Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Neolib’

Tentang Revolusi    Print This Post   Email This Post

Wednesday, May 12th, 2010

Perang, adinda Arjuna, hanyalah sebuah proses lumrah untuk menghapus yang lama, membongkar angkara murka dan menggantikannya dengan yang baru yang lebih indah dan dahsyat!
– Sri Kresna, Mahabarata

Membaca kembali kisah Mahabarata, terutama dari Kanda aslinya –bukan versi Wayang Purwa, membawa saya kepada hal-hal yang sekarang berlangsung di negeri ini. Kisah yang penuh dengan gambaran sikap ksatria ini, mau tak mau menjadi semacam ejekan pedas bagi keadaan terkini di negeri ini.

Satu hal yang pertama melintas adalah tentang Soeharto dan kroni-kroninya. Dalam kisah Mahabarata disebutkan bahwa Pandawa (terutama Yudhistira alias Semiaji) sempat berpikiran bahwa “biarlah Kurawa berlaku sesukanya, kita terima saja secara legawa dan ikhlas”. Dan pada saat itu, Sri Kresna (didahului oleh Drupadi) mengingatkan bahwa ada pilihan lain lagi bagi mereka yang menyebut diri Ksatria. Kurawa yang telah menginjak hak-hak azasi sudah selayaknya diberi pelajaran, inilah Ksatria yang sesungguhnya, yakni membela hak-hak kaum lemah. Kembali pada topik Soeharto, maka sikap “sok legawa, sok ksatria” yang ditunjukkan oleh para pemimpin politik di negeri ini, tak lebih dari sikap pengecut kalau tidak mau dibilang ketakutan.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Daily Life | 2 Comments »

Pendidikan yang Materialis    Print This Post   Email This Post

Tuesday, April 27th, 2010

Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya “Pendidikan umum memang bertujuan mengembangkan pengetahuan & ketrampilan maka benar tolak ukurnya prestasi akademis yang dinilai di akhir jenjang pendidikan. Nah kalau keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan itu dalam sistem pendidikan nasional lebih ditekankan sebagai tugas pendidikan keluarga”.

Secara sekilas tulisan tersebut sungguh luar biasa, cerdas dan “masuk akal”. Tetapi ada satu hal yang mengganjal, tolok ukur seperti apa untuk menentukan prestasi? Sudah menjadi rahasia umum, eh salah, bukan rahasia, tetapi metode umum yang dipakai di sekolah-sekolah di negeri ini, tolok ukur kesuksesan seorang anak ditentukan dari besar kecilnya angka di rapotnya.

Semakin besar angka yang tertera, mestinya semakin pintarlah si anak. Semakin besar pula kemungkinan si anak mendapatkan predikat sebagai anak berprestasi. Hasil akhir ini pula yang menjadi modal kebanggaan dari para orang tua murid ketika berbagi cerita soal anaknya, atau kadang justru menjadi bahan curhat betapa bodohnya anaknya ketika bertemu dengan kawan lain yang anaknya kebetulan nilainya bagus (besar) semua.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib | 7 Comments »

Wawancara Menkominfo Kita dengan BBC    Print This Post   Email This Post

Saturday, February 20th, 2010

Dari Benny saya mendapatkan informasti mengenai berita yang dimuat oleh BBC, tertanggal 16 Februari 2010 dengan judul RPM Konten Media ditentang. Dalam situs itu diunggah pula dialog/wawancara antara wartawan BBC dengan Menteri kita. Silakan download unduh wawancaranya di sini (berkas mp3).

Dalam wawancara itu Tiffatul Sembiring menyampaikan (sebagaimana dikutip dari situs BBC)

”Ketika ada penghujatan dan kami mendapat keluhan ternyata situsnya ada di word press, New York. Kami tak bisa berbuat apa-apa.”

”Dengan peraturan menteri itu kita bisa menyelesaikan dan melakukan tuntutan. Kita bisa menutup ataupun membatasi ISP mereka yang ada di sini,” ucap Tiffatul Sembiring.

