Mengadili Pikiran
Monday, June 16th, 2008
Sebuah kotak tergeletak di atas meja bertaplak hijau. Seorang petugas berseragam membuka kotak itu, dan seiring kepulan uap dingin dikeluarkanlah sang otak. Masih segar, putih, otak itu baru saja lepas dari kebekuan untuk hadir dalam sebuah majelis, persidangan.
Tegap, Jaksa melangkah mendekati meja bermikrofon itu, sambil memegang pisau. Ditusuknya sang otak dengan ujung pisau, kemudian disesapnya ujung pisau itu. Mengernyit dahi sang jaksa, lantang dia berkata,”Pikiran yang membahayakan Yang Mulia! Pahit, dingin dan menyayat!”. Setetes darah tampak keluar dari mulut jaksa, selarit merah juga menempel di ujung pisau, sementara kepulan uap dingin masih bersisa di sana.
Pembela maju, dengan sangat hati-hati dipotongnya seujung otak itu di bagian belakang. Otak kecil, tempat alam bernama bawah sadar, tempat keyakinan diyakini bersemayam. Sepotong irisan itu dimasukkan ke mulut, dikunyah untuk kemudian ditelan. Lalu suara pembelapun terdengar,”Pikiran ini kenyal, nikmat dan sama sekali tidak beracun. Pikiran ini baik Yang Mulia!”.
Posted in Politik, Neolib, Culture, Semiotics | 9 Comments »
Sanggahan atas Ucapan Enda (the so called bapak blog)
Tuesday, April 8th, 2008
Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan uneg-uneg saya yang mencuat begitu saja seiring dengan keluarnya berita-berita yang berisi tanggapan Enda atas komentar seseorang. Hal yang mengganjal pada diri saya ini justru berangkat dari definisi blog dan blogger yang ditulis Enda di blognya –yang kebetulan pula saya amini.
Polarisasi Blogger
Hal pertama yang paling mengganjal adalah adanya pengkutuban blogger. Proses pengkutuban ini tidak disampaikan oleh seorang blogger, bahkan orang tersebut sama sekali tidak kompeten untuk mendefinisikan soal blog. Hal ini berpijak pada dua hal, orang tersebut bukan seorang blogger dan orang tersebut belum pernah menyampaikan sebuah analisis berdasar metodologi ilmiah mengenai blog dan blogger. Kalaupun dia mengklaim sudah melakukannya, maka ada kecacatan dimana tidak ada publikasi yang memadai atas analisisnya, uji keilmiahannya dan lain sebagainya.
Posted in Politik, Culture, blog, Semiotics | 38 Comments »
Tercabiknya Harga Diri Bangsa
Tuesday, August 28th, 2007
Beberapa hari ini kita dikagetkan dengan berita pemukulan polisi Malaysia terhadap wakil Indonesia untuk menjadi wasit kejuaraan internasional karate. Pemukulan itu terjadi dengan dalih imigran gelap. Hal yang sebenarnya tidak masuk akal.
Dua hal utama yang patut disoroti adalah label imigran gelap dan pemukulan. Setahu saya pengadilan hanya bisa dilakukan oleh lembaga peradilan melalui mekanisme meja hijau. Jadi pemukulan itu sendiri sudah menyalahi HAM. Lantas keberadaan label yang seakan bisa dilekatkan pada siapa saja,”imigran gelap”. Label tersebut seakan sama nilainya dengan label subversif di jaman Soeharto dulu. Dan label itu bisa diberlakukan pada siapa saja, termasuk wasit yang jelas-jelas membawa tanda/atribut serta identitas jelas. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada mereka yang tidak memiliki identitas bertaraf internasional, murni datang ke negeri jiran demi sesuap nasi.
Mempertanyakan Ulang Kedaulatan Bangsa
Maka dalam tulisan kali ini penulis merasa perlu untuk menanyakan lagi tentang kedaulatan bangsa ini. Apa artinya disebut sebagai negara merdeka jika pengakuan hanya sebatas bibir? Kenyataannya negara ini tidak memiliki harga diri di mata polisi Malaysia.
