Negeri Macam Apa yang memproduksi maling? - part 2
Monday, September 19th, 2011
Sedikit berbeda, meskipun aku pernah mengalaminya. Tepatnya Bulan Maret Tahun 2006 yang lalu, rumah kontrakan saya dimasuki pencuri. Sekarang, rumah saya sendiri yang dijebol pintunya. Perbedaannya, kalau dulu saya bisa dibilang tidak kehilangan apa-apa, kali ini saya kehilangan kamera DSLR yang dulu lama sekali saya idam-idamkan.
Masih ada foto-foto acara Teater Garasi di sana, belum sempat saya pindahkan. Maka menyusup pula perasaan kecewa. Saya kembali terluka, negeri ini, dengan penguasanya yang sibuk memperkaya diri, melupakan kebutuhan asasi penduduknya. Rasa aman dan kesempatan kerja.
Posted in Neolib, blog | 4 Comments »
Idealisme Yang Menyerang-nyerang –sebuah catatan
Tuesday, September 13th, 2011
Setiap manusia memiliki idealisme masing-masing. Idealisme, dalam pengertian luasnya menurut saya adalah pemikiran atau ide atas sesuatu hal pada diri seseorang. Singkatnya pemikiran tentang kondisi ideal. Dengan demikian, idealisme dari satu orang dengan orang yang lain tentu berbeda-beda. Meskipun masing-masing memiliki kecenderungan ideologi, agama, atau yang lainnya sama, tetapi pergulatan pemikiran masing-masing orang, seiring perkembangan hidupnya, tentu sangat berbeda. Hal ini terutama menyangkut sudut pandang atas sebuah permasalahan.
Yang memicu masalah kemudian adalah ketika satu orang memaksakan satu idealisme ke orang lain. Jika orang lain tersebut tidak berkeberatan, tentu tidak akan terjadi apa-apa, tetapi ketika orang lain tersebut sudah yakin dengan idealismenya, yang terjadi adalah bentrokan.
Posted in blog | 2 Comments »
Ujung Ramadhan Sudah Terlihat
Friday, August 26th, 2011
Selamat Iedul Fitri, Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga kita semua kembali suci.
Selamat pensiun juga, om steve

Posted in blog | 6 Comments »
Merdeka Itu..
Tuesday, August 16th, 2011
Tulisan kali ini singkat saja, sekedar memberi pembanding bahwa sesingkat apapun entry sebuah blog, jauh lebih panjang dibandingkan sebuah twit, dan akan bertahan lebih lama, tentu saja.
Jadi, langsung saja, merdeka itu bagi saya adalah:
1. Kebebasan menyatakan pendapat, tanpa harus takut ancaman subversif.
2. Kebebasan memperoleh informasi, apapun, tanpa harus dipaksa tunduk oleh aturan yang tidak masuk akal.
3. Kebebasan mengamalkan kepercayaan tanpa harus dihantui oleh ancaman mayoritas.
4. Terpenuhinya hak-hak asasi sebagai warga negara, terutama pendidikan, kesehatan dan informasi.
5. Ketika negara dipimpin oleh orang yang kompeten di bidangnya, dan fokus dalam penyejahteraan warga.
6. Hilangnya represi paramiliter dan dihancurkannya kelompok-kelompok anarkis (tepatnya perusak) atas nama agama ataupun bukan, oleh negara.
7. Ketika kebanggaan lahir dengan sendirinya, bukan dengan pemaksaan ataupun ancaman.
8. Ketika negara (dan rakyat) sudah tidak lagi dihantui hutang.
9. Ketika koruptor dan pemerkosa dihukum seberat-beratnya tanpa ampunan (maaf, saya manusia biasa, pengampunan bagi saya ada batasnya).
10. Hilangnya militerisme di segala lini masyarakat sipil dari tingkat kelurahan hingga negara. Militer cukup berada di barak.
Ini serba sedikit hal yang bisa saya tuangkan, bisa jadi esok hari sudah bertambah lagi. Anda boleh tidak setuju, karena saya menghormati kemerdekaan yang saya artikan menurut pendapat pribadi saya ini.
Vale, demi kemerdekaan.
El rony, belum merdeka.

Posted in Politik, Neolib, blog, Daily Life | 7 Comments »
Beramal kok Koar-koar
Sunday, August 14th, 2011
Bulan Ramadhan, bulan pencitraan. Sayangnya begitu, apa boleh bikin. Di bulan ini, tidak hanya manusia yang berbondong-bondong memperebutkan perhatian Tuhannya, bahkan merek-merekpun tak mau kalah berusaha mendapatkan perhatianNya.
Twitter, sebuah layanan social media yang sedang sangat populer saat ini, menjadi salah satu jembatan pengejawantahan perebutan perhatian tersebut. Dan, maafkan saya, saya sedang agak suntuk dengan segala kelebatan promo tidak masuk akal tersebut. “Follow saya, maka saya akan menyumbang seribu rupiah untuk tiap follower baru ke orang yang membutuhkan”. Kurang lebih seperti itu redaksinya. Ada yang mempromokan akun, ada yang mempromokan hashtag, banyak yang terang-terangan, ada pula yang malu-malu.
