Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta
Arsip Kategori ‘blog’

Dimanakah, rasa?    Print This Post   Email This Post

Friday, May 20th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Tadi malam, senang sekali mendapatkan kesempatan berbagi seputar Social Media dengan Dr Yanuar Nugroho di Angkringan Gedong Kuning. Disinggung di sana tentang bagaimana social media berperan dalam mengubah perilaku individu-individu dalam menjalani kehidupannya. Ada berbagai fakta menarik seputar perubahan perilaku ini, yang mana bisa Anda baca sendiri dalam penelitian Dr Yanuar, silakan Anda download tulisan beliau di sini.

Obrolan semalam berlangsung santai dan menyenangkan, menyisakan beberapa pertanyaan dan sentilan di hati saya. Lalu tiba-tiba pagi ini saya terjerembab. Sebuah kalimat yang keluar dari social media bernama twitter membuyarkan bayangan-bayangan saya tentang pemanfaatan social media sebagai sarana kampanye dan perbaikan sosial. Inilah kalimat tersebut ,”J-Lo Private Concert @ Ritz Carlton PP, only 750 tix available @ Rp20million!!”.

Apa yang Mengganggu?

Saya tidak tahu apakah hal ini berkait dengan diskusi semalam, atau berkait dengan perubahan perilaku manusia sebagai makhluk sosial dikarenakan hadirnya teknologi. Yang ada di pikiran saya, yang terlintas dengan serta merta, adalah satu kata “GILA!”. Lalu muncul pula pertanyaan besar yang sepertinya tidak butuh jawaban, “sedemikian parahnyakah tingkat ketidakpedulian kita?”.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 3 Comments »

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata    Print This Post   Email This Post

Friday, April 29th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Sebuah falsafah lama yang hidup di tanah Jogja. Sebagai pengingat bagi kita, bahwa masing-masing kita hidup dengan sistem yang berbeda-beda. Ada sedikit kemiripan dengan pepatah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, yang membedakan hanyalah bahwa pepatah tersebut lebih merujuk ke perbedaan individu-individu dari sebuah kelompok dengan individu-individu di kelompok lain. 

Desa mawa cara negara mawa tata menyentuh wilayah lain, wilayah budaya. Bahwa masing-masing kelompok memiliki tatacara dan aturannya masing-masing. Mengajarkan kita bahwa pemaksaan atas satu aturan dari satu kelompok ke kelompok lain hanya akan memicu konflik. Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengajarkan cara pandang.

Tentang Perbedaan Ukuran Baju

Ini adalah satu pepatah lain lagi yang nampaknya senada, tentang mengukur baju. Tentang adanya kemungkinan salah-salah apabila kita menggunakan ukuran badan kita untuk baju orang lain, demikian juga sebaliknya. Maka, terapkan aturanmu untuk dirimu sendiri, jangan paksakan untuk orang lain. Kurang lebih begitu.

Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengingatkan kita bahwa adalah satu hal yang mustahil menerapkan satu sistem dari sebuah masyarakat ke masyarakat yang lain. Patokan akan ukuran-ukuran kepantasan, ukuran kesopanan dan lain-lain, menjadi batasan-batasan yang tidak elok jika dilanggar.

[ detail ]

Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 4 Comments »

Ledek, Sebuah Kisah tentang Peralihan    Print This Post   Email This Post

Tuesday, April 5th, 2011

Apa yang teman-teman ketahui tentang lèdhèk? Masihkah kalian mengingatnya? Saya bukan sedang membicarakan lèdhèk munyuk (kera), tetapi tari lèdhèk yang dimainkan oleh manusia. Jika teman-teman masih ingat, saya sungguh ikut berbahagia, mungkin bisa sedikit menambahkan apa yang belum saya paparkan di sini. Bagi teman-teman, yang ingat maupun tidak, tahu maupun tidak, ijinkan saya bercerita tentang sebuah kisah di masa lalu, di tahun 1980-an, di sebuah wilayah di Bantul Selatan.