Posted in Neolib, Culture, Semiotics | 23 Comments »
Krisis Kepemimpinan?
Monday, August 6th, 2007
Tidak juga bisa dikatakan demikian, tetapi kegelisahan akan sosok pemimpin memang selalu menjadi kegelisahan berjama’ah. Dalam sebuah sistem pemerintahan kita, semestinya tidak muncul kegelisahan ini karena toh ada tiga kekuatan utama peletak kestabilan negara; eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Namun berhubung ini kegelisahan banyak orang, termasuk saya, maka saya pikir saya sampaikan saja uneg-uneg ini. Kegelisahan ini berkait dengan kebobrokan kualitas orang-orang yang merasa -sekaligus dipandang- dirinya adalah pemimpin.
Salah malah Bangga
Satu hal ini yang paling banyak kita lihat di negeri ini. Tengok saja kasus Dana DKP kemarin, dimana salah seorang yang selama ini disebut tokoh reformasi, justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menerima dana DKP.
Posted in Politik, Semiotics, Daily Life | 11 Comments »
Tentang Merk
Friday, July 27th, 2007
Pagi ini saya teringat dengan obrolan tentang merk. Merk atau brand produsen yang melekat pada produk-produk keseharian kita. Perbincangan mengenai hal ini, dalam berbagai model, sudah sering terjadi, dan kalau kita pikir-pikir lagi rasanya lucu.
Hal yang paling sering muncul adalah bagaimana merk bisa menggeser hakikat produk itu sendiri. Sehingga tak jarang kita mengatakan odol untuk pasta gigi, atau honda untuk motor dan masih banyak lagi. Sejauh ini kita tidak merasa risi atau terganggu dengan hal itu. Di sisi lain, pihak produsen –atau paling tidak pihak pembuat brand– boleh merasa bangga karena keberhasilannya menanamkan brand itu di kepala konsumen.
Merk sebagai Simbol Gengsi
Jaman saya SMP dulu, adalah kebanggaan bila buku kita adalah Big Boss. Buku tulis yang lain dianggap cemen, maka ketika waktu itu saya menggunakan buku gratisan dari PT LECES, sayapun tak lepas dari ejekan teman-teman. Juga mengenai celana dan baju. Esprit, Lea, Levis, adalah sederet nama yang berkali-kali dijadikan bahan. Atau kalau untuk sepatu pilihannya adalah Eagle (entah ini merk atau model).
Posted in Neolib, Culture, Semiotics | 7 Comments »
Quovadis FKY: Tentang Modernitas dan Tradisionalisme
Wednesday, June 13th, 2007
Sebuah perbincangan sore di antara kantuk dan capek. Antara saya dengan teman baik saya, mas Iwan alias temukonco yang manggon di theaterofmind.com. Perbincangan ini sebenarnya lagi, diawali oleh rasan-rasan mbikin mainan baru. Iya, mainan, karena kami bermain biar dapat duit. Bekerja berdasar hobi, hehe.
Seperti biasanya, sebagaimana obrolan sore para warga Jogja yang lain, obrolanpun mengalir ke wilayah sekitar, melebar dan akhirnya menyentuh FKY. Festival Kebudayaan Yogyakarta, sebuah ikon kebudayaan yang lahir dari kreativitas pemuda dan sekaligus seniman yang ada di Yogyakarta.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Semiotics | 9 Comments »
Apa Yang Haram di Negeri Ini?
Friday, March 30th, 2007
Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.
Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.
Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 16 Comments »
Komunike #2007 - Kisah Kelelawar
Wednesday, March 28th, 2007
Bagi teman-teman yang pernah mendengar kisah ini, silakan rehat. Istirahat sejenak. Bagi yang belum, mari bersama saya, menjelajahi dunia lama.
Kisah ini lahir ketika jaman hewan berbicara. Ketika bahasa belum menjadi dominasi manusia, dan ketika gugatan “akal” belum menjadi “tuhan” penentu gerak roda alam. Kisah ini muncul ketika nafsu hewan bersimaharaja, sebagaimana nafsu manusia jaman ini.
