Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Politik’

Olahraga Di Negeri Bedebah    Print This Post   Email This Post

Monday, May 17th, 2010

Geregetan saya membaca berita soal pelatih Lin Dan yang baru-baru ini mempecundangi Taufik Hidayat di final Thomas Cup. Ternyata Tong Sinfu berada di belakang kesuksesan Lin Dan. Tong Sinfu adalah pelatih tim bulutangkis Indonesia yang sukses mengantar Alan Budikusuma dan Susy Susanti memperoleh Medali Emas dalam Olimpiade Barcelona 1992. Bahkan, Tong kemudian ikut membidani lahirnya generasi Hendrawan. Namun betapa menyesakkanya, beliau harus hengkang dari Indonesia –setelah deretan prestasi beliau– dikarenakan pengajuan kewarganegaraan beliau ditolak. Berita mengenai hal ini bisa dibaca di Kompas.

Yang membuat saya semakin geregetan karena saya teringat dengan klub olahraga nasional yang lain, PSSI. Dana mengalir deras, bahkan sempat didukung oleh APBD, sampai sekarang tong kosong mlompong gak ada prestasinya, ditambah dengan pimpinannya yang NAPI dan membuat nama Indonesia TERCORENG di mata FIFA. Orang yang seperti ini yang dibela oleh negeri bedebah ini, sampah yang tak menyumbang apapun!

Nasib Para Pahlawan Olahraga

Kalau kita search melalui Google dengan keyword Heryanto Arbi SKBRI, maka akan kita temukan catatan bagaimana memalukannya negeri kita memperlakukan anak bangsanya. (Terimakasih kepada Om Eko untuk keyword ini).

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Politik, Culture, Daily Life | 47 Comments »

Tentang Revolusi    Print This Post   Email This Post

Wednesday, May 12th, 2010

Perang, adinda Arjuna, hanyalah sebuah proses lumrah untuk menghapus yang lama, membongkar angkara murka dan menggantikannya dengan yang baru yang lebih indah dan dahsyat!
– Sri Kresna, Mahabarata

Membaca kembali kisah Mahabarata, terutama dari Kanda aslinya –bukan versi Wayang Purwa, membawa saya kepada hal-hal yang sekarang berlangsung di negeri ini. Kisah yang penuh dengan gambaran sikap ksatria ini, mau tak mau menjadi semacam ejekan pedas bagi keadaan terkini di negeri ini.

Satu hal yang pertama melintas adalah tentang Soeharto dan kroni-kroninya. Dalam kisah Mahabarata disebutkan bahwa Pandawa (terutama Yudhistira alias Semiaji) sempat berpikiran bahwa “biarlah Kurawa berlaku sesukanya, kita terima saja secara legawa dan ikhlas”. Dan pada saat itu, Sri Kresna (didahului oleh Drupadi) mengingatkan bahwa ada pilihan lain lagi bagi mereka yang menyebut diri Ksatria. Kurawa yang telah menginjak hak-hak azasi sudah selayaknya diberi pelajaran, inilah Ksatria yang sesungguhnya, yakni membela hak-hak kaum lemah. Kembali pada topik Soeharto, maka sikap “sok legawa, sok ksatria” yang ditunjukkan oleh para pemimpin politik di negeri ini, tak lebih dari sikap pengecut kalau tidak mau dibilang ketakutan.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Daily Life | 2 Comments »

Wawancara Menkominfo Kita dengan BBC    Print This Post   Email This Post

Saturday, February 20th, 2010

Dari Benny saya mendapatkan informasti mengenai berita yang dimuat oleh BBC, tertanggal 16 Februari 2010 dengan judul RPM Konten Media ditentang. Dalam situs itu diunggah pula dialog/wawancara antara wartawan BBC dengan Menteri kita. Silakan download unduh wawancaranya di sini (berkas mp3).

Dalam wawancara itu Tiffatul Sembiring menyampaikan (sebagaimana dikutip dari situs BBC)

”Ketika ada penghujatan dan kami mendapat keluhan ternyata situsnya ada di word press, New York. Kami tak bisa berbuat apa-apa.”

”Dengan peraturan menteri itu kita bisa menyelesaikan dan melakukan tuntutan. Kita bisa menutup ataupun membatasi ISP mereka yang ada di sini,” ucap Tiffatul Sembiring.

Juga beliau menyatakan bahwa “media online tidak ada hubungannya dengan pers”. Beliau juga menyatakan bahwa banyak yang menentang dan memprotes padahal belum membaca rancangan itu. Kenyataannya, justru beliau sendiri yang belum membaca rancangan tersebut :)

Dan satu lagi pak menteri, ini untuk Anda, dalam pengertian konten dan kewajiban penyelenggara mengawasi konten, maka produk-produk pers online menjadi masuk. Bukankah begitu?