Lalu saya teringat dengan kyai yang menggunakan kata sumbangan sebagai modal ceramah. Nyumbanglah agar engkau segera kaya. Komentar saya atau tepatnya selorohan saya atas ucapan kyai tersebut, bahkan memicu diskusi yang cukup panjang. Diskusi yang menurut saya tidak penting, karena masing-masing memang tidak berniat mencari titik temu, masing-masing sibuk mempertahankan argumennya dengan imbuhan kekeraskepalaan. Tentu saja ketika saya menyebut kata masing-masing, artinya saya juga begitu.
Kalau emang mau, lakukan.
Pingin rasanya ngomong gini tiap hal di atas muncul. Lakukan! Tidak usah bikin keributan. Ada yang pernah bilang “bersedekahlah dengan tangan kananmu, hingga seolah-olah tangan kirimu sendiri tidak mengetahuinya”. Bukankah itu indah sekali? Berbuat baik tanpa harus diketahui oleh orang lain, bahkan seakan-akan tanpa sadar, refleks.
Posted in Neolib, blog | 17 Comments »
Hutang kok bangga
Thursday, August 4th, 2011
Hari ini adalah hari ke empat puasa. Beruntung sekali saya bertemu bulan ini, tidak lama setelah satu proses penuh emosi terjadi. Ibaratnya menemukan oase ketika kehausan. Tetapi saya tidak ingin bercerita tentang hal itu, saya lebih ingin menceritakan apa yang terjadi di kepala saya, di otak saya maksudnya, setelah peristiwa itu.
Apa yang terjadi dengan saya terkait dengan uang. Saya sungguh baru berhadapan sekali itu dengan orang yang sangat tamak, sementara dia belum beberapa lama baru pulang dari Tanah Suci. Saya terus terang tidak bisa habis mengerti, bagaimana orang bisa sedemikian dikendalikan dengan uang. Lantas pikiran sayapun berkembang, karena kebetulan orang-orang di sekitar saya yang juga terlibat dalam kejadian itu, memiliki kemiripan satu lagi. Hutang.
Kenapa dengan hutang?
Hutang sepertinya sudah menjadi jalan hidup sekarang. Pingin TV, hutang. Pingin kendaraan, hutang. Pingin baju, hutang. Bahkan dengan pola pikir paling bodoh yang menancap di kepala para manusia Indonesia, yang memandang pemilik kartu kredit adalah golongan keren, budaya hutang ini semakin merasuk bahkan hingga ke urusan makan.
Orang hutang tidak lagi malu-malu. Kalau dulu, manusia malu-malu mencari waktu, menunggu sambil memperhatikan sekiranya target sedang lunak hatinya, untuk kemudian memohon diberikan hutang. Kini? Orang hutang dengan petentang-petenteng, bahkan dalam satu cerita ada yang pakai acara membentak-bentak pelayan sebuah restoran, padahal dia ya cuma tukang hutang. Sungguh sial.
Posted in Neolib, Culture, blog | 9 Comments »
Menjadi Manusia
Friday, July 29th, 2011
Tersentil oleh ucapan kek Ivo, “Hanuman bisa bertindak jauh lebih manusiawi daripada semua orang lainnya, karena seumur hidup dia ingin menjadi manusia”. Kalimat yang lugas namun penuh makna. Mengingatkan kita untuk berkaca, apakah kita benar-benar sudah menjadi manusia?
Dalam budaya Jawa –maaf, saya orang Jawa, jadi memang budaya ini saja yang benar-benar saya tahu– terdapat satu ungkapan yang terkenal, “ojo diseneni, cah cilik kuwi pancen durung Jowo”. Arti langsungnya adalah “jangan dimarahi, anak kecil itu memang belum Jawa”. Bagi saya pribadi, keberadaan kata Jawa di sini tidak berhenti di tanah Jawa saja, atau wilayah mataram semata. Kata Jawa mewakili dunia seluruhnya, hal ini wajar karena dunia manusia Jawa waktu itu, memang hanyalah seputar wilayahnya berada.
Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 1 Comment »
Berbagai Kelompok Bermain di Yogyakarta
Friday, July 22nd, 2011
Sebelum saya memulai bercerita, saya ingin menyampaikan permohonan maaf sekaligus pengakuan. Hal ini sekaligus pertanggungjawaban saya sebagai salah satu pencetus satu minggu satu posting, dimana seminggu kemarin saya terpaksa tidak bisa memposting apapun di blog ini, dikarenakan tubuh sedang mengalami penuaan dini. Sudah hampir dua minggu ini saya diserang migraine, hal ini sepertinya diakibatkan oleh pola tidur yang berubah. Sekarang, alhamdulillah, “jadwal” kumatnya sudah tidak sesering minggu lalu.
