Narablog: Sebuah Usulan
Wednesday, June 17th, 2009
Apa itu narablog? Satu kata untukĀ menggantikan istilah blogger. Nara di sini merujuk atau seperti yang digunakan untuk istilah narasumber, narapidana, yang kurang lebih berarti para pelaku. Saya bukan ahli bahasa, jadi sangat bisa jadi keterangan saya kurang pas. Silakan kunjungi website yang lebih representatif untuk hal ini.
Tujuan saya sendiri menulis artikel ini adalah untuk mengenalkan kata tersebut. Bagi saya usulan ini menjadi menarik karena dengan demikian menunjukkan dinamika budaya kita. Ilmu bahasa tidak berhenti.
Pengusulnya sendiri adalah Enda Nasution (semoga dia tidak sekedar meng-klaim usulan orang, seperti yang dituduhkan kakak kelasnya hihi), yang sering disebut sebagai bapak blogger (ah narablog).
Bahasa Baku, Bahasa Kaku
Nah, saya perlu juga jujur terhadap Anda, terhadap diri saya sendiri. Bahasa dalam pemahaman saya adalah ilmu yang sangat lentur. Bebas menyerap dari sana-sini, asal kita bisa saling memahami. Karena dalam hemat saya, memang itulah tujuan ditemukannya bahasa, agar kita bisa berkomunikasi.
Posted in Pendidikan, Culture, blog, Daily Life | 5 Comments »
Sekali lagi, mengapa harus memilih?
Thursday, March 12th, 2009
Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.
Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya.
Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.
Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.
Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak. [ detail ]
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Culture | 36 Comments »
Belajar Bahasa?
Tuesday, February 24th, 2009
Bahasa Inggris menurutku sama saja dengan bahasa yang lain. Bahasa Arab bahkan bahasa China ataupun Jepang yang tulisannya sulit dipahami itu, pastilah juga hanyalah masalah kebiasaan. Tinggal bagaimana kita terbiasa menggunakannya.
Menguasai satu bahasa bukanlah karena kecerdasan. Bukankah di masing-masing belahan dunia ada saja orang idiot yang tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat? Bukan bermaksud merendahkan arti ilmu bahasa, bukan juga dalam rangka merendahkan kemampuan tersimpan dari penderita idiositas, tapi begitulah menurut pemahamanku.
Dalam mempelajari sebuah bahasa, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Saya sendiri belum menguasai bahasa-bahasa yang sudah sempat saya sebutkan di atas, tapi paling tidak saya mengakui dan sepakat dengan ungkapan teman saya jaman kuliah, Rizal Ginanjar. Baginya, belajar bahasa harus dimulai dengan “pisuhan”.
Darimana Anda akan mempelajari bahasa dengan awalan yang seperti itu? Teman saya tadi memulai debut pelajaran bahasa Jawanya melalui stadion sepakbola di Jogja. Lha kalau bahasa Inggris? atau Arab? atau China? Sayang sekali tidak ada stadion/lapangan sepakbola internasional di sini, jadi sulit sekali menerapkan teori tadi.
Tapi sekarang saya senang sekali, ada satu solusi yang luar biasa. Kawan, teman, sahabat, genduk saya tersayang Pito dengan difasilitasi oleh komunitas bentukan dari kawan, sahabat, homokan saya tersayang Bahtiar yaitu BHI telah membukanya. Silakan datang ke Wetiga, angkringan di Jakarta, atau mampir saja ke faceboob, eh maksud saya facebooknya Pito. Atau bagi Anda yang nggak bisa buka facebooknya Pito, bisa mampir ke blog pecah belahnya di sini.
Bahasa Inggris jadi menyenangkan, atau kata tepatnya mungkin, memisuhkan! Selamat misuh! ![]()
Posted in Pendidikan, blog, how to | 7 Comments »
Roy, Ya Basta!
Monday, April 7th, 2008
Seruan sederhana saja, “saya bilang cukup!”. Perbincangan soal Roy Suryo tak berujung kepada kebaikan sedikitpun. Capek hati, capek otak. Lama-lama saya pikir Roy Suryo semakin menjadi sampah di dunia internet, seperti spam yang bertebaran.
