Parkir Menginap di Bandara Adisutjipto
Saturday, July 4th, 2009
Informasi ini sebenarnya sudah sangat terlambat, artinya fasilitas parkir menginap di bandara tersebut sudah lama ada. Namun saya ingin membagi informasi yang lain, bagaimana mengakali parkir menginap di bandara?
Sekedar informasi, parkir menginap di bandara disediakan oleh penduduk sekitar, jadi bukan fasilitas resmi dari bandara. Biasanya saya ke Jakarta hanyalah sebentar, berangkat pagi dari Yogya, sore sudah di Yogya lagi. Jadi parkir non menginap sudah cukup bagi saya. Namun akhir-akhir ini saya harus menginap di kota tujuan, baik Jakarta maupun yang terakhir kemarin ke Balikpapan.
Waktu ke Jakarta, sekitar seminggu yang lalu, saya memarkir kendaraan saya di bandara. Biaya parkir membuat saya tersedak. Untuk motor biayanya Rp. 10.000,- per malam, sementara untuk mobil Rp. 20.000,- per malam. Karena sudah terlanjur memasukkan motor ke tempat parkir, dan waktu boarding tinggal sebentar lagi, maka saya tetap parkir di sana. Waktu bayar terasa nyesek di dada
lha kan mending naik taksi, biaya cuma terpaut sekitar Rp. 5.000,- tapi bisa duduk tenang dan bawaan tidak menjadi beban (ke Jakarta kemarin sekitar 3 hari saya).
Posted in Yogyakarta, blog, how to, Daily Life | 6 Comments »
Komunike #55555 ~ Hikayat Sebuah Kampung
Tuesday, June 30th, 2009
Namanya kampung gajah. Tidak ada gajah di sana, tidak ada yang ngomongin gajah. Tapi sekarang kampung itu genap 5 tahun. Dalam perayaannya, para warga bergotongroyong surat-menyurat hingga 55.555 surat terkumpul dalam sebulan. Anda bisa?

dan berikut para pejuangnya

Posted in Culture, Technology, Daily Life | 26 Comments »
Narablog: Sebuah Usulan
Wednesday, June 17th, 2009
Apa itu narablog? Satu kata untuk menggantikan istilah blogger. Nara di sini merujuk atau seperti yang digunakan untuk istilah narasumber, narapidana, yang kurang lebih berarti para pelaku. Saya bukan ahli bahasa, jadi sangat bisa jadi keterangan saya kurang pas. Silakan kunjungi website yang lebih representatif untuk hal ini.
Tujuan saya sendiri menulis artikel ini adalah untuk mengenalkan kata tersebut. Bagi saya usulan ini menjadi menarik karena dengan demikian menunjukkan dinamika budaya kita. Ilmu bahasa tidak berhenti.
Pengusulnya sendiri adalah Enda Nasution (semoga dia tidak sekedar meng-klaim usulan orang, seperti yang dituduhkan kakak kelasnya hihi), yang sering disebut sebagai bapak blogger (ah narablog).
Bahasa Baku, Bahasa Kaku
Nah, saya perlu juga jujur terhadap Anda, terhadap diri saya sendiri. Bahasa dalam pemahaman saya adalah ilmu yang sangat lentur. Bebas menyerap dari sana-sini, asal kita bisa saling memahami. Karena dalam hemat saya, memang itulah tujuan ditemukannya bahasa, agar kita bisa berkomunikasi.
Posted in Pendidikan, Culture, blog, Daily Life | 4 Comments »
Sekedar Urun Rembug buat Para Caleg dan Partai
Thursday, February 19th, 2009
Selamat siang! Lama tak jumpa, lama pula tak berbagi kata. Banyak hal yang sudah terjadi ya di sekitar kita, dan yang paling mencolok tentu saja berkibarnya segala atribut di jalanan.
Tidak cuma di jalan utama, bahkan di gang-gang sempit, dari mulai brosur, selebaran, poster, sampai bendera memenuhi ruang penglihatan kita. Kalau kenyamanan mata bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan mendasar, bisa gak ya kita menuntut mereka yang sudah merusak kenikmatan itu?
Ah tetapi saya kali ini hanya ingin urun rembug saja, saya anggap saja dengan semena-mena bahwa para caleg kita, para partai yang mengatasnamakan kita, semuanya bodoh dan tidak mengerti ilmu komunikasi. Saya yang awam soal ilmu ini, paling tidak sepertinya masih lebih mau membaca dibanding mereka-mereka. Maka baiklah, saya urai saja di sini hal-hal yang penting dalam berkampanye.
