Sumpah! SMS Sambil Menyetir itu Norak!
Thursday, February 4th, 2010
Lebih tepatnya mainan HP sambil menyetir, dengan lagak sekejap melihat jalan lantas balik lagi ke layar HP, itu sama sekali tidak keren! Tindakan bodoh yang hanya memakan korban, bukan cuma pelaku tetapi pengguna jalan yang lain.
Kemarin, temanku dan istrinya jatuh dan terseret yang mengakibatkan keduanya luka-luka dikarenakan seorang pengguna jalan yang sok-sokan smsan sambil menyetir. Kejadian yang menimpa temanku itu adalah kasus yang kesekian kalinya dari kejadian serupa. Dan sayapun melihat kejadian ini dimana-mana, bukan kecelakaannya untunglah, tapi perilaku pengguna jalan yang entah-sms-an-atau-apa sambil menyetir.
Maka, saya persembahkan Iklan Layanan Masyarakat ini. Dipersembahkan untuk Anda dari Emak Anda dan pengguna jalan yang lain. Silakan disebarkan kalau Anda berkenan.
Harap selalu Anda ingat, camkan di benak Anda, dengan melakukan tindakan bodoh itu, Anda berpotensi menjadi seorang pembunuh.
vale, demi kesehatan dan sedikit kecerdasan
el rony, akan menuntut MUI mengeluarkan fatwa haram bagi tattoo goblok di jidat.
Posted in Kesehatan, Culture, blog, how to, Daily Life | 15 Comments »
Pendidikan yang menipu
Monday, January 25th, 2010
Saya adalah seorang bapak yang sedang dan berencana untuk terus belajar mengenai pendidikan anak. Dalam pembelajaran saya ini pula, saya melakukan pilahan atas pilihan-pilihan. Maka sampailah saya pada pilihan ini.
Hampir sudah menjadi kebiasaan umum dari kita para orang dewasa untuk merasa lebih pintar dari seorang anak, apalagi ketika anak itu masih berusia di bawah tiga tahun. Keterbatasan gerak, ucapan dan ingatan anak kecil, menjadi semacam alasan pembenaran bagi beberapa hal yang kita lakukan. Dalam hal ini, saya menyoroti ungkapan-ungkapan sederhana yang paling mudah dan sering diucapkan orang dewasa.
Ketika seorang anak kecil jatuh, sangat mudah sekali bagi kita untuk menyalahkan benda-benda di sekeliling si anak. “Batu yang nakal! Kodok yang jahat!” ungkapan semacam itulah yang sering muncul, demi menenangkan si anak. Gampang, dan batu maupun kodok tidak akan protes.
Lantas kita juga mudah berjanji pada mereka,”yuk ikut yuk! naik mobil!” “nanti kita jalan-jalan ya!” padahal kita sendiri sebenarnya tidak berniat melakukannya. Kita sedang capek dan hanya ingin menggoda anak itu. Melihat reaksinya yang merajuk, membuat hidung terkembang dan kita tertawa lantas mengeluarkan kata jumawa,”haha, dia klayu” yang artinya kurang lebih “pingin ngikut kita terus”.
Di saat lain lagi, kita mudah pula bilang,”ini pedas!” padahal si anak cuma pingin gorengan. Gorengan yang penuh MSG memang harus dihindarkan, tidak ada tawaran, tapi bukan berarti kita harus menipu bukan? Lalu kitapun mudah untuk mengatakan,”barangnya rusak” padahal barang tidak rusak, hanya agar si anak tidak menggunakannya.
Kebanggan pada klayu adalah bodoh.
Ini yang berusaha amat sangat aku tekankan pada diriku sendiri. Bodoh, karena tidak ada pendidikan di situ. Yang ada adalah mengajari anak untuk sedemikian tergantung, dan mengajari dia untuk merajuk ketika meminta sesuatu.
Posted in Pendidikan, Culture, how to | 6 Comments »
Komunike #6969 - Programming is like sex..
Friday, October 30th, 2009
Berawal dari lontaran hasil merambah kemana-mana, kampung gajah kemudian melanjutkan ide ini. Lontaran hasil rambahan itu adalah: Programming is like sex, one mistake and you are providing support for a lifetime!
Karena bikin ngakak, saya lemparlah itu kemana-mana, plurk, facebook dan kampung gajah. Maka, demikianlah hasilnya di kampung itu:
- programming is like sex, one mistake and you’re providing support for a lifetime.
