Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/dgworks/public_html/rony/wp-includes/cache.php on line 36

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/dgworks/public_html/rony/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/dgworks/public_html/rony/wp-includes/theme.php on line 507
Rony’s Blog » Politik
  
Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Politik’

Komunike #333 - Surat untuk Rahim    Print This Post   Email This Post

Thursday, August 16th, 2007
“Ibu, di Bumi ini, ada tidak sih orang yang bersalah?”
“Oh ada, yaitu orang-orang yang menebangi hutan, orang kaya yang di sekitar rumahnya banyak orang kekurangan”
“Wah, dilaporkan ke pak polisi saja bu”
“Nah, sayangnya banyak juga pak polisi yang dibayar oleh orang-orang yang bersalah itu agar tidak menangkap mereka”

Kamu ingat dengan fragment itu kan Rahim? Ya, itu percakapan antara kamu dengan ibumu. Darimu aku jadi belajar banyak hal. Dari pikiran-pikiranmu yang masih murni itu, muncul pula pikiran-pikiran di kepalaku. Sebelumnya aku sampaikan terimakasih banyak-banyak kepadamu.

Tidak Ada yang Abu-abu di Depan Hukum

Kamu tahu, aku tahu, dan para penegak hukum semestinya lebih tahu bahwa hal itu benar. Orang yang bersalah, sudah semestinya mendapatkan perlakuan hukum yang semestinya; ditangkap dan diadili. Namun yang terjadi di negeri ini memanglah sungguh berbeda.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib | 11 Comments »

Krisis Kepemimpinan?    Print This Post   Email This Post

Monday, August 6th, 2007

Tidak juga bisa dikatakan demikian, tetapi kegelisahan akan sosok pemimpin memang selalu menjadi kegelisahan berjama’ah. Dalam sebuah sistem pemerintahan kita, semestinya tidak muncul kegelisahan ini karena toh ada tiga kekuatan utama peletak kestabilan negara; eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Namun berhubung ini kegelisahan banyak orang, termasuk saya, maka saya pikir saya sampaikan saja uneg-uneg ini. Kegelisahan ini berkait dengan kebobrokan kualitas orang-orang yang merasa -sekaligus dipandang- dirinya adalah pemimpin.

Salah malah Bangga

Satu hal ini yang paling banyak kita lihat di negeri ini.  Tengok saja kasus Dana DKP kemarin, dimana salah seorang yang selama ini disebut tokoh reformasi, justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menerima dana DKP.

[ detail ]

Posted in Politik, Semiotics, Daily Life | 13 Comments »

Jangan-jangan Dia Teroris…    Print This Post   Email This Post

Friday, July 13th, 2007

Akhir-akhir ini pertanyaan bernada khawatir sekaligus tuduhan ini nampaknya semakin melanda masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman. Berita besar-besaran menyangkut penangkapan “what so called” teroris di beberapa daerah di Sleman, telah berhasil menciptakan stigma baru di benak penduduk wilayah ini.

Tak kurang, saya-pun mendapati bagiannya. Kebetulan saya mengontrak sebuah rumah di wilayah Donoharjo Sleman. Rumah ini sudah saya kontrak semenjak akhir Januari 2007, dan sampai sekarang belum sempat saya tempati. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib yang menjadikannya begini. Bagaimana tidak, dari mulai saya berangkat ke Kalimantan, disusul saya sakit sehingga musti berhari-hari terkapar. Belum cukup ini saja, selang beberapa hari kemudian saya mendapati bahwa istri saya hamil. Tentunya trimester pertama tidak bisa atau dalam kata lain tidak saya relakan istri saya untuk tinggal di rumah kontrakan yang belum sempat saya urus itu.

