Oposisi? Oh.. Posisi..
Thursday, July 9th, 2009
Pemilihan Umum untuk anggota legislatif sudah lama berakhir. Putaran pertama pemilu untuk presiden juga sudah terlewati. Berita-pun dipenuhi dengan hasil quickcount dan interpretasi serta analisa politik atas apa yang terjadi.
Selain hal itu, muncul pula –seperti biasa– protes sini-sana atas hasil pemilihan umum yang baru saja berlalu. Saya tidak akan membahas tentang benar salah, dan lain sebagainya soal pemilu ini, saya sendiri tidak memilih.
Saat ini yang terpikir oleh saya adalah soal oposisi. Sebuah negara yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara demokratis, sudah selayaknya memiliki kanal oposisi. Dan negara kita –sependek pengetahuan saya– tidak membatasi peran oposisi. Yang jadi masalah kemudian justru, adakah peran itu diambil? Atau untuk lebih jelasnya, adakah partai yang benar-benar oposisi?
Oh… Posisi…
Saya kembali mengutip judul di atas. Karena memang itu yang terjadi di negeri ini. Ketika sebuah partai mengalami kekalahan, selain sibuk mencari-cari kesalahan pemilu mereka juga sibuk melakukan tawar menawar politik agar diberi posisi di pemerintahan.
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Semiotics | 2 Comments »
Sekali lagi, mengapa harus memilih?
Thursday, March 12th, 2009
Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.
Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya.
Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.
Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.
Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak. [ detail ]
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Culture | 36 Comments »
Sekedar Urun Rembug buat Para Caleg dan Partai
Thursday, February 19th, 2009
Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.
Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?
Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.
Inti dari Kampanye
Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »
Petisi Batalkan Utang Pembelian Kapal Jerman
Tuesday, November 25th, 2008
Tadi malam saya mendapat sms dari Bung Don K Marut, Direktur INFID. Beliau meminta dukungan tentang pembatalan utang pembelian kapal Jerman. Dalam sms beliau, disampaikan bahwa Indonesia telah mengadakan perjanjian hutang dengan pihak pemerintah Jerman. Akan tetapi perjanjian hutang ini melanggar ketentuan internasional, dari pihak pemerintah Jerman sendiri sudah ada sinyal positif untuk pembatalan ini. Pemerintah kita, sebagaimana biasanya, peragu dan tidak segera mengambil sikap.
Oleh karenanya, INFID memotori gerakan tanda tangan untuk meminta Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Departemen Keuangan untuk membatalkan pembelian Kapal Jerman tersebut. Saya sendiri, karena sekarang tidak di lapangan, mengambil sikap dengan mendukung gerakan ini melalui petisi Online.
Petisi Online dapat di akses di http://www.petitiononline.com/indo2008/petition.html . Nantinya hasil petisi ini akan saya serahkan ke bung Don Marut agar dipergunakan sebagai tambahan dukungan.
Posted in Politik, Neolib | 7 Comments »
Menengok “Halaman Belakang” Negerinya Obama
Sunday, November 9th, 2008
Judul kali ini terinspirasi dari ulasan Fokus Kompas pada hari Jumat kemarin (07 November 2008). Melalui tulisan ini pula saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada harian tersebut. Di saat semua mata dan telinga terfokus ke berita seputar sepak terjang “kawan sewarna” –dalam arti sama-sama berwarna– Kompas dengan cukup tegas memposisikan dirinya sebagai penunjuk arah.
Fokus Kompas hari Jumat kemarin mengupas tentang geliat neo-sosialisme di belahan selatan Amerika, tepatnya di Paraguay dan Venezuela. Sosok Lugo dan Chavez, ikon perubahan masa kini, dikupas dengan cukup panjang lebar. Mungkin kalau boleh menyampaikan kekecewaan, hanya terletak di tulisan Budiman Sudjatmiko. Bagian tulisannya sungguh seperti –meminjam istilah istri saya– melihat acara televisi “mimpi kali ye” dimana seorang fans ketemu idolanya.