- programming is like sex, everyone loves it??
- programming is like sex; you’re either too young or too old to enjoy it.
- programming is like sex, never do it for free
- Programming is like sex, it’s better in the silent night
- Programming is like sex, ideas just come like morning glory
- programming is like gangbang sex, you work with a team to satisfy user
- programming is like sex, sometimes only one party is satisfied, the other has unmeetable requirements.
- programming is like sex, it has handjob and blowjob
- programming is like sex, nowdays people use agile method, help you code in a pair and everyone happy
- programming is like sex, you can have threesome, foursome, gangbang and sort, you can even just watching others doing this while you still can get orgasm
- programming is like sex, there is an app for that
- is programming like sex?
- programming is like sex, it will loop until it break
- programmers (do) like sex.
- programming is like sex, You can do it for money or for fun.
- Programming is like sex, you have to tune it up and down
- programming is like sex, can be done in various style
- Programming is like sex, you will never walk alone.
- Programming is like sex, you will never walk straight?
- Programming is like sex, please indent properly
- Programming is like sex, it’s not about how long, it’s about quality
- Programming is like sex, it involves KISS
- Programming is like sex, sometimes you scream along the way
- Programming is like sex, just ask to have it.
- programming is like corruption, it make everything ligit seems crackable [1] 1. ligit translator software being cracked :d
- programming is like sex, it require balls
- Programming is like sex, mundane and boring most of the time, with the occasional meteor in your garden
- Programming is like sex, don’t do it when there’s a bleeding
- programming is like sex, do it safely
- programming is like sex, ati-ati bojomu minggat.
disarikan pertama kali oleh om Very
Posted in blog, how to, Technology | 9 Comments »
Parkir Menginap di Bandara Adisutjipto
Saturday, July 4th, 2009
Informasi ini sebenarnya sudah sangat terlambat, artinya fasilitas parkir menginap di bandara tersebut sudah lama ada. Namun saya ingin membagi informasi yang lain, bagaimana mengakali parkir menginap di bandara?
Sekedar informasi, parkir menginap di bandara disediakan oleh penduduk sekitar, jadi bukan fasilitas resmi dari bandara. Biasanya saya ke Jakarta hanyalah sebentar, berangkat pagi dari Yogya, sore sudah di Yogya lagi. Jadi parkir non menginap sudah cukup bagi saya. Namun akhir-akhir ini saya harus menginap di kota tujuan, baik Jakarta maupun yang terakhir kemarin ke Balikpapan.
Waktu ke Jakarta, sekitar seminggu yang lalu, saya memarkir kendaraan saya di bandara. Biaya parkir membuat saya tersedak. Untuk motor biayanya Rp. 10.000,- per malam, sementara untuk mobil Rp. 20.000,- per malam. Karena sudah terlanjur memasukkan motor ke tempat parkir, dan waktu boarding tinggal sebentar lagi, maka saya tetap parkir di sana. Waktu bayar terasa nyesek di dada
lha kan mending naik taksi, biaya cuma terpaut sekitar Rp. 5.000,- tapi bisa duduk tenang dan bawaan tidak menjadi beban (ke Jakarta kemarin sekitar 3 hari saya).
Posted in Yogyakarta, blog, how to, Daily Life | 6 Comments »
Belajar Bahasa?
Tuesday, February 24th, 2009
Bahasa Inggris menurutku sama saja dengan bahasa yang lain. Bahasa Arab bahkan bahasa China ataupun Jepang yang tulisannya sulit dipahami itu, pastilah juga hanyalah masalah kebiasaan. Tinggal bagaimana kita terbiasa menggunakannya.
Menguasai satu bahasa bukanlah karena kecerdasan. Bukankah di masing-masing belahan dunia ada saja orang idiot yang tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat? Bukan bermaksud merendahkan arti ilmu bahasa, bukan juga dalam rangka merendahkan kemampuan tersimpan dari penderita idiositas, tapi begitulah menurut pemahamanku.
Dalam mempelajari sebuah bahasa, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Saya sendiri belum menguasai bahasa-bahasa yang sudah sempat saya sebutkan di atas, tapi paling tidak saya mengakui dan sepakat dengan ungkapan teman saya jaman kuliah, Rizal Ginanjar. Baginya, belajar bahasa harus dimulai dengan “pisuhan”.
