Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘Daily Life’

Tentang Sebuah Hak yang Tak Terpenuhi    Print This Post   Email This Post

Thursday, December 1st, 2011

Sebelum saya menulis panjang lebar, ada baiknya saya awali tulisan saya ini dengan disclaimer, bahwa saya tidak memposisikan diri membela siapapun. Posisi saya dari dulu insyaAllah tidak pernah berubah, saya memilih berpihak kepada korban. Dalam kaitan dengan tulisan kali ini, bagi saya, korbannya adalah kita semua.

Bagi teman-teman yang belum mengetahui duduk persoalannya, baiklah saya singgung serba sedikit tema yang akan saya tuliskan kali ini. Pagi hari tadi, 1 Desember 2011, seorang kawan yang bernama Fajar Jasmin, seorang penderita HIV positif (demikian pengakuan beliau) membagi kegelisahannya di twitter melalui akunnya @fajarjasmin. Beliau mengabarkan bahwa anaknya, ditolak masuk oleh sebuah lembaga pendidikan di Jakarta dikarenakan oleh keadaan beliau (penyakit yang beliau idap). Menurut pengakuan beliau pula, sang anak bukanlah pengidap HIV positif, tetapi pihak sekolah menyatakan keberatan karena sang bapak tidak bersedia menunjukkan hasil tes kesehatan sang anak.

Pendirian beliau kupikir ada benarnya, beliau menyuarakan kesamaan hak. Jika semua anak diwajibkan menunjukkan hasil test, maka hal ini tentu tidak akan menjadi penghalang. Pun jika kemudian hal ini diberlakukan, sebenarnya masih menyisakan perdebatan lain lagi karena hasil test kesehatan seseorang tidak boleh disebar luaskan tanpa seijin orang tersebut. Begitu gambarannya, sekilas saja, karena saya tidak ingin membahas hal ini. Saya ingin menyampaikan hal lain, yang merupakan kegelisahan saya pribadi.

[ detail ]

Posted in Politik, Pendidikan, Daily Life | 5 Comments »

Abai    Print This Post   Email This Post

Tuesday, November 1st, 2011

Kata ini terngiang terus di kepala saya. Pernah adakah satu penelitian serius yang mengungkapkan peningkatan satu sikap abai dari satu komunitas/penduduk? Apakah linear, exponensial atau bagaimana? Faktor apa saja kiranya yang membuat menjadi seperti itu?

Tulisan ini dipicu dari pengalaman pribadi saya, dimana saya terlanjur masuk satu lorong (jalan tikus) untuk menuju satu tempat, dan terpaksa putar balik karena ternyata di tengah-tengah jalan tikus tersebut sedang ada proyek galian yang menutup akses. Saya bingung, kenapa tidak dari depan pintu masuk jalan tikus itu diberi tanda atau peringatan soal pekerjaan ini?

Empat jam kemudian saya lewat pintu masuk tadi, dan ternyata sudah ada tanda peringatan dimaksud. Saya tidak sempat menghitung, berapa orang yang “terjebak” harus putar balik karena tanda itu terlambat ada. Ditambah pula, sekian pekerja yang ada di tempat itu, seakan tidak peduli. Mereka membiarkan pengemudi berjalan sampai ke dekat lokasi (meski sebenarnya sudah terlihat dari jauh), dengan harapan masih bisa lewat, dan harus kecewa karena ternyata tertutup total.

Saya tidak habis pikir, tidak satupun dari pekerja di situ yang melambaikan tangan memberi tanda bahwa tidak bisa lewat. Juga beberapa penduduk yang ada di ujung belokan gang, yang tahu persis keadaan di situ, seakan tidak peduli juga. Urusanmu urusanmu sendiri, urusan saya sudah banyak. Mungkin seperti itu.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 1 Comment »

Seandainya Irul itu New 7 Wonder..    Print This Post   Email This Post

Monday, October 17th, 2011

Ya, ini berandai-andai saja. Sebenarnya perandaian ini dipicu oleh maraknya –lagi– isu soal New 7 Wonder. Bagi teman-teman yang mengikuti kabar kabur seputar kontes idol-idolan ini tentu tahu, bahwa kontes ini sudah berlangsung semenjak tahun 2000. Dan semenjak tahun itu pula, meski sudah memajang deretan “pemenang”, masih juga belum ada kejelasan tentang beberapa hal. Detilnya sih teman-teman bisa baca di blognya Priyadi

Setelah perusahaan (ya, perusahaan, bukan lembaga/foundation) kecil dari Swiss ini mengancam mencopot pulau komodo dari daftar New 7 Wondernya, sebenarnya hiruk pikuk soal inipun sempat mereda. Dikabarkan waktu itu, Indonesia (dalam hal ini dinas budaya dan pariwisata) sempat dengan PD mengajukan diri sebagai tempat pelaksanaan penyerahan award. Namun ternyata perusahaan kecil dari Swiss ini minta sejumlah uang lagi. Karena –mungkin– disbudpar sudah keluar uang banyak untuk kampanye, tidak ada anggaran untuk ini, maka disbudpar menyatakan membatalkan usulan itu. Eh, diancam mau dihapus. Seingatku sih waktu itu sikap pemerintah kita, yaudah hapus saja.

Waktu berlalu, bulan berganti, tahu-tahu muncullah satu sosok politikus. Bak pahlawan, dia katakan “votinglah” biaya sms premium sudah ditanggung olehnya (atau oleh sponsor, demikian bahasa resminya). Maka ramai lagilah kampanye soal New 7 Wonder ini. Masih dibutuhkan 120 juta vote untuk “memenangkan” Pulau Komodo dalam ajang ini.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, blog, Daily Life | 6 Comments »

Apa sih Komunitas Itu?    Print This Post   Email This Post

Monday, October 10th, 2011

Akhir-akhir ini, semakin banyak kegiatan/event yang melibatkan komunitas. Entah mana yang lebih dulu mulai, yang jelas hampir berbarengan pula, muncul berbagai komunitas (terutama online) marak di mana-mana. Menyenangkan sekali menurutku, karena dengan munculnya komunitas ini, terutama saya fokus di komunitas online, memberikan kemungkinan yang lebih luas dalam hal beraktivitas dan pengembangan diri anggotanya.

Saya teringat ketika terjadi musibah bencana erupsi Merapi di Jogja. Koordinasi komunikasi dan bantuan menjadi lebih enak, pengumpulan orang-orangnya juga jadi lebih beragam dan luas dengan adanya komunitas ini. 

Sebenarnya, apa sih komunitas itu?

Sependek pengetahuan saya, komunitas adalah tempat di mana sekelompok orang berkumpul dikarenakan kesamaan ide atau platform, untuk bersama-sama melakukan kegiatan, baik itu untuk mencari pemecahan masalah hingga usaha menawarkan solusi kepada masyarakat sekitar.

Di Yogyakarta sendiri, definisi komunitas ini sangatlah beragam. Satu-satunya cara untuk memperoleh gambaran apa dan bagaimana komunitas itu, yaitu dengan melihatnya lebih dekat. Saya coba absen satu-satu dengan gambaran singkat kegiatan mereka. Sekedar catatan saja, semoga dari teman-teman yang membaca bisa menambahkan komunitas apa yang ada di daerahnya, tidak harus di Yogyakarta saja tentunya.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, blog, Daily Life | 22 Comments »

Yogya dalam kepungan proyek    Print This Post   Email This Post

Friday, September 23rd, 2011

Bulan-bulan jelang akhir tahun, sepertinya menjadi bulan langganan untuk proyek-proyek pembangunan fisik. Seperti bulan ini, terhitung semenjak bulan kemarin bahkan, proyek perbaikan jalan, perbaikan gorong-gorong hingga jembatan dan penanaman kabel optik, mewarnai hampir tiap sudut bumi Yogyakarta.

Atas nama mempercantik kota, juga perawatan serta mungkin juga perbaikan fasilitas, hal ini tentu saja tidak menjadi masalah. Seperti kondisi ruas jalan di seputar Jalan Magelang misalnya, batalnya proyek jembatan layang di penggal ring road utara ini menyisakan bopeng di jalanan. Jalanan bergelombang ini, tentunya akan membantu para pengguna jalan jika segera diperbaiki. Harapannya tentu saja jalanan ini bisa sehalus jalanan di penggal ringroad seputaran Demak Ijo, atau seperti ringroad selatan.

Namun sepertinya hal ini bukanlah prioritas saat ini. Meskipun jalanan sudah berlubang sehingga membahayakan pengguna jalan, namun batalnya proyek pembangunan jembatan layang bukan berarti melanjutkannya dengan perbaikan kerusakan yang diakibatkannya.

