Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Neolib’

Kapitalisasi Rumah Sakit Makin Memprihatinkan    Print This Post   Email This Post

Tuesday, December 13th, 2011

Tulisan ini hanya reaksi keheranan saja. Ada perasaan kurang sreg dan merasa sesuatu yang tidak pantas. Postingan kali ini mengenai hadirnya gerai-gerai makanan cepat saji di rumah sakit. Tak kurang perusahaan trans nasional dari Amerika juga hadir di sana. 

Gerai ini terletak di dalam lingkungan rumah sakit. Maka kalau dulu ketika seorang penunggu pasien (biasanya keluarga), kelaparan dan ingin mencari makanan, harus keluar sambil menunjukkan kartu tunggu, sekarang tidak lagi. Semua sudah tersedia, dan beberapa 24 jam hadir di sana.

Di satu sisi tentu saja ini “menyenangkan”. Saya sendiri beberapa kali berkesempatan merasakan sebagai penunggu pasien. Ketika almarhum ayah saya dirawat, ketika ibu saya kecelakaan, ketika kakek saya operasi dan seterusnya. Rasa lapar yang sering hinggap di tengah malam, cukup merepotkan. Selain berjalan keluar (tak jarang dari lantai dua atau tiga, dimana hanya ada anak tangga), juga harus menjaga jangan sampai kartu tunggu pasien hilang.

Namun, mari kita berpikir ulang. Makanan cepat saji? Maksud saya, burger, pizza, dan sejenisnya? Saya seperti melihat sebuah drama oxymoron sedang berlangsung. Lembaga yang menggaungkan kesehatan, justru menyajikan makanan yang kita semua tahu sangat tidak sehat. Kolesterol, salah satunya.

[ detail ]

Posted in Neolib, blog | 4 Comments »

Abai    Print This Post   Email This Post

Tuesday, November 1st, 2011

Kata ini terngiang terus di kepala saya. Pernah adakah satu penelitian serius yang mengungkapkan peningkatan satu sikap abai dari satu komunitas/penduduk? Apakah linear, exponensial atau bagaimana? Faktor apa saja kiranya yang membuat menjadi seperti itu?

Tulisan ini dipicu dari pengalaman pribadi saya, dimana saya terlanjur masuk satu lorong (jalan tikus) untuk menuju satu tempat, dan terpaksa putar balik karena ternyata di tengah-tengah jalan tikus tersebut sedang ada proyek galian yang menutup akses. Saya bingung, kenapa tidak dari depan pintu masuk jalan tikus itu diberi tanda atau peringatan soal pekerjaan ini?

Empat jam kemudian saya lewat pintu masuk tadi, dan ternyata sudah ada tanda peringatan dimaksud. Saya tidak sempat menghitung, berapa orang yang “terjebak” harus putar balik karena tanda itu terlambat ada. Ditambah pula, sekian pekerja yang ada di tempat itu, seakan tidak peduli. Mereka membiarkan pengemudi berjalan sampai ke dekat lokasi (meski sebenarnya sudah terlihat dari jauh), dengan harapan masih bisa lewat, dan harus kecewa karena ternyata tertutup total.

Saya tidak habis pikir, tidak satupun dari pekerja di situ yang melambaikan tangan memberi tanda bahwa tidak bisa lewat. Juga beberapa penduduk yang ada di ujung belokan gang, yang tahu persis keadaan di situ, seakan tidak peduli juga. Urusanmu urusanmu sendiri, urusan saya sudah banyak. Mungkin seperti itu.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 1 Comment »

Perlukah Ujian Masuk SD?    Print This Post   Email This Post

Thursday, October 27th, 2011

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan luar biasa, bertemu dengan seorang pengajar yang masih muda. Usianya jelas di bawah saya, dan dia memilih mengajar SD di lereng merapi. Namanya mas Eka Prasetya, di twitter dia mengenalkan dirinya sebagai @kerbauonline. Singkat cerita, kami ngobrol banyak tentang pendidikan dasar. Kebetulan, seperti banyak tertulis di blog saya ini, saya memang sangat peduli dengan pendidikan dasar. Bagi saya, ibarat bangunan, pendidikan dasar adalah pondasi yang menentukan bentuk dan kekuatan bangunan pendidikan seseorang.