Dengan demikian kondisi rumah kontrakan saya barulah berisi dus-dus yang masih berantakan. Lampu-lampu juga belum terpasang sehingga kondisinya selalu gelap. Kecuali lampu depan, karena lampu teras selalu saya hidupkan. Rencana untuk mulai menempati rumah kontrakan setelah trimester pertama lewat, terpaksa tidak bisa saya lakukan. Hal ini karena disusul dengan meninggalnya ayah saya. Kesibukan perjalanan Bantul-Yogyakarta, jelas menyita waktu dan tenaga saya. Dan sialnya, motor saya yang kemudian protes duluan. Dari mulai stang seker (stang piston) sampai laker roda dan shock depan motor, semuanya harus diganti. Walhasil hari-hari saya dipenuhi dengan target mencapai 1500km, alias inreyen. Dengan kondisi ini, mau tak mau rencana untuk menata rumah kontrakan sekali lagi terhambat.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 18 Comments »

Taman Pintar Yogyakarta, Tambah Pintarkah Kita?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, June 20th, 2007

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya terdidik
- Rony Agung Rahmanto

 

Yogyakarta, yang telah cukup lama di-sekaligus ter-tasbihkan sebagai kota pendidikan, memperkuat ciri dirinya dengan menghadirkan sebuah sarana bermain sekaligus menambah pengetahuan. Tempat tersebut dinamakan Taman Pintar. Lokasi Taman Pintar ada di bekas Shopping Center (pusat jual-beli buku dengan harga miring), jadi menurut saya dari sebuah taman pintar menuju the taman pintar (pakai the karena lebih modern dan memang bentuknya “lebih taman”).

Saya tidak sedang ingin menceritakan detil mengenai taman tersebut. Tulisan ini saya buat untuk memperlihatkan taman pintar melalui sisi pengunjungnya, anak-anak dari kelas bawah. Maaf jika saya menggunakan terminologi kelas dan kemudian diikuti dengan kata bawah, saya sekedar ingin mempermudah identifikasi kelompok yang saya tunjuk bagi pembaca, dan terminologi kelas bawah sudahlah sangat jamak dan dimahfumi. Jadi, maaf.

Rumah Pengetahuan Amartya
Tersebutlah sebuah pondok rakyat, sebuah rumah yang disetting sebagai rumah tempat bertemunya pengetahuan. Tempat ini menampung kehausan-kehausan pengetahuan anak-anak. Sebuah rumah yang dikontrak oleh seorang aktivis HAM, seorang yang sudah tidak asing lagi bagi banyak khalayak, Eko Prasetyo sang penulis “orang miskin dilarang sekolah”.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, Culture | 40 Comments »

Komunike 777 - Demokrasi Peluru    Print This Post   Email This Post

Wednesday, June 6th, 2007

Sebuah Refleksi untuk Hari ke Tujuh.

Jikalau kita mengenal kata demokrasi, maka yang paling pertama di ingat biasanya adalah kata-kata “dari-oleh-untuk rakyat”. Demokrasi ini pada akhirnya berkembang pula menjadi berbagai macam ragam yang membingungkan, sehingga satu kali di negeri ini muncul pula satu istilah Demokrasi Terpimpin. Tentang apa itu binatang demokrasi terpimpin? Kita tidak akan membahasnya. Yang jelas, segala pernik macam demokrasi di negeri ini, selalu saja melibatkan satu bagian kecil bangsa yang bernama Militer.

Nampaknya, militer baik itu Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, memiliki pengertian tersendiri mengenai demokrasi ini. Contoh kasus terakhir adalah Insiden Mei 2007 di Pasuruan. Terlepas benar-salah dan segala macamnya, terlepas kambing siapa yang di cat hitam tubuhnya, jelas ada satu hal yang termaknai dari peristiwa tersebut:

Peluru adalah Wujud Demokrasi
Dari Rakyat, Untuk (membunuh) Rakyat, Oleh (anak durhaka dari rahim) Rakyat.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 7 Comments »

Kabar dari Yogya (lagi)    Print This Post   Email This Post

Saturday, April 14th, 2007

“Apakabar?” adalah sebuah kalimat standar bagi siapa saja yang jarang bertemu. Atau sering ketemu tapi hanya sebatas “sliringan” alias ketemu sekilas, begitu ada kesempatan tentunya kita akan menanyakan kabarnya. Itu kalau kita memang peduli, kalau nggak peduli, ngapain ketemu? *lah ngomong apa sih*

Baiklah, saya menulis ini sebenarnya hanya ingin berkabar saja. Tentang suksesi di Yogyakarta. Sedang ada pesta besar di sini, yaitu menghadapi suksesi gubernur dan suksesi rektor UGM.