Inti dari Kampanye
Sebelum lebih jauh membahas tentang kampanye, ada baiknya kita sadari lebih dahulu makna dan tujuan kampanye. Satu hal yang pasti, kampanye itu bertugas untuk mengenalkan (karena memang sebelumnya sama sekali tidak dikenal) mengenai siapa mengapa dan bagaimana baik caleg maupun partai.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 8 Comments »
Heroisme Bodoh!
Monday, October 13th, 2008
Selamat siang semuanya, lama tak ngeblog ya. Sehat saja kan? Maaf lahir bathin buat semuanya. Kali ini saya sedang digelisahkan dengan kebodohan-kebodohan kecil namun fatal dari masyarakat di sekitar kita. Oh ya, mari kita sejenak melipir, minggir, dari segala kampanye politik para partaiers yang makin menggila di berbagai media. Mari kita membahas yang menyangkut hidup kita saja.
Kebodohan seperti apa yang menggelisahkan saya? Saya mengatakannya kebodohan sok heroik yang diulang-ulang hanya dengan alasan non rasional seperti “toh selama ini baik-baik saja”. Heroisme yang menunggu dirinya sendiri bertemu dengan si naas.
Perilaku Para Pertaminaers Swasta
Ya, merekalah yang saya soroti. Para penjual bensin eceran, para penjaja keliling gas. Pagi hari kemarin, saya memilih mengalah mengerem kendaraan saya agar berjarak cukup jauh dengan sebuah pickup yang mengangkut tabung-tabung LPG 12 kg. Jeritan klakson di belakang saya dengan sengaja saya acuhkan, kebetulan Mata Air (anak saya) justru menikmatinya. Apa pasal saya melakukan hal itu?
Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 13 Comments »
Dilarang Memasang Bendera Partai di Pinggir Jembatan Sempit!
Wednesday, August 6th, 2008
Demikian, jika saja saya seorang Raja, saya akan mengumumkan hal itu dengan disertai sanksi berat bagi yang melanggarnya. Sebagai seorang Raja, tentunya saya berhak dan dikaruniai hak mutlak untuk menentukan perilaku para andahan (bawahan/kawulo) saya.
Atau katakanlah saya ini MUI, saya akan membuat fatwa bahwa HARAM hukumnya memasang bendera partai di pinggir jembatan sempit! Paling tidak kalau saya sudah membuat fatwa demikian, sanksi neraka bagi mereka yang melanggarnya sepertinya cukup menakutkan. Apalagi kalau seperti selama ini yang terjadi di negeri ini, fatwa saya tentu akan didukung oleh serombongan pecinta kekerasan pendamba secuil kapling di surga. Tapi tentu berbeda dengan MUI, saya memiliki alasan yang sangat masuk akal dan sangat-sangat penting, walaupun tak lepas dari obyektifitas. Jadi, membela fatwa saya ini tentunya sangat baik bagi kemaslahatan umat.
Bendera Pembawa Bencana
Ya, jujur saja, sebenarnya belum menjadi bencana. Hanya saja sangat-sangat nyaris hampir menjadi bencana. Ceritanya saya melewati selokan mataram, kebetulan saya sedang pakai motor, bersama istri dan anak. Hampir seluruh jembatan di selokan mataram ini dipenuhi oleh bendera-bendera partai.
Posted in Politik, Culture, blog, Daily Life | 22 Comments »
Dengan Semangat Mari!
Tuesday, July 29th, 2008
Sekian lama ide ini berputar di otak saya, hanya saja belum sempat menumpahkannya di media ini. Hal yang sangat menggelitik pikiran saya setiap kali melihat spanduk hasil karya para PNS kita. Entah itu kalangan polisi (terutama kalangan ini nih) maupun kalangan pemda. Bahkan para pengurus masjid yang sepertinya di dominasi oleh para PNS ini, tak mau mengubah gaya dalam menuangkan buah pikirannya di spanduk mereka.
