Taspen I - Mengurus UDW
Monday, May 14th, 2007
Tulisan ini saya buat dengan tujuan berbagi informasi mengenai lika-liku mengurus surat-surat berkait dengan PT TASPEN. Tulisan ini rencananya akan saya buat minimal dalam dua tahap, yaitu dari mulai mengurus UDW (uang duka wafat) hingga SPPT Janda. Semoga berguna.
Bagi teman-teman dan saudara sekalian yang memiliki orang tua pegawai negeri, atau bahkan Anda sendiri yang pegawai negeri sipil, tentu tidak asing dengan nama TASPEN. Tabungan Asuransi Pensiun adalah sebuah perusahaan yang menangani biaya pensiun untuk pegawai negeri. Kebetulan almarhum ayah saya adalah pensiunan pegawai negeri sipil, dulu beliau menjabat sebagai Kepala SMP.
Pada tulisan awal ini saya akan berbagi mengenai urutan pengurusan dana UDW (uang duka wafat). Informasi ini tentu saja hanya berlaku bagi pensiunan pegawai negeri yang meninggal. Dan pegawai negeri tersebut pensiun secara normal (bukan tidak terhormat atau alasan lain).
[ detail ]
Posted in Yogyakarta, Culture, how to | 13 Comments »
Kala Manusia Bicara Rasa
Tuesday, December 5th, 2006
Banyak dari kita yang menempatkannya cukup tinggi. Rasa menjadi satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Rasa bisa juga menjadi tujuan ataupun capaian dalam kehidupan.
Tak jarang kita menemukan satu kata yang berawalan dengan “perasaan..” ataupun ungkapan ketidaksukaan karena “rasa”-nya tidak enak. Lantas dimana itu rasa berada? Tentu saja ada dua jenis rasa di sini, yaitu yang bersifat fisik dan psikis.
Sebuah nilai rasa dalam dunia fisik bisa bersifat cukup jamak, banyak orang bisa mengatakan sebuah nilai rasa dengan hasil yang seragam, entah itu asin, manis, pedas atau yang lainnya. Bahkan nilai rasa yang satu ini bisa dibilang tidak terbatas oleh samudera.
Namun ketika sudah menginjak pada kata “enak”, maka nilai rasa ini mengerucut, tidak lagi universal. Sebagian warga Yogya mengatakan gudeg itu enak, sementara orang di belahan dunia lain bisa bilang bahwa gudeg itu terlalu manis. Demikian juga dengan hal yang lain, ketika menyangkut rasa fisik berupa pedas atau asin. Nah, hasil ini sudah menyentuh ke wilayah psikis. Dan rasa di dunia psikis mengalami metamorfosa yang sangat banyak. Penilaiannya menjadi sangat subyektif dan membawa apa-yang-diyakini sebagai kata hati.
Bagaimana Orang Jawa Menyikapi?
Sebagai bagian orang Jawa, saya berusaha untuk mendokumentasikan nilai sikap yang dilahirkan oleh budaya nenek moyang saya. Nah, mengenai rasa ini, orang Jawa mengeluarkan satu kalimat yang bermakna luas, yaitu:
“Aja ngombé lêgi, nèk bar mangan têbu, mêngko mundhak mati”
Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »
Penampakan Jarak Jauh (TV)
Wednesday, November 29th, 2006
Televisi, sebuah anak kandung teknologi, yang mengenalkan sistem multimedia dalam bentuk yang lebih maju. Televisi mengenalkan kita atas dunia suara dan dunia gerak, warna dan gambar. Kehadirannya tidak pernah lepas dari akibat-akibat sampingan, yang anehnya sepertinya layak untuk diperjuangkan. Efek pertama adalah sumber energi, semakin canggih, semakin besar ukurannya dan semakin tinggi kualitas gambar dan suaranya, menuntut sedotan daya yang besar pula. Efek yang lain adalah kecanduan. Pada efek yang kedua ini, penyebabnya adalah lebih di materi atau isi dari acara televisi tersebut.
Sebelum saya membahas tentang materi TV yang sedang menjadi (sebenarnya sudah sejak dulu, tapi akhir-akhir ini menguat) kontroversi, saya ingin bercerita tentang Pak Mangku (demikian saya mengenal beliau), salah satu tokoh di daerah Bali. Desa Pak Mangku bernama Tenganan, dan kalau kita memasuki desa beliau maka kita akan disuguhkan suasana tradisional yang sangat kental dan magis. Setiap warga berpakaian tradisional lengkap dengan keris menempel, juga perempuannya. Bahkan masih ada keputren di sana, dimana setiap anak perempuan yang sudah menstruasi akan “diasingkan” di tempat itu. Suasana yang luar biasa magis ini, entah sampai kapan akan bertahan. Itu pula yang menjadi kegelisahan Pak Mangku.
Beliau dalam satu kesempatan sempat mengungkapkan tentang ketradisionalan daerahnya. Para anak muda, yang begitu melangkah keluar dari gerbang desa langsung disuguhkan modernitas, secara tak langsung mendorong agar desa itu untuk “maju”. Kemajuan ini dalam kacamata Pak Mangku, yang bergelar doktor (kalau saya tak salah), tak lebih adalah masuknya teknologi. Dalam hal ini yang menjadi keraguan beliau adalah televisi. Kegundahan beliau sederhana saja, televisi menjanjikan perubahan yang drastis, karena menurut beliau dorongan gaya hidup akan masuk ke ruang paling privat bernama ruang keluarga, dan ini sangat sulit untuk dibendung. Maka sambil menatap ke bawah bukit, ke desanya, Pak Mangku mendesah dan berbisik,”sepertinya nilai-nilai ini sebentar lagi hanya akan menjadi cerita”.
