Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Sebuah Kisah Tentang Proses

Print This Post   Email This Post

Alkisah, ketika jaman masih belum kencang berjalan, tersebutlah sebuah kerajaan. Pada hari itu, Sang Raja ingin membuat sebuah permainan, maka dipanggillah penasehatnya. “Permainan apa kira-kira yang menarik untuk dilakukan wahai penasehatku?” sudah pasti, dialog ini keluar dari mulut sang Raja, dan ditujukan kepada penasehatnya, SPOK-nya sudah jelas. Sang penasehat, adalah seorang yang cukup nyentrik. Dia tidak suka memakai baju-baju tebal ala pejabat-pejabat yang lain, dia memilih bahan kain yang lentur dan menyerap keringat. Cukup selembar saja. Celananya juga bukan berbelit kain, tetapi celana panjang biasa, dengan banyak saku di samping kanan dan kirinya.

Ditanya tiba-tiba begini sudah hal biasa bagi sang penasehat. Dia sendiri yang memilih jabatan sebagai penasehat, karena jabatan ini satu-satunya jabatan yang memungkinkan dia untuk bekerja dari rumah. Merenung, sembari mancing. Atau bermain layang-layang dengan anak-anaknya di tengah lapangan. Ketika ditanya orang kenapa dia tidak bekerja, dia selalu menjawab dengan,”aku bekerja dengan ini” sambil menunjuk ke kepalanya. Bukan, dia bukan mengatakan bahwa dia bekerja dengan koprol, karena koprol sudah dibeli yahoo dan sampai sekarang API-nya masih saja belum jelas kabarnya. Jelas dia ndak nyaman bekerja di tempat seperti itu. Dia mikir.

Sang Penasehat lantas menatap sang Raja, “memangnya, Raja ingin permainan yang seperti apa? output apa yang Raja inginkan dari permainan ini?” “Entahlah. Bagiku apapun yang di luar kebiasaan cukup untuk menghiburku. Aku sepertinya ingin melihat pembantuku melakukan sesuatu, yang mudah saja, tetapi mereka bisa belajar tentang konsekuensi”, timpal sang Raja. “Oh, bagaimana kalau kita minta mereka memecahkan soal fizz-buzz” “Mas penasehat, gini ya, situ memang sudah memilih profesi freelancer, profesi situ sudah keluar kaidah perjamanan, lha itu soal untuk programmer mas, bukan buat pembantu” “Wo iya, Raja tahu saja. Baiklah, mari kita panggil saja tiga pembantu Anda wahai Raja”.

Maka dipanggillah tiga orang pembantu kerajaan. Tiga orang ini dipilih secara random, dengan mengikuti algoritma.. err.. bentar nanti keluar dari kaidah perjamanan lagi.. lupakan. Intinya dipilih secara acak. Raja dan Penasehat boleh tidak memiliki nama, tetapi supaya terlihat lebih manusiawi dan memberi image bahwa jaman kerajaanpun pembantu sudah dimanusiakan, maka saya tulis nama tiga orang pembantu itu. Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja. Duh, nama mereka melampaui jaman juga, kecuali Soja, pasti itu dari persojo. Wis, luweh. Lanjut ya ceritanya.

Tugas

“Wahai Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja, di sini aku mewakili Raja” penasehat mengeluarkan disclaimer-nya terlebih dahulu. Langkah yang bijak tentu saja, namanya juga penasehat, daripada nanti terjadi class-action. “Raja menginginkan kalian untuk melakukan sesuatu bagi Beliau. Terimalah tiga buah karung ini, masing-masing satu orang”, Penasehat membagi tiga buah karung kepada Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja. “Tugas kalian adalah jalan-jalan. Pergilah kalian keluar dari tembok kerajaan ini. Carilah buah-buahan yang menurut kalian enak, yang kalian suka. Penuhi karung-karung kalian, lalu bawalah kembali ke sini setelah karung itu penuh. Ada pertanyaan?” Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja saling pandang. Di samping kenyataan bahwa tugas yang diberikan cukup jelas, mereka juga sudah hafal sifat sang penasehat. Kalau pertanyaan mereka terlalu sederhana, paling-paling disuruh pergi ke perpustakaan kerajaan dan membaca buku berjudul FAQ.