Darimana Anda akan mempelajari bahasa dengan awalan yang seperti itu? Teman saya tadi memulai debut pelajaran bahasa Jawanya melalui stadion sepakbola di Jogja. Lha kalau bahasa Inggris? atau Arab? atau China? Sayang sekali tidak ada stadion/lapangan sepakbola internasional di sini, jadi sulit sekali menerapkan teori tadi.
Tapi sekarang saya senang sekali, ada satu solusi yang luar biasa. Kawan, teman, sahabat, genduk saya tersayang Pito dengan difasilitasi oleh komunitas bentukan dari kawan, sahabat, homokan saya tersayang Bahtiar yaitu BHI telah membukanya. Silakan datang ke Wetiga, angkringan di Jakarta, atau mampir saja ke faceboob, eh maksud saya facebooknya Pito. Atau bagi Anda yang nggak bisa buka facebooknya Pito, bisa mampir ke blog pecah belahnya di sini.
Bahasa Inggris jadi menyenangkan, atau kata tepatnya mungkin, memisuhkan! Selamat misuh! ![]()
Posted in Pendidikan, blog, how to | 6 Comments »
Taspen I - Mengurus UDW
Monday, May 14th, 2007
Tulisan ini saya buat dengan tujuan berbagi informasi mengenai lika-liku mengurus surat-surat berkait dengan PT TASPEN. Tulisan ini rencananya akan saya buat minimal dalam dua tahap, yaitu dari mulai mengurus UDW (uang duka wafat) hingga SPPT Janda. Semoga berguna.
Bagi teman-teman dan saudara sekalian yang memiliki orang tua pegawai negeri, atau bahkan Anda sendiri yang pegawai negeri sipil, tentu tidak asing dengan nama TASPEN. Tabungan Asuransi Pensiun adalah sebuah perusahaan yang menangani biaya pensiun untuk pegawai negeri. Kebetulan almarhum ayah saya adalah pensiunan pegawai negeri sipil, dulu beliau menjabat sebagai Kepala SMP.
Pada tulisan awal ini saya akan berbagi mengenai urutan pengurusan dana UDW (uang duka wafat). Informasi ini tentu saja hanya berlaku bagi pensiunan pegawai negeri yang meninggal. Dan pegawai negeri tersebut pensiun secara normal (bukan tidak terhormat atau alasan lain).
[ detail ]
Posted in Yogyakarta, Culture, how to | 19 Comments »
Kala Manusia Bicara Rasa
Tuesday, December 5th, 2006
Banyak dari kita yang menempatkannya cukup tinggi. Rasa menjadi satu alasan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Rasa bisa juga menjadi tujuan ataupun capaian dalam kehidupan.
Tak jarang kita menemukan satu kata yang berawalan dengan “perasaan..” ataupun ungkapan ketidaksukaan karena “rasa”-nya tidak enak. Lantas dimana itu rasa berada? Tentu saja ada dua jenis rasa di sini, yaitu yang bersifat fisik dan psikis.
Sebuah nilai rasa dalam dunia fisik bisa bersifat cukup jamak, banyak orang bisa mengatakan sebuah nilai rasa dengan hasil yang seragam, entah itu asin, manis, pedas atau yang lainnya. Bahkan nilai rasa yang satu ini bisa dibilang tidak terbatas oleh samudera.
Namun ketika sudah menginjak pada kata “enak”, maka nilai rasa ini mengerucut, tidak lagi universal. Sebagian warga Yogya mengatakan gudeg itu enak, sementara orang di belahan dunia lain bisa bilang bahwa gudeg itu terlalu manis. Demikian juga dengan hal yang lain, ketika menyangkut rasa fisik berupa pedas atau asin. Nah, hasil ini sudah menyentuh ke wilayah psikis. Dan rasa di dunia psikis mengalami metamorfosa yang sangat banyak. Penilaiannya menjadi sangat subyektif dan membawa apa-yang-diyakini sebagai kata hati.
Bagaimana Orang Jawa Menyikapi?
