Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Neolib’

Apa Yang Haram di Negeri Ini?    Print This Post   Email This Post

Friday, March 30th, 2007

Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.

Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.

[ detail ]

Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 17 Comments »

Harga Diri, Posisi Tawar, dan Yang Tak Ada di Negeri Ini    Print This Post   Email This Post

Saturday, November 11th, 2006

Bush betapa miripnya dikau dengan primataApalagi? Sementara ini cukup kita sebutkan itu saja dahulu. Harga diri dan posisi tawar kita sama sekali tidak ada. Sebagai bangsa, kita tidak mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang layak dari bangsa lain.

Sebut saja perlindungan atas Tenaga Kerja kita di luar negeri. Beberapa kali kasus penganiayaan muncul di media, dan kasus ini bukannya menghilang namun justru bertambah. Orang di luar negeri tidak takut menyakiti warga negara Indonesia, karena negara Indonesia sendiri tidak peduli atau tidak berani melindungi warganya. Dalam sebuah novel “Ayat-ayat Cinta” digambarkan tentang perilaku semena-mena yang didapati oleh warga kita di negeri Arab. Sebutan kaum indon, yang bahkan lekat dalam setiap baris iklan alat keamanan di negeri Malaysia, bisa juga dijadikan sebagai gambaran atas rendahnya penghargaan bangsa lain atas kita.

Dan Itu Masih Belum Cukup

Harga diri kita saat ini diinjak lebih dalam lagi. Saya kira semua sudah mendengar kabar akan datangnya Bush sang penghancur dunia ke negeri kita. Layaknya sekumpulan penguasa underbow negara jajahan, maka ketika sang penjajah datang, para penguasa dibikin sibuk olehnya.

Warga kita sendiri, para pengayuh becak, dilarang mengais rejeki bahkan semenjak jauh-jauh hari sebelum Bush datang. Rute angkot juga diubah demi lancarnya sang penjarah menikmati keindahan Bogor.

Dan layaknya seorang penguasa yang datang dari negeri jauh, Bush membawa 6 (!) kontainer yang –katanya– isinya rahasia. Ini sudah keterlaluan! Terus terang hal ini pula yang membawa saya pada kesimpulan akan rendahnya harga diri kita, kesimpulan pahit atas betapa lemahnya kita menghadapi bangsa lain.

[ detail ]

Posted in Neolib, Semiotics, Daily Life | 22 Comments »

Komunike #414 - Selamat Datang Globalisasi    Print This Post   Email This Post

Tuesday, September 19th, 2006

Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan komunike. Ah, jadi kepingin nulis lagi. Kebetulan tadi malam saya baru dapat cerita bagus, tepat sebelum saya mimpi. :)

Di suatu hari yang terik, di sebuah kota lama yang masih menyisakan riak gelombang sungai dan beberapa bayang rindang pepohonan, seorang kakek tua tidur di bawah salah satu naungannya. Di sebelah kirinya tergeletak alat pancing, sementara di samping alat pancing tersebut terdapat dua ekor ikan yang agak besar. Kakek itu tidur dengan tenang dan damai, rindangnya pohon dan angin terik yang sudah disejukkan oleh merdu gesekan daun, menambah suasana damai di sekitarnya.

Selang beberapa saat tampak seorang pengelana, nampaknya dia seorang pedagang atau semacam itu. Demi melihat kakek yang sedang tertidur itu, dia nampak kasihan. Kondisi baju seadanya, dengan alas tanah dan dua ekor ikan tergeletak di atas lembaran daun, adalah potret yang layak mendapat predikat kasihan bagi siapa saja yang pernah mengecap dunia modern.

Setelah termangu sejenak, sang pengelana tersebut akhirnya membangunkan si kakek. Si kakek tidak marah, tampaknya dia sudah puas dengan tidurnya. Lantas terjadilah sebuah perbincangan antara si pengelana dengan si kakek.