Namun terlepas dari kekecewaan itu, mari kita bincang-bincang lagi mengenai Lugo dan Chavez. Lugo, seorang mantan pastur, pengagum Soekarno, berhasil menduduki jabatan tertinggi di Paraguay. Namun, sampai hari Jumat kemarin, beliau masih tinggal di rumahnya yang berukuran tipe 45, makan ubi rebus dan minum teh bersama tamu dengan satu gelas kayu. Chavez-pun tidak enggan untuk berbagi “gelas” dengan para tamu. Ciri kesederhanaan yang mengingatkan kita pada ucapan sang proklamator, “Marhaen”.
Posted in Politik, Neolib, Culture | 13 Comments »
Dilarang Memasang Bendera Partai di Pinggir Jembatan Sempit!
Wednesday, August 6th, 2008
Demikian, jika saja saya seorang Raja, saya akan mengumumkan hal itu dengan disertai sanksi berat bagi yang melanggarnya. Sebagai seorang Raja, tentunya saya berhak dan dikaruniai hak mutlak untuk menentukan perilaku para andahan (bawahan/kawulo) saya.
Atau katakanlah saya ini MUI, saya akan membuat fatwa bahwa HARAM hukumnya memasang bendera partai di pinggir jembatan sempit! Paling tidak kalau saya sudah membuat fatwa demikian, sanksi neraka bagi mereka yang melanggarnya sepertinya cukup menakutkan. Apalagi kalau seperti selama ini yang terjadi di negeri ini, fatwa saya tentu akan didukung oleh serombongan pecinta kekerasan pendamba secuil kapling di surga. Tapi tentu berbeda dengan MUI, saya memiliki alasan yang sangat masuk akal dan sangat-sangat penting, walaupun tak lepas dari obyektifitas. Jadi, membela fatwa saya ini tentunya sangat baik bagi kemaslahatan umat.
Bendera Pembawa Bencana
Ya, jujur saja, sebenarnya belum menjadi bencana. Hanya saja sangat-sangat nyaris hampir menjadi bencana. Ceritanya saya melewati selokan mataram, kebetulan saya sedang pakai motor, bersama istri dan anak. Hampir seluruh jembatan di selokan mataram ini dipenuhi oleh bendera-bendera partai.
Posted in Politik, Culture, blog, Daily Life | 22 Comments »
Mengadili Pikiran
Monday, June 16th, 2008
Sebuah kotak tergeletak di atas meja bertaplak hijau. Seorang petugas berseragam membuka kotak itu, dan seiring kepulan uap dingin dikeluarkanlah sang otak. Masih segar, putih, otak itu baru saja lepas dari kebekuan untuk hadir dalam sebuah majelis, persidangan.
Tegap, Jaksa melangkah mendekati meja bermikrofon itu, sambil memegang pisau. Ditusuknya sang otak dengan ujung pisau, kemudian disesapnya ujung pisau itu. Mengernyit dahi sang jaksa, lantang dia berkata,”Pikiran yang membahayakan Yang Mulia! Pahit, dingin dan menyayat!”. Setetes darah tampak keluar dari mulut jaksa, selarit merah juga menempel di ujung pisau, sementara kepulan uap dingin masih bersisa di sana.
Pembela maju, dengan sangat hati-hati dipotongnya seujung otak itu di bagian belakang. Otak kecil, tempat alam bernama bawah sadar, tempat keyakinan diyakini bersemayam. Sepotong irisan itu dimasukkan ke mulut, dikunyah untuk kemudian ditelan. Lalu suara pembelapun terdengar,”Pikiran ini kenyal, nikmat dan sama sekali tidak beracun. Pikiran ini baik Yang Mulia!”.
