Maaf Kawan, Kita Bersimpang Jalan :)
Friday, July 1st, 2011
Pilihan hidup seringkali bertabrakan dengan pilihan hidup teman lain. Namun selayaknya hal seperti ini tidak menjadi ganjalan dalam pertemanan. Bukankah keseragaman itu membosankan? Setidaknya inilah yang kualami beberapa hari ini, bagaimana pilihan hidupku, tiba-tiba harus berhadapan dengan pilihan atau mungkin kompromi yang dilakukan oleh sahabatku.
Tidak ada yang baru di bawah naungan matahari, semuanya hanya berulang dan berulang mengikuti siklus ciptaan-Nya. Namun proses pencarian masing-masing orang mengalami perkembangan, proses pencarian ini pula yang mengakibatkan persimpangan pilihan antara aku dengan teman-temanku.
Narasi Besar
Tentu saja, hal ini jadinya mirip dengan “agama”, yaitu satu konsep hubungan antar manusia dalam ruang makro bernama dunia, antara satu orang dengan orang lainnya. Masing-masing memegang anggapannya atas pandangan terhadap dunia. Apakah dunia itu bulat, apakah dunia itu datar, kembali ke keyakinan masing-masing.
Posted in Neolib, blog, Daily Life | 3 Comments »
Sepenggal kisah, Ruyati
Friday, June 24th, 2011
Tulisan ini bukan analisis, sebagaimana tulisan-tulisan saya yang lain, sekedar uneg-uneg saja. Dan karena sifatnya sama dengan tulisan saya yang lain, sebenarnya saya tidak perlu menuliskan lagi disclaimer ini :). Ya, saya hanya ingin membagi resah terkait kasus Ruyati. Siapa dia? Dia adalah seorang TKI yang mendapatkan hukum pancung dari pemerintah Arab Saudi. Dikabarkan bahwa dia telah membunuh majikannya, sehingga hukuman tersebut –sesuai dengan negara dimana dia berada– layak dikenakan padanya.
Ruyati, seorang perempuan Bekasi berusia 54 tahun, usia yang cukup uzur untuk ukuran seorang perempuan, menjadi TKI di Arab Saudi. Keberangkatannya pada Tahun 2008 adalah keberangkatan yang ketiga kalinya. Dikabarkan bahwa pihak keluarganya sempat melarang kepergiannya, namun dia bertekat berangkat, dengan alasan demi masa depan. Perusahaan yang menyalurkannya memanipulasi usianya supaya bisa berangkat, menjadi 9 (semblian) tahun lebih muda.
Dialog dengan keluarganya masih berjalan hingga kabar terakhir sebelum majikannya meninggal, bahwa Ruyati sempat dirawat di Rumah Sakit dan tangannya remuk sehingga perlu dipasangi pen. Demikian informasi yang berhasil dihimpun oleh wartawan PedomanNews.
Lantas Kenapa?
Diberitakan dimana-mana, dirilis pula oleh pemerintah Arab Saudi, bahwa Ruyati terbukti dan mengakui bahwa dialah penyebab kematian majikannya. Hukuman mati dengan cara dipancung menjadi putusan final karenanya. Apakah memang demikian? Kejadian sudah berlangsung, sudah lewat, dan saya juga bukan dalam kapasitas seorang detektif. Saya hanya ingin kembali mempertanyakan posisi negara.
Posted in Neolib, Daily Life | 1 Comment »
Negeri Pencitraan
Thursday, June 9th, 2011
Membaca berita soal siswa berinisial AL (SDN Gaden, Surabaya), saya seakan bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya. Diceritakan bahwa AL adalah siswa yang diajari untuk selalu jujur oleh orang tuanya. Alkisah ketika ujian kemarin, AL diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan ke siswa yang lain. Adalah kebetulan AL ini adalah siswa bibit unggul (demikian info dari teman saya, Rizki Suluhadi, lulusan ITS). Pergulatan batin antara ajaran sang ibu dengan ketakutan untuk melawan kehendak guru, AL memilih memberikan contekan jawaban salah.