Juga beliau menyatakan bahwa “media online tidak ada hubungannya dengan pers”. Beliau juga menyatakan bahwa banyak yang menentang dan memprotes padahal belum membaca rancangan itu. Kenyataannya, justru beliau sendiri yang belum membaca rancangan tersebut :)

Dan satu lagi pak menteri, ini untuk Anda, dalam pengertian konten dan kewajiban penyelenggara mengawasi konten, maka produk-produk pers online menjadi masuk. Bukankah begitu?

Syukurlah, berita terakhir menyebutkan bahwa rancangan ini bakalan dibatalkan. Mari kita tunggu saja. :)

vale, demi kejujuran

el rony, berbagi resep ke pak menteri: siang bolong panasnya terik, kalo Anda bohong ya kami kritik.

[update]

Ternyata Benny Chandra mendapatkan infonya dari blognya Herman Saksono. Sorry mon, bukannya nggak cinta, cuma aku malah belum blogwalking ke blognya seleb. hihi *ngeles*.

URL download file saya ubah, mengingat blog ini bandwith-space-nya tidak terlalu besar. Siapa tahu saja yang download banyak.

Pak Tiffy terakhir di twitter beliau menyebutkan bahwa tuntutan pembatalan itu lebay (beliau benar-benar menulis kata lebay di twitnya). Karena ini baru rancangan, sekedar tidak tandatangan saja sudah otomatis tidak berlaku.

Posted in Politik, Neolib, Semiotics, Technology | 12 Comments »

Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, January 27th, 2010

Sedih sekali saya mendapatkan kabar ini, kenapa masih juga hal seperti ini terjadi? Berikut ini adalah paparan dari istri kawan saya, yang kemudian ditulis di notes Facebook beliau di sini. Saya copy paste dengan mengubah layout text agar lebih mudah dibaca.

RS JIH Yogyakarta dan dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA sama sekali tidak Professional

NOTE :

1. Tulisan ini dibuat oleh istri saya dan dikirimkan melalui email kepada saya atas permintaan saya , dan saya (bino oetomo) yang menyebarkan nya. Dengan demikian saya mengambil alih segala konsekuensi hukum yang mungkin timbul atas penyebaran tulisan ini.
2. Mohon bantuan untuk menyebarkan tulisan ini seluas luas nya, tanpa melakukan perubahan apapun
3. Orisinalitas penyebaran akan dibandingkan dengan yang ada di facebook saya

=============================================================================

Kronologis:
Selasa 26 Januari 2009, jam 09.30 saya membawa putri saya Jasmine Prameswari ke RS JIH.

Kami mendaftar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Elisa SpA. Sudah 5 hari jasmine demam,sakit kepala dan sakit perut yang terus berulang.

Dokter Elisa mencurigai demam berdarah,jadi jasmine diminta untuk cek darah. Hasilnya semuanya bagus kecuali Leukosit yang tinggi,jadi mungkin ada infeksi tapi tidak jelas dimana. Karena sakit perut yang berulang, dokter Elisa merujuk kami ke dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA.

Kami dibuatkan janji dengan dokter bedah tersebut saat kami masih diruangan dokter Elisa,dan dikonfirm oleh perawat bahwa nanti dokter bedahnya jam 15.00 wib.

Tentunya karena masih jam 12.20 kami pulang kerumah.

Selasa 26 januari 2009,
Jam 14.30 saya menelpon JIH untuk menyanyakan apakah dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA jadwalnya jam 15.00??
Jawabnya, nanti jam !6.00 ibu.
Ok lah,kami undur satu jam,padahal kami sudah siap berangkat.

Pukul 15.30 kami berangkat ke JIH,dalam perjalanan (krg lebih 300 meter sblm JIH) saya ditelpon oleh entah perawat atau front office menanyakan apakah appointment dengan dokter Ahmad Mahmudi akan dilaksanakan, saya jawab “iya,kami sudah dekat dari JIH”.

Kami mendaftar dan mendapat nomor urut satu, kemudian saya ingat betul,petugas pendaftaran mengatakan dokternya sedang dalam perjalanan.

