Penjarakan Arifinto dan/atau Cabut UU Pornografi
Tuesday, April 12th, 2011
Kasus soal Arifinto tidak berakhir dengan baik karena sang aktor utama menyatakan mengundurkan diri. Partainya sendiri kemudian menempatkan dia seolah-olah sebagai pahlawan. Tentu saja, orang yang salah lalu mengundurkan diri tidak bisa disebut pahlawan, namun tidak apa-apa karena pahlawan sendiri dimaknai berdasarkan ego dan kapasitas otak masing-masing.
Tulisan saya ini muncul sebagai sari jawaban atau tanggapan atas seliweran pendapat di Twitter.com. Mengapa saya perlu menyampaikannya? Karena saya sendiri jengah, ada sekian kasus besar di negeri ini yang terbelokkan oleh kasus remeh-temeh ini. Lantas kenapa saya masih menuliskannya? Karena dalam kasus ini, ada satu tindakan korupsi yang kejam.

Posted in Politik | 17 Comments »
Maka kunamakan kamu: Munafik Ismail!
Monday, March 28th, 2011
(sms Taufiq Ismail) HU AR Rini Endo. Saya baca di internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Sambodja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sunber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yg pantas (Taufiq Ismail)
SMS di atas dikirim oleh Taufik Ismail, tokoh dunia sastra Indonesia, kepada salah satu panitia #koinsastra. Dan SMS itu pula yang membuat saya meradang pagi-pagi. Tidak menyangka orang sekelas beliau mengirim SMS dengan isi dan nada seperti itu.
Sebelum terlalu jauh, mari saya ceritakan serba sedikit tentang apa itu #koinsastra dan kejadian apa yang melatarbelakangi munculnya SMS itu. Mohon yang tahu informasi lebih dalam mengoreksi atau menambahi keterangan saya ini.
Posted in Politik, Neolib, Culture, blog, Semiotics | 19 Comments »
Tentang Sesuatu yang Dimulai dari Kecil
Thursday, March 17th, 2011
Adalah kebetulan, terserah bagaimana Anda memaknai tentang kata kebetulan itu, saya hari ini bertemu dengan orang hebat. Dia adalah Invani, seorang pemudi yang mempunyai semangat luar biasa, yang sedemikian pedulinya dengan lingkungan sosialnya, lingkungan sosial kita juga.
Pertemuan ini memang diawali dengan sebuah kegiatan yang bersifat kerjaan, karena kebetulan (sekali lagi) dia adalah manajer untuk sebuah pertunjukan/performance dari seorang seniman Yogya, Eko Nugroho. Hal tentang Eko, perlu kusimpan dulu, karena tidak cukup melalui satu tulisan menjabarkan tentang dia.
Vani, demikian dia akrab dipanggil, bersama kekasihnya (semacam kisah romantis aktivis :D) menggagas sebuah ruang bernama Kecil Bergerak. Ruang yang tanpa dinding menurutku, karena melalui obrolan panjang yang dilahirkan oleh hujan deras di seputaran Taman Budaya Yogyakarta ini, uraian dia tentang kegiatannya sungguh sangat luar biasa. Menciptakan ruang yang hingga saat ini kita belum pernah temukan dimanapun.
Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 6 Comments »
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Wednesday, December 15th, 2010
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Tulisan ini hadir sebagai reaksi atas ungkapan Bapak Ichlasul Amal, mantan rektor UGM, di surat kabar online Suara Merdeka. Pernyataan beliau dalam menanggapi Sidang Rakyat Yogya sungguh di luar perkiraan. Dalam berita tersebut Bapak Ichlasul Amal memilih kalimat yang menyakitkan, dengan menyebut bahwa Sidang Rakyat Yogyakarta sebagai aksi show of force, cara lama yang dipakai PKI.
Saya tiba-tiba merasa seakan sedang melihat sosok yang berbeda, sosok yang sama sekali lain dengan yang dulu sempat saya kenal. Bukankah beliau juga ikut dalam Pisowanan Ageng pada Mei 1998, ketika terjadi kekisruhan dan penculikan dimana-mana? Bukankah beliau juga ada di antara kami ketika berjalan dari UGM ke Alun-Alun Yogyakarta? Ataukah waktu itu adalah beliau yang lain? Beliau yang masih murni dan masih bisa mendengar suara rakyat, mungkin?