Orang tua AL yang merasa ini melukai apa yang dia ajarkan selama ini ke anaknya, berusaha mendapatkan informasi ke sekolah terkait, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, sehingga meneruskan ke dinas pendidikan. Akibatnya kemudian terbukti cerita tersebut benar adanya, sehingga beberapa guru termasuk kepala sekolahnya mendapatkan sanksi. Namun apalacur, walimurid lain justru menyalahkan tindakan orang tua AL, bahkan mereka terancam terusir dari desa tempat mereka tinggal.
Cerita lengkapnya bisa Anda cari di Google dengan kata kunci SDN Gaden. Salah satunya adalah di detiksurabaya.
Posted in Pendidikan, Neolib, Culture, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »
Tegakah Menggali Kubur Anak Cucu Sendiri?
Monday, May 30th, 2011
Proyek penambangan pasir besi di Kulonprogo seperti tak terbendung. Petani seputar pantai yang menolaknyapun suaranya terpecah. Ada hal yang cukup membuat miris di sini yang nampaknya kurang menjadi perhatian warga Yogyakarta khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Yang saya maksud adalah mengenai konservasi alam.
Seperti dituturkan mas Eko Teguh di Harian Kompas hari ini, pasir besi di pantai Kulonprogo ditambang dengan metode diambil pasirnya lalu disaring untuk dipisahkan antara pasir biasa dengan pasir besi. Kandungan pasir besi di pantai Kulonprogo, menurut mas Eko Teguh, adalah 40% hingga 80% tiap bagian pasir pantai. Artinya setiap pasir yang diambil dari wilayah pantai Kulonprogo ini, hanya akan dikembalikan sebanyak maksimal 20% saja.
Maka akan sampai tahun kapankah pantai di wilayah Kulonprogo akan tetap ada?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Daily Life | 6 Comments »
Dimanakah, rasa?
Friday, May 20th, 2011
Tadi malam, senang sekali mendapatkan kesempatan berbagi seputar Social Media dengan Dr Yanuar Nugroho di Angkringan Gedong Kuning. Disinggung di sana tentang bagaimana social media berperan dalam mengubah perilaku individu-individu dalam menjalani kehidupannya. Ada berbagai fakta menarik seputar perubahan perilaku ini, yang mana bisa Anda baca sendiri dalam penelitian Dr Yanuar, silakan Anda download tulisan beliau di sini.
Obrolan semalam berlangsung santai dan menyenangkan, menyisakan beberapa pertanyaan dan sentilan di hati saya. Lalu tiba-tiba pagi ini saya terjerembab. Sebuah kalimat yang keluar dari social media bernama twitter membuyarkan bayangan-bayangan saya tentang pemanfaatan social media sebagai sarana kampanye dan perbaikan sosial. Inilah kalimat tersebut ,”J-Lo Private Concert @ Ritz Carlton PP, only 750 tix available @ Rp20million!!”.
Apa yang Mengganggu?
Saya tidak tahu apakah hal ini berkait dengan diskusi semalam, atau berkait dengan perubahan perilaku manusia sebagai makhluk sosial dikarenakan hadirnya teknologi. Yang ada di pikiran saya, yang terlintas dengan serta merta, adalah satu kata “GILA!”. Lalu muncul pula pertanyaan besar yang sepertinya tidak butuh jawaban, “sedemikian parahnyakah tingkat ketidakpedulian kita?”.
Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 3 Comments »
TNI, sebenarnya, Apa fungsimu?
Wednesday, April 20th, 2011
Sekali lagi tragedi terjadi. TNI memuntahkan peluru ke arah warga. Kali ini kejadiannya di Kebumen. Empat warga menjadi korban dalam bentrokan tersebut. Dan seperti biasa, simpang siur mengenai hal ini beredar cepat di media. Pihak warga menyatakan mereka diserang tanpa alasan, sementara dari pihak TNI menyatakan bahwa yang diserang adalah perusuh.
Saya sendiri tidak akan membahas mengenai kejadian itu, sepesimis apapun saya hanya bisa berharap pada proses hukum yang berjalan. Oleh karenanya kali ini, saya ingin menyampaikan hal di luar itu. Sebuah kegelisahan yang mengganjal di hati. Mengapa kejadian ini sering kali berulang? Kenapa harus ada korban jiwa dalam peristiwa semacam ini?