Posted in Culture, how to, Technology, Daily Life | 6 Comments »
Asuransi Kematian “Peduli Warga Koe”
Friday, November 10th, 2006
Informasi saya dapat dari blog Kenz
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu 5 November 2006, kami warga Lesehan menerima kabar yang bertolak belakang. Hari itu kawan kami Dani melangsungkan pernikahan di Wates, Kulon Progo. Pada hari itu juga, ternyata teman kami yang lain, Abenk alias Bambang, kehilangan ayahnya tercinta. Maka rombongan pernikahanpun berlanjut menuju ke Budi Abadi tempat bapak kawan kami itu disemayamkan.
Hari ini, kawan kami Abenk tiba-tiba menanyakan soal asuransi kematian. Saya tidak tahu-menahu soal ini. Menurut dia, setiap warga yang memiliki KTP biru, berhak mendapatkan asuransi kematian sebesar Rp. 500.000,-. Saya kemudian membuka google untuk mencari keterangan soal ini. Dan sampailah saya pada blog Kenz tersebut di atas.
Posted in Yogyakarta, how to, Daily Life | 6 Comments »
Kepada Senioritas..
Monday, October 9th, 2006
Dengan tulisan ini, saya juga ingin mengingatkan diri saya sendiri akan godaan senioritas.
Setiap kita lahir bersama dengan berjalannya waktu. Waktu yang membuat sumbu untuk dirinya sendiri, tidak pernah mau berbalik, maka Tuhanpun membuat ayat khusus tentangnya. Dan waktu yang terus berjalan itu, menorehkan kekuasaannya pada diri kita, membuat alur waktu yang mengindikasikan kita semakin tua.
Seiring bertambahnya goresan alur waktu itu, memadat pula ego kita. Ukuran-ukuran akan kesempurnaan, berkembang untuk kemudian mencapai titik stagnan. Kita mencapai apa yang disebut sebagai kemapanan.
Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 13 Comments »
Oleh-oleh buat Kampung: ID-CARD GENERATOR
Monday, August 28th, 2006
Dalam keisengan saya, terbikinlah script untuk membuat ID-Card ini. Pada tahap pertama saya hanya membuat sangat sederhana. Sebuah form html, yang dieksekusi dengan php dengan mengambil value-value dari form, untuk kemudian di print di atas background gambar ID-Card.
Sebenarnya format html untuk keluaran bisa sederhana saja, taruh gambar sebagai background sehingga tulisan bisa langsung di isi di atasnya. Tetapi karena saya berharap agar output ini bisa di-save atau di kopi paste ke form email, maka saya bikin dengan model floating di atasnya.
Tetapi harapan saya ternyata tidak sepenuhnya terjadi. Gambar background memang bisa di-select dan di kopi atau save as, tetapi tulisan tidak terikutkan. Kalaupun di select semua lantas di kopi paste ke form email, jadinya tulisan terpisah dengan background.
Silakan coba di sini: http://rony.dgworks.net/uploads/ktp-idgmail/
Perbaikan dengan GD
Akhirnya saya memperbaiki script tersebut. Tentu saja setelah dipanas-panasi oleh Toni. Nah, untuk yang versi kedua ini, outputnya menjadi gambar semuanya. Dengan memanfaatkan fitur re-draw dari GD. Dari tulisan, hingga image background dan foto, semua digambar ulang dan disusun ulang.
Posted in blog, how to, Technology, Daily Life | 26 Comments »
Menjadi Terkenal dan Kaya!
Thursday, August 3rd, 2006
Bagaimana caranya untuk menjadi terkenal dan kaya di negeri ini? Ulasan ini sama sekali bukan pengalaman pribadi saya, ini hanyalah hasil pengamatan saja. Akan tetapi, kemanjuran dari “ramuan” ini sudah terbukti membawa keberhasilan kepada banyak orang. Mari kita lihat saja bersama
1. Pahami: Masyarakat Indonesia itu Bodoh!
Ya, pernyataan itu tentu saja salah. Tapi sebagai calon terkenal dan kaya, Anda harus selalu menanamkan pemahaman itu. Bukan hanya pengertian lho ya, lebih dalam lagi, pemahaman. Artinya setiap perkataan Anda nantinya harus didasarkan pada analisa pemahaman bahwa masyarakat Indonesia itu bodoh. Dalam bahasa yang lain omongan Anda adalah upaya pencerdasan, sebuah misi suci.
Posted in Culture, blog, how to, Semiotics, Daily Life | 31 Comments »
How To - Radical Blogger!
Friday, May 5th, 2006
Ini adalah posting pertama untuk kategori how to. Kategori how to adalah hal-hal yang berkait dengan tips dan trik ataupun langkah-langkah mudah. Isinya bisa mengenai blog maupun mengenai kehidupan sehari-hari. Selamat menikmati.
![]()
Ribuan blog bermunculan. Di Indonesia sendiri sudah bisa dipastikan makin banyak yang membuat blog, seiring semakin seringnya media offline menayangkan hal-hal seputar blog. Kamu terancam. Ya kamu! Kamu bisa jadi tidak lagi unik.
Jika kamu termasuk orang yang radikal, orang yang selalu meng-akar, maka kamu perlu langkah-langkah untuk mempertahankan dan membentuk aliansi. Berikut saya coba sarikan berdasar pengalaman (orang lain), tentang apa saja yang harus kamu lakukan untuk menjadi seorang blogger yang radikal.
[ detail ]
Posted in blog, how to | 30 Comments »