Berkah pada Sebuah Ciuman Penari Lèdhèk

Saya tidak sedang mengada-ada atau mengarang, meski mungkin saja bisa jadi apa yang saya ceritakan ini belum ada di wikipedia.org hehe. Kisah ini tentang teman saya, seorang muda dengan kulit putih bersih anak dari keluarga pedagang. Saya ingat betul, meskipun konsep warung 24 jam belum membudaya di dunia, warung ini sudah menerapkan prinsip tersebut. Bukan berarti warungnya buka 24 jam, tapi Anda boleh mengetuk pintunya kapan saja, jika memang ada kebutuhan mendesak. Tapi mungkin memang demikianlah adanya sebuah warung di kampung. :)

Rumah saya dengan rumah teman saya ini terpaut kurang lebih 500 meter jaraknya. Mungkin kalau ditarik garis lurus sih tidak sampai sejauh itu, namun meskipun sudah lewat halaman tetangga, tetap harus berbelok-belok untuk mencapai rumahnya. Saya termasuk jarang main dengannya sebenarnya, tetapi bisa dipastikan minimal sebulan sekali, tubuh kecil saya mendatangi rumahnya, dan sebuah suara yang juga kecil menyeruak di antara obrolan para pembeli,”lék, nyuwun lisah patra sedasa liter”. Lalu pulang menempuh jalan yang berbelok-belok tadi, dengan minimal meletakkan jerigen satu kali untuk mengistirahatkan tangan. Maklum, tubuh saya kecil sekali waktu itu.

[ detail ]

Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 7 Comments »

Maka kunamakan kamu: Munafik Ismail!    Print This Post   Email This Post

Monday, March 28th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

(sms Taufiq Ismail) HU AR Rini Endo. Saya baca di internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Sambodja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sunber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yg pantas (Taufiq Ismail)

SMS di atas dikirim oleh Taufik Ismail, tokoh dunia sastra Indonesia, kepada salah satu panitia #koinsastra. Dan SMS itu pula yang membuat saya meradang pagi-pagi. Tidak menyangka orang sekelas beliau mengirim SMS dengan isi dan nada seperti itu.

Sebelum terlalu jauh, mari saya ceritakan serba sedikit tentang apa itu #koinsastra dan kejadian apa yang melatarbelakangi munculnya SMS itu. Mohon yang tahu informasi lebih dalam mengoreksi atau menambahi keterangan saya ini.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Culture, blog, Semiotics | 19 Comments »

Satu Minggu Satu Posting - sebuah cita-cita    Print This Post   Email This Post

Friday, March 25th, 2011

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Jumlah pemakai Internet di Indonesia saat ini mencapai 30.000.000 orang, yang artinya dari 100 penduduk Indonesia 12 di antaranya aktif terhubung dengan internet. Jika kita lihat di Tahun 2000, jumlah pemakai internet hanyalah sekitar 2 Juta orang. Hal ini menunjukkan tingkat kenaikan yang luar biasa pesat hanya dalam jangka 10 tahun saja. Sumber Internet World Stats.

Pertanyaan yang menghantui kepala kita semua kemudian, apa yang bisa kita lakukan dengan hal itu?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, marilah kita santai dan berandai-andai saja dahulu. Saat ini hampir bisa dipastikan setiap orang yang mengerti dunia internet sudah barang tentu mengenal yang namanya Google. Mesin pencari ini memang luar biasa, dia berhasil mengubah pola manusia berinternet. Sekarang hampir bisa dipastikan setiap orang menemukan satu hambatan/masalah mereka akan mencari jalan keluarnya melalui mesin ini. Dari hal teknis sehari-hari, pendidikan bahkan hingga ke pertanyaan-pertanyaan musykil yang kadang diajukan oleh anak kecil, semua bisa dicari jawabannya melalui mesin ini.

Lalu Muncul SEO

Trend pengguna internet ini tentu saja tidak lepas dari pengamatan para pakar marketing. Penetrasi mereka ke dunia Internet melahirkan pakar-pakar baru di dunia teknis jejaring, lahirlah pakar SEO. Apa sih SEO? SEO singkatan dari Search Engine Optimization, yang kurang lebih adalah mensiasati agar satu kata kunci bisa lekas muncul di halaman depan ketika seseorang melakukan pencarian di mesin pencari.