Oke, cukup tentang diri saya. Saya sebetulnya ingin bercerita tentang sekolah. Kebetulan kemarin saya berputar-putar keliling jogja, mencarikan sekolah untuk anak saya, Mata Air. Terlambat sebenarnya, karena sebenarnya ajaran baru sudah berlangsung. Namun apa mau dikata, kondisi tubuh membuat hal-hal mundur, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan :D. Dan ternyata, sekali lagi alhamdulillah, untuk kelompok bermain, keterlambatan ini tidak cukup berpengaruh, karena anak bisa masuk kapan saja.
Posted in Pendidikan, Neolib, Yogyakarta, blog | 6 Comments »
Maaf Kawan, Kita Bersimpang Jalan :)
Friday, July 1st, 2011
Pilihan hidup seringkali bertabrakan dengan pilihan hidup teman lain. Namun selayaknya hal seperti ini tidak menjadi ganjalan dalam pertemanan. Bukankah keseragaman itu membosankan? Setidaknya inilah yang kualami beberapa hari ini, bagaimana pilihan hidupku, tiba-tiba harus berhadapan dengan pilihan atau mungkin kompromi yang dilakukan oleh sahabatku.
Tidak ada yang baru di bawah naungan matahari, semuanya hanya berulang dan berulang mengikuti siklus ciptaan-Nya. Namun proses pencarian masing-masing orang mengalami perkembangan, proses pencarian ini pula yang mengakibatkan persimpangan pilihan antara aku dengan teman-temanku.
Narasi Besar
Tentu saja, hal ini jadinya mirip dengan “agama”, yaitu satu konsep hubungan antar manusia dalam ruang makro bernama dunia, antara satu orang dengan orang lainnya. Masing-masing memegang anggapannya atas pandangan terhadap dunia. Apakah dunia itu bulat, apakah dunia itu datar, kembali ke keyakinan masing-masing.
Posted in Neolib, blog, Daily Life | 3 Comments »
Pesan dari Negeri Dagelan
Saturday, June 18th, 2011
Apa jadinya jika sekelompok pendagel senior berkumpul dan manggung bersama? Yang saya rasakan adalah perut mengeras, mata beleken karena air mata segera mengering begitu terterpa AC, dan tenggorokan kering. Tertawa tanpa henti dari awal hingga tiga jam kemudian, ketika mereka selesai manggung.
Saya sedang bercerita tentang lasykar dagelan. Satu pertunjukan yang digelar oleh seniman-seniman Yogya dengan iringan hentakan musik hiphop dari Jogja Hiphop Foundation dari awal hingga akhir. Kemasan cerita yang apik tidak bertabrakan dengan improvisasi-improvisasi para pemain handal di negeri ini, negeri Yogyakarta.
Sak tleraman.
Tepat sebelum acara dimulai, saya bersama istri menyempatkan mengisi perut dulu di angkringan pasar kangen Yogyakarta yang digelar di halaman TBY, tempat acara berlangsung. Pasar Kangen sendiri masih berlangsung hingga… usai (kata mas Anang Batas). Di depan warungnya mbah darmo, kami menyantap bakso dan teh anget.
Sambil menyiapkan kamera, saya melihat-lihat ke sekeliling, mencari obyek yang sekiranya bisa dijadikan obyek “saalh fouks” alias mencuri potret. Saat mendongak, saya kaget karena melihat ada segumpal bara yang melayang lurus dari utara ke selatan. Ternyata bukan saya saja yang melihat ini, mas @faridRT juga melihatnya. Saya bukan mistiskus sejati, jadi yang di pikiran saya saat itu ya cuma, “wah lucu ini”.
Dihibur dan Menghibur.
Lalu tiba saatnya masuk ke dalam gedung, acara segera dimulai. Tampil pertama setelah kata pembuka dari Butet Kertaradjasa adalah pasangan Wisben dan mas Joned. Saya agak terkesima dan khawatir juga, karena Mas Joned baru saja (lima hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu dari waktu dia pentas) ditinggal istrinya untuk selamanya, menghadap Allah SWT. Saya sudah siap-siap, terus terang, untuk teraduk-aduk perasaan jika saja mas Joned sedikit saja menampakkan kegalauan.
Namun, saya salah. Beliau adalah aktor kawakan. Pendagel profesional yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh potensinya meskipun dalam keadaan seperti itu. Saya bahkan lupa kalau beliau sedang berkabung, hingga ketika tiba scene dimana yu Soimah Poncowati yang berperan sebagai istri muncul. Mas Joned sendiri yang justru bilang,”sebentar.. ini sensitif, soalnya istri saya baru saja meninggal kemarin je”. Tapi itupun bukan menghalangi jalan cerita. Timpalan dari Wisben dan Gareng serta tanggapan dari Mas Joned sendiri kemudian, justru mengangkat lagi suasana menjadi jauh lebih lucu.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog | No Comments »