Obrolan dimulai dari soal betapa semakin mahalnya biaya pendidikan. Seperti sudah pernah saya tuliskan juga, pendidikan SD sekarang, terutama untuk SD swasta, biaya masuknya saja senilai total biaya yang dikeluarkan untuk membayar SPP mahasiswa hingga dia lulus. Acuannya tentu saja SPP jaman saya, dimana per semester “hanya” Rp. 225.000,- saja.

Lantas pembicaraan bergulir, membahas banyak hal terkait biaya, dari mulai dana BOS hingga soal seragam dan buku. Namun yang paling menarik menurut saya, dan membuat saya terpancing untuk menuliskannya, adalah soal ujian masuk SD. Saya serta merta teringat suara-suara gelisah beberapa tetangga terkait ujian masuk SD ini.

Kementrian Pendidikan Nasional: Syarat Masuk SD hanyalah Usia

Dari perbincangan dengan mas Eka tadi, saya tercerahkan bahwa ujian masuk SD seharusnya tidak ada. Ingatan atas keluhan tetangga-tetangga itu, membawaku pada beberapa situs yang memuat soal ujian masuk SD. Sependek penemuan saya, SD yang memberlakukan ujian masuk adalah SD Swasta. Sepertinya tidak perlu saya sebutkan nama sekolahnya, silakan googling saja dengan kata kunci “test masuk SD”.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib, blog | 4 Comments »

Membisniskan Orang Sakit?    Print This Post   Email This Post

Sunday, October 23rd, 2011

Sekali lagi tentang rumah sakit. Tentang pelayanan dari sebuah institusi yang bersinggungan langsung dengan harapan hidup. Ada sekian banyak cerita seputar rumah sakit yang saya dapatkan, namun kali ini, seijin mas Bobby Gunawan yang menceritakan semuanya di FB-nya, saya ingin membaginya pula ke semua orang, agar mereka yang tidak memiliki FB bisa ikut membaca. Ringkasnya, ini adalah potret pelayanan yang seakan menanggalkan “rasa” dan “kemanusiaan”, hal yang seharusnya menempel erat di institusi yang bersandar pada jasa pelayanan. Saya copy paste note FB dari mas Bobby Gunawan. Silakan dibaca.

KURANG BIAYA 70 RIBU, BAYI 10 BULAN TEWAS TERLANTAR DI RUMAH SAKIT

Kepada rekan-rekan jurnalis, saya ingin menyampaikan kabar duka. Anak dari keponakan saya Susan Kania & Martin, yg berusia 10 bulan tewas terlantai di Rumah Sakit Mitra Anugrah Lestari, Cimahi, Jabar. Gara-gara tidak bisa tebus obat 70 ribu!!!

Susan dan Keluarga biasanya meminta bantuan jika ada masalah keuangan. suka sms atau telp. Tapi kemarin tidak ada kabar apa-apa. aya baru tau kalau mereka sudah tidak punya pulsa, untuk kontak. Bahkan HP sempat ditawarkan untuk digadaikan ke rumah sakit.

Berikut penuturan orang tua korban. Untuk nomer HP, silakan japri kesaya:

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Politik, Neolib | 7 Comments »

Seandainya Irul itu New 7 Wonder..    Print This Post   Email This Post

Monday, October 17th, 2011

Ya, ini berandai-andai saja. Sebenarnya perandaian ini dipicu oleh maraknya –lagi– isu soal New 7 Wonder. Bagi teman-teman yang mengikuti kabar kabur seputar kontes idol-idolan ini tentu tahu, bahwa kontes ini sudah berlangsung semenjak tahun 2000. Dan semenjak tahun itu pula, meski sudah memajang deretan “pemenang”, masih juga belum ada kejelasan tentang beberapa hal. Detilnya sih teman-teman bisa baca di blognya Priyadi

Setelah perusahaan (ya, perusahaan, bukan lembaga/foundation) kecil dari Swiss ini mengancam mencopot pulau komodo dari daftar New 7 Wondernya, sebenarnya hiruk pikuk soal inipun sempat mereda. Dikabarkan waktu itu, Indonesia (dalam hal ini dinas budaya dan pariwisata) sempat dengan PD mengajukan diri sebagai tempat pelaksanaan penyerahan award. Namun ternyata perusahaan kecil dari Swiss ini minta sejumlah uang lagi. Karena –mungkin– disbudpar sudah keluar uang banyak untuk kampanye, tidak ada anggaran untuk ini, maka disbudpar menyatakan membatalkan usulan itu. Eh, diancam mau dihapus. Seingatku sih waktu itu sikap pemerintah kita, yaudah hapus saja.

