Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Daily Life’

Media Kita, Media Gagap Gempita    Print This Post   Email This Post

Wednesday, June 4th, 2008

Bukan, judul di atas bukan salah tulis. Seperti kita tahu, belakangan ini berita di media seperti tak ubahnya kutu loncat. Tampak bagaimana media sudah seperti bola pingpong yang dihantam kian kemari dan terlihat pasrah. Sepertinya kita memang belum memiliki media yang benar-benar independen dan konsisten.

Naiknya harga BBM beberapa waktu lalu, repotnya masyarakat kalangan bawah menyiasati kenaikan harga yang mengikutinya, serta ricuhnya demo kenaikan harga oleh mahasiswa, dengan segera tenggelam oleh isu lain. Terakhir kita dipaksa untuk mengikuti berita tentang sekelompok preman berseragam yang memukul demonstran. Tak tanggung-tanggung, semua media baik televisi maupun media cetak dipenuhi dengan berita ini. Sampai hari ini berita itu masih saja menjadi topik utama.

Tertembaknya demonstran BBM beberapa waktu lalu, tampaknya tidak lagi memiliki tempat di media kita. Demikianlah potret kebebasan pers di negeri ini. Yang terjadi bukanlah kebebasan analitik, tetapi membabi buta, gagap dalam pemberitaan. Sibuk dengan berita-berita bombastis yang dirasa mampu menaikkan oplah.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 12 Comments »

Hutang Membentuk Perilaku    Print This Post   Email This Post

Thursday, March 13th, 2008

Pada masa sekarang ini, apapun bisa dihutangkan. Dari mulai HP (handphone), laptop, sampai mobil. Para penjaja layanan kredit seakan-akan pantang menyerah mendatangi kita dari berbagai penjuru. Oke, mungkin istilah ini terlalu hiperbolik, tapi kenyataannya saja, waktu kita datang ke counter laptop misalnya, di sampingnya pasti ada counter penjaja jasa hutang ini. Belum lagi kalau kita melihat sepak terjang penjaja kartu kredit, begitu gigihnya mereka “menyerang” para nasabah bank.

Tulisan saya ini sebetulnya bukan dalam rangka mempersoalkan teman-teman di bidang tersebut. Sama sekali tidak, bagaimanapun itu adalah satu wilayah pekerjaan, yang membuat teman-teman di sana terbebas dari himpitan hidup.  Teruskan perjuangan kalian kawan! :)

Tulisan saya ini saya buat dalam rangka mengingatkan diri saya dan mungkin untuk teman-teman semua. Sebuah hasil perenungan saya atas perjalanan hidup (yang sebenarnya baru sebentar). Tentang perubahan sikap orang per orang ketika mereka sudah bersinggungan dengan hutang.

Pola Belanja

Satu hal yang paling mencolok, yang saya amati dan alami ketika kita sudah sangat terbiasa dengan hutang adalah dalam pola berbelanja. Bukan masalah konsumerisme, yang nampaknya sudah mendarah daging di diri kita –thanks to tv, tetapi soal pilihan atau prioritas belanja.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 23 Comments »

Catatan Perjalanan - Orang Jawa di Tanah Rencong    Print This Post   Email This Post

Wednesday, February 27th, 2008

Gegar budaya selalu saja terjadi di manapun pada siapapun, itu aku percaya. Bahwa ada orang yang sedemikian hebatnya mampu beradaptasi dengan demikian cepat, ataupun orang yang sangat cuek sehingga tidak memperhatikan apapun selain kebutuhan perutnya (misalnya), pada satu titik pastilah terbersit peristiwa gegar budaya ini.

Catatan ini tak lebih dari sebuah pengakuan jujur atas ke-ndeso-an saya. Pengalaman berharga untuk menginjakkan kaki pertama kali di bumi rencong, saya pilih untuk menjalaninya meninggalkan istri dan Mata Air (anak saya) di Jogja.

Benar nih di sini pernah tsunami?

Informasi usang yang sudah lama saya dengar, sudah lama pula saya bayangkan –pesta poranya lembaga swadaya masyarakat (NGO) internasional di tanah ini– ternyata tidak pula serta merta memberi kemampuan pada saya untuk menerima kenyataan yang saya hadapi.