Dua Kesalahan Besar Ichlasul Amal
Terkait pernyataan beliau tersebut, saya menggarisbawahi dua hal yang seakan tidak digubris oleh beliau. Kesalahan pertama beliau adalah memandang rendah semangat guyub rukun dan bahu membahu masyarakat Yogya. Saya tidak percaya kalau beliau tidak tahu mengenai hal ini, dan saya sangat tidak percaya kalau beliau tidak pernah mendapat ajakan kerjabakti sekalipun dari kampung tempat beliau tinggal di Yogya.
Atau bisa jadi saya salah? Bisa jadi beliau memang tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitarnya? Sibuk dengan menara gading dan singgasana kegurubesarannya? Sungguh ironis seorang guru ilmu sosial tapi tidak bersosial. Kebetulan saya tinggal di kampung yang aktif membuat pertemuan sebulan sekali pak, belum lama ini kami bekerja bakti memperbaiki jalan yang rusak. Tidak ada uang yang bicara di sana, tidak ada kepentingan politik, sepenuhnya didasari oleh kebutuhan bersama. Tidakkah bapak melihat semangat ini di balik berbondong-bondongnya warga Yogyakarta di Sidang Rakyat kemarin? Atau memang tuduhan saya benar, sampeyan lebih nyaman bertahta di singgasana keilmuan sampeyan, dan beranggapan mempunyai kuasa sehingga rakyat yang sampeyan pandang seperti pion-pion itu bisa sampeyan baca satu per satu isi kepala dan hatinya?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 12 Comments »
Yogyakarta: Untuk Apa Mempertahankan Status Istimewa
Monday, December 13th, 2010
Polemik tentang hal ini sudah sebulan ini bergulir. Tentu guliran isu ini tidak akan sebesar dan semasif ini kalau tidak ada pemicu utamanya, dan alangkah kebetulan pemicunya justru pucuk pimpinan di negeri ini sendiri, SBY. Penggalan kalimat yang dirasa paling menyakitkan bagi rakyat Yogyakarta adalah “Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi”. Pernyataan ini menohok dalam ke hati warga Yogyakarta. Kelas menengah di wilayah ini, mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tentu saja tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena sudah tercatat dalam sejarah dari awal hingga keberadaan negeri ini saat ini, Yogyakarta tak pernah lekang menjadi tempat yang aktif menjadi penggerak demokrasi. Kelas menengah yang selama ini bisa dibilang hidup di dunianya, sibuk dengan kehidupannya, kini turun ke gelanggang dengan opini dan aksinya.
Pak Beye sudah “meralat” pernyataannya itu dengan mengatakan bahwa tujuan dia adalah menegakkan demokrasi di wilayah ini, dan salah satu pilar yang harus ditegakkan adalah bentuk pemilihan langsung kepala daerah. Namun reaksi atas reaksi ini justru menimbulkan reaksi lebih baru lagi, kini pernyataan “Penetapan adalah harga mati” mulai mencuat. Aksi reaksi ini, patut dicatat, adalah bentuk ketidak arifan penguasa dalam menyikapi rakyatnya.
Namun, terlepas dari ketidakcakapan pemimpin kita, yang mana sebenarnya tidak bisa kita tuntut karena dalam kampanyenya dulu yang ditonjolkan adalah “ganteng”-nya, mari kita bertanya kembali, apakah memang perlu mempertahankan status keistimewaan Yogyakarta?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 27 Comments »
Bernyanyilah, Pak Beye!
Monday, November 22nd, 2010
Sudah hampir berakhir kiranya masa tugas bapak menjadi abdi kami semua. Sudah berjalan berapa bulan pak? Tentu bapak yang paling ingat, bukan? Kami, para majikan sampeyan, sungguh rindu dengan suara bapak. Maafkan kalau kami tidak membeli kaset bapak, bagaimanapun selera pilihan musik tidak bisa disamakan toh?