Posted in Politik, Neolib, Culture, Semiotics | 10 Comments »
Media Kita, Media Gagap Gempita
Wednesday, June 4th, 2008
Bukan, judul di atas bukan salah tulis. Seperti kita tahu, belakangan ini berita di media seperti tak ubahnya kutu loncat. Tampak bagaimana media sudah seperti bola pingpong yang dihantam kian kemari dan terlihat pasrah. Sepertinya kita memang belum memiliki media yang benar-benar independen dan konsisten.
Naiknya harga BBM beberapa waktu lalu, repotnya masyarakat kalangan bawah menyiasati kenaikan harga yang mengikutinya, serta ricuhnya demo kenaikan harga oleh mahasiswa, dengan segera tenggelam oleh isu lain. Terakhir kita dipaksa untuk mengikuti berita tentang sekelompok preman berseragam yang memukul demonstran. Tak tanggung-tanggung, semua media baik televisi maupun media cetak dipenuhi dengan berita ini. Sampai hari ini berita itu masih saja menjadi topik utama.
Tertembaknya demonstran BBM beberapa waktu lalu, tampaknya tidak lagi memiliki tempat di media kita. Demikianlah potret kebebasan pers di negeri ini. Yang terjadi bukanlah kebebasan analitik, tetapi membabi buta, gagap dalam pemberitaan. Sibuk dengan berita-berita bombastis yang dirasa mampu menaikkan oplah.
Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 14 Comments »
Sanggahan atas Ucapan Enda (the so called bapak blog)
Tuesday, April 8th, 2008
Pada kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan uneg-uneg saya yang mencuat begitu saja seiring dengan keluarnya berita-berita yang berisi tanggapan Enda atas komentar seseorang. Hal yang mengganjal pada diri saya ini justru berangkat dari definisi blog dan blogger yang ditulis Enda di blognya –yang kebetulan pula saya amini.
Polarisasi Blogger
Hal pertama yang paling mengganjal adalah adanya pengkutuban blogger. Proses pengkutuban ini tidak disampaikan oleh seorang blogger, bahkan orang tersebut sama sekali tidak kompeten untuk mendefinisikan soal blog. Hal ini berpijak pada dua hal, orang tersebut bukan seorang blogger dan orang tersebut belum pernah menyampaikan sebuah analisis berdasar metodologi ilmiah mengenai blog dan blogger. Kalaupun dia mengklaim sudah melakukannya, maka ada kecacatan dimana tidak ada publikasi yang memadai atas analisisnya, uji keilmiahannya dan lain sebagainya.
Posted in Politik, Culture, blog, Semiotics | 40 Comments »
Tentang Sebuah Negeri Yang Memprihatinkan
Thursday, December 6th, 2007
Sebuah Kisah Tentang Korupsi
Siang itu saya berkesempatan makan bersama seorang teman. Teman saya ini dulunya adalah maniak pemanjat tower, kesehariannya adalah memanjat tower dan pointing antenna. Namun kini dia terlibat dalam proyek-proyek besar Teknologi Informasi untuk Pemda-pemda.
Dalam kesempatan itu, berkali-kali saya lihat dia agak lesu dan seperti melamun sendiri. Setelah saya pancing-pancing ternyata dia sedang bermasalah dengan proyeknya yang terakhir, dimana ada kesalahan perhitungan sehingga dana meleset sangat besar, hingga mencapai ratusan juta.
Namun, setelah itu, dia kemudian menceritakan kepada saya tentang apa yang dia lakukan dalam beberapa bulan ini, yang akhirnya memberi gambaran gamblang kepada saya tentang busuknya negeri ini. Dalam kesempatan itu pula, dia menunjukkan aliran dana di rekening tabungannya. Buset! Dalam tiga bulan terhitung hampir 9 Milyar uang beredar melalui rekening tersebut. Untuk apa saja? Tidak jelas, yang saya tangkap hanyalah uang tersebut kemudian lari ke beberapa person (yang notabene adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif negeri ini).
Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 23 Comments »
