Tentang Sebuah Hak yang Tak Terpenuhi
Thursday, December 1st, 2011
Sebelum saya menulis panjang lebar, ada baiknya saya awali tulisan saya ini dengan disclaimer, bahwa saya tidak memposisikan diri membela siapapun. Posisi saya dari dulu insyaAllah tidak pernah berubah, saya memilih berpihak kepada korban. Dalam kaitan dengan tulisan kali ini, bagi saya, korbannya adalah kita semua.
Bagi teman-teman yang belum mengetahui duduk persoalannya, baiklah saya singgung serba sedikit tema yang akan saya tuliskan kali ini. Pagi hari tadi, 1 Desember 2011, seorang kawan yang bernama Fajar Jasmin, seorang penderita HIV positif (demikian pengakuan beliau) membagi kegelisahannya di twitter melalui akunnya @fajarjasmin. Beliau mengabarkan bahwa anaknya, ditolak masuk oleh sebuah lembaga pendidikan di Jakarta dikarenakan oleh keadaan beliau (penyakit yang beliau idap). Menurut pengakuan beliau pula, sang anak bukanlah pengidap HIV positif, tetapi pihak sekolah menyatakan keberatan karena sang bapak tidak bersedia menunjukkan hasil tes kesehatan sang anak.
Pendirian beliau kupikir ada benarnya, beliau menyuarakan kesamaan hak. Jika semua anak diwajibkan menunjukkan hasil test, maka hal ini tentu tidak akan menjadi penghalang. Pun jika kemudian hal ini diberlakukan, sebenarnya masih menyisakan perdebatan lain lagi karena hasil test kesehatan seseorang tidak boleh disebar luaskan tanpa seijin orang tersebut. Begitu gambarannya, sekilas saja, karena saya tidak ingin membahas hal ini. Saya ingin menyampaikan hal lain, yang merupakan kegelisahan saya pribadi.
Posted in Politik, Pendidikan, Daily Life | 5 Comments »
Membisniskan Orang Sakit?
Sunday, October 23rd, 2011
Sekali lagi tentang rumah sakit. Tentang pelayanan dari sebuah institusi yang bersinggungan langsung dengan harapan hidup. Ada sekian banyak cerita seputar rumah sakit yang saya dapatkan, namun kali ini, seijin mas Bobby Gunawan yang menceritakan semuanya di FB-nya, saya ingin membaginya pula ke semua orang, agar mereka yang tidak memiliki FB bisa ikut membaca. Ringkasnya, ini adalah potret pelayanan yang seakan menanggalkan “rasa” dan “kemanusiaan”, hal yang seharusnya menempel erat di institusi yang bersandar pada jasa pelayanan. Saya copy paste note FB dari mas Bobby Gunawan. Silakan dibaca.
KURANG BIAYA 70 RIBU, BAYI 10 BULAN TEWAS TERLANTAR DI RUMAH SAKIT
Kepada rekan-rekan jurnalis, saya ingin menyampaikan kabar duka. Anak dari keponakan saya Susan Kania & Martin, yg berusia 10 bulan tewas terlantai di Rumah Sakit Mitra Anugrah Lestari, Cimahi, Jabar. Gara-gara tidak bisa tebus obat 70 ribu!!!
Susan dan Keluarga biasanya meminta bantuan jika ada masalah keuangan. suka sms atau telp. Tapi kemarin tidak ada kabar apa-apa. aya baru tau kalau mereka sudah tidak punya pulsa, untuk kontak. Bahkan HP sempat ditawarkan untuk digadaikan ke rumah sakit.
Berikut penuturan orang tua korban. Untuk nomer HP, silakan japri kesaya:
Posted in Kesehatan, Politik, Neolib | 7 Comments »
Seandainya Irul itu New 7 Wonder..
Monday, October 17th, 2011
Ya, ini berandai-andai saja. Sebenarnya perandaian ini dipicu oleh maraknya –lagi– isu soal New 7 Wonder. Bagi teman-teman yang mengikuti kabar kabur seputar kontes idol-idolan ini tentu tahu, bahwa kontes ini sudah berlangsung semenjak tahun 2000. Dan semenjak tahun itu pula, meski sudah memajang deretan “pemenang”, masih juga belum ada kejelasan tentang beberapa hal. Detilnya sih teman-teman bisa baca di blognya Priyadi.