“Kek, kenapa kamu malah tidur? Kenapa tidak kamu ke sungai dan memancing lagi?” Tanya si pengelana. Si kakek menjawab,”Buat apa nak? Dua ekor sudah cukup untuk makan hari ini”. “Kalau ikan yang kakek tangkap banyak, kakek bisa menjual sisanya” lanjut si pengelana. Si kakek makin tampak kebingunan, kalimat tanya yang sama muncul lagi,”Untuk apa?”. “Agar kakek bisa membeli jala kek. Dengan jala, tentu ikan yang kakek tangkap bisa lebih banyak lagi bukan?” sang pengelana dengan sabar menjabarkan teorinya.

“Aku makan sehari cukup dengan dua ekor ikan nak, buat apa ikan banyak-banyak?” Si kakek masih tampak tidak mengerti. Sang pengelana kemudian menerangkan,”Kalau ikannya banyak, kakek bisa menjual lagi, nanti kakek bisa membeli motor kek, membeli mobil bahkan”. “Mobil untuk apa nak?” “Biar bisa kemana-mana kek. Sesudah itu kakek bisa membeli perahu” “Buat apa pula perahu?”

Sang pengelana tampak masih sabar, dia meneruskan,”dengan perahu kakek bisa menjala lebih banyak lagi ikan sampai ke tengah laut” “Dua ekor cukup untuk saya makan hari ini nak, mengapa harus sampai ke tengah laut?” Si kakek masih tampak bingung. “Nanti kakek bisa kaya, jadi nanti kakek bisa punya pekerja” sahut si pengelana lagi. “Lantas?” si kakek mendengarkan. “Ya, kalau sudah punya pekerja, kakek bisa santai. Bisa tenang. Kakek tinggal menggaji mereka sementara kakek bisa santai, relax, minum-minuman enak, menikmati indahnya hari di bawah pohon rindang” lanjut sang pengelana bersemangat.

Lantas si kakek dengan lugu menjawab,”Sampeyan pikir saya tadi sedang apa?”

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 16 Comments »

Antara Ahmadinejad dan Sartrapi    Print This Post   Email This Post

Friday, September 8th, 2006

Membandingkan dua orang itu, sebenarnya bukanlah hal yang tepat. Bagaimanapun keduanya tidak berada di satu wilayah urusan yang sama. Ahmadinejad seorang negarawan sementara Sartrapi adalah komikus.

Lain halnya jika saya harus menjawab perbandingan antara Hugo Chavez dengan SBY. Dengan mudah saya bisa jawab: gak ada seujung kuku! Keduanya sama-sama presiden, negarawan dan keduanya sama-sama berangkat dari pola pendidikan militer. Hugo Chavez berani menentang Amerika, SBY menjilat Amerika. Hugo Chavez menyediakan satu orang dokter untuk tiap sekian keluarga miskin, SBY tidak pusing dengan orang miskin. Hugo Chavez berani di antara penduduknya tanpa pengawalan karena dia memang dicintai rakyatnya, sementara SBY memilih melahirkan kecelakaan di jalan tol demi lancarnya iring-iringan rombongannya. Benar-benar gak ada seujung kuku!

Namun, seorang temanku membuat aku harus menuliskan hal berkait dua orang di judul ini. Temanku ini kebetulan seorang komikus, dan sebagai komikus dia cukup terkenal dengan kecerdasannya dalam menangkap fenomena sosial untuk dituangkan dalam kritik yang cermat dan menggelitik. Maka, saya merasa perlu untuk menuliskan ini.

Dua orang Iran memandang negara

Inilah jembatan yang bisa menghubungkan keduanya, baik Sartrapi maupun Ahmadinejad lahir dan besar di Iran. Keduanya juga hidup dan mengalami proses Revolusi Iran yang membuat dunia mengenal Ayatullah Khomeini. Dan keduanya juga menentang Reza Pahlevi pemimpin Iran yang merupakan boneka Amerika dengan cara mereka masing-masing.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 24 Comments »

History Tends To Corrupt!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, September 6th, 2006

Koneksi internet sedang rada mabuk, jadinya saya gak bisa blogwalking secara “bebas”. Contohnya saya tidak bisa berkunjung ke Om Tyo a.k.a Pakdhe Kéré ataupun ke Sridewa Raja Curang. Ya sudah, akhirnya saya putuskan untuk ngomyang saja. :)

Pikiran saya soal sejarah ini, sebenarnya sudah mengemuka berhari-hari. Semalam menguat, entah apa sebabnya, dan ingin menuliskannya. Kebetulan Bang Pi’i kok ya menulis tentang budaya. Saya jadi semakin pingin menuliskan ini, ngomyang beneran pokoknya.

Sebenarnya judul di atas muncul dari sebuah quote yang diungkapkan oleh Lord Acton dan menjadi terkenal di seantero jagad:

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 10 Comments »

Tetes Telinga untuk Mata? Duh.. Keponakan..    Print This Post   Email This Post

Tuesday, September 5th, 2006

Ini sudah hari ke 11 semenjak keponakan saya, Muhammad Rasyad Mufarid, yang baru berumur 2 minggu, mendapatkan perawatan yang salah dari pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Srandakan.

Ya, perawatan yang salah. Bagaimana tidak? Obat tetes mata yang diberikan kepada anak itu, ternyata ketika di cek (pada hari ke enam) oleh kakak saya, ternyata berupa obat tetes telinga. Label obat tetes mata yang berupa tempelan itu, ternyata telah menutupi sebuah bencana. Semoga kondisi mata keponakan saya– yang ya Allah, baru dua minggu umurnya– baik-baik saja

Setelah tadi malam, hingga pukul 23:00 WIB saya berdebat dan berpeluk dingin mendatangi pihak manajemen rumah sakit, akhirnya pagi ini membuahkan hasil. Saat ini keponakan saya sedang dalam perjalanan dibawa ke Rumah Sakit Mata Dr. Yap.

Keteledoran Itu

Beginilah kronologis kejadiannya:

Pada hari Sabtu, 26 Agustus 2006, pihak rumah sakit mendiagnosis bahwa keponakan saya harus diberikan obat tetes mata. Perawatan ini harus secara intensif dilakukan, dua hari sekali, dua tetes tiap kali.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 29 Comments »

Negara Super Nanggung    Print This Post   Email This Post

Thursday, August 31st, 2006

Sebuah obrolan di pos ronda, memang kadang membawa kita kemana-mana. Latar belakang yang berbeda-beda, hebatnya, bisa dijembatani dengan sebuah mantra kuno: bola. Dan ketika mantra kuno itu sudah mengudara, semua opinipun berkembang dengan sendirinya. Kekalahan tim Indonesia (PSSI) atas Myanmar, disinyalir karena memang Indonesia tidak serius dalam menangani tim sepakbola. Semuanya generasi tua, sementara dari Myanmar rata-rata anak muda usia 24 tahun semua. Jadi, selain kalah strategi, Indonesia juga kalah stamina dan kelincahan.

Saya sendiri mengungkapkan analisa semena-mena. Saya bilang, karena saya tidak terlalu mengerti bola, kemungkinan Indonesia nggak bagus sepakbolanya karena negara kita ini nanggung. “Maksudnya gimana mas?” celetuk kang Kimu. Jadi gini lho kang, negara ini dikatakan miskin, nyatanya tidak semiskin Afrika. Dikatakan kaya, walah jelas tidak, kalah jauh sama Korsel misalnya. Nah, nyatanya negara seperti Afrika ataupun Australia itu bisa toh menghasilkan tim sepakbola handal? Lantas saya pun mengembara ke dunia akhir orde baru.

Era Tinggal Landas, Era Super Kandas

Nah, kalau dimulai dari sini, jadinya enak. Anda semua ingat nggak dengan jargon itu? Dikatakan bahwa kita memasuki era tinggal landas. Bayangannya adalah teknologi pesawat super canggih, yang membawa Indonesia ke awang-awang, ke kelas yang melesat menembus awan. Tetapi, apa ya begitu?