Sependek pengalaman saya berkeliling negeri ini, mulai dari Aceh, Kalimantan, Maluku, Bali, Sulawesi, apalagi seputar Jawa dari barat sampai timur, juga Jakarta yang tidak mau disebut Jawa, kalimat spanduk yang super standar ini muncul di mana-mana. Seolah-olah para pegawai kita ini memiliki rumusan pakem dan baku sebagai berikut:
$var = “event yang berkaitan dengan saat ini”;
$var2 = “hal positif — atau paling tidak yang diharapkan demikian– yang akan dicapai”;
$baku1 = “Dengan semangat”;
$baku2 = “Mari”;
// Maka rumusnya adalah:
$baku1+$var+$baku2+$var2;
print di spanduk!
Apa Kaitannya?
Kalimat itu yang kemudian beredar di benak saya. Lha apa kaitannya antara –misalnya saja– Hari Kartini dengan membuang sampah pada tempatnya. Ini hanya misal. Lucu menurut saya ketika membaca spanduk berbunyi “Dengan semangat Hari Kartini, mari kita menabung supaya kaya”.
Pemaksaan kehendak — kalau tidak boleh disebut sebagai pemerkosaan kalimat– seakan menjadi hal yang lumrah di negeri ini. Entah apa yang ada di pikiran para pembuat spanduk itu.
Demikianlah, saya hanya tergelitik saja. Dan kemudian saya berjalan, dan kemudian saya terjengkang oleh sebuah kalimat lain “Dalam rangka…” halah!
vale, demi kesehatan
el rony, dengan semangat hari ini mari kita songsong hari esok.
demikian
Posted in Culture, Daily Life | 6 Comments »
Media Kita, Media Gagap Gempita
Wednesday, June 4th, 2008
Bukan, judul di atas bukan salah tulis. Seperti kita tahu, belakangan ini berita di media seperti tak ubahnya kutu loncat. Tampak bagaimana media sudah seperti bola pingpong yang dihantam kian kemari dan terlihat pasrah. Sepertinya kita memang belum memiliki media yang benar-benar independen dan konsisten.
Naiknya harga BBM beberapa waktu lalu, repotnya masyarakat kalangan bawah menyiasati kenaikan harga yang mengikutinya, serta ricuhnya demo kenaikan harga oleh mahasiswa, dengan segera tenggelam oleh isu lain. Terakhir kita dipaksa untuk mengikuti berita tentang sekelompok preman berseragam yang memukul demonstran. Tak tanggung-tanggung, semua media baik televisi maupun media cetak dipenuhi dengan berita ini. Sampai hari ini berita itu masih saja menjadi topik utama.
Tertembaknya demonstran BBM beberapa waktu lalu, tampaknya tidak lagi memiliki tempat di media kita. Demikianlah potret kebebasan pers di negeri ini. Yang terjadi bukanlah kebebasan analitik, tetapi membabi buta, gagap dalam pemberitaan. Sibuk dengan berita-berita bombastis yang dirasa mampu menaikkan oplah.
Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 14 Comments »
Hutang Membentuk Perilaku
Thursday, March 13th, 2008
Pada masa sekarang ini, apapun bisa dihutangkan. Dari mulai HP (handphone), laptop, sampai mobil. Para penjaja layanan kredit seakan-akan pantang menyerah mendatangi kita dari berbagai penjuru. Oke, mungkin istilah ini terlalu hiperbolik, tapi kenyataannya saja, waktu kita datang ke counter laptop misalnya, di sampingnya pasti ada counter penjaja jasa hutang ini. Belum lagi kalau kita melihat sepak terjang penjaja kartu kredit, begitu gigihnya mereka “menyerang” para nasabah bank.
Tulisan saya ini sebetulnya bukan dalam rangka mempersoalkan teman-teman di bidang tersebut. Sama sekali tidak, bagaimanapun itu adalah satu wilayah pekerjaan, yang membuat teman-teman di sana terbebas dari himpitan hidup. Teruskan perjuangan kalian kawan!
Tulisan saya ini saya buat dalam rangka mengingatkan diri saya dan mungkin untuk teman-teman semua. Sebuah hasil perenungan saya atas perjalanan hidup (yang sebenarnya baru sebentar). Tentang perubahan sikap orang per orang ketika mereka sudah bersinggungan dengan hutang.
Pola Belanja
Satu hal yang paling mencolok, yang saya amati dan alami ketika kita sudah sangat terbiasa dengan hutang adalah dalam pola berbelanja. Bukan masalah konsumerisme, yang nampaknya sudah mendarah daging di diri kita –thanks to tv, tetapi soal pilihan atau prioritas belanja.
Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 29 Comments »