Setelah perusahaan (ya, perusahaan, bukan lembaga/foundation) kecil dari Swiss ini mengancam mencopot pulau komodo dari daftar New 7 Wondernya, sebenarnya hiruk pikuk soal inipun sempat mereda. Dikabarkan waktu itu, Indonesia (dalam hal ini dinas budaya dan pariwisata) sempat dengan PD mengajukan diri sebagai tempat pelaksanaan penyerahan award. Namun ternyata perusahaan kecil dari Swiss ini minta sejumlah uang lagi. Karena –mungkin– disbudpar sudah keluar uang banyak untuk kampanye, tidak ada anggaran untuk ini, maka disbudpar menyatakan membatalkan usulan itu. Eh, diancam mau dihapus. Seingatku sih waktu itu sikap pemerintah kita, yaudah hapus saja.
Waktu berlalu, bulan berganti, tahu-tahu muncullah satu sosok politikus. Bak pahlawan, dia katakan “votinglah” biaya sms premium sudah ditanggung olehnya (atau oleh sponsor, demikian bahasa resminya). Maka ramai lagilah kampanye soal New 7 Wonder ini. Masih dibutuhkan 120 juta vote untuk “memenangkan” Pulau Komodo dalam ajang ini.
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, blog, Daily Life | 6 Comments »
Arogansi Pusat, Arogansi para Penjilat
Tuesday, September 27th, 2011
Hari ini mendapat kabar yang kurang menyenangkan. Kisah usang tentang perlakuan orang pusat kepada orang daerah. Saya ungkap sedikit saja kisahnya. Jadi, sudah beberapa hari ini berlangsung sebuah event besar di satu gedung expo di Yogyakarta. Event ini digelar oleh kementrian dari Jakarta. Tak kurang pimpinan lembaga kementrian itu hadir pada saat pembukaan. Singkat cerita, dimintalah teman-teman Yogya untuk mengisi acara.
Acara berlangsung tadi malam, 27 September 2011 pukul 18.20WIB. Teman-teman yang memang selalu bergerak tanpa pamrih, tidak melulu memburu uang, bahu membahu menyiapkan acaranya. Alangkah mengecewakannya ketika ternyata di saat acara akan dimulai, panitia masih juga belum memberikan kejelasan soal blocking waktu dan tempat. Hal ini bertambah parah dengan tidak disiapkannya kondisi dan suasana, sehingga konsep acara yang bersifat obrolan jadi berantakan karena ada suara dari booth lain yang mendominasi.
Saya merasakan betul kekecewaan teman-teman yang seakan –istilah jawanya– tidak diuwongke. Apalagi Argamoja yang sudah pontang-panting menyiapkan segalanya, termasuk mengontak para pembicara. Anda semua bisa membayangkan bagaimana jika berada pada posisi dia, sementara dia yang mengundang pembicara, ternyata di lokasi, slide yang disiapkan oleh pembicarapun tidak bisa ditampilkan. Sungguh sebuah hal yang –menurut saya– kurang ajar apa yang dilakukan oleh penyelenggara kegiatan tersebut. Entah di Event Organizer-nya, atau bisa juga di mentalitas khas pegawai yang makan gaji buta, yang jelas apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mencerminkan upaya paling minimal untuk menghargai teman-teman yang tanpa pamrih membantu mereka.
Posted in Politik, Yogyakarta, blog | 8 Comments »
Yogya dalam kepungan proyek
Friday, September 23rd, 2011
Bulan-bulan jelang akhir tahun, sepertinya menjadi bulan langganan untuk proyek-proyek pembangunan fisik. Seperti bulan ini, terhitung semenjak bulan kemarin bahkan, proyek perbaikan jalan, perbaikan gorong-gorong hingga jembatan dan penanaman kabel optik, mewarnai hampir tiap sudut bumi Yogyakarta.
Atas nama mempercantik kota, juga perawatan serta mungkin juga perbaikan fasilitas, hal ini tentu saja tidak menjadi masalah. Seperti kondisi ruas jalan di seputar Jalan Magelang misalnya, batalnya proyek jembatan layang di penggal ring road utara ini menyisakan bopeng di jalanan. Jalanan bergelombang ini, tentunya akan membantu para pengguna jalan jika segera diperbaiki. Harapannya tentu saja jalanan ini bisa sehalus jalanan di penggal ringroad seputaran Demak Ijo, atau seperti ringroad selatan.
Namun sepertinya hal ini bukanlah prioritas saat ini. Meskipun jalanan sudah berlubang sehingga membahayakan pengguna jalan, namun batalnya proyek pembangunan jembatan layang bukan berarti melanjutkannya dengan perbaikan kerusakan yang diakibatkannya.
Posted in Kesehatan, Politik, Yogyakarta, Daily Life | 4 Comments »
Merdeka Itu..
Tuesday, August 16th, 2011
Tulisan kali ini singkat saja, sekedar memberi pembanding bahwa sesingkat apapun entry sebuah blog, jauh lebih panjang dibandingkan sebuah twit, dan akan bertahan lebih lama, tentu saja.
Jadi, langsung saja, merdeka itu bagi saya adalah:
1. Kebebasan menyatakan pendapat, tanpa harus takut ancaman subversif.
2. Kebebasan memperoleh informasi, apapun, tanpa harus dipaksa tunduk oleh aturan yang tidak masuk akal.
3. Kebebasan mengamalkan kepercayaan tanpa harus dihantui oleh ancaman mayoritas.
4. Terpenuhinya hak-hak asasi sebagai warga negara, terutama pendidikan, kesehatan dan informasi.
5. Ketika negara dipimpin oleh orang yang kompeten di bidangnya, dan fokus dalam penyejahteraan warga.
6. Hilangnya represi paramiliter dan dihancurkannya kelompok-kelompok anarkis (tepatnya perusak) atas nama agama ataupun bukan, oleh negara.
7. Ketika kebanggaan lahir dengan sendirinya, bukan dengan pemaksaan ataupun ancaman.
8. Ketika negara (dan rakyat) sudah tidak lagi dihantui hutang.
9. Ketika koruptor dan pemerkosa dihukum seberat-beratnya tanpa ampunan (maaf, saya manusia biasa, pengampunan bagi saya ada batasnya).
10. Hilangnya militerisme di segala lini masyarakat sipil dari tingkat kelurahan hingga negara. Militer cukup berada di barak.
Ini serba sedikit hal yang bisa saya tuangkan, bisa jadi esok hari sudah bertambah lagi. Anda boleh tidak setuju, karena saya menghormati kemerdekaan yang saya artikan menurut pendapat pribadi saya ini.
Vale, demi kemerdekaan.
El rony, belum merdeka.

Posted in Politik, Neolib, blog, Daily Life | 7 Comments »
Pesan dari Negeri Dagelan
Saturday, June 18th, 2011
Apa jadinya jika sekelompok pendagel senior berkumpul dan manggung bersama? Yang saya rasakan adalah perut mengeras, mata beleken karena air mata segera mengering begitu terterpa AC, dan tenggorokan kering. Tertawa tanpa henti dari awal hingga tiga jam kemudian, ketika mereka selesai manggung.
Saya sedang bercerita tentang lasykar dagelan. Satu pertunjukan yang digelar oleh seniman-seniman Yogya dengan iringan hentakan musik hiphop dari Jogja Hiphop Foundation dari awal hingga akhir. Kemasan cerita yang apik tidak bertabrakan dengan improvisasi-improvisasi para pemain handal di negeri ini, negeri Yogyakarta.
Sak tleraman.
Tepat sebelum acara dimulai, saya bersama istri menyempatkan mengisi perut dulu di angkringan pasar kangen Yogyakarta yang digelar di halaman TBY, tempat acara berlangsung. Pasar Kangen sendiri masih berlangsung hingga… usai (kata mas Anang Batas). Di depan warungnya mbah darmo, kami menyantap bakso dan teh anget.
Sambil menyiapkan kamera, saya melihat-lihat ke sekeliling, mencari obyek yang sekiranya bisa dijadikan obyek “saalh fouks” alias mencuri potret. Saat mendongak, saya kaget karena melihat ada segumpal bara yang melayang lurus dari utara ke selatan. Ternyata bukan saya saja yang melihat ini, mas @faridRT juga melihatnya. Saya bukan mistiskus sejati, jadi yang di pikiran saya saat itu ya cuma, “wah lucu ini”.
Dihibur dan Menghibur.
Lalu tiba saatnya masuk ke dalam gedung, acara segera dimulai. Tampil pertama setelah kata pembuka dari Butet Kertaradjasa adalah pasangan Wisben dan mas Joned. Saya agak terkesima dan khawatir juga, karena Mas Joned baru saja (lima hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu dari waktu dia pentas) ditinggal istrinya untuk selamanya, menghadap Allah SWT. Saya sudah siap-siap, terus terang, untuk teraduk-aduk perasaan jika saja mas Joned sedikit saja menampakkan kegalauan.
Namun, saya salah. Beliau adalah aktor kawakan. Pendagel profesional yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh potensinya meskipun dalam keadaan seperti itu. Saya bahkan lupa kalau beliau sedang berkabung, hingga ketika tiba scene dimana yu Soimah Poncowati yang berperan sebagai istri muncul. Mas Joned sendiri yang justru bilang,”sebentar.. ini sensitif, soalnya istri saya baru saja meninggal kemarin je”. Tapi itupun bukan menghalangi jalan cerita. Timpalan dari Wisben dan Gareng serta tanggapan dari Mas Joned sendiri kemudian, justru mengangkat lagi suasana menjadi jauh lebih lucu.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog | No Comments »
Tegakah Menggali Kubur Anak Cucu Sendiri?