Syukurlah, berita terakhir menyebutkan bahwa rancangan ini bakalan dibatalkan. Mari kita tunggu saja. :)

vale, demi kejujuran

el rony, berbagi resep ke pak menteri: siang bolong panasnya terik, kalo Anda bohong ya kami kritik.

[update]

Ternyata Benny Chandra mendapatkan infonya dari blognya Herman Saksono. Sorry mon, bukannya nggak cinta, cuma aku malah belum blogwalking ke blognya seleb. hihi *ngeles*.

URL download file saya ubah, mengingat blog ini bandwith-space-nya tidak terlalu besar. Siapa tahu saja yang download banyak.

Pak Tiffy terakhir di twitter beliau menyebutkan bahwa tuntutan pembatalan itu lebay (beliau benar-benar menulis kata lebay di twitnya). Karena ini baru rancangan, sekedar tidak tandatangan saja sudah otomatis tidak berlaku.

Posted in Politik, Neolib, Semiotics, Technology | 12 Comments »

Ganti saja rakyatnya!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, August 5th, 2009

Ungkapan itu muncul dari percakapan teman saya (Doni Kristian Dachi) dengan sopir taksi yang membawanya pulang ke penginapannya. Ungkapan itu bukan muncul dari mulut teman saya, tetapi dari sang sopir taksi. Ah, mungkin tidak terlalu penting dari siapa kalimat itu muncul.

Kalimat ini keluar setelah melalui sedikit perbincangan mengenai perkembangan negara. Dan kalimat ini membawa saya ke sebuah angan-angan, sebuah pertanyaan besar,”apakah memang problematika dunia demokrasi itu seperti ini?” Apakah negara-negara besar, yang sudah makmur, yang juga menjunjung demokrasi, mengalami kegelisahan ini?

Sebuah kalimat yang menyiratkan betapa sudah peliknya problematika kita. Seakan tidak ada lagi hal yang bisa diperbaiki baik dari segi tatanan sosial hingga struktur kekuasaan. Anehnya, atau mungkin sudah sewajarnya (?), secara spontan naluri saya mengangguk menyetujui kalimat itu. Jadi, apakah saya juga sudah sedemikian putus asa?

Mengganti Rakyat

Adalah sebuah langkah paling radikal yang mungkin bisa dilakukan oleh sekumpulan manusia. Tentunya mengganti di sini tidak bisa dengan mengebom habis seluruh penduduk negeri, lalu mendatangkan penduduk yang “lebih baik” dari negeri antah berantah atau malah dari surga. Mengganti di sini artinya melakukan perubahan radikal terhadap kunci-kunci sendi pergerakan bangsa.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 7 Comments »

Oposisi? Oh.. Posisi..    Print This Post   Email This Post

Thursday, July 9th, 2009

Pemilihan Umum untuk anggota legislatif sudah lama berakhir. Putaran pertama pemilu untuk presiden juga sudah terlewati. Berita-pun dipenuhi dengan hasil quickcount dan interpretasi serta analisa politik atas apa yang terjadi.

Selain hal itu, muncul pula –seperti biasa– protes sini-sana atas hasil pemilihan umum yang baru saja berlalu. Saya tidak akan membahas tentang benar salah, dan lain sebagainya soal pemilu ini, saya sendiri tidak memilih.

Saat ini yang terpikir oleh saya adalah soal oposisi. Sebuah negara yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara demokratis, sudah selayaknya memiliki kanal oposisi. Dan negara kita –sependek pengetahuan saya– tidak membatasi peran oposisi. Yang jadi masalah kemudian justru, adakah peran itu diambil? Atau untuk lebih jelasnya, adakah partai yang benar-benar oposisi?

Oh… Posisi…

Saya kembali mengutip judul di atas. Karena memang itu yang terjadi di negeri ini. Ketika sebuah partai mengalami kekalahan, selain sibuk mencari-cari kesalahan pemilu mereka juga sibuk melakukan tawar menawar politik agar diberi posisi di pemerintahan.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Semiotics | 2 Comments »

Sekali lagi, mengapa harus memilih?    Print This Post   Email This Post

Thursday, March 12th, 2009

Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.

Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya. :) Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.

Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.

Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak. [ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Culture | 36 Comments »

Sekedar Urun Rembug buat Para Caleg dan Partai    Print This Post   Email This Post

Thursday, February 19th, 2009

Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.

Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?

Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.

Inti dari Kampanye

Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.