Waktu berlalu, bulan berganti, tahu-tahu muncullah satu sosok politikus. Bak pahlawan, dia katakan “votinglah” biaya sms premium sudah ditanggung olehnya (atau oleh sponsor, demikian bahasa resminya). Maka ramai lagilah kampanye soal New 7 Wonder ini. Masih dibutuhkan 120 juta vote untuk “memenangkan” Pulau Komodo dalam ajang ini.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, blog, Daily Life | 6 Comments »

Negeri Macam Apa yang memproduksi maling? - part 2    Print This Post   Email This Post

Monday, September 19th, 2011

Sedikit berbeda, meskipun aku pernah mengalaminya. Tepatnya Bulan Maret Tahun 2006 yang lalu, rumah kontrakan saya dimasuki pencuri. Sekarang, rumah saya sendiri yang dijebol pintunya. Perbedaannya, kalau dulu saya bisa dibilang tidak kehilangan apa-apa, kali ini saya kehilangan kamera DSLR yang dulu lama sekali saya idam-idamkan.

Masih ada foto-foto acara Teater Garasi di sana, belum sempat saya pindahkan. Maka menyusup pula perasaan kecewa. Saya kembali terluka, negeri ini, dengan penguasanya yang sibuk memperkaya diri, melupakan kebutuhan asasi penduduknya. Rasa aman dan kesempatan kerja.

[ detail ]

Posted in Neolib, blog | 4 Comments »

Merdeka Itu..    Print This Post   Email This Post

Tuesday, August 16th, 2011

Tulisan kali ini singkat saja, sekedar memberi pembanding bahwa sesingkat apapun entry sebuah blog, jauh lebih panjang dibandingkan sebuah twit, dan akan bertahan lebih lama, tentu saja. :) Jadi, langsung saja, merdeka itu bagi saya adalah:

1. Kebebasan menyatakan pendapat, tanpa harus takut ancaman subversif.

2. Kebebasan memperoleh informasi, apapun, tanpa harus dipaksa tunduk oleh aturan yang tidak masuk akal. 

3. Kebebasan mengamalkan kepercayaan tanpa harus dihantui oleh ancaman mayoritas.

4. Terpenuhinya hak-hak asasi sebagai warga negara, terutama pendidikan, kesehatan dan informasi.

5. Ketika negara dipimpin oleh orang yang kompeten di bidangnya, dan fokus dalam penyejahteraan warga.

6. Hilangnya represi paramiliter dan dihancurkannya kelompok-kelompok anarkis (tepatnya perusak) atas nama agama ataupun bukan, oleh negara.

7. Ketika kebanggaan lahir dengan sendirinya, bukan dengan pemaksaan ataupun ancaman.

8. Ketika negara (dan rakyat) sudah tidak lagi dihantui hutang.

9. Ketika koruptor dan pemerkosa dihukum seberat-beratnya tanpa ampunan (maaf, saya manusia biasa, pengampunan bagi saya ada batasnya).

10. Hilangnya militerisme di segala lini masyarakat sipil dari tingkat kelurahan hingga negara. Militer cukup berada di barak.

Ini serba sedikit hal yang bisa saya tuangkan, bisa jadi esok hari sudah bertambah lagi. Anda boleh tidak setuju, karena saya menghormati kemerdekaan yang saya artikan menurut pendapat pribadi saya ini.

Vale, demi kemerdekaan.

El rony, belum merdeka.

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Posted in Politik, Neolib, blog, Daily Life | 7 Comments »

Beramal kok Koar-koar    Print This Post   Email This Post

Sunday, August 14th, 2011

Bulan Ramadhan, bulan pencitraan. Sayangnya begitu, apa boleh bikin. Di bulan ini, tidak hanya manusia yang berbondong-bondong memperebutkan perhatian Tuhannya, bahkan merek-merekpun tak mau kalah berusaha mendapatkan perhatianNya.

Twitter, sebuah layanan social media yang sedang sangat populer saat ini, menjadi salah satu jembatan pengejawantahan perebutan perhatian tersebut. Dan, maafkan saya, saya sedang agak suntuk dengan segala kelebatan promo tidak masuk akal tersebut. “Follow saya, maka saya akan menyumbang seribu rupiah untuk tiap follower baru ke orang yang membutuhkan”. Kurang lebih seperti itu redaksinya. Ada yang mempromokan akun, ada yang mempromokan hashtag, banyak yang terang-terangan, ada pula yang malu-malu.

