Maka kunamakan kamu: Munafik Ismail!
Monday, March 28th, 2011
(sms Taufiq Ismail) HU AR Rini Endo. Saya baca di internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Sambodja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sunber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yg pantas (Taufiq Ismail)
SMS di atas dikirim oleh Taufik Ismail, tokoh dunia sastra Indonesia, kepada salah satu panitia #koinsastra. Dan SMS itu pula yang membuat saya meradang pagi-pagi. Tidak menyangka orang sekelas beliau mengirim SMS dengan isi dan nada seperti itu.
Sebelum terlalu jauh, mari saya ceritakan serba sedikit tentang apa itu #koinsastra dan kejadian apa yang melatarbelakangi munculnya SMS itu. Mohon yang tahu informasi lebih dalam mengoreksi atau menambahi keterangan saya ini.
Posted in Politik, Neolib, Culture, blog, Semiotics | 19 Comments »
Satu Minggu Satu Posting - sebuah cita-cita
Friday, March 25th, 2011
Jumlah pemakai Internet di Indonesia saat ini mencapai 30.000.000 orang, yang artinya dari 100 penduduk Indonesia 12 di antaranya aktif terhubung dengan internet. Jika kita lihat di Tahun 2000, jumlah pemakai internet hanyalah sekitar 2 Juta orang. Hal ini menunjukkan tingkat kenaikan yang luar biasa pesat hanya dalam jangka 10 tahun saja. Sumber Internet World Stats.
Pertanyaan yang menghantui kepala kita semua kemudian, apa yang bisa kita lakukan dengan hal itu?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, marilah kita santai dan berandai-andai saja dahulu. Saat ini hampir bisa dipastikan setiap orang yang mengerti dunia internet sudah barang tentu mengenal yang namanya Google. Mesin pencari ini memang luar biasa, dia berhasil mengubah pola manusia berinternet. Sekarang hampir bisa dipastikan setiap orang menemukan satu hambatan/masalah mereka akan mencari jalan keluarnya melalui mesin ini. Dari hal teknis sehari-hari, pendidikan bahkan hingga ke pertanyaan-pertanyaan musykil yang kadang diajukan oleh anak kecil, semua bisa dicari jawabannya melalui mesin ini.
Lalu Muncul SEO
Trend pengguna internet ini tentu saja tidak lepas dari pengamatan para pakar marketing. Penetrasi mereka ke dunia Internet melahirkan pakar-pakar baru di dunia teknis jejaring, lahirlah pakar SEO. Apa sih SEO? SEO singkatan dari Search Engine Optimization, yang kurang lebih adalah mensiasati agar satu kata kunci bisa lekas muncul di halaman depan ketika seseorang melakukan pencarian di mesin pencari.
Kehadiran pakar SEO ini tentu saja tidak bisa dihindarkan dan itu sah-sah saja. Masalah kemudian muncul ketika para pegiat SEO ini membabi buta dalam menjalani tugasnya. Sungguh menyebalkan ketika kita sedang benar-benar membutuhkan jawaban atas sesuatu, namun ketika kita search di Google, yang muncul halaman-halaman tanpa isi atau bahkan yang isinya tak berkaitan sama sekali. Para ahli SEO ini, dengan ilmunya, berhasil memanipulasi peringkat pencarian dari mesin pencari. Satu capaian yang patut diacungi jempol, seandainya saja mereka melakukannya dengan benar.
Lantas Bagaimana?
Tidak perlu kita risau, peringkat di mesin pencari dinamikanya sangat tinggi. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mengubah perilaku kita di Internet. Dari yang tadinya sekedar menjadi leecher atau “tukang download”, mungkin akan lebih baik kalau mulai sekarang kita menjadi seeder alias “tukang upload”.
Yang saya maksud di sini bukanlah mengunggah file-file besar seperti lagu dan film. Itu juga boleh sih, tapi intinya mengunggah content ke Internet sehingga bisa menyumbang library di mesin pencari. Konten apapun tentang apa saja yang ada di sekitar kita.