[ detail ]

Posted in Culture, Daily Life | 24 Comments »

Mengamati Nama, Mengamati Budaya    Print This Post   Email This Post

Tuesday, December 11th, 2007

Malam ini saya ngobrol enteng dengan istri saya. Obrolan berkisar nama anak. Kami coba mengamati, dengan tidak serius dan tanpa pedoman ilmiah, perkembangan nama-nama anak. Berangkat dari nama kami sendiri, hingga tebaran nama-nama anak “jaman sekarang”. Dan kami sampai pada sesuatu yang menarik.

Nama anak ternyata mengalami perkembangan sesuai jamannya. Di setiap jaman, muncul apa yang mungkin bisa disebut sebagai “trend” nama. Trend tersebut entah disebarluaskan dan ditularkan melalui media apa, mungkin melalui “getok tular” alias mulut ke mulut, atau mungkin juga melalui media. Karena obrolan ini sama sekali tidak ilmiah, maka saya akan menyajikannya hanya dalam bentuk tipe-tipe nama anak tanpa batasan jelas periodenya.

Nama Jawa

Tentu saja ini hanya berlaku bagi orang Jawa. Nama-nama ini muncul mungkin di seputar tahun-tahun kelahiran saya (yang tidak jauh dari istri, hanya terpaut 2 tahun). Sebut saja misalnya Eko, Edi, Adi, Sugeng, Retno, Dyah, Dian, dan lain-lain. Kami menemukan bahwa teman seangkatan kami banyak yang memiliki nama tersebut.

[ detail ]

Posted in Culture, Daily Life | 42 Comments »

Tentang Sebuah Negeri Yang Memprihatinkan    Print This Post   Email This Post

Thursday, December 6th, 2007

Sebuah Kisah Tentang Korupsi

Siang itu saya berkesempatan makan bersama seorang teman. Teman saya ini dulunya adalah maniak pemanjat tower, kesehariannya adalah memanjat tower dan pointing antenna. Namun kini dia terlibat dalam proyek-proyek besar Teknologi Informasi untuk Pemda-pemda.

Dalam kesempatan itu, berkali-kali saya lihat dia agak lesu dan seperti melamun sendiri. Setelah saya pancing-pancing ternyata dia sedang bermasalah dengan proyeknya yang terakhir, dimana ada kesalahan perhitungan sehingga dana meleset sangat besar, hingga mencapai ratusan juta.

Namun, setelah itu, dia kemudian menceritakan kepada saya tentang apa yang dia lakukan dalam beberapa bulan ini, yang akhirnya memberi gambaran gamblang kepada saya tentang busuknya negeri ini. Dalam kesempatan itu pula, dia menunjukkan aliran dana di rekening tabungannya. Buset! Dalam tiga bulan terhitung hampir 9 Milyar uang beredar melalui rekening tersebut. Untuk apa saja? Tidak jelas, yang saya tangkap hanyalah uang tersebut kemudian lari ke beberapa person (yang notabene adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif negeri ini).

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, Daily Life | 21 Comments »

Catatan Mata Air #2    Print This Post   Email This Post

Tuesday, November 27th, 2007

Mata Air di suatu pagi

Jenis Kelamin: Laki-laki
Hobi: Tidur, Pipis, Eek dan Mimik ASI
Usia: 3 Minggu

Saat ini sedang penuh dengan bintik-bintik di wajah, katanya sih buras ASI, namun dokternya bilang itu semacam alergi hanya saja tidak tahu alergi apa. Berdasar informasi banyak orang, baik dokter maupun mas Sonson tetangga sebelah, tidak perlu diobati apapun. Ya sudah, semoga nanti hilang dan mulus kembali.

Posted in Yogyakarta, Daily Life | 18 Comments »

Selamat datang Mata Air    Print This Post   Email This Post

Thursday, November 1st, 2007

Sore itu adalah sore ke sekian. Sebuah penantian yang makin ke sini semakin panjang dirasa di hati. Pukul 15:00 WIB, tanggal 31 Oktober 2007, adalah kali ketika kontraksi terjadi semakin sering dan berpola. Istri saya memilih untuk menunggu di rumah, daripada menunggu di rumah sakit, sehingga kamipun kembali kepada kesibukan.