Omongannya yang selalu sok penting, yang anehnya di-backup oleh media konvensional (baca koran, majalah dan tabloid), selalu memancing reaksi. Saya paham kenapa teman-teman blogger bereaksi keras, terkait dengan ungkapannya yang terakhir soal UU ITE (silakan baca lengkap di bloggerdanhacker.wordpress.com) yang menyinggung blogger dan hacker. Dengan tanpa tedeng aling-aling menuduh bahwa seluruh blogosphere akan menolak atau mungkin bahkan menyerang UU ITE.
Semakin keras pula reaksi teman-teman ketika terjadi defacing pada website depkominfo dan website partai golkar. Dipancing oleh omongan dia yang mengatakan bahwa blogger dan hacker berada di balik aksi itu. Apa sih salah blogger om? Hanya karena kami ndak percaya sama sampeyan? Bikinlah diri sampeyan layak untuk dipercaya, baru minta kami percaya. Bertindaklah yang santun, yang layak dihargai, agar kami juga bisa menghargai. Mungkin lebih tepatnya saya menggunakan kata saya, bukan kami, karena blogger itu beragam.
Terakhir saya mendapat kabar bahwa om Roy mengancam (melalui sms) kepada salah seorang rekan blogger yang mengirim pertanyaan atas blowup media yang dilakukan oleh media tempat dia bekerja setiap kali Roy bicara. Pertanyaan itu dikirim ke milis internal, yang entah bagaimana sampai pula ke tangan om Roy. Dan om Roy menanggapinya secara sangat pribadi. Kenapa pula musti sibuk sih om? Biarlah orang media, yang masih mempercayai sampeyan, yang menyampaikan alasan mengapa mereka masih mempercayai omongan sampeyan. Ndak perlulah sampeyan harus mengganggu orang dengan sms malam-malam.
Posted in Pendidikan, blog | 18 Comments »
Komunike #333 - Surat untuk Rahim
Thursday, August 16th, 2007
“Ibu, di Bumi ini, ada tidak sih orang yang bersalah?”
“Oh ada, yaitu orang-orang yang menebangi hutan, orang kaya yang di sekitar rumahnya banyak orang kekurangan”
“Wah, dilaporkan ke pak polisi saja bu”
“Nah, sayangnya banyak juga pak polisi yang dibayar oleh orang-orang yang bersalah itu agar tidak menangkap mereka”
Kamu ingat dengan fragment itu kan Rahim? Ya, itu percakapan antara kamu dengan ibumu. Darimu aku jadi belajar banyak hal. Dari pikiran-pikiranmu yang masih murni itu, muncul pula pikiran-pikiran di kepalaku. Sebelumnya aku sampaikan terimakasih banyak-banyak kepadamu.
Tidak Ada yang Abu-abu di Depan Hukum
Kamu tahu, aku tahu, dan para penegak hukum semestinya lebih tahu bahwa hal itu benar. Orang yang bersalah, sudah semestinya mendapatkan perlakuan hukum yang semestinya; ditangkap dan diadili. Namun yang terjadi di negeri ini memanglah sungguh berbeda.
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib | 11 Comments »
Playgroup, Pilihan ataukah Keterpaksaan?
Saturday, July 28th, 2007
Dua hari yang lalu saya tersentil oleh sebuah komentar di blog saya ini. Pengirimnya tidak menyertakan alamat blog dia, mengaku sebagai mas koko. Isinya adalah sebagai berikut:
koko Says:
July 26th, 2007 at 3:32 pm
Kayaknya lmyan juga da playgrup kayak gitu.Kita jd ga ssah ngurus anak,klo rewel bawa ja kplaygroup itu.
Ada dua hal yang menggelitik di pikiran saya. Pertama, adalah perasaan bahwa informasi mengenai playgroup ini cukup bermanfaat. Namun pikiran saya yang lain, yang justru membuat saya merasa perlu untuk menuliskan opini ini adalah bahwa playgroup dilihat sebagai tempat penitipan anak. Wah, saya jadi tersentil. Terimakasih Mas Koko
Manusia Karir dan Mandat re-Generasi
Sub-judul saya jadinya cukup menyentil juga, sekedar mengimbangi sentilan cerdas tersebut.
Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan teknologi dan percepatan pergerakan jaman menuntut kita semua untuk bekerja lebih keras. Beratnya kehidupan ditambah dengan bayang-bayang beban pendidikan bagi anak, generasi penerus kita, tentunya mau tak mau mendorong kita untuk bekerja lebih keras lagi.
Kehidupan di negeri ini memang membuat segala sesuatunya bisa dipandang tidak adil, ialah manakala kita lihat betapa jenjang/gap yang sedemikian tinggi di antara tiap kelas. Orang yang bekerja keras membanting tulang dari pagi hingga petang, penghasilannya bisa jadi jauh di bawah mereka yang justru –kelihatannya– tidak bekerja.
Posted in Pendidikan, Yogyakarta | 18 Comments »
Saya Memilih Bercerita
Wednesday, July 11th, 2007
Sudah beberapa kali saya mendengar tentang Mozart Effect. Keyakinan bahwa kemampuan IQ seorang anak akan lebih cepat berkembang jika diperdengarkan musik-musik klasik. Oleh karenanya, sudah beberapa kali pula saya mendapatkan himbauan agar melakukan hal yang sama.
Terlepas dari itu, saya memilih bercerita. Entah apakah ini sesuai dengan teori tersebut atau tidak, yang jelas anak saya yang masih dalam kandungan sepertinya senang tiap kali saya bercerita. Bahkan akhir-akhir ini, dia seperti “menagih” tiap sudah jamnya dan saya belum juga bercerita.
Lagu-lagu Sebelum Cerita
Sebetulnya, sebelum ini saya juga menyanyikan lagu. Pikiran saya sederhana saja, biarkan anak saya terbiasa dengan suara dan intonasi saya. Kalau toh ada yang bilang suara saya sumbang, itu soal lain. Yang penting bagi saya, anak saya merasakan curahan cinta saya.
Posted in Pendidikan, blog, Daily Life | 18 Comments »
Taman Pintar Yogyakarta, Tambah Pintarkah Kita?
Wednesday, June 20th, 2007
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang rakyatnya terdidik
- Rony Agung Rahmanto
Yogyakarta, yang telah cukup lama di-sekaligus ter-tasbihkan sebagai kota pendidikan, memperkuat ciri dirinya dengan menghadirkan sebuah sarana bermain sekaligus menambah pengetahuan. Tempat tersebut dinamakan Taman Pintar. Lokasi Taman Pintar ada di bekas Shopping Center (pusat jual-beli buku dengan harga miring), jadi menurut saya dari sebuah taman pintar menuju the taman pintar (pakai the karena lebih modern dan memang bentuknya “lebih taman”).
Saya tidak sedang ingin menceritakan detil mengenai taman tersebut. Tulisan ini saya buat untuk memperlihatkan taman pintar melalui sisi pengunjungnya, anak-anak dari kelas bawah. Maaf jika saya menggunakan terminologi kelas dan kemudian diikuti dengan kata bawah, saya sekedar ingin mempermudah identifikasi kelompok yang saya tunjuk bagi pembaca, dan terminologi kelas bawah sudahlah sangat jamak dan dimahfumi. Jadi, maaf.
Rumah Pengetahuan Amartya
Tersebutlah sebuah pondok rakyat, sebuah rumah yang disetting sebagai rumah tempat bertemunya pengetahuan. Tempat ini menampung kehausan-kehausan pengetahuan anak-anak. Sebuah rumah yang dikontrak oleh seorang aktivis HAM, seorang yang sudah tidak asing lagi bagi banyak khalayak, Eko Prasetyo sang penulis “orang miskin dilarang sekolah”.
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, Culture | 40 Comments »
Untuk Kang Pur, Mantan Calon Rektor UGM
Monday, April 23rd, 2007
Terhambat ya kang. Administrasi katanya ya.. Hehe.. ya begitulah. Syarat “berpengalaman” mau nggak mau memang saringan paling handal untuk “menyingkirkan” orang-orang dengan pola pikir “aneh” seperti sampeyan. Sing sabar kang!
Seperti telah saya sampaikan kemarin, dalam tulisan Kabar dari Yogya (lagi), bahwa Kang Pur menjagokan diri menjadi rektor UGM. Kenyataannya langkahnya harus terhenti karena syarat administratif.