Satu Minggu Satu Posting
Maka demikianlah, saya mencoba membuat satu langkah sederhana saja. Bukan 365 hari menulis, bukan 30 hari mengunggah foto, yang mana bagi saya itu terasa berat. Dalam bayangan saya, cukup satu posting saja setiap minggu. Posting bisa berupa apa saja, dari mulai blog (menulis) hingga mengunggah foto.
Saya membayangkan, jika tiap minggu ada 30juta posting, maka tiap minggu mesin pencari akan mendapatkan 30 juta informasi yang nantinya akan menambah perbendaharaan konten tentang Indonesia. Ya, konten tentang Indonesia masih terlalu sedikit. Ribuan pulau, ribuan kegiatan, jutaan perbendaharaan adat dan kata, serta banyak lagi, masih belum terdokumentasi di Internet. Maka, dengan membiasakan membuat posting (cukup satu saja) setiap minggunya, harapannya perbendaharan ini akan semakin kaya.
Catatan Kaki
Dengan tema ini, sebenarnya memposting apapun di media sosial saat ini (facebook, twitter, plurk, dan lain-lain) pun sah-sah saja. Hanya saja, media itu tidak memberi ruang yang berjangka panjang. Satu contoh saja, twitter hanya menyimpan data twit kita dalam hitungan minggu. Setelah itu, twit kita akan hilang. Sungguh sayang sekali.
Maka, mari kita mulai.
Vale, demi informasi
El rony, menari bersama jari jemari
nb. Ide ini juga muncul dikarenakan kegelisahan mas dua januari yang tak lain dan tak bukan adalah Bocahmiring.
Posted in Culture, blog, Technology | 31 Comments »
Tentang Sesuatu yang Dimulai dari Kecil
Thursday, March 17th, 2011
Adalah kebetulan, terserah bagaimana Anda memaknai tentang kata kebetulan itu, saya hari ini bertemu dengan orang hebat. Dia adalah Invani, seorang pemudi yang mempunyai semangat luar biasa, yang sedemikian pedulinya dengan lingkungan sosialnya, lingkungan sosial kita juga.
Pertemuan ini memang diawali dengan sebuah kegiatan yang bersifat kerjaan, karena kebetulan (sekali lagi) dia adalah manajer untuk sebuah pertunjukan/performance dari seorang seniman Yogya, Eko Nugroho. Hal tentang Eko, perlu kusimpan dulu, karena tidak cukup melalui satu tulisan menjabarkan tentang dia.
Vani, demikian dia akrab dipanggil, bersama kekasihnya (semacam kisah romantis aktivis :D) menggagas sebuah ruang bernama Kecil Bergerak. Ruang yang tanpa dinding menurutku, karena melalui obrolan panjang yang dilahirkan oleh hujan deras di seputaran Taman Budaya Yogyakarta ini, uraian dia tentang kegiatannya sungguh sangat luar biasa. Menciptakan ruang yang hingga saat ini kita belum pernah temukan dimanapun.
Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 6 Comments »
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Wednesday, December 15th, 2010
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Tulisan ini hadir sebagai reaksi atas ungkapan Bapak Ichlasul Amal, mantan rektor UGM, di surat kabar online Suara Merdeka. Pernyataan beliau dalam menanggapi Sidang Rakyat Yogya sungguh di luar perkiraan. Dalam berita tersebut Bapak Ichlasul Amal memilih kalimat yang menyakitkan, dengan menyebut bahwa Sidang Rakyat Yogyakarta sebagai aksi show of force, cara lama yang dipakai PKI.
Saya tiba-tiba merasa seakan sedang melihat sosok yang berbeda, sosok yang sama sekali lain dengan yang dulu sempat saya kenal. Bukankah beliau juga ikut dalam Pisowanan Ageng pada Mei 1998, ketika terjadi kekisruhan dan penculikan dimana-mana? Bukankah beliau juga ada di antara kami ketika berjalan dari UGM ke Alun-Alun Yogyakarta? Ataukah waktu itu adalah beliau yang lain? Beliau yang masih murni dan masih bisa mendengar suara rakyat, mungkin?