Kangmas (biar dikira saya berdarah biru gitu) Sultan Hamengkubuwono X, sudah menyatakan bahwa beliau tidak mau lagi menjabat sebagai gubernur. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak tanggapan. Antara lain:

  • Dari Para Lurah/kepala desa:
    Mereka menyatakan bahwa masyarakat Yogyakarta masih ingin mempunyai gubernur seorang sultan. Kecintaan rakyat Yogyakarta atas Sultan-nya, tidak mengering. Kurang lebih demikian yang disampaikan.
  • Dari Pejabat Keraton (Gusti Tirun dan Jaya):
    Itu hak Sultan. Kalau memang beliau sudah berkeputusan, maka sabda pandhita ratu harus dipatuhi, bukan hanya oleh para kawula tetapi bahkan oleh sang raja sendiri. Kedua orang ini bahkan mengatakan bahwa gubernur tidak harus dari lingkungan kraton. Saya kok sepakat dengan mereka ya, biar sosok sultan tetap bersih dari kotoran-naif bernama politik praktis kekuasaan.
  • Dari Roy Suryo:
    Itu hanya kiasan saja, pertanda. Kalau sultan saja yang paling pantas memimpin Yogya bilang tidak mau dipilih, apalagi yang lain yang jauh lebih tidak berhak, sebaiknya tidak usah mengajukan diri jadi gubernur.

Nah, kurang lebih itu pendapat yang beredar. Pendapat terakhir dari KRMT (yang sekarang sudah jadi KRT karena bukan “mas” lagi) adalah pendapat yang saya rasa paling tidak masuk akal.

Bukan karena saya pro-proletar, ataupun karena saya anti-feodal, ataupun yang lain lagi, tetapi saya hanya tidak membayangkan kalau sampai ada kekosongan kekuasaan. Emangnya Yogyakarta mau menjadi propinsi tanpa Gubernur? Gubernur tidak harus Sultan, bahkan tidak harus dari lingkungan Keraton. Hal itu sudah ditegaskan oleh beliau kangmas (asyik, kayaknya makin akrab saja saya) Sultan sendiri. Saya baik sebagai kawula Yogya maupun sebagai bagian dari masyarakat modern bernama propinsi DIY, menyatakan mendukung penuh hal ini.

Sudah saatnya kedewasaan berpolitik di wilayah ini untuk beranjak ke sana. Memberi kesempatan bagi siapa saja, siapa tahu bisa muncul sosok alim dan dekat dengan rakyat sekaliber Ahmad Dineejad. Bukan begitu? [ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 11 Comments »

Apa Yang Haram di Negeri Ini?    Print This Post   Email This Post

Friday, March 30th, 2007

Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.

Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.

[ detail ]

Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 17 Comments »

Komunike #2007 - Kisah Kelelawar    Print This Post   Email This Post

Wednesday, March 28th, 2007

Bagi teman-teman yang pernah mendengar kisah ini, silakan rehat. Istirahat sejenak. Bagi yang belum, mari bersama saya, menjelajahi dunia lama.

Kisah ini lahir ketika jaman hewan berbicara. Ketika bahasa belum menjadi dominasi manusia, dan ketika gugatan “akal” belum menjadi “tuhan” penentu gerak roda alam. Kisah ini muncul ketika nafsu hewan bersimaharaja, sebagaimana nafsu manusia jaman ini.

Terbelahlah waktu itu, antara kekuatan hewan udara dan hewan darat. Bagaimana dengan laut? Pada intinya adalah hewan yang menguasai udara dan hewan yang tidak menguasai udara. Jadi, hewan lautpun masuk dalam golongan partai hewan darat.

[ detail ]

Posted in Politik, Culture, Semiotics | 9 Comments »