Pendidikan yang Materialis
Tuesday, April 27th, 2010
Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya “Pendidikan umum memang bertujuan mengembangkan pengetahuan & ketrampilan maka benar tolak ukurnya prestasi akademis yang dinilai di akhir jenjang pendidikan. Nah kalau keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan itu dalam sistem pendidikan nasional lebih ditekankan sebagai tugas pendidikan keluarga”.
Secara sekilas tulisan tersebut sungguh luar biasa, cerdas dan “masuk akal”. Tetapi ada satu hal yang mengganjal, tolok ukur seperti apa untuk menentukan prestasi? Sudah menjadi rahasia umum, eh salah, bukan rahasia, tetapi metode umum yang dipakai di sekolah-sekolah di negeri ini, tolok ukur kesuksesan seorang anak ditentukan dari besar kecilnya angka di rapotnya.
Semakin besar angka yang tertera, mestinya semakin pintarlah si anak. Semakin besar pula kemungkinan si anak mendapatkan predikat sebagai anak berprestasi. Hasil akhir ini pula yang menjadi modal kebanggaan dari para orang tua murid ketika berbagi cerita soal anaknya, atau kadang justru menjadi bahan curhat betapa bodohnya anaknya ketika bertemu dengan kawan lain yang anaknya kebetulan nilainya bagus (besar) semua.
Posted in Pendidikan, Neolib | 7 Comments »
Tentang Anak, Pertemanan dan Polisi
Tuesday, February 2nd, 2010
Tulisan ini dipicu oleh berita tentang Pengadilan Anak di Surabaya. Dikabarkan bahwa seorang anak bermain-main di sekolah membawa lebah, menempelkan lebah itu ke pipi temannya lalu sang lebah menyengat pipi temannya tersebut. Akhirnya sang anak terdampar di proses peradilan, yang walaupun vonisnya kemudian dinyatakan bebas namun hari-hari penuh teror mental itu pastilah mempengaruhi jiwa sang anak.
Juga tentang seseorang bernama Lanjar. Sungguh naas nasibnya, dalam perjalanan mudik, istrinya kecelakaan dan meninggal dunia, sudah begitu Lanjar dipenjara. Kenapa bisa begitu? Tentu saja tidak lepas dari pemilik mobil panther yang ternyata anggota kepolisian. Sang istri terhempas ke samping, tersambar oleh mobil panther hingga meninggal, sang suami terlempar ke penjara. Singkatnya begitu. Nasib? mungkin.
Saya jadi teringat dengan metode pembelajaran para orang tua dulu, metode yang sangat saya benci dan sudah berulang kali saya tuliskan di blog ini sebagai metode yang salah. Orang tua kita (yang jelas orang tua saya sih) dulu sering kali mengucapkan kata,”awas, nanti aku bilangin pak polisi” ketika kita tidak menurut. Metode inipun masih saya lihat ketika saya sudah menginjak SMA, dilakukan oleh tetangga-tetangga saya ketika anak-anak mereka tidak mau makan.
Posted in Pendidikan, Culture, Daily Life | 8 Comments »
Manusia Limbik
Sunday, January 31st, 2010
Berbicara mengenai perkembangan otak manusia maka kita akan dihadapkan pada berbagai macam teori, namun dari semua teori yang ada itu, kurang lebih semuanya merujuk pada tiga tahap utama perkembangan otak manusia. Untuk mengetahui detil tentang hal ini, Anda bisa mencari di google, cukup dengan memakai kata kunci bahasa Indonesia: “tahap perkembangan otak”. Saya tidak akan menjabarkan tiga hal itu dengan detil di sini.
Tiga tahap utama perkembangan otak itu adalah: Otak Primitif, Otak Limbik dan Otak Pikir. Otak primitif juga disebut sebagai tahapan otak reptil. Sedangkan otak limbik sering juga disebut sebagai tahapan otak mamalia. Kedua hal itu merujuk pada sifat-sifat yang kurang lebih mirip dengan sifat-sifat binatang sejenis. Sedangkan otak pikir disebut juga sebagai neo mamalia, dalam artian perkembangan paling mutakhir dari otak limbik.