[ detail ]

Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »

Petisi Batalkan Utang Pembelian Kapal Jerman    Print This Post   Email This Post

Tuesday, November 25th, 2008

Tadi malam saya mendapat sms dari Bung Don K Marut, Direktur INFID. Beliau meminta dukungan tentang pembatalan utang pembelian kapal Jerman. Dalam sms beliau, disampaikan bahwa Indonesia telah mengadakan perjanjian hutang dengan pihak pemerintah Jerman. Akan tetapi perjanjian hutang ini melanggar ketentuan internasional, dari pihak pemerintah Jerman sendiri sudah ada sinyal positif untuk pembatalan ini. Pemerintah kita, sebagaimana biasanya, peragu dan tidak segera mengambil sikap.

Oleh karenanya, INFID memotori gerakan tanda tangan untuk meminta Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Departemen Keuangan untuk membatalkan pembelian Kapal Jerman tersebut. Saya sendiri, karena sekarang tidak di lapangan, mengambil sikap dengan mendukung gerakan ini melalui petisi Online.

Petisi Online dapat di akses di http://www.petitiononline.com/indo2008/petition.html . Nantinya hasil petisi ini akan saya serahkan ke bung Don Marut agar dipergunakan sebagai tambahan dukungan.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib | 7 Comments »

Menengok “Halaman Belakang” Negerinya Obama    Print This Post   Email This Post

Sunday, November 9th, 2008

Judul kali ini terinspirasi dari ulasan Fokus Kompas pada hari Jumat kemarin (07 November 2008). Melalui tulisan ini pula saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada harian tersebut. Di saat semua mata dan telinga terfokus ke berita seputar sepak terjang “kawan sewarna” –dalam arti sama-sama berwarna– Kompas dengan cukup tegas memposisikan dirinya sebagai penunjuk arah.

Fokus Kompas hari Jumat kemarin mengupas tentang geliat neo-sosialisme di belahan selatan Amerika, tepatnya di Paraguay dan Venezuela. Sosok Lugo dan Chavez, ikon perubahan masa kini, dikupas dengan cukup panjang lebar. Mungkin kalau boleh menyampaikan kekecewaan, hanya terletak di tulisan Budiman Sudjatmiko. Bagian tulisannya sungguh seperti –meminjam istilah istri saya– melihat acara televisi “mimpi kali ye” dimana seorang fans ketemu idolanya.

Namun terlepas dari kekecewaan itu, mari kita bincang-bincang lagi mengenai Lugo dan Chavez. Lugo, seorang mantan pastur, pengagum Soekarno, berhasil menduduki jabatan tertinggi di Paraguay. Namun, sampai hari Jumat kemarin, beliau masih tinggal di rumahnya yang berukuran tipe 45, makan ubi rebus dan minum teh bersama tamu dengan satu gelas kayu. Chavez-pun tidak enggan untuk berbagi “gelas” dengan para tamu. Ciri kesederhanaan yang mengingatkan kita pada ucapan sang proklamator, “Marhaen”.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture | 13 Comments »

Dilarang Memasang Bendera Partai di Pinggir Jembatan Sempit!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, August 6th, 2008

Demikian, jika saja saya seorang Raja, saya akan mengumumkan hal itu dengan disertai sanksi berat bagi yang melanggarnya. Sebagai seorang Raja, tentunya saya berhak dan dikaruniai hak mutlak untuk menentukan perilaku para andahan (bawahan/kawulo) saya.

Atau katakanlah saya ini MUI, saya akan membuat fatwa bahwa HARAM hukumnya memasang bendera partai di pinggir jembatan sempit! Paling tidak kalau saya sudah membuat fatwa demikian, sanksi neraka bagi mereka yang melanggarnya sepertinya cukup menakutkan. Apalagi kalau seperti selama ini yang terjadi di negeri ini, fatwa saya tentu akan didukung oleh serombongan pecinta kekerasan pendamba secuil kapling di surga. Tapi tentu berbeda dengan MUI, saya memiliki alasan yang sangat masuk akal dan sangat-sangat penting, walaupun tak lepas dari obyektifitas.  Jadi, membela fatwa saya ini tentunya sangat baik bagi kemaslahatan umat.

Bendera Pembawa Bencana

Ya, jujur saja, sebenarnya belum menjadi bencana. Hanya saja sangat-sangat nyaris hampir menjadi bencana. Ceritanya saya melewati selokan mataram, kebetulan saya sedang pakai motor, bersama istri dan anak. Hampir seluruh jembatan di selokan mataram ini dipenuhi oleh bendera-bendera partai.

[ detail ]

Posted in Politik, Culture, blog, Daily Life | 22 Comments »