Pukul 17:00 WIB, istri saya terlihat semakin kesakitan. Kamipun menghitung jarak kontraksi masing-masing. Antara yakin dengan tidak yakin bahwa itu kontraksi beneran, kami putuskan untuk online dan mencari jawaban atas pertanyaan ataupun ketidakyakinan tersebut. Hasilnya? Hampir nihil. Segala hal berkait kontraksi yang kami peroleh, tidak memberikan gambaran yang cukup detil mengenai apa bagaimana dan seperti apa kontraksi itu. Juga kaitannya dengan bukaan, adakah relasinya?

Satu garis bawah saya pertebal pada kalimat yang saya peroleh dari tiga artikel temuan mengenai kontraksi ini, yaitu bahwa harus segera ke rumah sakit begitu kontraksi sudah berjalan kontinyu, teratur dan berjarak 10 menit sekali. Dan mulai pukul 17:30 WIB, kontraksi istri saya sudah mulai teratur pada irama delapan menit sekali.

The Kronologi

Pukul 18:00 WIB, akhirnya bersama mertua dengan mobil mertua (tentu saja, wong saya belum punya), kami berangkat ke happyland. Perjalanan terasa sangat lama. Apalagi perjalanan dari Purwomartani ke daerah Timoho haruslah melalui sekian polisi tidur dan jalan yang berlobang. Istri saya akhirnya merebahkan diri ke pangkuan saya. Kontraksi masih terus terjadi. Tarik napas panjang dari hidung, lepaskan dari mulut, selalu itu saya ulang sepanjang perjalanan.

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Daily Life | 34 Comments »

Hikmah Tidur    Print This Post   Email This Post

Sunday, October 7th, 2007

Bukan, bukan. Ini bukan sebuah tulisan ala Gede Parma maupun Samuel Mulia, juga bukan naskah pidato khotbah Jumat. Saya hanya ingin berbagi tentang hal sepele yang selintas berkelebat di benak saya, tentu saja setelah saya sempat sharing dengan istri mengenai hal ini.

Siang kemarin, 5 Oktober 2007, seharian saya berada di jalanan. Jalan Yogya bagian selatan yang penuh dengan kendaraan, ditambah dengan teriknya panas matahari karena sang penguasa panas sedang beralih ke peraduannya yang baru demi terciptanya pergantian musim, benar-benar terasa menyiksa karena bulan ini saya sudah berjanji tidak seenaknya melepas dahaga di siang hari.

Sebuah perjalanan demi pemenuhan harapan atas segala kebutuhan berkait dengan kehadiran si kecil, satu keharusan yang sama sekali tidak terbayang untuk dikeluhkan. Bahkan sejujurnya, saya senang dan bahagia. Hanya saja tenggorokan serasa dipanggang.

Macetnya kondisi ruas jalan dari mulai Pojok Beteng Timur ke utara hingga seputaran Jalan Mataram, membuat panas dan dahaga melahirkan hal baru pada tubuh, sebuah kelelahan. Belum lagi dengan posisi foot-step yang tepat sejajar dengan barisan knalpot yang ikut antri menuju sebuah ujung, memapar permukaan kulit yang tak terbungkus alas. Kebetulan saya memang tidak hobi memakai sepatu.

Episode Selanjutnya: Kantor

Setelah penat melanda sepanjang jalan, barulah saya mampir ke kantor. AC tidak pernah saya nyalakan karena saya memang orang desa yang tidak tahan AC. Dan kali kemarinpun, saya tetap tidak menghidupkan AC, pengalaman mengajarkan dalam kondisi seperti itu kalau dijawab dengan AC yang terjadi justru hidung tersumbat dan badan menggigil. Ya sudahlah, ruang 3 x 3 saya biarkan panas.

[ detail ]

Posted in Daily Life | 14 Comments »

Selamat Ulang Tahun sayang..    Print This Post   Email This Post

Wednesday, August 15th, 2007

Ribuan (anggap saja demikian) anak Gajah ikut mengucapkan.

Jutaan (anggap saja demikian) pm di yahoo messenger membuat agak repot juga.

Semoga selalu menjadi istri yang keren dan bunda yang super-cool untuk anak kita.