Ketiga tahapan ini sebenarnya tidaklah berdiri sendiri. Tahapan yang satu mengafirmasi atau merespon tahapan selanjutnya. Sebagai contoh, otak pikir bisa menyuruh otak primitif untuk melakukan gerak reflek ketika sedang menghadapi bahaya tertentu. Namun pada tulisan ini, saya ingin menyoroti soal perkembangan psikologis manusia dewasa, oleh karenanya dengan semena-mena dan tanpa latar belakang keilmuan yang cukup, saya akan memisahkan ketiganya.
Posted in Pendidikan, Culture, Daily Life | 1 Comment »
Pendidikan yang menipu
Monday, January 25th, 2010
Saya adalah seorang bapak yang sedang dan berencana untuk terus belajar mengenai pendidikan anak. Dalam pembelajaran saya ini pula, saya melakukan pilahan atas pilihan-pilihan. Maka sampailah saya pada pilihan ini.
Hampir sudah menjadi kebiasaan umum dari kita para orang dewasa untuk merasa lebih pintar dari seorang anak, apalagi ketika anak itu masih berusia di bawah tiga tahun. Keterbatasan gerak, ucapan dan ingatan anak kecil, menjadi semacam alasan pembenaran bagi beberapa hal yang kita lakukan. Dalam hal ini, saya menyoroti ungkapan-ungkapan sederhana yang paling mudah dan sering diucapkan orang dewasa.
Ketika seorang anak kecil jatuh, sangat mudah sekali bagi kita untuk menyalahkan benda-benda di sekeliling si anak. “Batu yang nakal! Kodok yang jahat!” ungkapan semacam itulah yang sering muncul, demi menenangkan si anak. Gampang, dan batu maupun kodok tidak akan protes.
Lantas kita juga mudah berjanji pada mereka,”yuk ikut yuk! naik mobil!” “nanti kita jalan-jalan ya!” padahal kita sendiri sebenarnya tidak berniat melakukannya. Kita sedang capek dan hanya ingin menggoda anak itu. Melihat reaksinya yang merajuk, membuat hidung terkembang dan kita tertawa lantas mengeluarkan kata jumawa,”haha, dia klayu” yang artinya kurang lebih “pingin ngikut kita terus”.
Di saat lain lagi, kita mudah pula bilang,”ini pedas!” padahal si anak cuma pingin gorengan. Gorengan yang penuh MSG memang harus dihindarkan, tidak ada tawaran, tapi bukan berarti kita harus menipu bukan? Lalu kitapun mudah untuk mengatakan,”barangnya rusak” padahal barang tidak rusak, hanya agar si anak tidak menggunakannya.
Kebanggan pada klayu adalah bodoh.
Ini yang berusaha amat sangat aku tekankan pada diriku sendiri. Bodoh, karena tidak ada pendidikan di situ. Yang ada adalah mengajari anak untuk sedemikian tergantung, dan mengajari dia untuk merajuk ketika meminta sesuatu.
Posted in Pendidikan, Culture, how to | 6 Comments »
Oposisi? Oh.. Posisi..
Thursday, July 9th, 2009
Pemilihan Umum untuk anggota legislatif sudah lama berakhir. Putaran pertama pemilu untuk presiden juga sudah terlewati. Berita-pun dipenuhi dengan hasil quickcount dan interpretasi serta analisa politik atas apa yang terjadi.
Selain hal itu, muncul pula –seperti biasa– protes sini-sana atas hasil pemilihan umum yang baru saja berlalu. Saya tidak akan membahas tentang benar salah, dan lain sebagainya soal pemilu ini, saya sendiri tidak memilih.
