Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Neolib’

Yogyakarta: Untuk Apa Mempertahankan Status Istimewa    Print This Post   Email This Post

Monday, December 13th, 2010

Polemik tentang hal ini sudah sebulan ini bergulir. Tentu guliran isu ini tidak akan sebesar dan semasif ini kalau tidak ada pemicu utamanya, dan alangkah kebetulan pemicunya justru pucuk pimpinan di negeri ini sendiri, SBY. Penggalan kalimat yang dirasa paling menyakitkan bagi rakyat Yogyakarta adalah “Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi”. Pernyataan ini menohok dalam ke hati warga Yogyakarta. Kelas menengah di wilayah ini, mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tentu saja tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena sudah tercatat dalam sejarah dari awal hingga keberadaan negeri ini saat ini, Yogyakarta tak pernah lekang menjadi tempat yang aktif menjadi penggerak demokrasi. Kelas menengah yang selama ini bisa dibilang hidup di dunianya, sibuk dengan kehidupannya, kini turun ke gelanggang dengan opini dan aksinya.

Pak Beye sudah “meralat” pernyataannya itu dengan mengatakan bahwa tujuan dia adalah menegakkan demokrasi di wilayah ini, dan salah satu pilar yang harus ditegakkan adalah bentuk pemilihan langsung kepala daerah. Namun reaksi atas reaksi ini justru menimbulkan reaksi lebih baru lagi, kini pernyataan “Penetapan adalah harga mati” mulai mencuat. Aksi reaksi ini, patut dicatat, adalah bentuk ketidak arifan penguasa dalam menyikapi rakyatnya.

Namun, terlepas dari ketidakcakapan pemimpin kita, yang mana sebenarnya tidak bisa kita tuntut karena dalam kampanyenya dulu yang ditonjolkan adalah “ganteng”-nya, mari kita bertanya kembali, apakah memang perlu mempertahankan status keistimewaan Yogyakarta?

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 27 Comments »

Bernyanyilah, Pak Beye!    Print This Post   Email This Post

Monday, November 22nd, 2010

Sudah hampir berakhir kiranya masa tugas bapak menjadi abdi kami semua. Sudah berjalan berapa bulan pak? Tentu bapak yang paling ingat, bukan? Kami, para majikan sampeyan, sungguh rindu dengan suara bapak. Maafkan kalau kami tidak membeli kaset bapak, bagaimanapun selera pilihan musik tidak bisa disamakan toh?

Kali ini kami, para majikan sampeyan, ingin mendengar nyanyian bapak yang lain. Syukur kalau menjadi album baru. Tampillah di panggung dunia pak. Nyanyikanlah lagu perjuangan, memperjuangkan nasib kami para majikan sampeyan ini.

Bapak tentu tahu bukan, tentang majikan bapak yang terlantar oleh rusaknya alam karena pembabatan hutan, karena lumpur LAPINDO yang kasusnya berkepanjangan, karena bencana alam di Wasior, Mentawai dan Merapi. Kasus terakhir bahkan ada majikan sampeyan yang digunting bibirnya di Saudi Arabia sana.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, blog, Semiotics, Daily Life | 4 Comments »

Komunike #1001 - Buah Ketekunan    Print This Post   Email This Post

Sunday, October 17th, 2010

Tidak ada kata kebetulan, demikian ungkapan satu filsuf terkenal, demikian juga agama saya mengajarkan. Tetapi adalah kebetulan bahwa seminggu ini saya bertemu dengan tema ketekunan dimana-mana. Dalam satu diskusi panel antara Antariksa (pemilikĀ kunci.or.id) dan Marzuki (aliasĀ @KILDDJ, rapper pemilik whatevershop), membahas tentang sub kultur perlawanan, diakhiri dengan pesan untuk tekun dalam bidangnya, sebagai satu wujud perlawanan.

Hari ini, saya membaca ulasan di Kompas tentang perkembangan desain cover di Indonesia, di situ kawan karib saya Windu (nickname windutampan) hadir beserta karya-karyanya bersanding atau bisa dibilang vis a vis dengan karya Si Ong Hari Wahyu, desainer kawakan dari Yogya. Hal yang membuat saya sampai pada ketekunan adalah kenyataan bahwa Windu baru mengenal komputer (literally) semenjak tahun 2002 akhir.