Kami menunggu di depan ruang periksa dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA di poliklinik sebelah timur. Setelah 30 menit,suami mulai bertanya ke petugas jam berapa dokternya mau datang, dan dijawab beliaunya sedang dalam perjalanan.
Perasaan dari jam 16.00 tadi jawabnya masih dalam perjalanan, perjalanan dari mana ke mana nih?

Sementara Jasmine mulai demam lagi, mengeluh perutnya sakit dan badannya pegal.
Saya mencoba menenangkan Jasmine dengan memintanya untuk tidur sambil saya gendong.
Semakin lama saya merasa suhu tubuhnya semakin hangat,dan saya minta suami bertanya lagi jam berapa dokternya datang.
Dan lagi2 dijawab masih diperjalanan.

Pukul 16.50 sambil menggendong Jasmine saya ke meja perawat dipoliklinik timur,” Mbak ini dokternya jadi datang nggak sih?? ini anak saya demam,jam berapa datangnya??”
Perawat menjawab ” barusan saya hubungi,beliau baru sampai taman siswa”.
Saya menuju lobby,dan kami bertanya lagi dan lagi2 belum mendapat kepastian.
Petugas pendaftaran terakhir bilang, “pak katanya 25 menit lagi”.
Kami minta untuk bertemu manajer tapi dengan berbagai macam alasan belum bisa.
Setelah suami mengancam untuk menyalakan alarm kebakaran (catatan#A),baru PR manajernya mau menemui padahal beliaunya dari tadi ada di depan mata kita.

Selanjutnya kami putuskan untuk pulang , dalam perjalanan kami kembali di telpon untuk menanyakan,apakah jadi bertemu dengan dokter Ahmad Mahmudi
SpB,SpBA, tentu saja kami jawab TIDAK (catatan#B).

dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA/ RS JIH yang terhormat,
Kami datang ke JIH untuk berkonsultasi dgn anda,
membawa anak kami yang sedang sakit,bukan untuk piknik.
Kami sudah semalaman tidak bisa tidur,seharian dirumah sakit mengantri,menunggu hasil laboratorium,dirujuk kepada anda oleh dokter yang sangat kami percaya (kami sudah 7 tahun bersama dr.Elisa dan blm pernah kecewa). Dan secara psikologis kami disiksa karena harus menunggu anda selama satu jam,dan akhirnya tanpa hasil karena sampai kami memutuskan pulang anda belum datang dengan alasan masih dalam perjalanan( dari jam 16.00 sampai 17.00),padahal di jadwal praktek jelas tertulis pukul 15.00-17.00.

Dokter yang terhormat kalau anda memang tidak bisa datang atau harus terlambat sampaikan,informasikan,jadi anda tidak membuat pasien resah.
Apakah karena anda merasa dibutuhkan jadi anda bisa datang seenaknya,tanpa perlu berpikir apakah pasien anda sedang demamtinggi,atau sedang nyeri perutnya, atau apapun rasa sakit yang diderita.

Untuk rumah sakit mohon bisa lebih tegas dengan peraturan yang anda buat,dan jadwal yang pastinya sudah disepakati oleh rumah sakit dan dokter yang bersangkutan.
Kami pasien/ orangtua pasien merasa diperlakukan seenaknya oleh salah satu dokter anda. atau karena ini sudah bukan rahasia umum bahwa “doctor’s playing God” jadi hanya perlu minta maaf dan menganggap semuanya selesai tanpa ada perbaikan apapun.

Sangat TIDAK PROFESIONAL

Catatan :
#A. Urutan bertemu “manager” .. kurang lebih nya :
1. Saya mengatakan “saya ingin bertemu manager” , dan di jawab “Bapak silahkan tunggu
2. Saya menunggu
3. Beberapa menit kemudian saya kembali menanyakan dan sekalian mengancam akan menyalakan alarm kebakaran sebagai salah satu cara memanggil manager.
4. Saya juga dua kali di temui karyawati yang berusaha menanyakan permasalahan , saya menjawab “MBak saya ini mau marah. Apakah mbak mau menerima kemarahan saya .. atau panggil manager anda”

#B : Tepatnya saya mengatakan : “Persetan dengan dokter itu”

-Bino-

Posted in Kesehatan, Neolib, Yogyakarta | 8 Comments »

Ganti saja rakyatnya!    Print This Post   Email This Post

Wednesday, August 5th, 2009

Ungkapan itu muncul dari percakapan teman saya (Doni Kristian Dachi) dengan sopir taksi yang membawanya pulang ke penginapannya. Ungkapan itu bukan muncul dari mulut teman saya, tetapi dari sang sopir taksi. Ah, mungkin tidak terlalu penting dari siapa kalimat itu muncul.

Kalimat ini keluar setelah melalui sedikit perbincangan mengenai perkembangan negara. Dan kalimat ini membawa saya ke sebuah angan-angan, sebuah pertanyaan besar,”apakah memang problematika dunia demokrasi itu seperti ini?” Apakah negara-negara besar, yang sudah makmur, yang juga menjunjung demokrasi, mengalami kegelisahan ini?

Sebuah kalimat yang menyiratkan betapa sudah peliknya problematika kita. Seakan tidak ada lagi hal yang bisa diperbaiki baik dari segi tatanan sosial hingga struktur kekuasaan. Anehnya, atau mungkin sudah sewajarnya (?), secara spontan naluri saya mengangguk menyetujui kalimat itu. Jadi, apakah saya juga sudah sedemikian putus asa?

Mengganti Rakyat

Adalah sebuah langkah paling radikal yang mungkin bisa dilakukan oleh sekumpulan manusia. Tentunya mengganti di sini tidak bisa dengan mengebom habis seluruh penduduk negeri, lalu mendatangkan penduduk yang “lebih baik” dari negeri antah berantah atau malah dari surga. Mengganti di sini artinya melakukan perubahan radikal terhadap kunci-kunci sendi pergerakan bangsa.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 7 Comments »

Turut Berduka Cita    Print This Post   Email This Post

Friday, July 17th, 2009

Turut berduka cita atas meninggalnya hati nurani dan tenggang rasa.

Jakarta, 17 Juli 2009

WE WILL NOT GO DOWN!

we have in the past
we will now
and will continue to do so
for we are one country, one nation, one people undivided

vale, demi kemanusiaan

el rony, berpita hitam

Posted in Neolib, Daily Life | 1 Comment »

Oposisi? Oh.. Posisi..    Print This Post   Email This Post

Thursday, July 9th, 2009

Pemilihan Umum untuk anggota legislatif sudah lama berakhir. Putaran pertama pemilu untuk presiden juga sudah terlewati. Berita-pun dipenuhi dengan hasil quickcount dan interpretasi serta analisa politik atas apa yang terjadi.

Selain hal itu, muncul pula –seperti biasa– protes sini-sana atas hasil pemilihan umum yang baru saja berlalu. Saya tidak akan membahas tentang benar salah, dan lain sebagainya soal pemilu ini, saya sendiri tidak memilih.

Saat ini yang terpikir oleh saya adalah soal oposisi. Sebuah negara yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara demokratis, sudah selayaknya memiliki kanal oposisi. Dan negara kita –sependek pengetahuan saya– tidak membatasi peran oposisi. Yang jadi masalah kemudian justru, adakah peran itu diambil? Atau untuk lebih jelasnya, adakah partai yang benar-benar oposisi?

Oh… Posisi…

Saya kembali mengutip judul di atas. Karena memang itu yang terjadi di negeri ini. Ketika sebuah partai mengalami kekalahan, selain sibuk mencari-cari kesalahan pemilu mereka juga sibuk melakukan tawar menawar politik agar diberi posisi di pemerintahan.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Semiotics | 2 Comments »

Sekali lagi, mengapa harus memilih?    Print This Post   Email This Post

Thursday, March 12th, 2009

Tulisan ini sebagai tanggapan dari tulisan saudara Momon di blognya.

Tulisan yang bagus kawan, sesuai dengan judulnya, tulisanmu sungguh manis. Siapa saja yang menyanggah atau “menyerang” tulisan seperti ini, hanya akan menuai badai, atau bahkan pembunuhan karakter atas dirinya. :) Dengan penuh kesadaran, penulis memilih untuk memberikan anti-thesis atas tulisan tersebut. Kesimpulan sepenuhnya di tangan pembaca, tentu saja.

Dalam tulisannya, Momon menyampaikan tentang pentingnya pemilu dan perannya sang voters (pemilih) dalam menentukan nasib sebuah negara. Contoh yang diambil tidak tanggung-tanggung, langsung Amerika — sebuah negara adidaya tempat orang menempatkan ka’bah kemodernan.

Namun penulis merasa ada ketergelinciran dalam tulisan Momon, kalau tidak boleh dibilang sesat pikir. Dalam tulisannya Momon dengan sepenuh hati melakukan pengandaian yang menurut hemat penulis terlalu membabi buta. Pengandaian bahwa iklim demokrasi dan kualitas demokrasi di negeri ini sama dengan di Amerika. Tentu saja point tulisan terakhir Momon adalah kuncinya, yaitu tentang budaya. Perubahan budaya hanya bisa dilakukan kalau masyarakatnya bergerak. [ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Neolib, Culture | 36 Comments »

Petisi Batalkan Utang Pembelian Kapal Jerman    Print This Post   Email This Post

Tuesday, November 25th, 2008

Tadi malam saya mendapat sms dari Bung Don K Marut, Direktur INFID. Beliau meminta dukungan tentang pembatalan utang pembelian kapal Jerman. Dalam sms beliau, disampaikan bahwa Indonesia telah mengadakan perjanjian hutang dengan pihak pemerintah Jerman. Akan tetapi perjanjian hutang ini melanggar ketentuan internasional, dari pihak pemerintah Jerman sendiri sudah ada sinyal positif untuk pembatalan ini. Pemerintah kita, sebagaimana biasanya, peragu dan tidak segera mengambil sikap.

Oleh karenanya, INFID memotori gerakan tanda tangan untuk meminta Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Departemen Keuangan untuk membatalkan pembelian Kapal Jerman tersebut. Saya sendiri, karena sekarang tidak di lapangan, mengambil sikap dengan mendukung gerakan ini melalui petisi Online.

Petisi Online dapat di akses di http://www.petitiononline.com/indo2008/petition.html . Nantinya hasil petisi ini akan saya serahkan ke bung Don Marut agar dipergunakan sebagai tambahan dukungan.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib | 7 Comments »

Menengok “Halaman Belakang” Negerinya Obama    Print This Post   Email This Post

Sunday, November 9th, 2008

Judul kali ini terinspirasi dari ulasan Fokus Kompas pada hari Jumat kemarin (07 November 2008). Melalui tulisan ini pula saya ingin menyampaikan apresiasi saya kepada harian tersebut. Di saat semua mata dan telinga terfokus ke berita seputar sepak terjang “kawan sewarna” –dalam arti sama-sama berwarna– Kompas dengan cukup tegas memposisikan dirinya sebagai penunjuk arah.

Fokus Kompas hari Jumat kemarin mengupas tentang geliat neo-sosialisme di belahan selatan Amerika, tepatnya di Paraguay dan Venezuela. Sosok Lugo dan Chavez, ikon perubahan masa kini, dikupas dengan cukup panjang lebar. Mungkin kalau boleh menyampaikan kekecewaan, hanya terletak di tulisan Budiman Sudjatmiko. Bagian tulisannya sungguh seperti –meminjam istilah istri saya– melihat acara televisi “mimpi kali ye” dimana seorang fans ketemu idolanya.

Namun terlepas dari kekecewaan itu, mari kita bincang-bincang lagi mengenai Lugo dan Chavez. Lugo, seorang mantan pastur, pengagum Soekarno, berhasil menduduki jabatan tertinggi di Paraguay. Namun, sampai hari Jumat kemarin, beliau masih tinggal di rumahnya yang berukuran tipe 45, makan ubi rebus dan minum teh bersama tamu dengan satu gelas kayu. Chavez-pun tidak enggan untuk berbagi “gelas” dengan para tamu. Ciri kesederhanaan yang mengingatkan kita pada ucapan sang proklamator, “Marhaen”.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture | 13 Comments »