Saat ini yang terpikir oleh saya adalah soal oposisi. Sebuah negara yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara demokratis, sudah selayaknya memiliki kanal oposisi. Dan negara kita –sependek pengetahuan saya– tidak membatasi peran oposisi. Yang jadi masalah kemudian justru, adakah peran itu diambil? Atau untuk lebih jelasnya, adakah partai yang benar-benar oposisi?
Oh… Posisi…
Saya kembali mengutip judul di atas. Karena memang itu yang terjadi di negeri ini. Ketika sebuah partai mengalami kekalahan, selain sibuk mencari-cari kesalahan pemilu mereka juga sibuk melakukan tawar menawar politik agar diberi posisi di pemerintahan.
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Semiotics | 2 Comments »
Narablog: Sebuah Usulan
Wednesday, June 17th, 2009
Apa itu narablog? Satu kata untuk menggantikan istilah blogger. Nara di sini merujuk atau seperti yang digunakan untuk istilah narasumber, narapidana, yang kurang lebih berarti para pelaku. Saya bukan ahli bahasa, jadi sangat bisa jadi keterangan saya kurang pas. Silakan kunjungi website yang lebih representatif untuk hal ini.
Tujuan saya sendiri menulis artikel ini adalah untuk mengenalkan kata tersebut. Bagi saya usulan ini menjadi menarik karena dengan demikian menunjukkan dinamika budaya kita. Ilmu bahasa tidak berhenti.
Pengusulnya sendiri adalah Enda Nasution (semoga dia tidak sekedar meng-klaim usulan orang, seperti yang dituduhkan kakak kelasnya hihi), yang sering disebut sebagai bapak blogger (ah narablog).
Bahasa Baku, Bahasa Kaku
Nah, saya perlu juga jujur terhadap Anda, terhadap diri saya sendiri. Bahasa dalam pemahaman saya adalah ilmu yang sangat lentur. Bebas menyerap dari sana-sini, asal kita bisa saling memahami. Karena dalam hemat saya, memang itulah tujuan ditemukannya bahasa, agar kita bisa berkomunikasi.
Posted in Pendidikan, Culture, blog, Daily Life | 4 Comments »
Sekali lagi, mengapa harus memilih?
Thursday, March 12th, 2009
Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.
Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya.
Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.
Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.
Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak. [ detail ]
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Culture | 36 Comments »
Belajar Bahasa?
Tuesday, February 24th, 2009
Bahasa Inggris menurutku sama saja dengan bahasa yang lain. Bahasa Arab bahkan bahasa China ataupun Jepang yang tulisannya sulit dipahami itu, pastilah juga hanyalah masalah kebiasaan. Tinggal bagaimana kita terbiasa menggunakannya.
Menguasai satu bahasa bukanlah karena kecerdasan. Bukankah di masing-masing belahan dunia ada saja orang idiot yang tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat? Bukan bermaksud merendahkan arti ilmu bahasa, bukan juga dalam rangka merendahkan kemampuan tersimpan dari penderita idiositas, tapi begitulah menurut pemahamanku.
Dalam mempelajari sebuah bahasa, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Saya sendiri belum menguasai bahasa-bahasa yang sudah sempat saya sebutkan di atas, tapi paling tidak saya mengakui dan sepakat dengan ungkapan teman saya jaman kuliah, Rizal Ginanjar. Baginya, belajar bahasa harus dimulai dengan “pisuhan”.
Darimana Anda akan mempelajari bahasa dengan awalan yang seperti itu? Teman saya tadi memulai debut pelajaran bahasa Jawanya melalui stadion sepakbola di Jogja. Lha kalau bahasa Inggris? atau Arab? atau China? Sayang sekali tidak ada stadion/lapangan sepakbola internasional di sini, jadi sulit sekali menerapkan teori tadi.
Tapi sekarang saya senang sekali, ada satu solusi yang luar biasa. Kawan, teman, sahabat, genduk saya tersayang Pito dengan difasilitasi oleh komunitas bentukan dari kawan, sahabat, homokan saya tersayang Bahtiar yaitu BHI telah membukanya. Silakan datang ke Wetiga, angkringan di Jakarta, atau mampir saja ke faceboob, eh maksud saya facebooknya Pito. Atau bagi Anda yang nggak bisa buka facebooknya Pito, bisa mampir ke blog pecah belahnya di sini.