Kehadiran pakar SEO ini tentu saja tidak bisa dihindarkan dan itu sah-sah saja. Masalah kemudian muncul ketika para pegiat SEO ini membabi buta dalam menjalani tugasnya. Sungguh menyebalkan ketika kita sedang benar-benar membutuhkan jawaban atas sesuatu, namun ketika kita search di Google, yang muncul halaman-halaman tanpa isi atau bahkan yang isinya tak berkaitan sama sekali. Para ahli SEO ini, dengan ilmunya, berhasil memanipulasi peringkat pencarian dari mesin pencari. Satu capaian yang patut diacungi jempol, seandainya saja mereka melakukannya dengan benar.

Lantas Bagaimana?

Tidak perlu kita risau, peringkat di mesin pencari dinamikanya sangat tinggi. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mengubah perilaku kita di Internet. Dari yang tadinya sekedar menjadi leecher atau “tukang download”, mungkin akan lebih baik kalau mulai sekarang kita menjadi seeder alias “tukang upload”.

Yang saya maksud di sini bukanlah mengunggah file-file besar seperti lagu dan film. Itu juga boleh sih, tapi intinya mengunggah content ke Internet sehingga bisa menyumbang library di mesin pencari. Konten apapun tentang apa saja yang ada di sekitar kita.

Satu Minggu Satu Posting

Maka demikianlah, saya mencoba membuat satu langkah sederhana saja. Bukan 365 hari menulis, bukan 30 hari mengunggah foto, yang mana bagi saya itu terasa berat. Dalam bayangan saya, cukup satu posting saja setiap minggu. Posting bisa berupa apa saja, dari mulai blog (menulis) hingga mengunggah foto.

Saya membayangkan, jika tiap minggu ada 30juta posting, maka tiap minggu mesin pencari akan mendapatkan 30 juta informasi yang nantinya akan menambah perbendaharaan konten tentang Indonesia. Ya, konten tentang Indonesia masih terlalu sedikit. Ribuan pulau, ribuan kegiatan, jutaan perbendaharaan adat dan kata, serta banyak lagi, masih belum terdokumentasi di Internet. Maka, dengan membiasakan membuat posting (cukup satu saja) setiap minggunya, harapannya perbendaharan ini akan semakin kaya.

Catatan Kaki

Dengan tema ini, sebenarnya memposting apapun di media sosial saat ini (facebook, twitter, plurk, dan lain-lain) pun sah-sah saja. Hanya saja, media itu tidak memberi ruang yang berjangka panjang. Satu contoh saja, twitter hanya menyimpan data twit kita dalam hitungan minggu. Setelah itu, twit kita akan hilang. Sungguh sayang sekali.

Maka, mari kita mulai.

Vale, demi informasi

El rony, menari bersama jari jemari

nb. Ide ini juga muncul dikarenakan kegelisahan mas dua januari yang tak lain dan tak bukan adalah Bocahmiring.

Posted in Culture, blog, Technology | 31 Comments »

Tentang Sesuatu yang Dimulai dari Kecil    Print This Post   Email This Post

Thursday, March 17th, 2011

Adalah kebetulan, terserah bagaimana Anda memaknai tentang kata kebetulan itu, saya hari ini bertemu dengan orang hebat. Dia adalah Invani, seorang pemudi yang mempunyai semangat luar biasa, yang sedemikian pedulinya dengan lingkungan sosialnya, lingkungan sosial kita juga.

