Ketika Keyakinan bertemu Logika
Wednesday, May 23rd, 2007
Pernah dengar cerita ini?
Seorang pemuka agama (bayangkan saja pemuka agama yang familiar dengan Anda) suatu hari berjalan di sebuah kota yang baru saja didatanginya. Dia, lengkap dengan attribut keagamaan di sekujur tubuhnya serta bibirnya terlihat selalu bergerak seakan memanjatkan doa di setiap tarikan nafas, berjalan sambil menengok ke kanan kiri. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kertas. Lantas dilihatlah olehnya seorang anak kecil yang sedang bermain sendirian. Dihampirinya anak kecil tadi, dan terjadilah dialog berikut:
Pemuka Agama: “Nak, tahukah kamu jalan menuju Kantor Pos?”
Anak Kecil: “Oh jalan ini lurus saja pak, nanti perempatan belok ke kiri. Sesudah itu kalau bapak ketemu pertigaan, beloklah ke kanan. Di ujung gang itu bapak akan menemui jalan besar, nah belok ke kiri lalu lurus saja. Nanti di kiri jalan ada papan besar bertuliskan Kantor Pos”
Pemuka Agama tadi tampak senang dan puas, lantas dengan wajah paling teduh yang pernah ada, dia berkata kepada anak itu
“Terimakasih ya nak, besok di akhirat, bapak akan bimbing kamu menuju jalan surga”
AnakKecil menjawab,”Sudahlah pak, jalan ke kantor pos saja bapak tidak tahu, kok mau nunjukkin jalan ke surga”
Ini hanya anekdot. Tidak benar-benar terjadi.
vale..
el rony, sedang tidak bisa menulis
Posted in Culture, Daily Life | 15 Comments »
Taspen I - Mengurus UDW
Monday, May 14th, 2007
Tulisan ini saya buat dengan tujuan berbagi informasi mengenai lika-liku mengurus surat-surat berkait dengan PT TASPEN. Tulisan ini rencananya akan saya buat minimal dalam dua tahap, yaitu dari mulai mengurus UDW (uang duka wafat) hingga SPPT Janda. Semoga berguna.
Bagi teman-teman dan saudara sekalian yang memiliki orang tua pegawai negeri, atau bahkan Anda sendiri yang pegawai negeri sipil, tentu tidak asing dengan nama TASPEN. Tabungan Asuransi Pensiun adalah sebuah perusahaan yang menangani biaya pensiun untuk pegawai negeri. Kebetulan almarhum ayah saya adalah pensiunan pegawai negeri sipil, dulu beliau menjabat sebagai Kepala SMP.
Pada tulisan awal ini saya akan berbagi mengenai urutan pengurusan dana UDW (uang duka wafat). Informasi ini tentu saja hanya berlaku bagi pensiunan pegawai negeri yang meninggal. Dan pegawai negeri tersebut pensiun secara normal (bukan tidak terhormat atau alasan lain).
[ detail ]
Posted in Yogyakarta, Culture, how to | 13 Comments »
Untuk Kang Pur, Mantan Calon Rektor UGM
Monday, April 23rd, 2007
Terhambat ya kang. Administrasi katanya ya.. Hehe.. ya begitulah. Syarat “berpengalaman” mau nggak mau memang saringan paling handal untuk “menyingkirkan” orang-orang dengan pola pikir “aneh” seperti sampeyan. Sing sabar kang!
Seperti telah saya sampaikan kemarin, dalam tulisan Kabar dari Yogya (lagi), bahwa Kang Pur menjagokan diri menjadi rektor UGM. Kenyataannya langkahnya harus terhenti karena syarat administratif.
Salah satu syarat menjadi rektor adalah memiliki pengalaman tiga tahun menjabat jabatan struktural di lingkungan kampus. Menurut salah satu pengurus senat, syarat ini merujuk pada pengalaman individu memimpin dari mulai KaJur (kepala jurusan) hingga jabatan struktural tinggi baik di tingkat dekanat maupun rektorat.
Kang Pur, dalam formulir persyaratan menuliskan pengalaman sebagai Rektor ISBUJA. ISBUJA sendiri adalah Institut Budaya Jawa, yang didirikannya semenjak tahun 2001 yang lalu. Permasalahannya adalah ISBUJA ini tidak terdaftar dalam KOPERTIS. Sehingga dinyatakan bahwa hal ini tidak sah demi hukum, atau semacam itu. Maka gagallah dia menjadi rektor. [ detail ]
Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, blog | 15 Comments »
Kabar dari Yogya (lagi)
Saturday, April 14th, 2007
“Apakabar?” adalah sebuah kalimat standar bagi siapa saja yang jarang bertemu. Atau sering ketemu tapi hanya sebatas “sliringan” alias ketemu sekilas, begitu ada kesempatan tentunya kita akan menanyakan kabarnya. Itu kalau kita memang peduli, kalau nggak peduli, ngapain ketemu? *lah ngomong apa sih*
Baiklah, saya menulis ini sebenarnya hanya ingin berkabar saja. Tentang suksesi di Yogyakarta. Sedang ada pesta besar di sini, yaitu menghadapi suksesi gubernur dan suksesi rektor UGM.