Dua Kesalahan Besar Ichlasul Amal
Terkait pernyataan beliau tersebut, saya menggarisbawahi dua hal yang seakan tidak digubris oleh beliau. Kesalahan pertama beliau adalah memandang rendah semangat guyub rukun dan bahu membahu masyarakat Yogya. Saya tidak percaya kalau beliau tidak tahu mengenai hal ini, dan saya sangat tidak percaya kalau beliau tidak pernah mendapat ajakan kerjabakti sekalipun dari kampung tempat beliau tinggal di Yogya.
Atau bisa jadi saya salah? Bisa jadi beliau memang tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitarnya? Sibuk dengan menara gading dan singgasana kegurubesarannya? Sungguh ironis seorang guru ilmu sosial tapi tidak bersosial. Kebetulan saya tinggal di kampung yang aktif membuat pertemuan sebulan sekali pak, belum lama ini kami bekerja bakti memperbaiki jalan yang rusak. Tidak ada uang yang bicara di sana, tidak ada kepentingan politik, sepenuhnya didasari oleh kebutuhan bersama. Tidakkah bapak melihat semangat ini di balik berbondong-bondongnya warga Yogyakarta di Sidang Rakyat kemarin? Atau memang tuduhan saya benar, sampeyan lebih nyaman bertahta di singgasana keilmuan sampeyan, dan beranggapan mempunyai kuasa sehingga rakyat yang sampeyan pandang seperti pion-pion itu bisa sampeyan baca satu per satu isi kepala dan hatinya?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 12 Comments »
Yogyakarta: Untuk Apa Mempertahankan Status Istimewa
Monday, December 13th, 2010
Polemik tentang hal ini sudah sebulan ini bergulir. Tentu guliran isu ini tidak akan sebesar dan semasif ini kalau tidak ada pemicu utamanya, dan alangkah kebetulan pemicunya justru pucuk pimpinan di negeri ini sendiri, SBY. Penggalan kalimat yang dirasa paling menyakitkan bagi rakyat Yogyakarta adalah “Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi”. Pernyataan ini menohok dalam ke hati warga Yogyakarta. Kelas menengah di wilayah ini, mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tentu saja tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena sudah tercatat dalam sejarah dari awal hingga keberadaan negeri ini saat ini, Yogyakarta tak pernah lekang menjadi tempat yang aktif menjadi penggerak demokrasi. Kelas menengah yang selama ini bisa dibilang hidup di dunianya, sibuk dengan kehidupannya, kini turun ke gelanggang dengan opini dan aksinya.
Pak Beye sudah “meralat” pernyataannya itu dengan mengatakan bahwa tujuan dia adalah menegakkan demokrasi di wilayah ini, dan salah satu pilar yang harus ditegakkan adalah bentuk pemilihan langsung kepala daerah. Namun reaksi atas reaksi ini justru menimbulkan reaksi lebih baru lagi, kini pernyataan “Penetapan adalah harga mati” mulai mencuat. Aksi reaksi ini, patut dicatat, adalah bentuk ketidak arifan penguasa dalam menyikapi rakyatnya.
Namun, terlepas dari ketidakcakapan pemimpin kita, yang mana sebenarnya tidak bisa kita tuntut karena dalam kampanyenya dulu yang ditonjolkan adalah “ganteng”-nya, mari kita bertanya kembali, apakah memang perlu mempertahankan status keistimewaan Yogyakarta?