I love you! :)

Posted in Daily Life | 10 Comments »

Aku Cuek, Maka Aku Ada    Print This Post   Email This Post

Monday, August 13th, 2007

Prinsip yang diplesetkan dari prinsipnya Rene DescratesDescartes ini sepertinya sekarang banyak dianut oleh penduduk negeri. Mari kita lihat saja kecuekan orang-orang di jalanan. Fokus tulisan ini memang lebih ke jalan.

1. Cuek Membelok

Entah mengapa, hal ini sering terjadi pada kaum perempuan. Maka tak heran jika ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kecuekan orang yang belok tanpa lihat kanan-kiri depan-belakang, bahkan kadang tanpa sein. Dan ketika yang berlaku cuek adalah perempuan, maka akan terdengar nada sumbang,”ooo..pantes”.

Yang membuat saya heran adalah kenapa sih mereka tidak melihat dulu keadaan sekeliling? Asal sudah belok saja maunya menang sendiri. Mungkin hal ini hanya bisa dijawab oleh pelakunya. Jika Anda termasuk salah satu yang seperti itu, mohon diberi info.

2. Cuek Merokok sambil Jalan

Di Yogyakarta, hal ini semakin banyak ditemui. Entah siang entah malam. Tidak pernah terpikir rupanya kalau abu rokok bisa terbang dan masuk ke mata orang-orang di belakangnya. Saya sendiri perokok, tapi saya merasa harus berfikir 5000 kali untuk melakukan hal konyol semacam ini.

Sayangnya belum pernah ada laporan pasti mengenai orang yang matanya kemasukkan abu rokok (apalagi yang masih menyala bara-nya) dan akhirnya jatuh. Semoga saja tidak terjadi. Namun mbok yao, teman-teman yang melakukan ini instropeksi. Terutama bagi pengendara motor lho ya, kalo di dalam mobil dan kemudian ada asbak di dashboard, saya ndak bisa komen.

3. Cuek Melintasi Jalan Sempit dengan Mobil

Herannya yang melakukan ini banyak sekali. Lihat saja sepanjang selokan mataram, kadang harus berhenti lama sekali gara-gara ada dua mobil yang bertemu di jalan sempit itu. Dan lebih mengherankan lagi, mobil mewah yang masih baru kinyis-kinyispun lewat sini. Ketakutan mobilnya tergores jelas terlihat dari wajah goblok mereka. Lha jelas goblok, wong takut kegores kok lewat jalan sempit.

Tentu hal ini tidak berlaku bagi yang terpaksa, alias memang rumahnya di pinggir selokan sehingga tidak ada jalan lain. Tapi kadang mengherankan juga, rumahnya memang di pinggir selokan, tapi dia memilih menyusuri selokan daripada –misalnya– belok kiri yang lebih dekat ke jalan raya.

Mutar sedikit gak masalah lah harusnya, orang punya mobil kan artinya kaya. Kalau nggak mampu beli bensin, mbok ya jalan kaki saja.

4. Cuek Mengumumkan Kesalahan di depan Publik

Ini sih berkait dengan postingan saya yang kemarin, Krisis Kepemimpinan. Cuek mereka. Ndak perlu dibahas lagi, politikus memang harus ndableg kali ya.

Dan masih banyak lagi cuek-cuek yang lain, saya sampai capek untuk me-list satu per satu. Capek hati karena teringat bagaimana paramedis cuek dengan pasien yang miskin, capek hati karena melihat bagaimana orang kaya cuek dengan tetangganya yang miskin malah pamer mobil baru terus, dan seterusnya dan sebagainya.

Di jaman sekarang ini, bisa jadi mereka yang tidak cuek justru dianggap aneh. Kecuekan telah menjadi tolok ukur kesuksesan tiap-tiap diri dalam menghadapi kehidupan. Orang yang mengomentari orang lain karena kecuekannya, seperti yang saya lakukan ini, justru menjadi aneh.

Tapi semua ini hanya opini saja, opini pribadi yang tidak memiliki kekuatan hukum maupun kaidah analisis ilmiah. Jadi, monggo sajalah.

vale, ikutan cuek..

el rony, tak cuek matamu!

nb: tiba-tiba inget saja (gak ada kaitannya sih) dengan tulisan di sebuah kaos “Jogja, nyeni sak modare”.

Posted in Culture, Daily Life | 9 Comments »