Hikmah Tidur
Sunday, October 7th, 2007
Bukan, bukan. Ini bukan sebuah tulisan ala Gede Parma maupun Samuel Mulia, juga bukan naskah pidato khotbah Jumat. Saya hanya ingin berbagi tentang hal sepele yang selintas berkelebat di benak saya, tentu saja setelah saya sempat sharing dengan istri mengenai hal ini.
Siang kemarin, 5 Oktober 2007, seharian saya berada di jalanan. Jalan Yogya bagian selatan yang penuh dengan kendaraan, ditambah dengan teriknya panas matahari karena sang penguasa panas sedang beralih ke peraduannya yang baru demi terciptanya pergantian musim, benar-benar terasa menyiksa karena bulan ini saya sudah berjanji tidak seenaknya melepas dahaga di siang hari.
Sebuah perjalanan demi pemenuhan harapan atas segala kebutuhan berkait dengan kehadiran si kecil, satu keharusan yang sama sekali tidak terbayang untuk dikeluhkan. Bahkan sejujurnya, saya senang dan bahagia. Hanya saja tenggorokan serasa dipanggang.
Macetnya kondisi ruas jalan dari mulai Pojok Beteng Timur ke utara hingga seputaran Jalan Mataram, membuat panas dan dahaga melahirkan hal baru pada tubuh, sebuah kelelahan. Belum lagi dengan posisi foot-step yang tepat sejajar dengan barisan knalpot yang ikut antri menuju sebuah ujung, memapar permukaan kulit yang tak terbungkus alas. Kebetulan saya memang tidak hobi memakai sepatu.
Episode Selanjutnya: Kantor
Setelah penat melanda sepanjang jalan, barulah saya mampir ke kantor. AC tidak pernah saya nyalakan karena saya memang orang desa yang tidak tahan AC. Dan kali kemarinpun, saya tetap tidak menghidupkan AC, pengalaman mengajarkan dalam kondisi seperti itu kalau dijawab dengan AC yang terjadi justru hidung tersumbat dan badan menggigil. Ya sudahlah, ruang 3 x 3 saya biarkan panas.
Posted in Daily Life | 15 Comments »
Selamat Ulang Tahun sayang..
Wednesday, August 15th, 2007
Ribuan (anggap saja demikian) anak Gajah ikut mengucapkan.
Jutaan (anggap saja demikian) pm di yahoo messenger membuat agak repot juga.
Semoga selalu menjadi istri yang keren dan bunda yang super-cool untuk anak kita.
I love you! ![]()
Posted in Daily Life | 10 Comments »
Aku Cuek, Maka Aku Ada
Monday, August 13th, 2007
Prinsip yang diplesetkan dari prinsipnya Rene DescratesDescartes ini sepertinya sekarang banyak dianut oleh penduduk negeri. Mari kita lihat saja kecuekan orang-orang di jalanan. Fokus tulisan ini memang lebih ke jalan.
1. Cuek Membelok
Entah mengapa, hal ini sering terjadi pada kaum perempuan. Maka tak heran jika ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kecuekan orang yang belok tanpa lihat kanan-kiri depan-belakang, bahkan kadang tanpa sein. Dan ketika yang berlaku cuek adalah perempuan, maka akan terdengar nada sumbang,”ooo..pantes”.
Yang membuat saya heran adalah kenapa sih mereka tidak melihat dulu keadaan sekeliling? Asal sudah belok saja maunya menang sendiri. Mungkin hal ini hanya bisa dijawab oleh pelakunya. Jika Anda termasuk salah satu yang seperti itu, mohon diberi info.
2. Cuek Merokok sambil Jalan
Di Yogyakarta, hal ini semakin banyak ditemui. Entah siang entah malam. Tidak pernah terpikir rupanya kalau abu rokok bisa terbang dan masuk ke mata orang-orang di belakangnya. Saya sendiri perokok, tapi saya merasa harus berfikir 5000 kali untuk melakukan hal konyol semacam ini.
Sayangnya belum pernah ada laporan pasti mengenai orang yang matanya kemasukkan abu rokok (apalagi yang masih menyala bara-nya) dan akhirnya jatuh. Semoga saja tidak terjadi. Namun mbok yao, teman-teman yang melakukan ini instropeksi. Terutama bagi pengendara motor lho ya, kalo di dalam mobil dan kemudian ada asbak di dashboard, saya ndak bisa komen.