Terbelahlah waktu itu, antara kekuatan hewan udara dan hewan darat. Bagaimana dengan laut? Pada intinya adalah hewan yang menguasai udara dan hewan yang tidak menguasai udara. Jadi, hewan lautpun masuk dalam golongan partai hewan darat.
Posted in Politik, Culture, Semiotics | 8 Comments »
Quo Vadis Pengadilan HAM?
Monday, December 11th, 2006
Sebuah pertanyaan yang sepertinya tak akan berujung
lebih karena harapan atas penegakan hukum di negeri ini yang seakan sudah mencapai posisi utopia. Kita selalu saja terbentur dalam mengharapkan keadilan, apalagi ketika berhadapan dengan tembok kebal hukum, yaitu ketika menyangkut penguasa, terutama penguasa militer.
Komnas HAM dengan komisi adhoc untuk menangani kasus korban penculikan, sudah mencapai titik kemajuan. Walaupun kesimpulan yang diperoleh sebenarnya sudah diketahui oleh semua masyarakat, namun usulan yang dilontarkan sungguh layak untuk didukung.
Di televisi pagi ini, Zoemrotin berbicara mengenai hal ini. Kesimpulan dari tim adhoc juga sudah diedarkan oleh komnas ham, dan bisa di download di sini. Dari siaran pers ini, dapat kita lihat siapa saja yang terlibat dalam kasus pelanggaran HAM berupa penculikan beberapa aktivis pada masa 1997-1998.
RCTI sendiri mendapatkan dokumen lengkap yang bahkan menyebutkan nama-nama seperti Soeharto (tentu saja), Wiranto (pasti), Faisal Tanjung (ah semua juga tahu), Prabowo (dia yang ngomong keras soal ini juga waktu itu) dan juga Sutiyoso (ada yang gak kenal?). Dan masih banyak lagi yang belum tersorot, namun jelas dari kesimpulan tim adhoc ini bahwa para petinggi militer terlibat dalam kasus ini.
Posted in Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »
Kala Manusia Bicara Rasa
Tuesday, December 5th, 2006
Banyak dari kita yang menempatkannya cukup tinggi. Rasa menjadi satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Rasa bisa juga menjadi tujuan ataupun capaian dalam kehidupan.
Tak jarang kita menemukan satu kata yang berawalan dengan “perasaan..” ataupun ungkapan ketidaksukaan karena “rasa”-nya tidak enak. Lantas dimana itu rasa berada? Tentu saja ada dua jenis rasa di sini, yaitu yang bersifat fisik dan psikis.
Sebuah nilai rasa dalam dunia fisik bisa bersifat cukup jamak, banyak orang bisa mengatakan sebuah nilai rasa dengan hasil yang seragam, entah itu asin, manis, pedas atau yang lainnya. Bahkan nilai rasa yang satu ini bisa dibilang tidak terbatas oleh samudera.
Namun ketika sudah menginjak pada kata “enak”, maka nilai rasa ini mengerucut, tidak lagi universal. Sebagian warga Yogya mengatakan gudeg itu enak, sementara orang di belahan dunia lain bisa bilang bahwa gudeg itu terlalu manis. Demikian juga dengan hal yang lain, ketika menyangkut rasa fisik berupa pedas atau asin. Nah, hasil ini sudah menyentuh ke wilayah psikis. Dan rasa di dunia psikis mengalami metamorfosa yang sangat banyak. Penilaiannya menjadi sangat subyektif dan membawa apa-yang-diyakini sebagai kata hati.
Bagaimana Orang Jawa Menyikapi?
Sebagai bagian orang Jawa, saya berusaha untuk mendokumentasikan nilai sikap yang dilahirkan oleh budaya nenek moyang saya. Nah, mengenai rasa ini, orang Jawa mengeluarkan satu kalimat yang bermakna luas, yaitu:
“Aja ngombé lêgi, nèk bar mangan têbu, mêngko mundhak mati”
Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »
