Selamat datang Mata Air
Thursday, November 1st, 2007
Sore itu adalah sore ke sekian. Sebuah penantian yang makin ke sini semakin panjang dirasa di hati. Pukul 15:00 WIB, tanggal 31 Oktober 2007, adalah kali ketika kontraksi terjadi semakin sering dan berpola. Istri saya memilih untuk menunggu di rumah, daripada menunggu di rumah sakit, sehingga kamipun kembali kepada kesibukan.
Pukul 17:00 WIB, istri saya terlihat semakin kesakitan. Kamipun menghitung jarak kontraksi masing-masing. Antara yakin dengan tidak yakin bahwa itu kontraksi beneran, kami putuskan untuk online dan mencari jawaban atas pertanyaan ataupun ketidakyakinan tersebut. Hasilnya? Hampir nihil. Segala hal berkait kontraksi yang kami peroleh, tidak memberikan gambaran yang cukup detil mengenai apa bagaimana dan seperti apa kontraksi itu. Juga kaitannya dengan bukaan, adakah relasinya?
Satu garis bawah saya pertebal pada kalimat yang saya peroleh dari tiga artikel temuan mengenai kontraksi ini, yaitu bahwa harus segera ke rumah sakit begitu kontraksi sudah berjalan kontinyu, teratur dan berjarak 10 menit sekali. Dan mulai pukul 17:30 WIB, kontraksi istri saya sudah mulai teratur pada irama delapan menit sekali.
The Kronologi
Pukul 18:00 WIB, akhirnya bersama mertua dengan mobil mertua (tentu saja, wong saya belum punya), kami berangkat ke happyland. Perjalanan terasa sangat lama. Apalagi perjalanan dari Purwomartani ke daerah Timoho haruslah melalui sekian polisi tidur dan jalan yang berlobang. Istri saya akhirnya merebahkan diri ke pangkuan saya. Kontraksi masih terus terjadi. Tarik napas panjang dari hidung, lepaskan dari mulut, selalu itu saya ulang sepanjang perjalanan.
Posted in Kesehatan, Daily Life | 34 Comments »
Bapak-Ibu Sekalian, Infus bukanlah Tolok Ukur
Wednesday, May 2nd, 2007
Judul yang agak aneh. Tapi baiklah, saya memang hanya ingin curhat sebenar-benarnya curhat saja di sini. Tentang kondisi ayah saya. Kebetulan beliau sedang dapat rejeki sirosis hati dan batu empedu. Sekarang masih dalam taraf perawatan.
Nah, kemarin teman-teman bapak saya membezuk. Dan mereka melihat kondisi ayah saya, kuning sekujur badan dan tubuh mengering mengurus. Ayah saya masih tergeletak, tanpa selang, tanpa tumpukan obat. Lalu muncullah celetukan ini,”Bapak kok tidak segera ditangani? Ini pasti khas rumah sakit negeri, pasien malah jadi bahan ujicoba. Kok gak diinfus atau gimana gitu”.
Pada saat muncul celetukan itu, saya membiarkannya. Tapi, ternyata celetukan itu, entah bagaimana, sampai ke telinga kakak saya yang di Jakarta. Semalam, kakak saya menelfon saya karena hal itu. Dan saya terpaksa harus menulis unek-unek ini. [ detail ]
Posted in Kesehatan, Daily Life | 16 Comments »