Kali ini kami, para majikan sampeyan, ingin mendengar nyanyian bapak yang lain. Syukur kalau menjadi album baru. Tampillah di panggung dunia pak. Nyanyikanlah lagu perjuangan, memperjuangkan nasib kami para majikan sampeyan ini.
Bapak tentu tahu bukan, tentang majikan bapak yang terlantar oleh rusaknya alam karena pembabatan hutan, karena lumpur LAPINDO yang kasusnya berkepanjangan, karena bencana alam di Wasior, Mentawai dan Merapi. Kasus terakhir bahkan ada majikan sampeyan yang digunting bibirnya di Saudi Arabia sana.
Posted in Politik, Neolib, blog, Semiotics, Daily Life | 4 Comments »
Olahraga Di Negeri Bedebah
Monday, May 17th, 2010
Geregetan saya membaca berita soal pelatih Lin Dan yang baru-baru ini mempecundangi Taufik Hidayat di final Thomas Cup. Ternyata Tong Sinfu berada di belakang kesuksesan Lin Dan. Tong Sinfu adalah pelatih tim bulutangkis Indonesia yang sukses mengantar Alan Budikusuma dan Susy Susanti memperoleh Medali Emas dalam Olimpiade Barcelona 1992. Bahkan, Tong kemudian ikut membidani lahirnya generasi Hendrawan. Namun betapa menyesakkanya, beliau harus hengkang dari Indonesia –setelah deretan prestasi beliau– dikarenakan pengajuan kewarganegaraan beliau ditolak. Berita mengenai hal ini bisa dibaca di Kompas.
Yang membuat saya semakin geregetan karena saya teringat dengan klub olahraga nasional yang lain, PSSI. Dana mengalir deras, bahkan sempat didukung oleh APBD, sampai sekarang tong kosong mlompong gak ada prestasinya, ditambah dengan pimpinannya yang NAPI dan membuat nama Indonesia TERCORENG di mata FIFA. Orang yang seperti ini yang dibela oleh negeri bedebah ini, sampah yang tak menyumbang apapun!
Nasib Para Pahlawan Olahraga
Kalau kita search melalui Google dengan keyword Heryanto Arbi SKBRI, maka akan kita temukan catatan bagaimana memalukannya negeri kita memperlakukan anak bangsanya. (Terimakasih kepada Om Eko untuk keyword ini).
Posted in Kesehatan, Politik, Culture, Daily Life | 52 Comments »
Tentang Revolusi
Wednesday, May 12th, 2010
Perang, adinda Arjuna, hanyalah sebuah proses lumrah untuk menghapus yang lama, membongkar angkara murka dan menggantikannya dengan yang baru yang lebih indah dan dahsyat!
– Sri Kresna, Mahabarata
Membaca kembali kisah Mahabarata, terutama dari Kanda aslinya –bukan versi Wayang Purwa, membawa saya kepada hal-hal yang sekarang berlangsung di negeri ini. Kisah yang penuh dengan gambaran sikap ksatria ini, mau tak mau menjadi semacam ejekan pedas bagi keadaan terkini di negeri ini.
Satu hal yang pertama melintas adalah tentang Soeharto dan kroni-kroninya. Dalam kisah Mahabarata disebutkan bahwa Pandawa (terutama Yudhistira alias Semiaji) sempat berpikiran bahwa “biarlah Kurawa berlaku sesukanya, kita terima saja secara legawa dan ikhlas”. Dan pada saat itu, Sri Kresna (didahului oleh Drupadi) mengingatkan bahwa ada pilihan lain lagi bagi mereka yang menyebut diri Ksatria. Kurawa yang telah menginjak hak-hak azasi sudah selayaknya diberi pelajaran, inilah Ksatria yang sesungguhnya, yakni membela hak-hak kaum lemah. Kembali pada topik Soeharto, maka sikap “sok legawa, sok ksatria” yang ditunjukkan oleh para pemimpin politik di negeri ini, tak lebih dari sikap pengecut kalau tidak mau dibilang ketakutan.