Monday, May 30th, 2011
Proyek penambangan pasir besi di Kulonprogo seperti tak terbendung. Petani seputar pantai yang menolaknyapun suaranya terpecah. Ada hal yang cukup membuat miris di sini yang nampaknya kurang menjadi perhatian warga Yogyakarta khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Yang saya maksud adalah mengenai konservasi alam.
Seperti dituturkan mas Eko Teguh di Harian Kompas hari ini, pasir besi di pantai Kulonprogo ditambang dengan metode diambil pasirnya lalu disaring untuk dipisahkan antara pasir biasa dengan pasir besi. Kandungan pasir besi di pantai Kulonprogo, menurut mas Eko Teguh, adalah 40% hingga 80% tiap bagian pasir pantai. Artinya setiap pasir yang diambil dari wilayah pantai Kulonprogo ini, hanya akan dikembalikan sebanyak maksimal 20% saja.
Maka akan sampai tahun kapankah pantai di wilayah Kulonprogo akan tetap ada?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 6 Comments »
Negara yang Tak Bosan Mempermalukan Diri
Friday, May 6th, 2011
Belum lama kiranya kita menjadi bulan-bulanan media asing gara-gara Menteri Kominfo kita yang –berdasar video– terlihat bernafsu pingin salaman dengan Ibu Negara USA tapi ngeles habis-habisan di twitter. Disusul pula dengan Arifinto yang mbokep di ruang sidang, jelas-jelas melanggar Undang-undang yang didorong lahirnya oleh partainya sendiri. Lalu Anggota DPR Komisi VIII yang minta ampun tidak tahu apa email mereka, juga tidak mengerti apa itu teleconference. Beuh.. banyak.
Kini, tengah berlangsung KTT Asean, dan negeri kita menjadi tuan rumah acara pertemuan petinggi-petinggi Asia itu. Namun apa lacur, fasilitas media center, yang mana adalah tempat berkumpulnya para pembuat opini dari seluruh dunia (baca: pers), fasilitasnya berantakan. Dana 20 Milyar rupiah itu entah masuk kantong yang mana.
Itu belum semuanya. Masih ada lagi yang membuat saya, mungkin terutama karena selama ini saya berkecimpung di dunia desain, sakit kepala dan sakit mata. Hal ini mengenai media campaign yang dipakai dalam event internasional tersebut. Oh tentunya juga saya membicarakan soal event lain tingkat internasional juga, yang sebentar lagi berlangsung di negeri ini.
Posted in Politik, Semiotics | 31 Comments »
TNI, sebenarnya, Apa fungsimu?
Wednesday, April 20th, 2011
Sekali lagi tragedi terjadi. TNI memuntahkan peluru ke arah warga. Kali ini kejadiannya di Kebumen. Empat warga menjadi korban dalam bentrokan tersebut. Dan seperti biasa, simpang siur mengenai hal ini beredar cepat di media. Pihak warga menyatakan mereka diserang tanpa alasan, sementara dari pihak TNI menyatakan bahwa yang diserang adalah perusuh.
Saya sendiri tidak akan membahas mengenai kejadian itu, sepesimis apapun saya hanya bisa berharap pada proses hukum yang berjalan. Oleh karenanya kali ini, saya ingin menyampaikan hal di luar itu. Sebuah kegelisahan yang mengganjal di hati. Mengapa kejadian ini sering kali berulang? Kenapa harus ada korban jiwa dalam peristiwa semacam ini?
Dalam hal ini pertanyaan saya terarah kepada TNI. Bagaimanapun juga, TNI lebih memiliki segalanya dibanding rakyat kebanyakan. Mereka memiliki senjata dan korps mereka cukup solid dan terorganisir. Jika kita bandingkan dengan ilustrasi sederhana sebuah kecelakaan di jalanan, maka pengguna mobil akan dibebani kecurigaan terlebih dulu dibanding supir becak. Maka, ada apa dengan TNI?
TNI atau Preman?
Pembelaan diri adalah lagu lama yang selalu berkumandang dari kalangan pejabat teras TNI ketika kasus seperti ini terjadi. Dengan demikian maka nyawa yang hilang sudah sepantasnya tidak dipermasalahkan, karena ini pembelaan diri. Membela diri artinya mempertahankan kondisi pribadi dari keterancaman.
Posted in Politik, Neolib, Semiotics | 5 Comments »