Dalam keterlambatan atas perkembangan teknologi itu, Windu tak patah semangat dan terus memacu diri hingga akhirnya karya-karyanya diakui. Dia kini bahkan sudah sampai taraf penggarapan poster film. Adapun karya dia dalam cover, mendapat tempat tersendiri di ulasan Kompas hari ini, sebagai wakil generasi desainer cover muda.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 5 Comments »

Tentang Revolusi    Print This Post   Email This Post

Wednesday, May 12th, 2010

Perang, adinda Arjuna, hanyalah sebuah proses lumrah untuk menghapus yang lama, membongkar angkara murka dan menggantikannya dengan yang baru yang lebih indah dan dahsyat!
– Sri Kresna, Mahabarata

Membaca kembali kisah Mahabarata, terutama dari Kanda aslinya –bukan versi Wayang Purwa, membawa saya kepada hal-hal yang sekarang berlangsung di negeri ini. Kisah yang penuh dengan gambaran sikap ksatria ini, mau tak mau menjadi semacam ejekan pedas bagi keadaan terkini di negeri ini.

Satu hal yang pertama melintas adalah tentang Soeharto dan kroni-kroninya. Dalam kisah Mahabarata disebutkan bahwa Pandawa (terutama Yudhistira alias Semiaji) sempat berpikiran bahwa “biarlah Kurawa berlaku sesukanya, kita terima saja secara legawa dan ikhlas”. Dan pada saat itu, Sri Kresna (didahului oleh Drupadi) mengingatkan bahwa ada pilihan lain lagi bagi mereka yang menyebut diri Ksatria. Kurawa yang telah menginjak hak-hak azasi sudah selayaknya diberi pelajaran, inilah Ksatria yang sesungguhnya, yakni membela hak-hak kaum lemah. Kembali pada topik Soeharto, maka sikap “sok legawa, sok ksatria” yang ditunjukkan oleh para pemimpin politik di negeri ini, tak lebih dari sikap pengecut kalau tidak mau dibilang ketakutan.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Daily Life | 2 Comments »

Pendidikan yang Materialis    Print This Post   Email This Post

Tuesday, April 27th, 2010

Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya “Pendidikan umum memang bertujuan mengembangkan pengetahuan & ketrampilan maka benar tolak ukurnya prestasi akademis yang dinilai di akhir jenjang pendidikan. Nah kalau keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan itu dalam sistem pendidikan nasional lebih ditekankan sebagai tugas pendidikan keluarga”.

Secara sekilas tulisan tersebut sungguh luar biasa, cerdas dan “masuk akal”. Tetapi ada satu hal yang mengganjal, tolok ukur seperti apa untuk menentukan prestasi? Sudah menjadi rahasia umum, eh salah, bukan rahasia, tetapi metode umum yang dipakai di sekolah-sekolah di negeri ini, tolok ukur kesuksesan seorang anak ditentukan dari besar kecilnya angka di rapotnya.

Semakin besar angka yang tertera, mestinya semakin pintarlah si anak. Semakin besar pula kemungkinan si anak mendapatkan predikat sebagai anak berprestasi. Hasil akhir ini pula yang menjadi modal kebanggaan dari para orang tua murid ketika berbagi cerita soal anaknya, atau kadang justru menjadi bahan curhat betapa bodohnya anaknya ketika bertemu dengan kawan lain yang anaknya kebetulan nilainya bagus (besar) semua.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib | 8 Comments »

Wawancara Menkominfo Kita dengan BBC    Print This Post   Email This Post

Saturday, February 20th, 2010

Dari Benny saya mendapatkan informasti mengenai berita yang dimuat oleh BBC, tertanggal 16 Februari 2010 dengan judul RPM Konten Media ditentang. Dalam situs itu diunggah pula dialog/wawancara antara wartawan BBC dengan Menteri kita. Silakan download unduh wawancaranya di sini (berkas mp3).