3. Cuek Melintasi Jalan Sempit dengan Mobil
Herannya yang melakukan ini banyak sekali. Lihat saja sepanjang selokan mataram, kadang harus berhenti lama sekali gara-gara ada dua mobil yang bertemu di jalan sempit itu. Dan lebih mengherankan lagi, mobil mewah yang masih baru kinyis-kinyispun lewat sini. Ketakutan mobilnya tergores jelas terlihat dari wajah goblok mereka. Lha jelas goblok, wong takut kegores kok lewat jalan sempit.
Tentu hal ini tidak berlaku bagi yang terpaksa, alias memang rumahnya di pinggir selokan sehingga tidak ada jalan lain. Tapi kadang mengherankan juga, rumahnya memang di pinggir selokan, tapi dia memilih menyusuri selokan daripada –misalnya– belok kiri yang lebih dekat ke jalan raya.
Mutar sedikit gak masalah lah harusnya, orang punya mobil kan artinya kaya. Kalau nggak mampu beli bensin, mbok ya jalan kaki saja.
4. Cuek Mengumumkan Kesalahan di depan Publik
Ini sih berkait dengan postingan saya yang kemarin, Krisis Kepemimpinan. Cuek mereka. Ndak perlu dibahas lagi, politikus memang harus ndableg kali ya.
Dan masih banyak lagi cuek-cuek yang lain, saya sampai capek untuk me-list satu per satu. Capek hati karena teringat bagaimana paramedis cuek dengan pasien yang miskin, capek hati karena melihat bagaimana orang kaya cuek dengan tetangganya yang miskin malah pamer mobil baru terus, dan seterusnya dan sebagainya.
Di jaman sekarang ini, bisa jadi mereka yang tidak cuek justru dianggap aneh. Kecuekan telah menjadi tolok ukur kesuksesan tiap-tiap diri dalam menghadapi kehidupan. Orang yang mengomentari orang lain karena kecuekannya, seperti yang saya lakukan ini, justru menjadi aneh.
Tapi semua ini hanya opini saja, opini pribadi yang tidak memiliki kekuatan hukum maupun kaidah analisis ilmiah. Jadi, monggo sajalah.
vale, ikutan cuek..
el rony, tak cuek matamu!
nb: tiba-tiba inget saja (gak ada kaitannya sih) dengan tulisan di sebuah kaos “Jogja, nyeni sak modare”.
Posted in Culture, Daily Life | 9 Comments »
Seratus Hari
Thursday, August 9th, 2007
Tak jauh berbeda, ayah
Anakmu masih bergelut mencoba bertahan
Tak jauh berbeda, ayah
Tak sempat anakmu ini menengok semaian
Kini membunuh waktu,
Mengejar detik untukmu
Menunggu hadirnya cucumu
Lepas hari lepas pula letih
Tenggelam dalam selimut malam
Mohon maafkan sekali lagi maafkan
Hariku menjauh dari pusaramu
Kalau kuingat, ayah
Titik air mata tak banyak tercurah
Kadang rasa heran membawa marah
Kenapa aku tak bisa menangis untukmu?
Ayah, semoga engkau tenang di sana
Anakmu akan selalu berusaha
Menjaga
Wasiat keyakinan titipan semangat
——- di telinga kini suara Ebiet G Ade menemani
Ayah, cucumu sekarang sudah 7 (tujuh) bulan di kandungan. Semoga dia sehat ya ayah, semoga dia tidak seperti ayahnya, yang terkungkung oleh kesibukan yang dibayangi kemasygulan, tiap saat.
Ayah, apakah dingin di sana?
…
Posted in Daily Life | 6 Comments »
Krisis Kepemimpinan?
Monday, August 6th, 2007
Tidak juga bisa dikatakan demikian, tetapi kegelisahan akan sosok pemimpin memang selalu menjadi kegelisahan berjama’ah. Dalam sebuah sistem pemerintahan kita, semestinya tidak muncul kegelisahan ini karena toh ada tiga kekuatan utama peletak kestabilan negara; eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Namun berhubung ini kegelisahan banyak orang, termasuk saya, maka saya pikir saya sampaikan saja uneg-uneg ini. Kegelisahan ini berkait dengan kebobrokan kualitas orang-orang yang merasa -sekaligus dipandang- dirinya adalah pemimpin.