[ detail ]

Posted in Kesehatan, Politik, Yogyakarta, Daily Life | 4 Comments »

Merdeka Itu..    Print This Post   Email This Post

Tuesday, August 16th, 2011

Tulisan kali ini singkat saja, sekedar memberi pembanding bahwa sesingkat apapun entry sebuah blog, jauh lebih panjang dibandingkan sebuah twit, dan akan bertahan lebih lama, tentu saja. :) Jadi, langsung saja, merdeka itu bagi saya adalah:

1. Kebebasan menyatakan pendapat, tanpa harus takut ancaman subversif.

2. Kebebasan memperoleh informasi, apapun, tanpa harus dipaksa tunduk oleh aturan yang tidak masuk akal. 

3. Kebebasan mengamalkan kepercayaan tanpa harus dihantui oleh ancaman mayoritas.

4. Terpenuhinya hak-hak asasi sebagai warga negara, terutama pendidikan, kesehatan dan informasi.

5. Ketika negara dipimpin oleh orang yang kompeten di bidangnya, dan fokus dalam penyejahteraan warga.

6. Hilangnya represi paramiliter dan dihancurkannya kelompok-kelompok anarkis (tepatnya perusak) atas nama agama ataupun bukan, oleh negara.

7. Ketika kebanggaan lahir dengan sendirinya, bukan dengan pemaksaan ataupun ancaman.

8. Ketika negara (dan rakyat) sudah tidak lagi dihantui hutang.

9. Ketika koruptor dan pemerkosa dihukum seberat-beratnya tanpa ampunan (maaf, saya manusia biasa, pengampunan bagi saya ada batasnya).

10. Hilangnya militerisme di segala lini masyarakat sipil dari tingkat kelurahan hingga negara. Militer cukup berada di barak.

Ini serba sedikit hal yang bisa saya tuangkan, bisa jadi esok hari sudah bertambah lagi. Anda boleh tidak setuju, karena saya menghormati kemerdekaan yang saya artikan menurut pendapat pribadi saya ini.

Vale, demi kemerdekaan.

El rony, belum merdeka.

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Posted in Politik, Neolib, blog, Daily Life | 7 Comments »

Tropical Rising Moon - Sebuah Lagu    Print This Post   Email This Post

Wednesday, July 6th, 2011

Sitting here staring at a full tropical rising moon
New dreams start glidin’ into the air
others will end too soon

Dance your way across the evening sky
n’ among a million stars
Bring close all those who wish upon you
All the hearts near and far

Keep your secrets safely tucked away tropical rising moon
Lighten up all romantic moments shared in a million rooms

Light the stars, candles in this night tropical paradise
While the palm trees dance cheek to cheek
And wait for the sun to rise

On a distant sandy shore
blue waves roll on by
Racing down with silky clouds
that swirl across the trade winds skies

Smile upon the dozy island bay tropical rising moon
Gently lead it into the cool night
and out of the heat of noon

Sitting here staring still at you tropical rising moon
Thank you for watching over her sleep and for giving me this tune

Ini adalah lirik lagu “Tropical Rising Moon”, sebuah lagu yang dikarang oleh Om Gianni (demikian kami menyebutnya), suami dari mbak Elaine. Lagu ini dikarang oleh om Gianni ketika menunggui istrinya itu menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Sambil menemani mbak Elaine terbaring, kasih sayang om Gianni tertumpah dengan jujur. Kini mbak Elaine telah pergi, setelah sekian lama berjuang melawan kangker yang menggerogoti tubuhnya. Selamat jalan mbak. :(

[ detail ]

Posted in Daily Life | 4 Comments »

Maaf Kawan, Kita Bersimpang Jalan :)    Print This Post   Email This Post

Friday, July 1st, 2011

Pilihan hidup seringkali bertabrakan dengan pilihan hidup teman lain. Namun selayaknya hal seperti ini tidak menjadi ganjalan dalam pertemanan. Bukankah keseragaman itu membosankan? Setidaknya inilah yang kualami beberapa hari ini, bagaimana pilihan hidupku, tiba-tiba harus berhadapan dengan pilihan atau mungkin kompromi yang dilakukan oleh sahabatku.