Pertemuan ini memang diawali dengan sebuah kegiatan yang bersifat kerjaan, karena kebetulan (sekali lagi) dia adalah manajer untuk sebuah pertunjukan/performance dari seorang seniman Yogya, Eko Nugroho. Hal tentang Eko, perlu kusimpan dulu, karena tidak cukup melalui satu tulisan menjabarkan tentang dia. :)

Vani, demikian dia akrab dipanggil, bersama kekasihnya (semacam kisah romantis aktivis :D) menggagas sebuah ruang bernama Kecil Bergerak. Ruang yang tanpa dinding menurutku, karena melalui obrolan panjang yang dilahirkan oleh hujan deras di seputaran Taman Budaya Yogyakarta ini, uraian dia tentang kegiatannya sungguh sangat luar biasa. Menciptakan ruang yang hingga saat ini kita belum pernah temukan dimanapun.

[ detail ]

Posted in Neolib, Politik, Yogyakarta, Culture, blog, Daily Life | 6 Comments »

Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?    Print This Post   Email This Post

Wednesday, December 15th, 2010

Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?

Tulisan ini hadir sebagai reaksi atas ungkapan Bapak Ichlasul Amal, mantan rektor UGM, di surat kabar online Suara Merdeka. Pernyataan beliau dalam menanggapi Sidang Rakyat Yogya sungguh di luar perkiraan. Dalam berita tersebut Bapak Ichlasul Amal memilih kalimat yang menyakitkan, dengan menyebut bahwa Sidang Rakyat Yogyakarta sebagai aksi show of force, cara lama yang dipakai PKI.

Saya tiba-tiba merasa seakan sedang melihat sosok yang berbeda, sosok yang sama sekali lain dengan yang dulu sempat saya kenal. Bukankah beliau juga ikut dalam Pisowanan Ageng pada Mei 1998, ketika terjadi kekisruhan dan penculikan dimana-mana? Bukankah beliau juga ada di antara kami ketika berjalan dari UGM ke Alun-Alun Yogyakarta? Ataukah waktu itu adalah beliau yang lain? Beliau yang masih murni dan masih bisa mendengar suara rakyat, mungkin?

Dua Kesalahan Besar Ichlasul Amal

Terkait pernyataan beliau tersebut, saya menggarisbawahi dua hal yang seakan tidak digubris oleh beliau. Kesalahan pertama beliau adalah memandang rendah semangat guyub rukun dan bahu membahu masyarakat Yogya. Saya tidak percaya kalau beliau tidak tahu mengenai hal ini, dan saya sangat tidak percaya kalau beliau tidak pernah mendapat ajakan kerjabakti sekalipun dari kampung tempat beliau tinggal di Yogya.

Atau bisa jadi saya salah? Bisa jadi beliau memang tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitarnya? Sibuk dengan menara gading dan singgasana kegurubesarannya? Sungguh ironis seorang guru ilmu sosial tapi tidak bersosial. Kebetulan saya tinggal di kampung yang aktif membuat pertemuan sebulan sekali pak, belum lama ini kami bekerja bakti memperbaiki jalan yang rusak. Tidak ada uang yang bicara di sana, tidak ada kepentingan politik, sepenuhnya didasari oleh kebutuhan bersama. Tidakkah bapak melihat semangat ini di balik berbondong-bondongnya warga Yogyakarta di Sidang Rakyat kemarin? Atau memang tuduhan saya benar, sampeyan lebih nyaman bertahta di singgasana keilmuan sampeyan, dan beranggapan mempunyai kuasa sehingga rakyat yang sampeyan pandang seperti pion-pion itu bisa sampeyan baca satu per satu isi kepala dan hatinya?

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 12 Comments »

Yogyakarta: Untuk Apa Mempertahankan Status Istimewa    Print This Post   Email This Post

Monday, December 13th, 2010

Polemik tentang hal ini sudah sebulan ini bergulir. Tentu guliran isu ini tidak akan sebesar dan semasif ini kalau tidak ada pemicu utamanya, dan alangkah kebetulan pemicunya justru pucuk pimpinan di negeri ini sendiri, SBY. Penggalan kalimat yang dirasa paling menyakitkan bagi rakyat Yogyakarta adalah “Tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi”. Pernyataan ini menohok dalam ke hati warga Yogyakarta. Kelas menengah di wilayah ini, mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tentu saja tidak bisa menerima pernyataan tersebut karena sudah tercatat dalam sejarah dari awal hingga keberadaan negeri ini saat ini, Yogyakarta tak pernah lekang menjadi tempat yang aktif menjadi penggerak demokrasi. Kelas menengah yang selama ini bisa dibilang hidup di dunianya, sibuk dengan kehidupannya, kini turun ke gelanggang dengan opini dan aksinya.