Salah malah Bangga
Satu hal ini yang paling banyak kita lihat di negeri ini. Tengok saja kasus Dana DKP kemarin, dimana salah seorang yang selama ini disebut tokoh reformasi, justru terang-terangan mengatakan bahwa dirinya menerima dana DKP.
Posted in Politik, Semiotics, Daily Life | 11 Comments »
Jangan-jangan Dia Teroris…
Friday, July 13th, 2007
Akhir-akhir ini pertanyaan bernada khawatir sekaligus tuduhan ini nampaknya semakin melanda masyarakat Yogyakarta, khususnya masyarakat Sleman. Berita besar-besaran menyangkut penangkapan “what so called” teroris di beberapa daerah di Sleman, telah berhasil menciptakan stigma baru di benak penduduk wilayah ini.
Tak kurang, saya-pun mendapati bagiannya. Kebetulan saya mengontrak sebuah rumah di wilayah Donoharjo Sleman. Rumah ini sudah saya kontrak semenjak akhir Januari 2007, dan sampai sekarang belum sempat saya tempati. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib yang menjadikannya begini. Bagaimana tidak, dari mulai saya berangkat ke Kalimantan, disusul saya sakit sehingga musti berhari-hari terkapar. Belum cukup ini saja, selang beberapa hari kemudian saya mendapati bahwa istri saya hamil. Tentunya trimester pertama tidak bisa atau dalam kata lain tidak saya relakan istri saya untuk tinggal di rumah kontrakan yang belum sempat saya urus itu.
Dengan demikian kondisi rumah kontrakan saya barulah berisi dus-dus yang masih berantakan. Lampu-lampu juga belum terpasang sehingga kondisinya selalu gelap. Kecuali lampu depan, karena lampu teras selalu saya hidupkan. Rencana untuk mulai menempati rumah kontrakan setelah trimester pertama lewat, terpaksa tidak bisa saya lakukan. Hal ini karena disusul dengan meninggalnya ayah saya. Kesibukan perjalanan Bantul-Yogyakarta, jelas menyita waktu dan tenaga saya. Dan sialnya, motor saya yang kemudian protes duluan. Dari mulai stang seker (stang piston) sampai laker roda dan shock depan motor, semuanya harus diganti. Walhasil hari-hari saya dipenuhi dengan target mencapai 1500km, alias inreyen. Dengan kondisi ini, mau tak mau rencana untuk menata rumah kontrakan sekali lagi terhambat.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 17 Comments »
Saya Memilih Bercerita
Wednesday, July 11th, 2007
Sudah beberapa kali saya mendengar tentang Mozart Effect. Keyakinan bahwa kemampuan IQ seorang anak akan lebih cepat berkembang jika diperdengarkan musik-musik klasik. Oleh karenanya, sudah beberapa kali pula saya mendapatkan himbauan agar melakukan hal yang sama.
Terlepas dari itu, saya memilih bercerita. Entah apakah ini sesuai dengan teori tersebut atau tidak, yang jelas anak saya yang masih dalam kandungan sepertinya senang tiap kali saya bercerita. Bahkan akhir-akhir ini, dia seperti “menagih” tiap sudah jamnya dan saya belum juga bercerita.
Lagu-lagu Sebelum Cerita
Sebetulnya, sebelum ini saya juga menyanyikan lagu. Pikiran saya sederhana saja, biarkan anak saya terbiasa dengan suara dan intonasi saya. Kalau toh ada yang bilang suara saya sumbang, itu soal lain. Yang penting bagi saya, anak saya merasakan curahan cinta saya.
Posted in Pendidikan, blog, Daily Life | 18 Comments »
Ubuntu Fiesty Feisty Fawn: Catatan Seorang Nubi
Tuesday, June 26th, 2007
Nubi diambil dari kata Newbie, sebuah istilah slang di dunia internet untuk melabeli (ya.. dunia ini penuh dengan label) orang seperti saya.
Awal Mula Cerita
Dua minggu yang lalu, saya mendapat sebuah keping CD Ubuntu 7.04 dari rekan kantor. Dia kebetulan memesan beberapa keping CD. Saya belum tertarik menggunakannya, mengingat pengalaman saya dengan Ubuntu versi lawas (lupa versi berapa), Warty. Saya melewatkan Edgy, dan entah apalagi.