Kangmas (biar dikira saya berdarah biru gitu) Sultan Hamengkubuwono X, sudah menyatakan bahwa beliau tidak mau lagi menjabat sebagai gubernur. Pernyataan ini tentu saja memicu banyak tanggapan. Antara lain:
- Dari Para Lurah/kepala desa:
Mereka menyatakan bahwa masyarakat Yogyakarta masih ingin mempunyai gubernur seorang sultan. Kecintaan rakyat Yogyakarta atas Sultan-nya, tidak mengering. Kurang lebih demikian yang disampaikan. - Dari Pejabat Keraton (Gusti Tirun dan Jaya):
Itu hak Sultan. Kalau memang beliau sudah berkeputusan, maka sabda pandhita ratu harus dipatuhi, bukan hanya oleh para kawula tetapi bahkan oleh sang raja sendiri. Kedua orang ini bahkan mengatakan bahwa gubernur tidak harus dari lingkungan kraton. Saya kok sepakat dengan mereka ya, biar sosok sultan tetap bersih dari kotoran-naif bernama politik praktis kekuasaan. - Dari Roy Suryo:
Itu hanya kiasan saja, pertanda. Kalau sultan saja yang paling pantas memimpin Yogya bilang tidak mau dipilih, apalagi yang lain yang jauh lebih tidak berhak, sebaiknya tidak usah mengajukan diri jadi gubernur.
Nah, kurang lebih itu pendapat yang beredar. Pendapat terakhir dari KRMT (yang sekarang sudah jadi KRT karena bukan “mas” lagi) adalah pendapat yang saya rasa paling tidak masuk akal.
Bukan karena saya pro-proletar, ataupun karena saya anti-feodal, ataupun yang lain lagi, tetapi saya hanya tidak membayangkan kalau sampai ada kekosongan kekuasaan. Emangnya Yogyakarta mau menjadi propinsi tanpa Gubernur? Gubernur tidak harus Sultan, bahkan tidak harus dari lingkungan Keraton. Hal itu sudah ditegaskan oleh beliau kangmas (asyik, kayaknya makin akrab saja saya) Sultan sendiri. Saya baik sebagai kawula Yogya maupun sebagai bagian dari masyarakat modern bernama propinsi DIY, menyatakan mendukung penuh hal ini.
Sudah saatnya kedewasaan berpolitik di wilayah ini untuk beranjak ke sana. Memberi kesempatan bagi siapa saja, siapa tahu bisa muncul sosok alim dan dekat dengan rakyat sekaliber Ahmad Dineejad. Bukan begitu? [ detail ]
Posted in Politik, Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 11 Comments »
Potret Bodoh Calon Pemimpin
Saturday, April 7th, 2007
Terpampang rapi dalam jajaran seragam dan kesombongan. Berderet dalam gegap gempita keangkuhan dan ketidaksetiakawanan. Dengan kualitas moral paling bejat, lebih bejat dari hewan. Dengan kualitas otak paling bebal, lebih bebal dari keledai. Mereka hadir dalam genangan darah bernama IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).
Apa Kata Direktur Lemhanas?
Sungguh potret kebebalan yang lebih-lebih tak terukur. Muladi bilang bahwa,”ribuan praja dalam satu kampus itu sudah terlalu banyak, sehingga sulit untuk dikontrol”, demikian apa yang ditulis oleh surat kabar. Saya membaca ketika dalam perjalanan pulang dari Jakarta, hari Kamis kemarin, dan meninggalkan kegeraman hingga siang hari ini, bahkan mungkin berlanjut.
Posted in Pendidikan, Culture | 55 Comments »
Apa Yang Haram di Negeri Ini?
Friday, March 30th, 2007
Bukan, bukan.. ini bukan tulisan keagamaan. Juga bukan upaya menghakimi sesuatu. Lebih ke pertanyaan murni. Tulisan ini diawali oleh kesedihan saya ketika melihat spanduk dengan tulisan besar dan merah: “Komunisme/Marxisme Haram di Negeri Indonesia”.
Spanduk itu tidak ada penanggungjawab siapa yang menulis, minimal tidak terpampang di spanduknya. Dan sepertinya dipicu oleh munculnya partai baru beberapa hari lalu. Namun, pertanyaan saya bukanlah tentang siapa pemicu ataupun yang dituju oleh spanduk itu, tapi lebih ke isi-nya.
Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, Semiotics, Daily Life | 17 Comments »
Komunike #2007 - Kisah Kelelawar
Wednesday, March 28th, 2007
Bagi teman-teman yang pernah mendengar kisah ini, silakan rehat. Istirahat sejenak. Bagi yang belum, mari bersama saya, menjelajahi dunia lama.
Kisah ini lahir ketika jaman hewan berbicara. Ketika bahasa belum menjadi dominasi manusia, dan ketika gugatan “akal” belum menjadi “tuhan” penentu gerak roda alam. Kisah ini muncul ketika nafsu hewan bersimaharaja, sebagaimana nafsu manusia jaman ini.
Terbelahlah waktu itu, antara kekuatan hewan udara dan hewan darat. Bagaimana dengan laut? Pada intinya adalah hewan yang menguasai udara dan hewan yang tidak menguasai udara. Jadi, hewan lautpun masuk dalam golongan partai hewan darat.
Posted in Politik, Culture, Semiotics | 9 Comments »
Blandongan, Ketika Jawa Timur Menguasai Jogja
Wednesday, January 31st, 2007
Tidak ada term politik secara langsung dari kalimat judul di atas. Kisah ini adalah kisah kuliner biasa saja, sebuah kekaguman. Blandongan adalah nama sebuah tempat ngangkring (duduk santai, ngobrol dan minum kopi atau sejenisnya) di wilayah selatan Gowok.
Di Blandongan ini pula, ratusan anak muda ngumpul pas malam minggu. Kebetulan malam minggu kemarin saya berkesempatan ngobrol dengan teman-teman lama di tempat ini. Ramai sekali. Dari teman saya yang sangat rajin keliling daerah, saya mendapatkan informasi lebih tentang tempat ini.
Kawan saya itu, Rinto Andriono, mengatakan bahwa blandongan sebenarnya adalah tempat ngopi biasa di Jawa Timur. Hampir di setiap pinggir jalan ada tempat minum kopi yang santai seperti ini. Nah, akhirnya dibawalah konsep tersebut ke Yogyakarta. Dipadukan dengan budaya ngangkring dan lesehan, jadilah tempat ini menjadi tempat favorit.
Ada hal-hal yang cukup unik di tempat ini, saya akan review satu per satu sependek pengetahuan saya.
Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 27 Comments »
Snapshot Pendidikan Anak di Yogyakarta
Wednesday, January 17th, 2007
Pendidikan anak, dalam hemat saya, adalah sebuah pijakan awal bagi seseorang untuk mencapai satu “bentuk”. Proses awal pendewasaan, ibarat penempatan pondasi ketika kita sedang membangun rumah.
Oleh karenanya saya sangat peduli dengan pendidikan ini, apalagi jika kita mencoba mengikuti sebuah teori tentang perkembangan sikap seseorang. Menurut teori tersebut, sebuah sikap dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu: lingkungan, pendidikan dan orang tua. Dari sini terlihat bahwa pendidikan memiliki porsi yang lumayan besar.
Maka kali ini saya akan coba mengulas dua metode pendidikan yang dilangsungkan oleh dua lembaga pendidikan yang berbeda.
Metode I : Disiplin Adalah Segalanya
Metode ini digunakan oleh sebuah lembaga pendidikan swasta yang terkenal di Yogyakarta. Lebih tepatnya, hampir semua lembaga pendidikan di kota ini menganut kepercayaan bahwa seorang anak harus diajarkan disiplin secara ketat sejak dini. Dan lembaga pendidikan yang terkenal sebagai lembaga teladan di kota ini, sebuah sekolah dasar muhammadiyah terkenal ataupun TK yang tak kalah terkenal dengan embel-embel anak sholeh, adalah contoh lembaga yang menerapkannya dengan patuh.
Mari kita tengok bagaimana mereka memulai aktivitas belajar-mengajar. Dalam lembaga ini, terutama SD yang terkenal tersebut, aktivitas dimulai sejak pagi sekali. Guru diharuskan datang sebelum murid datang. Maka tak heran jika guru sudah berjejer di depan sekolah ketika murid-murid datang.
Posted in Pendidikan, Yogyakarta, Culture, Daily Life | 39 Comments »
Orang Dewasa Itu.. Anak-anak Itu…
Tuesday, January 9th, 2007
Sebuah pagi yang cerah, hari Minggu kemarin, dengan kelelahan yang menumpuk menunggu untuk dilampiaskan dengan bermalasan seharian. Sebenarnya bulan ini tidak pantas untuk menikmati hari cerah, bagaimanapun kita belum cukup puas dengan hujan yang turun, namun tak apalah toh tubuh butuh istirahat.
Jam 10:00 pagi, ketika sedang menimbang pertanyaan sulit “mandi atau tidak”, saya kedatangan tamu. Teman saya, Rinto dan Dati dengan anaknya. Wah, senang saya. Pertama karena alasan untuk menunda mandi jadi jelas, kedua karena saya memang merindukan mereka.
Rinto dan Dati ini adalah pegiat organisasi yang saya kenal sudah sejak lama. Kedatangan mereka dengan anaknya, Lintang, mewarnai hari cerah itu dengan warna yang lebih sejuk. Terutama Lintang, yang mengenal saya sebagai orang gondrong. Apa daya, rambut sudah terpotong.
Mengapa sih..
Dan di sinilah awal kisah alasan saya untuk menulis artikel ini. Lintang, perempuan kecil usia 3 atau 4 tahun, yang lincah dan lucu ternyata menyimpan kisah-kisah yang dalam pandangan saya layak dicatat.
Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 20 Comments »