Tidak ada yang baru di bawah naungan matahari, semuanya hanya berulang dan berulang mengikuti siklus ciptaan-Nya. Namun proses pencarian masing-masing orang mengalami perkembangan, proses pencarian ini pula yang mengakibatkan persimpangan pilihan antara aku dengan teman-temanku.

Narasi Besar

Tentu saja, hal ini jadinya mirip dengan “agama”, yaitu satu konsep hubungan antar manusia dalam ruang makro bernama dunia, antara satu orang dengan orang lainnya. Masing-masing memegang anggapannya atas pandangan terhadap dunia. Apakah dunia itu bulat, apakah dunia itu datar, kembali ke keyakinan masing-masing.

[ detail ]

Posted in Neolib, blog, Daily Life | 3 Comments »

Sepenggal kisah, Ruyati    Print This Post   Email This Post

Friday, June 24th, 2011

Tulisan ini bukan analisis, sebagaimana tulisan-tulisan saya yang lain, sekedar uneg-uneg saja. Dan karena sifatnya sama dengan tulisan saya yang lain, sebenarnya saya tidak perlu menuliskan lagi disclaimer ini :). Ya, saya hanya ingin membagi resah terkait kasus Ruyati. Siapa dia? Dia adalah seorang TKI yang mendapatkan hukum pancung dari pemerintah Arab Saudi. Dikabarkan bahwa dia telah membunuh majikannya, sehingga hukuman tersebut –sesuai dengan negara dimana dia berada– layak dikenakan padanya.

Ruyati, seorang perempuan Bekasi berusia 54 tahun, usia yang cukup uzur untuk ukuran seorang perempuan, menjadi TKI di Arab Saudi. Keberangkatannya pada Tahun 2008 adalah keberangkatan yang ketiga kalinya. Dikabarkan bahwa pihak keluarganya sempat melarang kepergiannya, namun dia bertekat berangkat, dengan alasan demi masa depan. Perusahaan yang menyalurkannya memanipulasi usianya supaya bisa berangkat, menjadi 9 (semblian) tahun lebih muda.

Dialog dengan keluarganya masih berjalan hingga kabar terakhir sebelum majikannya meninggal, bahwa Ruyati sempat dirawat di Rumah Sakit dan tangannya remuk sehingga perlu dipasangi pen. Demikian informasi yang berhasil dihimpun oleh wartawan PedomanNews.

Lantas Kenapa?

Diberitakan dimana-mana, dirilis pula oleh pemerintah Arab Saudi, bahwa Ruyati terbukti dan mengakui bahwa dialah penyebab kematian majikannya. Hukuman mati dengan cara dipancung menjadi putusan final karenanya. Apakah memang demikian? Kejadian sudah berlangsung, sudah lewat, dan saya juga bukan dalam kapasitas seorang detektif. Saya hanya ingin kembali mempertanyakan posisi negara.

[ detail ]

Posted in Neolib, Daily Life | 1 Comment »

Negeri Pencitraan    Print This Post   Email This Post

Thursday, June 9th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Membaca berita soal siswa berinisial AL (SDN Gaden, Surabaya), saya seakan bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya. Diceritakan bahwa AL adalah siswa yang diajari untuk selalu jujur oleh orang tuanya. Alkisah ketika ujian kemarin, AL diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan ke siswa yang lain. Adalah kebetulan AL ini adalah siswa bibit unggul (demikian info dari teman saya, Rizki Suluhadi, lulusan ITS). Pergulatan batin antara ajaran sang ibu dengan ketakutan untuk melawan kehendak guru, AL memilih memberikan contekan jawaban salah. 

Orang tua AL yang merasa ini melukai apa yang dia ajarkan selama ini ke anaknya, berusaha mendapatkan informasi ke sekolah terkait, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, sehingga meneruskan ke dinas pendidikan. Akibatnya kemudian terbukti cerita tersebut benar adanya, sehingga beberapa guru termasuk kepala sekolahnya mendapatkan sanksi. Namun apalacur, walimurid lain justru menyalahkan tindakan orang tua AL, bahkan mereka terancam terusir dari desa tempat mereka tinggal.

Cerita lengkapnya bisa Anda cari di Google dengan kata kunci SDN Gaden. Salah satunya adalah di detiksurabaya.

[ detail ]

Posted in Pendidikan, Neolib, Culture, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »