Shoot The Messenger
Friday, November 18th, 2011
Begitulah, dalam tiap diskusi, hampir dengan siapapun, dalam tema apapun, sering sekali saya menemukan sikap seperti dalam judul. Bukan berpegang pada pesan yang disampaikan, tetapi lebih ke mencari kesalahan sang penyampai.
Hari ini saya senang sekali, karena kebetulan khatib sholat jumat kali ini, uraiannya cerdas. Sudah beberapa kali saya mendapati beliau berkhutbah, dan sedari dulu, sikap beliau selalu pas dengan nalar. Kali ini beliau bercerita soal da’wah. Adda’a, ud’u, yad’u, do’a. Berseru.
Hakikat dakwah adalah berseru. Ini menjadi kewajiban tiap kita. Bukan berarti kalau tidak melakukan lantas berdosa, tetapi ini amanat yang memang diberikan oleh pendiri agama saya ketika beliau melaksanakan ibadah haji wada’ (terakhir). Saya sangat yakin, seruan ini juga ada pada tiap agama. Intinya, mari menyerukan atas kebaikan kepada semua orang.
Posted in Pendidikan, Culture, blog | 4 Comments »
Abai
Tuesday, November 1st, 2011
Kata ini terngiang terus di kepala saya. Pernah adakah satu penelitian serius yang mengungkapkan peningkatan satu sikap abai dari satu komunitas/penduduk? Apakah linear, exponensial atau bagaimana? Faktor apa saja kiranya yang membuat menjadi seperti itu?
Tulisan ini dipicu dari pengalaman pribadi saya, dimana saya terlanjur masuk satu lorong (jalan tikus) untuk menuju satu tempat, dan terpaksa putar balik karena ternyata di tengah-tengah jalan tikus tersebut sedang ada proyek galian yang menutup akses. Saya bingung, kenapa tidak dari depan pintu masuk jalan tikus itu diberi tanda atau peringatan soal pekerjaan ini?
Empat jam kemudian saya lewat pintu masuk tadi, dan ternyata sudah ada tanda peringatan dimaksud. Saya tidak sempat menghitung, berapa orang yang “terjebak” harus putar balik karena tanda itu terlambat ada. Ditambah pula, sekian pekerja yang ada di tempat itu, seakan tidak peduli. Mereka membiarkan pengemudi berjalan sampai ke dekat lokasi (meski sebenarnya sudah terlihat dari jauh), dengan harapan masih bisa lewat, dan harus kecewa karena ternyata tertutup total.
Saya tidak habis pikir, tidak satupun dari pekerja di situ yang melambaikan tangan memberi tanda bahwa tidak bisa lewat. Juga beberapa penduduk yang ada di ujung belokan gang, yang tahu persis keadaan di situ, seakan tidak peduli juga. Urusanmu urusanmu sendiri, urusan saya sudah banyak. Mungkin seperti itu.
Posted in Neolib, Culture, Daily Life | 1 Comment »
Hutang kok bangga
Thursday, August 4th, 2011
Hari ini adalah hari ke empat puasa. Beruntung sekali saya bertemu bulan ini, tidak lama setelah satu proses penuh emosi terjadi. Ibaratnya menemukan oase ketika kehausan. Tetapi saya tidak ingin bercerita tentang hal itu, saya lebih ingin menceritakan apa yang terjadi di kepala saya, di otak saya maksudnya, setelah peristiwa itu.
Apa yang terjadi dengan saya terkait dengan uang. Saya sungguh baru berhadapan sekali itu dengan orang yang sangat tamak, sementara dia belum beberapa lama baru pulang dari Tanah Suci. Saya terus terang tidak bisa habis mengerti, bagaimana orang bisa sedemikian dikendalikan dengan uang. Lantas pikiran sayapun berkembang, karena kebetulan orang-orang di sekitar saya yang juga terlibat dalam kejadian itu, memiliki kemiripan satu lagi. Hutang.
Kenapa dengan hutang?
Hutang sepertinya sudah menjadi jalan hidup sekarang. Pingin TV, hutang. Pingin kendaraan, hutang. Pingin baju, hutang. Bahkan dengan pola pikir paling bodoh yang menancap di kepala para manusia Indonesia, yang memandang pemilik kartu kredit adalah golongan keren, budaya hutang ini semakin merasuk bahkan hingga ke urusan makan.