Posted in Politik, Neolib, Daily Life | 2 Comments »
Wawancara Menkominfo Kita dengan BBC
Saturday, February 20th, 2010
Dari Benny saya mendapatkan informasti mengenai berita yang dimuat oleh BBC, tertanggal 16 Februari 2010 dengan judul RPM Konten Media ditentang. Dalam situs itu diunggah pula dialog/wawancara antara wartawan BBC dengan Menteri kita. Silakan download unduh wawancaranya di sini (berkas mp3).
Dalam wawancara itu Tiffatul Sembiring menyampaikan (sebagaimana dikutip dari situs BBC)
”Ketika ada penghujatan dan kami mendapat keluhan ternyata situsnya ada di word press, New York. Kami tak bisa berbuat apa-apa.”
”Dengan peraturan menteri itu kita bisa menyelesaikan dan melakukan tuntutan. Kita bisa menutup ataupun membatasi ISP mereka yang ada di sini,” ucap Tiffatul Sembiring.
Juga beliau menyatakan bahwa “media online tidak ada hubungannya dengan pers”. Beliau juga menyatakan bahwa banyak yang menentang dan memprotes padahal belum membaca rancangan itu. Kenyataannya, justru beliau sendiri yang belum membaca rancangan tersebut
Dan satu lagi pak menteri, ini untuk Anda, dalam pengertian konten dan kewajiban penyelenggara mengawasi konten, maka produk-produk pers online menjadi masuk. Bukankah begitu?
Syukurlah, berita terakhir menyebutkan bahwa rancangan ini bakalan dibatalkan. Mari kita tunggu saja.
vale, demi kejujuran
el rony, berbagi resep ke pak menteri: siang bolong panasnya terik, kalo Anda bohong ya kami kritik.
[update]
Ternyata Benny Chandra mendapatkan infonya dari blognya Herman Saksono. Sorry mon, bukannya nggak cinta, cuma aku malah belum blogwalking ke blognya seleb. hihi *ngeles*.
URL download file saya ubah, mengingat blog ini bandwith-space-nya tidak terlalu besar. Siapa tahu saja yang download banyak.
Pak Tiffy terakhir di twitter beliau menyebutkan bahwa tuntutan pembatalan itu lebay (beliau benar-benar menulis kata lebay di twitnya). Karena ini baru rancangan, sekedar tidak tandatangan saja sudah otomatis tidak berlaku.
Posted in Politik, Neolib, Semiotics, Technology | 12 Comments »
Ganti saja rakyatnya!
Wednesday, August 5th, 2009
Ungkapan itu muncul dari percakapan teman saya (Doni Kristian Dachi) dengan sopir taksi yang membawanya pulang ke penginapannya. Ungkapan itu bukan muncul dari mulut teman saya, tetapi dari sang sopir taksi. Ah, mungkin tidak terlalu penting dari siapa kalimat itu muncul.
Kalimat ini keluar setelah melalui sedikit perbincangan mengenai perkembangan negara. Dan kalimat ini membawa saya ke sebuah angan-angan, sebuah pertanyaan besar,”apakah memang problematika dunia demokrasi itu seperti ini?” Apakah negara-negara besar, yang sudah makmur, yang juga menjunjung demokrasi, mengalami kegelisahan ini?
Sebuah kalimat yang menyiratkan betapa sudah peliknya problematika kita. Seakan tidak ada lagi hal yang bisa diperbaiki baik dari segi tatanan sosial hingga struktur kekuasaan. Anehnya, atau mungkin sudah sewajarnya (?), secara spontan naluri saya mengangguk menyetujui kalimat itu. Jadi, apakah saya juga sudah sedemikian putus asa?
Mengganti Rakyat
Adalah sebuah langkah paling radikal yang mungkin bisa dilakukan oleh sekumpulan manusia. Tentunya mengganti di sini tidak bisa dengan mengebom habis seluruh penduduk negeri, lalu mendatangkan penduduk yang “lebih baik” dari negeri antah berantah atau malah dari surga. Mengganti di sini artinya melakukan perubahan radikal terhadap kunci-kunci sendi pergerakan bangsa.
Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 7 Comments »