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, blog, Technology, Daily Life | 21 Comments »

Gimana Kabar Yogya, Ron?    Print This Post   Email This Post

Tuesday, August 29th, 2006

Biasanya aku tergagap untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Bagi siapa saja yang menjalani hidup dengan segala rutinitas, sudah barang tentu dia juga kesulitan untuk identifikasi tentang hal-hal baru di sekitarnya. Apalagi jika proses perubahan di sekitarnya itu, secara alam bawah sadar, diikuti. Artinya hal baru bukanlah hal baru baginya, karena dia melihat dari mulai lahir, merangkak, berdiri dan seterusnya. Apa yang aneh dan layak dilaporkan? :)

Tetapi siang ini, setelah saya menyempatkan keluar dari kesibukan-gak-penting-karena-sebenarnya-hanyalah-sok-sibuk-yang-gak-mutu saya, maka saya mendapati ada hal baru. Dan hari ini saya siap untuk menjawab kalau ada yang bertanya. Ini dia jawaban saya.

UGM Punya Mall

Oh ya, isu ini sudah lama banget. Bangunan itu sudah lama menunjukkan rangka-rangkanya secara mencolok. Lengkap dengan bandulan batu beton yang melayang-layang di atas badan jalan. Sudah lama sekali, sehingga ketika sekarang mulai muncul bentuk luarnya –secara lebih jelas– tentu bukan barang aneh lagi.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 8 Comments »

Sekolah itu Candu!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, August 2nd, 2006

Demikian kata beliau. Namanya Roem Topatimasang, seorang aktivis lama di negeri ini. Sebagai aktivis kapasitas beliau sudah dikenal hingga tingkat dunia. Gaya fasilitasinya banyak ditiru oleh generasi muda. Dengan celana pendek, kamera dan laptop yang selalu tercangklong, dia selalu siap tempur.

Buku tulisan beliau sudah terhitung tahun, sekitar tahun 1998 buku itu terbit, dan sudah mengalami sekian kali cetak ulang. Hmm.. saya tidak akan bercerita tentang buku ini secara mendetail, juga tidak akan menceritakan tentang pak Roem. Apalagi Pak Roem sekarang lebih banyak menulis buku panduan :)

Ramalan Roem dan Kenyataan Negeri
Sebut saja demikian ;) karena pak Roem menyebutkan pada tahun 2010 (atau lebih ya, saya sudah lupa) petani yang mau belajar cara menanam pohon singkong, cukup meng-akses pelajaran sambil nongkrong di mobil BMW-nya.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 9 Comments »

Jambore Nasional 2006 - Kemana Dasa Dharma Pramuka?    Print This Post   Email This Post

Monday, July 24th, 2006

Tak habis pikir, geram, segala macam bertumpuk di kepala saya setelah membaca laporan Jambore Nasional 2006 di harian Kompas. Sebuah acara bergengsi tempat berkumpulnya para pegiat pramuka se-Indonesia, berubah menjadi ajang promosi dan penegasan budaya konsumerisme.

Sebelum terlalu jauh, perlu saya sampaikan bahwa saya bukanlah penggemar pramuka. Pada masa saya, pramuka hanyalah identik dengan kumpul-kumpul dan menyanyi. Satus-satunya acara pramuka yang saya suka hanyalah camping (berkemah). Karena acara tersebut menjanjikan tantangan dan kebersamaan. Saya pernah dihukum di SMA gara-gara menyemangati teman-teman satu kelas untuk tidak datang ke acara pramuka. Namun bukan berarti saya tidak suka dengan dasa dharmanya. Dasa dharma pramuka melekat justru pada acara kemah dan keseharian.

Suasana Jambore Tahun Ini

Jambore kali ini diadakan di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Dari sudut pandang event organizer  maka acara kali ini berjalan dengan sangat sukses. Hal ini diukur dari bejibun-nya spanduk-spanduk sponsor. Dari mulai makanan ringan picnic hingga KFC. Dari mulai factory outlet hingga Honda.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 70 Comments »