Dalam hal ini pertanyaan saya terarah kepada TNI. Bagaimanapun juga, TNI lebih memiliki segalanya dibanding rakyat kebanyakan. Mereka memiliki senjata dan korps mereka cukup solid dan terorganisir. Jika kita bandingkan dengan ilustrasi sederhana sebuah kecelakaan di jalanan, maka pengguna mobil akan dibebani kecurigaan terlebih dulu dibanding supir becak. Maka, ada apa dengan TNI?
TNI atau Preman?
Pembelaan diri adalah lagu lama yang selalu berkumandang dari kalangan pejabat teras TNI ketika kasus seperti ini terjadi. Dengan demikian maka nyawa yang hilang sudah sepantasnya tidak dipermasalahkan, karena ini pembelaan diri. Membela diri artinya mempertahankan kondisi pribadi dari keterancaman.
Posted in Politik, Neolib, Semiotics | 5 Comments »
Ledek, Sebuah Kisah tentang Peralihan
Tuesday, April 5th, 2011
Apa yang teman-teman ketahui tentang lèdhèk? Masihkah kalian mengingatnya? Saya bukan sedang membicarakan lèdhèk munyuk (kera), tetapi tari lèdhèk yang dimainkan oleh manusia. Jika teman-teman masih ingat, saya sungguh ikut berbahagia, mungkin bisa sedikit menambahkan apa yang belum saya paparkan di sini. Bagi teman-teman, yang ingat maupun tidak, tahu maupun tidak, ijinkan saya bercerita tentang sebuah kisah di masa lalu, di tahun 1980-an, di sebuah wilayah di Bantul Selatan.
Berkah pada Sebuah Ciuman Penari Lèdhèk
Saya tidak sedang mengada-ada atau mengarang, meski mungkin saja bisa jadi apa yang saya ceritakan ini belum ada di wikipedia.org hehe. Kisah ini tentang teman saya, seorang muda dengan kulit putih bersih anak dari keluarga pedagang. Saya ingat betul, meskipun konsep warung 24 jam belum membudaya di dunia, warung ini sudah menerapkan prinsip tersebut. Bukan berarti warungnya buka 24 jam, tapi Anda boleh mengetuk pintunya kapan saja, jika memang ada kebutuhan mendesak. Tapi mungkin memang demikianlah adanya sebuah warung di kampung.
Rumah saya dengan rumah teman saya ini terpaut kurang lebih 500 meter jaraknya. Mungkin kalau ditarik garis lurus sih tidak sampai sejauh itu, namun meskipun sudah lewat halaman tetangga, tetap harus berbelok-belok untuk mencapai rumahnya. Saya termasuk jarang main dengannya sebenarnya, tetapi bisa dipastikan minimal sebulan sekali, tubuh kecil saya mendatangi rumahnya, dan sebuah suara yang juga kecil menyeruak di antara obrolan para pembeli,”lék, nyuwun lisah patra sedasa liter”. Lalu pulang menempuh jalan yang berbelok-belok tadi, dengan minimal meletakkan jerigen satu kali untuk mengistirahatkan tangan. Maklum, tubuh saya kecil sekali waktu itu.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 7 Comments »
Maka kunamakan kamu: Munafik Ismail!
Monday, March 28th, 2011
(sms Taufiq Ismail) HU AR Rini Endo. Saya baca di internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Sambodja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sunber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yg pantas (Taufiq Ismail)
SMS di atas dikirim oleh Taufik Ismail, tokoh dunia sastra Indonesia, kepada salah satu panitia #koinsastra. Dan SMS itu pula yang membuat saya meradang pagi-pagi. Tidak menyangka orang sekelas beliau mengirim SMS dengan isi dan nada seperti itu.
Sebelum terlalu jauh, mari saya ceritakan serba sedikit tentang apa itu #koinsastra dan kejadian apa yang melatarbelakangi munculnya SMS itu. Mohon yang tahu informasi lebih dalam mengoreksi atau menambahi keterangan saya ini.
Posted in Politik, Neolib, Culture, blog, Semiotics | 19 Comments »
Tentang Sesuatu yang Dimulai dari Kecil
Thursday, March 17th, 2011
Adalah kebetulan, terserah bagaimana Anda memaknai tentang kata kebetulan itu, saya hari ini bertemu dengan orang hebat. Dia adalah Invani, seorang pemudi yang mempunyai semangat luar biasa, yang sedemikian pedulinya dengan lingkungan sosialnya, lingkungan sosial kita juga.
Pertemuan ini memang diawali dengan sebuah kegiatan yang bersifat kerjaan, karena kebetulan (sekali lagi) dia adalah manajer untuk sebuah pertunjukan/performance dari seorang seniman Yogya, Eko Nugroho. Hal tentang Eko, perlu kusimpan dulu, karena tidak cukup melalui satu tulisan menjabarkan tentang dia.
Vani, demikian dia akrab dipanggil, bersama kekasihnya (semacam kisah romantis aktivis :D) menggagas sebuah ruang bernama Kecil Bergerak. Ruang yang tanpa dinding menurutku, karena melalui obrolan panjang yang dilahirkan oleh hujan deras di seputaran Taman Budaya Yogyakarta ini, uraian dia tentang kegiatannya sungguh sangat luar biasa. Menciptakan ruang yang hingga saat ini kita belum pernah temukan dimanapun.
Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 6 Comments »
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Wednesday, December 15th, 2010
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Tulisan ini hadir sebagai reaksi atas ungkapan Bapak Ichlasul Amal, mantan rektor UGM, di surat kabar online Suara Merdeka. Pernyataan beliau dalam menanggapi Sidang Rakyat Yogya sungguh di luar perkiraan. Dalam berita tersebut Bapak Ichlasul Amal memilih kalimat yang menyakitkan, dengan menyebut bahwa Sidang Rakyat Yogyakarta sebagai aksi show of force, cara lama yang dipakai PKI.
Saya tiba-tiba merasa seakan sedang melihat sosok yang berbeda, sosok yang sama sekali lain dengan yang dulu sempat saya kenal. Bukankah beliau juga ikut dalam Pisowanan Ageng pada Mei 1998, ketika terjadi kekisruhan dan penculikan dimana-mana? Bukankah beliau juga ada di antara kami ketika berjalan dari UGM ke Alun-Alun Yogyakarta? Ataukah waktu itu adalah beliau yang lain? Beliau yang masih murni dan masih bisa mendengar suara rakyat, mungkin?
Dua Kesalahan Besar Ichlasul Amal
Terkait pernyataan beliau tersebut, saya menggarisbawahi dua hal yang seakan tidak digubris oleh beliau. Kesalahan pertama beliau adalah memandang rendah semangat guyub rukun dan bahu membahu masyarakat Yogya. Saya tidak percaya kalau beliau tidak tahu mengenai hal ini, dan saya sangat tidak percaya kalau beliau tidak pernah mendapat ajakan kerjabakti sekalipun dari kampung tempat beliau tinggal di Yogya.
Atau bisa jadi saya salah? Bisa jadi beliau memang tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitarnya? Sibuk dengan menara gading dan singgasana kegurubesarannya? Sungguh ironis seorang guru ilmu sosial tapi tidak bersosial. Kebetulan saya tinggal di kampung yang aktif membuat pertemuan sebulan sekali pak, belum lama ini kami bekerja bakti memperbaiki jalan yang rusak. Tidak ada uang yang bicara di sana, tidak ada kepentingan politik, sepenuhnya didasari oleh kebutuhan bersama. Tidakkah bapak melihat semangat ini di balik berbondong-bondongnya warga Yogyakarta di Sidang Rakyat kemarin? Atau memang tuduhan saya benar, sampeyan lebih nyaman bertahta di singgasana keilmuan sampeyan, dan beranggapan mempunyai kuasa sehingga rakyat yang sampeyan pandang seperti pion-pion itu bisa sampeyan baca satu per satu isi kepala dan hatinya?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 12 Comments »