Saya kurang begitu suka dengan Ubuntu, karena apa yang saya butuhkan justru terpenuhi oleh SuseLinux, distro yang dikenalkan oleh saudara saya terkasih, Idban Secandri. Kebetulan Idban juga merupakan penggagas id-anime, dan saya adalah penggemar anime :).
Namun, kawan saya yang lain, Godril Si Raja Analis, berkali-kali memamerkan kemampuan Ubuntu Fiesty Feisty ini, bahkan semenjak saya belum memperoleh CD Ubuntu Fiesty Feisty. Dan beberapa minggu yang lalu, ketika saya sedang membantu kawan saya yang lain lagi untuk meng-installkan windows di laptopnya, Godril memamerkan kemampuan Ubuntu di depan saya, tepat di muka saya. Zwiingg.. zwiingg… animasi desktop Ubuntu mengingatkan saya pada iBook milik beberapa teman Bandung.
Sayapun Mencoba, dan Berikut Catatan KendalaBuntu
Install Ubuntu di komputer saya yang memiliki 3 hardisk (40Gb, 80Gb dan 100Gb) dengan CD-RW Asus ternyata menemui kendala. Muncul error:
Can’t access tty, job control turned off
Posted in Technology, Daily Life | 20 Comments »
Komunike 777 - Demokrasi Peluru
Wednesday, June 6th, 2007
Sebuah Refleksi untuk Hari ke Tujuh.
Jikalau kita mengenal kata demokrasi, maka yang paling pertama di ingat biasanya adalah kata-kata “dari-oleh-untuk rakyat”. Demokrasi ini pada akhirnya berkembang pula menjadi berbagai macam ragam yang membingungkan, sehingga satu kali di negeri ini muncul pula satu istilah Demokrasi Terpimpin. Tentang apa itu binatang demokrasi terpimpin? Kita tidak akan membahasnya. Yang jelas, segala pernik macam demokrasi di negeri ini, selalu saja melibatkan satu bagian kecil bangsa yang bernama Militer.
Nampaknya, militer baik itu Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara, memiliki pengertian tersendiri mengenai demokrasi ini. Contoh kasus terakhir adalah Insiden Mei 2007 di Pasuruan. Terlepas benar-salah dan segala macamnya, terlepas kambing siapa yang di cat hitam tubuhnya, jelas ada satu hal yang termaknai dari peristiwa tersebut:
Peluru adalah Wujud Demokrasi
Dari Rakyat, Untuk (membunuh) Rakyat, Oleh (anak durhaka dari rahim) Rakyat.
Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 7 Comments »
Ketika Keyakinan bertemu Logika
Wednesday, May 23rd, 2007
Pernah dengar cerita ini?
Seorang pemuka agama (bayangkan saja pemuka agama yang familiar dengan Anda) suatu hari berjalan di sebuah kota yang baru saja didatanginya. Dia, lengkap dengan attribut keagamaan di sekujur tubuhnya serta bibirnya terlihat selalu bergerak seakan memanjatkan doa di setiap tarikan nafas, berjalan sambil menengok ke kanan kiri. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kertas. Lantas dilihatlah olehnya seorang anak kecil yang sedang bermain sendirian. Dihampirinya anak kecil tadi, dan terjadilah dialog berikut:
Pemuka Agama: “Nak, tahukah kamu jalan menuju Kantor Pos?”
Anak Kecil: “Oh jalan ini lurus saja pak, nanti perempatan belok ke kiri. Sesudah itu kalau bapak ketemu pertigaan, beloklah ke kanan. Di ujung gang itu bapak akan menemui jalan besar, nah belok ke kiri lalu lurus saja. Nanti di kiri jalan ada papan besar bertuliskan Kantor Pos”
Pemuka Agama tadi tampak senang dan puas, lantas dengan wajah paling teduh yang pernah ada, dia berkata kepada anak itu
“Terimakasih ya nak, besok di akhirat, bapak akan bimbing kamu menuju jalan surga”
AnakKecil menjawab,”Sudahlah pak, jalan ke kantor pos saja bapak tidak tahu, kok mau nunjukkin jalan ke surga”
Ini hanya anekdot. Tidak benar-benar terjadi.
vale..
el rony, sedang tidak bisa menulis
Posted in Culture, Daily Life | 15 Comments »