Salah satu syarat menjadi rektor adalah memiliki pengalaman tiga tahun menjabat jabatan struktural di lingkungan kampus. Menurut salah satu pengurus senat, syarat ini merujuk pada pengalaman individu memimpin dari mulai KaJur (kepala jurusan) hingga jabatan struktural tinggi baik di tingkat dekanat maupun rektorat.
Kang Pur, dalam formulir persyaratan menuliskan pengalaman sebagai Rektor ISBUJA. ISBUJA sendiri adalah Institut Budaya Jawa, yang didirikannya semenjak tahun 2001 yang lalu. Permasalahannya adalah ISBUJA ini tidak terdaftar dalam KOPERTIS. Sehingga dinyatakan bahwa hal ini tidak sah demi hukum, atau semacam itu. Maka gagallah dia menjadi rektor. [ detail ]
Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, blog | 16 Comments »
Kabar dari Yogya (lagi)
Saturday, April 14th, 2007
“Apakabar?” adalah sebuah kalimat standar bagi siapa saja yang jarang bertemu. Atau sering ketemu tapi hanya sebatas “sliringan” alias ketemu sekilas, begitu ada kesempatan tentunya kita akan menanyakan kabarnya. Itu kalau kita memang peduli, kalau nggak peduli, ngapain ketemu? *lah ngomong apa sih*
Baiklah, saya menulis ini sebenarnya hanya ingin berkabar saja. Tentang suksesi di Yogyakarta. Sedang ada pesta besar di sini, yaitu menghadapi suksesi gubernur dan suksesi rektor UGM.
Kangmas (biar dikira saya berdarah biru gitu) Sultan Hamengkubuwono X, sudah menyatakan bahwa beliau tidak mau lagi menjabat sebagai gubernur. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak tanggapan. Antara lain:
- Dari Para Lurah/kepala desa:
Mereka menyatakan bahwa masyarakat Yogyakarta masih ingin mempunyai gubernur seorang sultan. Kecintaan rakyat Yogyakarta atas Sultan-nya, tidak mengering. Kurang lebih demikian yang disampaikan. - Dari Pejabat Keraton (Gusti Tirun dan Jaya):
Itu hak Sultan. Kalau memang beliau sudah berkeputusan, maka sabda pandhita ratu harus dipatuhi, bukan hanya oleh para kawula tetapi bahkan oleh sang raja sendiri. Kedua orang ini bahkan mengatakan bahwa gubernur tidak harus dari lingkungan kraton. Saya kok sepakat dengan mereka ya, biar sosok sultan tetap bersih dari kotoran-naif bernama politik praktis kekuasaan. - Dari Roy Suryo:
Itu hanya kiasan saja, pertanda. Kalau sultan saja yang paling pantas memimpin Yogya bilang tidak mau dipilih, apalagi yang lain yang jauh lebih tidak berhak, sebaiknya tidak usah mengajukan diri jadi gubernur.
Nah, kurang lebih itu pendapat yang beredar. Pendapat terakhir dari KRMT (yang sekarang sudah jadi KRT karena bukan “mas” lagi) adalah pendapat yang saya rasa paling tidak masuk akal.
Bukan karena saya pro-proletar, ataupun karena saya anti-feodal, ataupun yang lain lagi, tetapi saya hanya tidak membayangkan kalau sampai ada kekosongan kekuasaan. Emangnya Yogyakarta mau menjadi propinsi tanpa Gubernur? Gubernur tidak harus Sultan, bahkan tidak harus dari lingkungan Keraton. Hal itu sudah ditegaskan oleh beliau kangmas (asyik, kayaknya makin akrab saja saya) Sultan sendiri. Saya baik sebagai kawula Yogya maupun sebagai bagian dari masyarakat modern bernama propinsi DIY, menyatakan mendukung penuh hal ini.
Sudah saatnya kedewasaan berpolitik di wilayah ini untuk beranjak ke sana. Memberi kesempatan bagi siapa saja, siapa tahu bisa muncul sosok alim dan dekat dengan rakyat sekaliber Ahmad Dineejad. Bukan begitu? [ detail ]
Posted in Politik, Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 11 Comments »