Dalam wawancara itu Tiffatul Sembiring menyampaikan (sebagaimana dikutip dari situs BBC)

”Ketika ada penghujatan dan kami mendapat keluhan ternyata situsnya ada di word press, New York. Kami tak bisa berbuat apa-apa.”

”Dengan peraturan menteri itu kita bisa menyelesaikan dan melakukan tuntutan. Kita bisa menutup ataupun membatasi ISP mereka yang ada di sini,” ucap Tiffatul Sembiring.

Juga beliau menyatakan bahwa “media online tidak ada hubungannya dengan pers”. Beliau juga menyatakan bahwa banyak yang menentang dan memprotes padahal belum membaca rancangan itu. Kenyataannya, justru beliau sendiri yang belum membaca rancangan tersebut :)

Dan satu lagi pak menteri, ini untuk Anda, dalam pengertian konten dan kewajiban penyelenggara mengawasi konten, maka produk-produk pers online menjadi masuk. Bukankah begitu?

Syukurlah, berita terakhir menyebutkan bahwa rancangan ini bakalan dibatalkan. Mari kita tunggu saja. :)

vale, demi kejujuran

el rony, berbagi resep ke pak menteri: siang bolong panasnya terik, kalo Anda bohong ya kami kritik.

[update]

Ternyata Benny Chandra mendapatkan infonya dari blognya Herman Saksono. Sorry mon, bukannya nggak cinta, cuma aku malah belum blogwalking ke blognya seleb. hihi *ngeles*.

URL download file saya ubah, mengingat blog ini bandwith-space-nya tidak terlalu besar. Siapa tahu saja yang download banyak.

Pak Tiffy terakhir di twitter beliau menyebutkan bahwa tuntutan pembatalan itu lebay (beliau benar-benar menulis kata lebay di twitnya). Karena ini baru rancangan, sekedar tidak tandatangan saja sudah otomatis tidak berlaku.

Posted in Politik, Neolib, Semiotics, Technology | 12 Comments »

Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 27th, 2010

Sedih sekali saya mendapatkan kabar ini, kenapa masih juga hal seperti ini terjadi? Berikut ini adalah paparan dari istri kawan saya, yang kemudian ditulis di notes Facebook beliau di sini. Saya copy paste dengan mengubah layout text agar lebih mudah dibaca.

RS JIH Yogyakarta dan dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA sama sekali tidak Professional

NOTE :

1. Tulisan ini dibuat oleh istri saya dan dikirimkan melalui email kepada saya atas permintaan saya , dan saya (bino oetomo) yang menyebarkan nya. Dengan demikian saya mengambil alih segala konsekuensi hukum yang mungkin timbul atas penyebaran tulisan ini.
2. Mohon bantuan untuk menyebarkan tulisan ini seluas luas nya, tanpa melakukan perubahan apapun
3. Orisinalitas penyebaran akan dibandingkan dengan yang ada di facebook saya

=============================================================================

Kronologis:
Selasa 26 Januari 2009, jam 09.30 saya membawa putri saya Jasmine Prameswari ke RS JIH.

Kami mendaftar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Elisa SpA. Sudah 5 hari jasmine demam,sakit kepala dan sakit perut yang terus berulang.

Dokter Elisa mencurigai demam berdarah,jadi jasmine diminta untuk cek darah. Hasilnya semuanya bagus kecuali Leukosit yang tinggi,jadi mungkin ada infeksi tapi tidak jelas dimana. Karena sakit perut yang berulang, dokter Elisa merujuk kami ke dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA.

Kami dibuatkan janji dengan dokter bedah tersebut saat kami masih diruangan dokter Elisa,dan dikonfirm oleh perawat bahwa nanti dokter bedahnya jam 15.00 wib.

Tentunya karena masih jam 12.20 kami pulang kerumah.

Selasa 26 januari 2009,
Jam 14.30 saya menelpon JIH untuk menyanyakan apakah dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA jadwalnya jam 15.00??
Jawabnya, nanti jam !6.00 ibu.
Ok lah,kami undur satu jam,padahal kami sudah siap berangkat.