Orang hutang tidak lagi malu-malu. Kalau dulu, manusia malu-malu mencari waktu, menunggu sambil memperhatikan sekiranya target sedang lunak hatinya, untuk kemudian memohon diberikan hutang. Kini? Orang hutang dengan petentang-petenteng, bahkan dalam satu cerita ada yang pakai acara membentak-bentak pelayan sebuah restoran, padahal dia ya cuma tukang hutang. Sungguh sial.
Posted in Neolib, Culture, blog | 9 Comments »
Menjadi Manusia
Friday, July 29th, 2011
Tersentil oleh ucapan kek Ivo, “Hanuman bisa bertindak jauh lebih manusiawi daripada semua orang lainnya, karena seumur hidup dia ingin menjadi manusia”. Kalimat yang lugas namun penuh makna. Mengingatkan kita untuk berkaca, apakah kita benar-benar sudah menjadi manusia?
Dalam budaya Jawa –maaf, saya orang Jawa, jadi memang budaya ini saja yang benar-benar saya tahu– terdapat satu ungkapan yang terkenal, “ojo diseneni, cah cilik kuwi pancen durung Jowo”. Arti langsungnya adalah “jangan dimarahi, anak kecil itu memang belum Jawa”. Bagi saya pribadi, keberadaan kata Jawa di sini tidak berhenti di tanah Jawa saja, atau wilayah mataram semata. Kata Jawa mewakili dunia seluruhnya, hal ini wajar karena dunia manusia Jawa waktu itu, memang hanyalah seputar wilayahnya berada.
Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 1 Comment »
Pesan dari Negeri Dagelan
Saturday, June 18th, 2011
Apa jadinya jika sekelompok pendagel senior berkumpul dan manggung bersama? Yang saya rasakan adalah perut mengeras, mata beleken karena air mata segera mengering begitu terterpa AC, dan tenggorokan kering. Tertawa tanpa henti dari awal hingga tiga jam kemudian, ketika mereka selesai manggung.
Saya sedang bercerita tentang lasykar dagelan. Satu pertunjukan yang digelar oleh seniman-seniman Yogya dengan iringan hentakan musik hiphop dari Jogja Hiphop Foundation dari awal hingga akhir. Kemasan cerita yang apik tidak bertabrakan dengan improvisasi-improvisasi para pemain handal di negeri ini, negeri Yogyakarta.
Sak tleraman.
Tepat sebelum acara dimulai, saya bersama istri menyempatkan mengisi perut dulu di angkringan pasar kangen Yogyakarta yang digelar di halaman TBY, tempat acara berlangsung. Pasar Kangen sendiri masih berlangsung hingga… usai (kata mas Anang Batas). Di depan warungnya mbah darmo, kami menyantap bakso dan teh anget.
Sambil menyiapkan kamera, saya melihat-lihat ke sekeliling, mencari obyek yang sekiranya bisa dijadikan obyek “saalh fouks” alias mencuri potret. Saat mendongak, saya kaget karena melihat ada segumpal bara yang melayang lurus dari utara ke selatan. Ternyata bukan saya saja yang melihat ini, mas @faridRT juga melihatnya. Saya bukan mistiskus sejati, jadi yang di pikiran saya saat itu ya cuma, “wah lucu ini”.
Dihibur dan Menghibur.
Lalu tiba saatnya masuk ke dalam gedung, acara segera dimulai. Tampil pertama setelah kata pembuka dari Butet Kertaradjasa adalah pasangan Wisben dan mas Joned. Saya agak terkesima dan khawatir juga, karena Mas Joned baru saja (lima hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu dari waktu dia pentas) ditinggal istrinya untuk selamanya, menghadap Allah SWT. Saya sudah siap-siap, terus terang, untuk teraduk-aduk perasaan jika saja mas Joned sedikit saja menampakkan kegalauan.