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 27 Comments »
Yogya, Tempat Harapan Tak Pernah Padam
Sunday, November 7th, 2010
Merapi bergolak kembali tiga hari yang lalu, hujan pasir melanda sebagian besar wilayah Jogja utara. Para pencetus kata “seyogyanya saya utarakan” berbondong-bondong mengungsi ke bawah. Kedatangan para pengungsi ini, langsung disambut dengan berbagai hal yang mengharukan. Dari mulai siraman air bersih ke kaca-kaca mobil yang lewat, yang tertutup pasir dan abu, hingga tulisan besar-besar “silakan masuk ke sini bagi para pengungsi” di beberapa rumah. Saya terharu
Tidak harus menunggu lama, tanpa ada satu instruksi berupa rentetan keharusan-keharusan, warga Jogja bahu membahu membantu para pengungsi. Bahkan simbah-simbahpun ikut membuat nasi bungkus agar para pengungsi tidak kelaparan. Para pemuda bergabung dalam posko-posko mengkoordinir bantuan dan mendistribusikannya. JalinMerapi, lingkar komunitas yang terdiri dari pegiat radio komunitas, yang sudah berada di seputar merapi sejak beberapa minggu, menjadi sumber informasi utama pendistribusian bantuan.
Menanggapi kejadian ini pula, warga online Jogja, mereka yang aktif di dunia blog, twitter, plurk, facebook, friendster, komunitas blackberry dan lain-lain, bergabung dalam satu jaringan koordinasi JogjaOnliners. Keberadaan mereka seakan menjawab kegelisahan sebagian besar pengamat sosial akan punahnya kebersamaan dikarenakan hadirnya teknologi.
Posted in Yogyakarta, Culture, Daily Life | 5 Comments »
Komunike #1001 - Buah Ketekunan
Sunday, October 17th, 2010
Tidak ada kata kebetulan, demikian ungkapan satu filsuf terkenal, demikian juga agama saya mengajarkan. Tetapi adalah kebetulan bahwa seminggu ini saya bertemu dengan tema ketekunan dimana-mana. Dalam satu diskusi panel antara Antariksa (pemilik kunci.or.id) dan Marzuki (alias @KILDDJ, rapper pemilik whatevershop), membahas tentang sub kultur perlawanan, diakhiri dengan pesan untuk tekun dalam bidangnya, sebagai satu wujud perlawanan.
Hari ini, saya membaca ulasan di Kompas tentang perkembangan desain cover di Indonesia, di situ kawan karib saya Windu (nickname windutampan) hadir beserta karya-karyanya bersanding atau bisa dibilang vis a vis dengan karya Si Ong Hari Wahyu, desainer kawakan dari Yogya. Hal yang membuat saya sampai pada ketekunan adalah kenyataan bahwa Windu baru mengenal komputer (literally) semenjak tahun 2002 akhir.
Dalam keterlambatan atas perkembangan teknologi itu, Windu tak patah semangat dan terus memacu diri hingga akhirnya karya-karyanya diakui. Dia kini bahkan sudah sampai taraf penggarapan poster film. Adapun karya dia dalam cover, mendapat tempat tersendiri di ulasan Kompas hari ini, sebagai wakil generasi desainer cover muda.
Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 5 Comments »
Olahraga Di Negeri Bedebah
Monday, May 17th, 2010
Geregetan saya membaca berita soal pelatih Lin Dan yang baru-baru ini mempecundangi Taufik Hidayat di final Thomas Cup. Ternyata Tong Sinfu berada di belakang kesuksesan Lin Dan. Tong Sinfu adalah pelatih tim bulutangkis Indonesia yang sukses mengantar Alan Budikusuma dan Susy Susanti memperoleh Medali Emas dalam Olimpiade Barcelona 1992. Bahkan, Tong kemudian ikut membidani lahirnya generasi Hendrawan. Namun betapa menyesakkanya, beliau harus hengkang dari Indonesia –setelah deretan prestasi beliau– dikarenakan pengajuan kewarganegaraan beliau ditolak. Berita mengenai hal ini bisa dibaca di Kompas.