Sebagai bagian orang Jawa, saya berusaha untuk mendokumentasikan nilai sikap yang dilahirkan oleh budaya nenek moyang saya. Nah, mengenai rasa ini, orang Jawa mengeluarkan satu kalimat yang bermakna luas, yaitu:
“Aja ngombé lêgi, nèk bar mangan têbu, mêngko mundhak mati”
Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »
Penampakan Jarak Jauh (TV)
Wednesday, November 29th, 2006
Televisi, sebuah anak kandung teknologi, yang mengenalkan sistem multimedia dalam bentuk yang lebih maju. Televisi mengenalkan kita atas dunia suara dan dunia gerak, warna dan gambar. Kehadirannya tidak pernah lepas dari akibat-akibat sampingan, yang anehnya sepertinya layak untuk diperjuangkan. Efek pertama adalah sumber energi, semakin canggih, semakin besar ukurannya dan semakin tinggi kualitas gambar dan suaranya, menuntut sedotan daya yang besar pula. Efek yang lain adalah kecanduan. Pada efek yang kedua ini, penyebabnya adalah lebih di materi atau isi dari acara televisi tersebut.
Sebelum saya membahas tentang materi TV yang sedang menjadi (sebenarnya sudah sejak dulu, tapi akhir-akhir ini menguat) kontroversi, saya ingin bercerita tentang Pak Mangku (demikian saya mengenal beliau), salah satu tokoh di daerah Bali. Desa Pak Mangku bernama Tenganan, dan kalau kita memasuki desa beliau maka kita akan disuguhkan suasana tradisional yang sangat kental dan magis. Setiap warga berpakaian tradisional lengkap dengan keris menempel, juga perempuannya. Bahkan masih ada keputren di sana, dimana setiap anak perempuan yang sudah menstruasi akan “diasingkan” di tempat itu. Suasana yang luar biasa magis ini, entah sampai kapan akan bertahan. Itu pula yang menjadi kegelisahan Pak Mangku.
Beliau dalam satu kesempatan sempat mengungkapkan tentang ketradisionalan daerahnya. Para anak muda, yang begitu melangkah keluar dari gerbang desa langsung disuguhkan modernitas, secara tak langsung mendorong agar desa itu untuk “maju”. Kemajuan ini dalam kacamata Pak Mangku, yang bergelar doktor (kalau saya tak salah), tak lebih adalah masuknya teknologi. Dalam hal ini yang menjadi keraguan beliau adalah televisi. Kegundahan beliau sederhana saja, televisi menjanjikan perubahan yang drastis, karena menurut beliau dorongan gaya hidup akan masuk ke ruang paling privat bernama ruang keluarga, dan ini sangat sulit untuk dibendung. Maka sambil menatap ke bawah bukit, ke desanya, Pak Mangku mendesah dan berbisik,”sepertinya nilai-nilai ini sebentar lagi hanya akan menjadi cerita”.
Posted in Culture, how to, Technology, Daily Life | 6 Comments »
Asuransi Kematian “Peduli Warga Koe”
Friday, November 10th, 2006
Informasi saya dapat dari blog Kenz
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Minggu 5 November 2006, kami warga Lesehan menerima kabar yang bertolak belakang. Hari itu kawan kami Dani melangsungkan pernikahan di Wates, Kulon Progo. Pada hari itu juga, ternyata teman kami yang lain, Abenk alias Bambang, kehilangan ayahnya tercinta. Maka rombongan pernikahanpun berlanjut menuju ke Budi Abadi tempat bapak kawan kami itu disemayamkan.
Hari ini, kawan kami Abenk tiba-tiba menanyakan soal asuransi kematian. Saya tidak tahu-menahu soal ini. Menurut dia, setiap warga yang memiliki KTP biru, berhak mendapatkan asuransi kematian sebesar Rp. 500.000,-. Saya kemudian membuka google untuk mencari keterangan soal ini. Dan sampailah saya pada blog Kenz tersebut di atas.
Posted in Yogyakarta, how to, Daily Life | 9 Comments »
Kepada Senioritas..
Monday, October 9th, 2006
Dengan tulisan ini, saya juga ingin mengingatkan diri saya sendiri akan godaan senioritas.
Setiap kita lahir bersama dengan berjalannya waktu. Waktu yang membuat sumbu untuk dirinya sendiri, tidak pernah mau berbalik, maka Tuhanpun membuat ayat khusus tentangnya. Dan waktu yang terus berjalan itu, menorehkan kekuasaannya pada diri kita, membuat alur waktu yang mengindikasikan kita semakin tua.
Seiring bertambahnya goresan alur waktu itu, memadat pula ego kita. Ukuran-ukuran akan kesempurnaan, berkembang untuk kemudian mencapai titik stagnan. Kita mencapai apa yang disebut sebagai kemapanan.
Posted in Culture, how to, Semiotics, Daily Life | 13 Comments »