Namun, saya salah. Beliau adalah aktor kawakan. Pendagel profesional yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh potensinya meskipun dalam keadaan seperti itu. Saya bahkan lupa kalau beliau sedang berkabung, hingga ketika tiba scene dimana yu Soimah Poncowati yang berperan sebagai istri muncul. Mas Joned sendiri yang justru bilang,”sebentar.. ini sensitif, soalnya istri saya baru saja meninggal kemarin je”. Tapi itupun bukan menghalangi jalan cerita. Timpalan dari Wisben dan Gareng serta tanggapan dari Mas Joned sendiri kemudian, justru mengangkat lagi suasana menjadi jauh lebih lucu.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog | No Comments »
Negeri Pencitraan
Thursday, June 9th, 2011
Membaca berita soal siswa berinisial AL (SDN Gaden, Surabaya), saya seakan bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya. Diceritakan bahwa AL adalah siswa yang diajari untuk selalu jujur oleh orang tuanya. Alkisah ketika ujian kemarin, AL diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan ke siswa yang lain. Adalah kebetulan AL ini adalah siswa bibit unggul (demikian info dari teman saya, Rizki Suluhadi, lulusan ITS). Pergulatan batin antara ajaran sang ibu dengan ketakutan untuk melawan kehendak guru, AL memilih memberikan contekan jawaban salah.
Orang tua AL yang merasa ini melukai apa yang dia ajarkan selama ini ke anaknya, berusaha mendapatkan informasi ke sekolah terkait, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, sehingga meneruskan ke dinas pendidikan. Akibatnya kemudian terbukti cerita tersebut benar adanya, sehingga beberapa guru termasuk kepala sekolahnya mendapatkan sanksi. Namun apalacur, walimurid lain justru menyalahkan tindakan orang tua AL, bahkan mereka terancam terusir dari desa tempat mereka tinggal.
Cerita lengkapnya bisa Anda cari di Google dengan kata kunci SDN Gaden. Salah satunya adalah di detiksurabaya.
Posted in Pendidikan, Neolib, Culture, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »
Dimanakah, rasa?
Friday, May 20th, 2011
Tadi malam, senang sekali mendapatkan kesempatan berbagi seputar Social Media dengan Dr Yanuar Nugroho di Angkringan Gedong Kuning. Disinggung di sana tentang bagaimana social media berperan dalam mengubah perilaku individu-individu dalam menjalani kehidupannya. Ada berbagai fakta menarik seputar perubahan perilaku ini, yang mana bisa Anda baca sendiri dalam penelitian Dr Yanuar, silakan Anda download tulisan beliau di sini.
Obrolan semalam berlangsung santai dan menyenangkan, menyisakan beberapa pertanyaan dan sentilan di hati saya. Lalu tiba-tiba pagi ini saya terjerembab. Sebuah kalimat yang keluar dari social media bernama twitter membuyarkan bayangan-bayangan saya tentang pemanfaatan social media sebagai sarana kampanye dan perbaikan sosial. Inilah kalimat tersebut ,”J-Lo Private Concert @ Ritz Carlton PP, only 750 tix available @ Rp20million!!”.
Apa yang Mengganggu?
Saya tidak tahu apakah hal ini berkait dengan diskusi semalam, atau berkait dengan perubahan perilaku manusia sebagai makhluk sosial dikarenakan hadirnya teknologi. Yang ada di pikiran saya, yang terlintas dengan serta merta, adalah satu kata “GILA!”. Lalu muncul pula pertanyaan besar yang sepertinya tidak butuh jawaban, “sedemikian parahnyakah tingkat ketidakpedulian kita?”.
Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 3 Comments »
Jangan malu berbahasa ibu
Saturday, May 14th, 2011
Jangan malu berbahasa ibu, itu adalah buah budaya nenek moyangmu. Lihat anak-anak muda yang memilih berbahasa Jawa, mereka semakin dikenal dunia, tak kurang New York Times memuat beritanya. Saya sedang bercerita tentang rombongan teman-teman Jogja Hiphopfoundation, pembawa bendera Hiphopdiningrat. Mereka saat ini sedang berada di New York City untuk manggung Sabtu malam ini.