Pak Beye sudah “meralat” pernyataannya itu dengan mengatakan bahwa tujuan dia adalah menegakkan demokrasi di wilayah ini, dan salah satu pilar yang harus ditegakkan adalah bentuk pemilihan langsung kepala daerah. Namun reaksi atas reaksi ini justru menimbulkan reaksi lebih baru lagi, kini pernyataan “Penetapan adalah harga mati” mulai mencuat. Aksi reaksi ini, patut dicatat, adalah bentuk ketidak arifan penguasa dalam menyikapi rakyatnya.

Namun, terlepas dari ketidakcakapan pemimpin kita, yang mana sebenarnya tidak bisa kita tuntut karena dalam kampanyenya dulu yang ditonjolkan adalah “ganteng”-nya, mari kita bertanya kembali, apakah memang perlu mempertahankan status keistimewaan Yogyakarta?

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 27 Comments »

Bernyanyilah, Pak Beye!    Print This Post   Email This Post

Monday, November 22nd, 2010

Sudah hampir berakhir kiranya masa tugas bapak menjadi abdi kami semua. Sudah berjalan berapa bulan pak? Tentu bapak yang paling ingat, bukan? Kami, para majikan sampeyan, sungguh rindu dengan suara bapak. Maafkan kalau kami tidak membeli kaset bapak, bagaimanapun selera pilihan musik tidak bisa disamakan toh?

Kali ini kami, para majikan sampeyan, ingin mendengar nyanyian bapak yang lain. Syukur kalau menjadi album baru. Tampillah di panggung dunia pak. Nyanyikanlah lagu perjuangan, memperjuangkan nasib kami para majikan sampeyan ini.

Bapak tentu tahu bukan, tentang majikan bapak yang terlantar oleh rusaknya alam karena pembabatan hutan, karena lumpur LAPINDO yang kasusnya berkepanjangan, karena bencana alam di Wasior, Mentawai dan Merapi. Kasus terakhir bahkan ada majikan sampeyan yang digunting bibirnya di Saudi Arabia sana.

[ detail ]

Posted in Politik, Neolib, blog, Semiotics, Daily Life | 4 Comments »

Komunike #1001 - Buah Ketekunan    Print This Post   Email This Post

Sunday, October 17th, 2010

Tidak ada kata kebetulan, demikian ungkapan satu filsuf terkenal, demikian juga agama saya mengajarkan. Tetapi adalah kebetulan bahwa seminggu ini saya bertemu dengan tema ketekunan dimana-mana. Dalam satu diskusi panel antara Antariksa (pemilik kunci.or.id) dan Marzuki (alias @KILDDJ, rapper pemilik whatevershop), membahas tentang sub kultur perlawanan, diakhiri dengan pesan untuk tekun dalam bidangnya, sebagai satu wujud perlawanan.

Hari ini, saya membaca ulasan di Kompas tentang perkembangan desain cover di Indonesia, di situ kawan karib saya Windu (nickname windutampan) hadir beserta karya-karyanya bersanding atau bisa dibilang vis a vis dengan karya Si Ong Hari Wahyu, desainer kawakan dari Yogya. Hal yang membuat saya sampai pada ketekunan adalah kenyataan bahwa Windu baru mengenal komputer (literally) semenjak tahun 2002 akhir.

Dalam keterlambatan atas perkembangan teknologi itu, Windu tak patah semangat dan terus memacu diri hingga akhirnya karya-karyanya diakui. Dia kini bahkan sudah sampai taraf penggarapan poster film. Adapun karya dia dalam cover, mendapat tempat tersendiri di ulasan Kompas hari ini, sebagai wakil generasi desainer cover muda.

[ detail ]

Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 5 Comments »