Pukul 15.30 kami berangkat ke JIH,dalam perjalanan (krg lebih 300 meter sblm JIH) saya ditelpon oleh entah perawat atau front office menanyakan apakah appointment dengan dokter Ahmad Mahmudi akan dilaksanakan, saya jawab “iya,kami sudah dekat dari JIH”.

Kami mendaftar dan mendapat nomor urut satu, kemudian saya ingat betul,petugas pendaftaran mengatakan dokternya sedang dalam perjalanan.

Kami menunggu di depan ruang periksa dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA di poliklinik sebelah timur. Setelah 30 menit,suami mulai bertanya ke petugas jam berapa dokternya mau datang, dan dijawab beliaunya sedang dalam perjalanan.
Perasaan dari jam 16.00 tadi jawabnya masih dalam perjalanan, perjalanan dari mana ke mana nih?

Sementara Jasmine mulai demam lagi, mengeluh perutnya sakit dan badannya pegal.
Saya mencoba menenangkan Jasmine dengan memintanya untuk tidur sambil saya gendong.
Semakin lama saya merasa suhu tubuhnya semakin hangat,dan saya minta suami bertanya lagi jam berapa dokternya datang.
Dan lagi2 dijawab masih diperjalanan.

Pukul 16.50 sambil menggendong Jasmine saya ke meja perawat dipoliklinik timur,” Mbak ini dokternya jadi datang nggak sih?? ini anak saya demam,jam berapa datangnya??”
Perawat menjawab ” barusan saya hubungi,beliau baru sampai taman siswa”.
Saya menuju lobby,dan kami bertanya lagi dan lagi2 belum mendapat kepastian.
Petugas pendaftaran terakhir bilang, “pak katanya 25 menit lagi”.
Kami minta untuk bertemu manajer tapi dengan berbagai macam alasan belum bisa.
Setelah suami mengancam untuk menyalakan alarm kebakaran (catatan#A),baru PR manajernya mau menemui padahal beliaunya dari tadi ada di depan mata kita.

Selanjutnya kami putuskan untuk pulang , dalam perjalanan kami kembali di telpon untuk menanyakan,apakah jadi bertemu dengan dokter Ahmad Mahmudi
SpB,SpBA, tentu saja kami jawab TIDAK (catatan#B).

dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA/ RS JIH yang terhormat,
Kami datang ke JIH untuk berkonsultasi dgn anda,
membawa anak kami yang sedang sakit,bukan untuk piknik.
Kami sudah semalaman tidak bisa tidur,seharian dirumah sakit mengantri,menunggu hasil laboratorium,dirujuk kepada anda oleh dokter yang sangat kami percaya (kami sudah 7 tahun bersama dr.Elisa dan blm pernah kecewa). Dan secara psikologis kami disiksa karena harus menunggu anda selama satu jam,dan akhirnya tanpa hasil karena sampai kami memutuskan pulang anda belum datang dengan alasan masih dalam perjalanan( dari jam 16.00 sampai 17.00),padahal di jadwal praktek jelas tertulis pukul 15.00-17.00.

Dokter yang terhormat kalau anda memang tidak bisa datang atau harus terlambat sampaikan,informasikan,jadi anda tidak membuat pasien resah.
Apakah karena anda merasa dibutuhkan jadi anda bisa datang seenaknya,tanpa perlu berpikir apakah pasien anda sedang demamtinggi,atau sedang nyeri perutnya, atau apapun rasa sakit yang diderita.

Untuk rumah sakit mohon bisa lebih tegas dengan peraturan yang anda buat,dan jadwal yang pastinya sudah disepakati oleh rumah sakit dan dokter yang bersangkutan.
Kami pasien/ orangtua pasien merasa diperlakukan seenaknya oleh salah satu dokter anda. atau karena ini sudah bukan rahasia umum bahwa “doctor’s playing God” jadi hanya perlu minta maaf dan menganggap semuanya selesai tanpa ada perbaikan apapun.