Yang membuat saya semakin geregetan karena saya teringat dengan klub olahraga nasional yang lain, PSSI. Dana mengalir deras, bahkan sempat didukung oleh APBD, sampai sekarang tong kosong mlompong gak ada prestasinya, ditambah dengan pimpinannya yang NAPI dan membuat nama Indonesia TERCORENG di mata FIFA. Orang yang seperti ini yang dibela oleh negeri bedebah ini, sampah yang tak menyumbang apapun!
Nasib Para Pahlawan Olahraga
Kalau kita search melalui Google dengan keyword Heryanto Arbi SKBRI, maka akan kita temukan catatan bagaimana memalukannya negeri kita memperlakukan anak bangsanya. (Terimakasih kepada Om Eko untuk keyword ini).
Posted in Kesehatan, Politik, Culture, Daily Life | 52 Comments »
Sumpah! SMS Sambil Menyetir itu Norak!
Thursday, February 4th, 2010
Lebih tepatnya mainan HP sambil menyetir, dengan lagak sekejap melihat jalan lantas balik lagi ke layar HP, itu sama sekali tidak keren! Tindakan bodoh yang hanya memakan korban, bukan cuma pelaku tetapi pengguna jalan yang lain.
Kemarin, temanku dan istrinya jatuh dan terseret yang mengakibatkan keduanya luka-luka dikarenakan seorang pengguna jalan yang sok-sokan smsan sambil menyetir. Kejadian yang menimpa temanku itu adalah kasus yang kesekian kalinya dari kejadian serupa. Dan sayapun melihat kejadian ini dimana-mana, bukan kecelakaannya untunglah, tapi perilaku pengguna jalan yang entah-sms-an-atau-apa sambil menyetir.
Maka, saya persembahkan Iklan Layanan Masyarakat ini. Dipersembahkan untuk Anda dari Emak Anda dan pengguna jalan yang lain. Silakan disebarkan kalau Anda berkenan.
Harap selalu Anda ingat, camkan di benak Anda, dengan melakukan tindakan bodoh itu, Anda berpotensi menjadi seorang pembunuh.
vale, demi kesehatan dan sedikit kecerdasan
el rony, akan menuntut MUI mengeluarkan fatwa haram bagi tattoo goblok di jidat.
Posted in Kesehatan, Culture, blog, how to, Daily Life | 16 Comments »
Tentang Anak, Pertemanan dan Polisi
Tuesday, February 2nd, 2010
Tulisan ini dipicu oleh berita tentang Pengadilan Anak di Surabaya. Dikabarkan bahwa seorang anak bermain-main di sekolah membawa lebah, menempelkan lebah itu ke pipi temannya lalu sang lebah menyengat pipi temannya tersebut. Akhirnya sang anak terdampar di proses peradilan, yang walaupun vonisnya kemudian dinyatakan bebas namun hari-hari penuh teror mental itu pastilah mempengaruhi jiwa sang anak.
Juga tentang seseorang bernama Lanjar. Sungguh naas nasibnya, dalam perjalanan mudik, istrinya kecelakaan dan meninggal dunia, sudah begitu Lanjar dipenjara. Kenapa bisa begitu? Tentu saja tidak lepas dari pemilik mobil panther yang ternyata anggota kepolisian. Sang istri terhempas ke samping, tersambar oleh mobil panther hingga meninggal, sang suami terlempar ke penjara. Singkatnya begitu. Nasib? mungkin.
Saya jadi teringat dengan metode pembelajaran para orang tua dulu, metode yang sangat saya benci dan sudah berulang kali saya tuliskan di blog ini sebagai metode yang salah. Orang tua kita (yang jelas orang tua saya sih) dulu sering kali mengucapkan kata,”awas, nanti aku bilangin pak polisi” ketika kita tidak menurut. Metode inipun masih saya lihat ketika saya sudah menginjak SMA, dilakukan oleh tetangga-tetangga saya ketika anak-anak mereka tidak mau makan.
Posted in Pendidikan, Culture, Daily Life | 8 Comments »