Lalu saya teringat dengan kyai yang menggunakan kata sumbangan sebagai modal ceramah. Nyumbanglah agar engkau segera kaya. Komentar saya atau tepatnya selorohan saya atas ucapan kyai tersebut, bahkan memicu diskusi yang cukup panjang. Diskusi yang menurut saya tidak penting, karena masing-masing memang tidak berniat mencari titik temu, masing-masing sibuk mempertahankan argumennya dengan imbuhan kekeraskepalaan. Tentu saja ketika saya menyebut kata masing-masing, artinya saya juga begitu. :)

Kalau emang mau, lakukan.

Pingin rasanya ngomong gini tiap hal di atas muncul. Lakukan! Tidak usah bikin keributan. Ada yang pernah bilang “bersedekahlah dengan tangan kananmu, hingga seolah-olah tangan kirimu sendiri tidak mengetahuinya”. Bukankah itu indah sekali? Berbuat baik tanpa harus diketahui oleh orang lain, bahkan seakan-akan tanpa sadar, refleks. 

[ detail ]

Posted in Neolib, blog | 17 Comments »

Hutang kok bangga    Print This Post   Email This Post

Thursday, August 4th, 2011

Hari ini adalah hari ke empat puasa. Beruntung sekali saya bertemu bulan ini, tidak lama setelah satu proses penuh emosi terjadi. Ibaratnya menemukan oase ketika kehausan. Tetapi saya tidak ingin bercerita tentang hal itu, saya lebih ingin menceritakan apa yang terjadi di kepala saya, di otak saya maksudnya, setelah peristiwa itu.

SAMTING - Satu Minggu Satu PostingApa yang terjadi dengan saya terkait dengan uang. Saya sungguh baru berhadapan sekali itu dengan orang yang sangat tamak, sementara dia belum beberapa lama baru pulang dari Tanah Suci. Saya terus terang tidak bisa habis mengerti, bagaimana orang bisa sedemikian dikendalikan dengan uang. Lantas pikiran sayapun berkembang, karena kebetulan orang-orang di sekitar saya yang juga terlibat dalam kejadian itu, memiliki kemiripan satu lagi. Hutang.

Kenapa dengan hutang?

Hutang sepertinya sudah menjadi jalan hidup sekarang. Pingin TV, hutang. Pingin kendaraan, hutang. Pingin baju, hutang. Bahkan dengan pola pikir paling bodoh yang menancap di kepala para manusia Indonesia, yang memandang pemilik kartu kredit adalah golongan keren, budaya hutang ini semakin merasuk bahkan hingga ke urusan makan. 

Orang hutang tidak lagi malu-malu. Kalau dulu, manusia malu-malu mencari waktu, menunggu sambil memperhatikan sekiranya target sedang lunak hatinya, untuk kemudian memohon diberikan hutang. Kini? Orang hutang dengan petentang-petenteng, bahkan dalam satu cerita ada yang pakai acara membentak-bentak pelayan sebuah restoran, padahal dia ya cuma tukang hutang. Sungguh sial.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, blog | 9 Comments »

Berbagai Kelompok Bermain di Yogyakarta    Print This Post   Email This Post

Friday, July 22nd, 2011

Sebelum saya memulai bercerita, saya ingin menyampaikan permohonan maaf sekaligus pengakuan. Hal ini sekaligus pertanggungjawaban saya sebagai salah satu pencetus satu minggu satu posting, dimana seminggu kemarin saya terpaksa tidak bisa memposting apapun di blog ini, dikarenakan tubuh sedang mengalami penuaan dini. Sudah hampir dua minggu ini saya diserang migraine, hal ini sepertinya diakibatkan oleh pola tidur yang berubah. Sekarang, alhamdulillah, “jadwal” kumatnya sudah tidak sesering minggu lalu.

Oke, cukup tentang diri saya. Saya sebetulnya ingin bercerita tentang sekolah. Kebetulan kemarin saya berputar-putar keliling jogja, mencarikan sekolah untuk anak saya, Mata Air. Terlambat sebenarnya, karena sebenarnya ajaran baru sudah berlangsung. Namun apa mau dikata, kondisi tubuh membuat hal-hal mundur, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan :D. Dan ternyata, sekali lagi alhamdulillah, untuk kelompok bermain, keterlambatan ini tidak cukup berpengaruh, karena anak bisa masuk kapan saja.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, blog | 6 Comments »