposting ‘postingan blog’ itu ke milis id-blog, kurang lebih juga sebagai kritikan kepada para pegiat milis yang sepertinya sudah semakin ‘kebablasan’, entah dalam pengertian Priyadi atau mdamt atau Roy Suryo. Gak ngerti saya.

[ detail ]

Posted in Culture, blog, Semiotics, Technology, Daily Life | 29 Comments »

Surat Buat Din Syamsudin, Tanggapan Atas Isu Pemurtadan di Yogyakarta    Print This Post   Email This Post

Thursday, June 29th, 2006

Sayang sekali saya tidak memiliki alamat email Anda. Tapi saya harap ada yang akan meneruskan, minimal Google, tulisan saya ini kepada Anda.

Bung Din, apakabarnya? Sepertinya menyenangkan berada di dua tapuk pimpinan atas nama lembaga agama. Satu kaki di Muhammadiyah, satu kaki di MUI. Bagaimana bung Din? Kaki yang mana yang merasa lebih nyaman?

Ah, langsung saja ke pokok persoalan. Saya mendapatkan email ini sudah agak lama, beberapa hari yang lalu, tepatnya 22 Juni 2006. Isi emailnya sendiri tentang berita di sebuah harian tertanggal 01 Juni 2006. Jadi “peristiwa”-nya sendiri sudah agak basi. Namun, isi dari berita itu yang membuat saya tidak merasa bahwa ini basi.

Anda bilang di harian itu bahwa “kalangan agama tertentu sudah memulai bergerak dengan mendirikan posko-posko di lokasi bencana”. Juga Anda masih memberikan penekanan:

Bahkan saya melihat sendiri, ada dua tenda khusus yang menampung anak-anak balita, saya tidak tahu apakah ada motif tertentu atau tidak, tetapi kita harus waspada karena saya yakin itu bukan lembaga Islam. Saya minta seluruh ormas dan lembaga Islam mengawal aqidah kurban bencana

Bung Din, saya masih ingat dulu sampeyan mengatakan isu yang sama untuk wilayah Aceh. Akibatnya mahasiswa-mahasiswa menuntut agar Pemerintah dan BRR mengusir LSM asing yang ada di Aceh. Kini isu yang sama persis coba Anda lontarkan untuk wilayah Yogyakarta.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 130 Comments »

Komunike #401 - Semiotika Moral    Print This Post   Email This Post

Thursday, April 27th, 2006

Judul itu terlalu bombastis. Saya tidak sedang berusaha menjelaskan semiotika moral, awalan pendek ini untuk menerangkan bahwa saya sampai pada kalimat di atas dikarenakan oleh sebutan yang disandang teman saya, Priyadi.

Beberapa waktu lalu Priyadi mendapat kesempatan mengisi acara talkshow di salah satu radio, cerita lengkap mengenai hal ini bisa dilihat di situsnya. Di tengah acara nara sumber, atau paling tidak yang sering dijadikan nara sumber, yang biasa kita lihat di koran maupun media lain dipanggil. Dia adalah RS.

Saya tidak akan mengomentari acara tersebut. Yang menggelitik saya adalah sebutan Nara Sumber Tidak Bermoral yang muncul di sana. Dilengkapi dengan screenshoot/tangkapan layar sms yang masuk, disebutkan bahwa sang pengirim keberatan dengan penunjukkan Priyadi sebagai nara sumber. Namun alasan yang digunakan oleh pengirim adalah karena Priyadi, menurut dia, tidak bermoral.

[ detail ]

Posted in Semiotics, Daily Life | 13 Comments »