Bagi teman-teman yang kebetulan sempat menonton launching film dokumenter Hiphopdiningrat, tentu paham kenapa saya menyebutkan soal bahasa ibu di sini. Benar, bahasa jawa sengaja mereka jadikan pilihan untuk lirik-lirik lagunya. Bahkan “kejawaan” atau “kejogjaan” itu mendarah daging pada beberapa anggotanya, sehingga tak heran muncul celetukan seperti “di Singapura ndak ada awul-awul ya?”. p.s. awul-awul adalah istilah orang jogja untuk lapak baju bekas. Ada kesederhanaan yang dengan sadar mereka pupuk sendiri, seakan tak rela luntur meski digerogoti oleh tv setiap hari.
Posted in Bahasa Jawa, Yogyakarta, Culture | 4 Comments »
Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata
Friday, April 29th, 2011
Sebuah falsafah lama yang hidup di tanah Jogja. Sebagai pengingat bagi kita, bahwa masing-masing kita hidup dengan sistem yang berbeda-beda. Ada sedikit kemiripan dengan pepatah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, yang membedakan hanyalah bahwa pepatah tersebut lebih merujuk ke perbedaan individu-individu dari sebuah kelompok dengan individu-individu di kelompok lain.
Desa mawa cara negara mawa tata menyentuh wilayah lain, wilayah budaya. Bahwa masing-masing kelompok memiliki tatacara dan aturannya masing-masing. Mengajarkan kita bahwa pemaksaan atas satu aturan dari satu kelompok ke kelompok lain hanya akan memicu konflik. Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengajarkan cara pandang.
Tentang Perbedaan Ukuran Baju
Ini adalah satu pepatah lain lagi yang nampaknya senada, tentang mengukur baju. Tentang adanya kemungkinan salah-salah apabila kita menggunakan ukuran badan kita untuk baju orang lain, demikian juga sebaliknya. Maka, terapkan aturanmu untuk dirimu sendiri, jangan paksakan untuk orang lain. Kurang lebih begitu.
Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengingatkan kita bahwa adalah satu hal yang mustahil menerapkan satu sistem dari sebuah masyarakat ke masyarakat yang lain. Patokan akan ukuran-ukuran kepantasan, ukuran kesopanan dan lain-lain, menjadi batasan-batasan yang tidak elok jika dilanggar.
Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 4 Comments »
Ledek, Sebuah Kisah tentang Peralihan
Tuesday, April 5th, 2011
Apa yang teman-teman ketahui tentang lèdhèk? Masihkah kalian mengingatnya? Saya bukan sedang membicarakan lèdhèk munyuk (kera), tetapi tari lèdhèk yang dimainkan oleh manusia. Jika teman-teman masih ingat, saya sungguh ikut berbahagia, mungkin bisa sedikit menambahkan apa yang belum saya paparkan di sini. Bagi teman-teman, yang ingat maupun tidak, tahu maupun tidak, ijinkan saya bercerita tentang sebuah kisah di masa lalu, di tahun 1980-an, di sebuah wilayah di Bantul Selatan.
Berkah pada Sebuah Ciuman Penari Lèdhèk
Saya tidak sedang mengada-ada atau mengarang, meski mungkin saja bisa jadi apa yang saya ceritakan ini belum ada di wikipedia.org hehe. Kisah ini tentang teman saya, seorang muda dengan kulit putih bersih anak dari keluarga pedagang. Saya ingat betul, meskipun konsep warung 24 jam belum membudaya di dunia, warung ini sudah menerapkan prinsip tersebut. Bukan berarti warungnya buka 24 jam, tapi Anda boleh mengetuk pintunya kapan saja, jika memang ada kebutuhan mendesak. Tapi mungkin memang demikianlah adanya sebuah warung di kampung.
Rumah saya dengan rumah teman saya ini terpaut kurang lebih 500 meter jaraknya. Mungkin kalau ditarik garis lurus sih tidak sampai sejauh itu, namun meskipun sudah lewat halaman tetangga, tetap harus berbelok-belok untuk mencapai rumahnya. Saya termasuk jarang main dengannya sebenarnya, tetapi bisa dipastikan minimal sebulan sekali, tubuh kecil saya mendatangi rumahnya, dan sebuah suara yang juga kecil menyeruak di antara obrolan para pembeli,”lék, nyuwun lisah patra sedasa liter”. Lalu pulang menempuh jalan yang berbelok-belok tadi, dengan minimal meletakkan jerigen satu kali untuk mengistirahatkan tangan. Maklum, tubuh saya kecil sekali waktu itu.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 7 Comments »