Sangat TIDAK PROFESIONAL

Catatan :
#A. Urutan bertemu “manager” .. kurang lebih nya :
1. Saya mengatakan “saya ingin bertemu manager” , dan di jawab “Bapak silahkan tunggu
2. Saya menunggu
3. Beberapa menit kemudian saya kembali menanyakan dan sekalian mengancam akan menyalakan alarm kebakaran sebagai salah satu cara memanggil manager.
4. Saya juga dua kali di temui karyawati yang berusaha menanyakan permasalahan , saya menjawab “MBak saya ini mau marah. Apakah mbak mau menerima kemarahan saya .. atau panggil manager anda”

#B : Tepatnya saya mengatakan : “Persetan dengan dokter itu”

-Bino-

Posted in Kesehatan, Neolib, Yogyakarta | 10 Comments »

Ganti saja rakyatnya!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, August 5th, 2009

Ungkapan itu muncul dari percakapan teman saya (Doni Kristian Dachi) dengan sopir taksi yang membawanya pulang ke penginapannya. Ungkapan itu bukan muncul dari mulut teman saya, tetapi dari sang sopir taksi. Ah, mungkin tidak terlalu penting dari siapa kalimat itu muncul.

Kalimat ini keluar setelah melalui sedikit perbincangan mengenai perkembangan negara. Dan kalimat ini membawa saya ke sebuah angan-angan, sebuah pertanyaan besar,”apakah memang problematika dunia demokrasi itu seperti ini?” Apakah negara-negara besar, yang sudah makmur, yang juga menjunjung demokrasi, mengalami kegelisahan ini?

Sebuah kalimat yang menyiratkan betapa sudah peliknya problematika kita. Seakan tidak ada lagi hal yang bisa diperbaiki baik dari segi tatanan sosial hingga struktur kekuasaan. Anehnya, atau mungkin sudah sewajarnya (?), secara spontan naluri saya mengangguk menyetujui kalimat itu. Jadi, apakah saya juga sudah sedemikian putus asa?

Mengganti Rakyat

Adalah sebuah langkah paling radikal yang mungkin bisa dilakukan oleh sekumpulan manusia. Tentunya mengganti di sini tidak bisa dengan mengebom habis seluruh penduduk negeri, lalu mendatangkan penduduk yang “lebih baik” dari negeri antah berantah atau malah dari surga. Mengganti di sini artinya melakukan perubahan radikal terhadap kunci-kunci sendi pergerakan bangsa.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 7 Comments »

Turut Berduka Cita    Print This Post   Email This Post

Friday, July 17th, 2009

Turut berduka cita atas meninggalnya hati nurani dan tenggang rasa.

Jakarta, 17 Juli 2009

WE WILL NOT GO DOWN!

we have in the past
we will now
and will continue to do so
for we are one country, one nation, one people undivided

vale, demi kemanusiaan

el rony, berpita hitam

Posted in Neolib, Daily Life | 1 Comment »

Oposisi? Oh.. Posisi..    Print This Post   Email This Post

Thursday, July 9th, 2009

Pemilihan Umum untuk anggota legislatif sudah lama berakhir. Putaran pertama pemilu untuk presiden juga sudah terlewati. Berita-pun dipenuhi dengan hasil quickcount dan interpretasi serta analisa politik atas apa yang terjadi.

Selain hal itu, muncul pula –seperti biasa– protes sini-sana atas hasil pemilihan umum yang baru saja berlalu. Saya tidak akan membahas tentang benar salah, dan lain sebagainya soal pemilu ini, saya sendiri tidak memilih.

Saat ini yang terpikir oleh saya adalah soal oposisi. Sebuah negara yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara demokratis, sudah selayaknya memiliki kanal oposisi. Dan negara kita –sependek pengetahuan saya– tidak membatasi peran oposisi. Yang jadi masalah kemudian justru, adakah peran itu diambil? Atau untuk lebih jelasnya, adakah partai yang benar-benar oposisi?

Oh… Posisi…

Saya kembali mengutip judul di atas. Karena memang itu yang terjadi di negeri ini. Ketika sebuah partai mengalami kekalahan, selain sibuk mencari-cari kesalahan pemilu mereka juga sibuk melakukan tawar menawar politik agar diberi posisi di pemerintahan.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Semiotics | 2 Comments »