Bahasa Inggris jadi menyenangkan, atau kata tepatnya mungkin, memisuhkan! Selamat misuh! ![]()
Posted in Pendidikan, blog, how to | 6 Comments »
Roy, Ya Basta!
Monday, April 7th, 2008
Seruan sederhana saja, “saya bilang cukup!”. Perbincangan soal Roy Suryo tak berujung kepada kebaikan sedikitpun. Capek hati, capek otak. Lama-lama saya pikir Roy Suryo semakin menjadi sampah di dunia internet, seperti spam yang bertebaran.
Omongannya yang selalu sok penting, yang anehnya di-backup oleh media konvensional (baca koran, majalah dan tabloid), selalu memancing reaksi. Saya paham kenapa teman-teman blogger bereaksi keras, terkait dengan ungkapannya yang terakhir soal UU ITE (silakan baca lengkap di bloggerdanhacker.wordpress.com) yang menyinggung blogger dan hacker. Dengan tanpa tedeng aling-aling menuduh bahwa seluruh blogosphere akan menolak atau mungkin bahkan menyerang UU ITE.
Semakin keras pula reaksi teman-teman ketika terjadi defacing pada website depkominfo dan website partai golkar. Dipancing oleh omongan dia yang mengatakan bahwa blogger dan hacker berada di balik aksi itu. Apa sih salah blogger om? Hanya karena kami ndak percaya sama sampeyan? Bikinlah diri sampeyan layak untuk dipercaya, baru minta kami percaya. Bertindaklah yang santun, yang layak dihargai, agar kami juga bisa menghargai. Mungkin lebih tepatnya saya menggunakan kata saya, bukan kami, karena blogger itu beragam.
Terakhir saya mendapat kabar bahwa om Roy mengancam (melalui sms) kepada salah seorang rekan blogger yang mengirim pertanyaan atas blowup media yang dilakukan oleh media tempat dia bekerja setiap kali Roy bicara. Pertanyaan itu dikirim ke milis internal, yang entah bagaimana sampai pula ke tangan om Roy. Dan om Roy menanggapinya secara sangat pribadi. Kenapa pula musti sibuk sih om? Biarlah orang media, yang masih mempercayai sampeyan, yang menyampaikan alasan mengapa mereka masih mempercayai omongan sampeyan. Ndak perlulah sampeyan harus mengganggu orang dengan sms malam-malam.
Posted in Pendidikan, blog | 18 Comments »
Komunike #333 - Surat untuk Rahim
Thursday, August 16th, 2007
“Ibu, di Bumi ini, ada tidak sih orang yang bersalah?”
“Oh ada, yaitu orang-orang yang menebangi hutan, orang kaya yang di sekitar rumahnya banyak orang kekurangan”
“Wah, dilaporkan ke pak polisi saja bu”
“Nah, sayangnya banyak juga pak polisi yang dibayar oleh orang-orang yang bersalah itu agar tidak menangkap mereka”
Kamu ingat dengan fragment itu kan Rahim? Ya, itu percakapan antara kamu dengan ibumu. Darimu aku jadi belajar banyak hal. Dari pikiran-pikiranmu yang masih murni itu, muncul pula pikiran-pikiran di kepalaku. Sebelumnya aku sampaikan terimakasih banyak-banyak kepadamu.
Tidak Ada yang Abu-abu di Depan Hukum
Kamu tahu, aku tahu, dan para penegak hukum semestinya lebih tahu bahwa hal itu benar. Orang yang bersalah, sudah semestinya mendapatkan perlakuan hukum yang semestinya; ditangkap dan diadili. Namun yang terjadi di negeri ini memanglah sungguh berbeda.
Posted in Politik, Pendidikan, Neolib | 11 Comments »