“Baiklah” lanjut sang Penasehat, “Kalau tidak ada pertanyaan, silakan kalian berangkat sekarang. Batas waktu kalian adalah satu hari, artinya jelang matahari terbenam nanti, karung kalian harus sudah penuh”. Setelah menghaturkan salam takzim — maklum, Raja yang ngerti teknologi ini memang tidak suka disembah — tiga pembantu tadi, Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja, segera undur diri.

Soja, badannya tegap, pembawaannya kalem. Dia juga sering diam, dan setiap ditanya dia pasti menjawab,”aku sedang berfikir”. Bisa jadi dia ingin menjadi freelancer juga, eh maksud saya, menjadi penasehat. Begitu keluar dari kerajaan, Soja langsung mengisi karungnya dengan rumput dan daun-daunan. Lalu dia juga mengambil kerikil serta dahan-dahan. Disusunnya sedemikian rupa sehingga karung yang dibawanya membentuk tonjolan-tonjolan yang kalau dilihat mirip sekali dengan tonjolan buah. Yang agak panjang tonjolannya tentu saja maksudnya buah pisang. Sebentar saja, Soja sudah memenuhi karungnya. Lalu dia istirahat, mampir di warung kopi, lalu membuka laptop *halah* buku bacaannya. Freddy S nama pengarangnya. 

Zurrenbergyzz mendapat giliran kedua saya ceritakan. Bukan apa-apa, nulis namanya susah je. Badannya juga tegap, kerjanya tangkas. Sepanjang perjalanan, dia mengambil buah apa saja yang dia temukan. Mentah, matang, busuk, asal sudah jatuh tentu tidak akan menyulitkan dia untuk mengambil. Waktunya singkat, hanya sehari, dia harus buru-buru. Kurang lebih begitu yang dipikirkannya. Tepat setelah tengah hari, karungnyapun segera penuh oleh bermacam-macam buah. Apa saja? Entah, dia sendiri lupa.

Azkayllan tidak tampak di sekitar istana. Rupanya dia jauh pergi ke hutan. Sebagaimana cerita-cerita jaman kerajaan, maka agak jauh sedikit dari kerajaan pasti ada hutan. Dan sewajarnya hutan, maka banyak pohon. Banyak pohon bisa dipastikan banyak juga pohon buah-buahan. Jadi silogisme sederhananya, dengan pergi ke hutan, Azkayllan akan mendapatkan lebih banyak pilihan. Maka benar saja, dia temukan banyak buah-buahan. Kebetulan buah yang dia suka bukan jenis buah yang musiman. Maka dia panjatlah pohon-pohon di hutan itu, lalu dipetiknya. Ketika berjalan menuju hutan, dia teringat, ada Durian montong dan rambutan di pasar. Setelah menghitung beberapa keping uang yang dia miliki, dia putuskan untuk berhenti memetik dan akan memenuhi karung dengan membeli buah-buahan yang dilihatnya tadi.

Laporan

Batas waktu pengumpulan tugas sudah sampai. Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja membawa karungnya menghadap sang Raja. Dan Penasehat tentu saja. “Terimakasih, kalian sudah bekerja keras. Sang Raja tentu bangga memiliki pembantu cekatan seperti kalian” ujar sang Penasehat. “Sekarang, kalian masuklah ke tiga kamar belakang, bawa serta karung kalian”. 

Rupanya sang Penasehat sudah menyiapkan tiga ruangan kosong untuk masing-masing pembantu itu. Di masing-masing ruangan, tampak ada penjaganya. Pengawal kerajaan tentu saja, bukan polisi. Kalau polisi nanti diajak damai dua puluh ribu, repot. “Diamlah kalian di ruangan ini, kalian akan diperbolehkan keluar setelah isi karung tersebut kalian makan” DHUARRRRR — ini suara petir. lalu zoom-in zoom-out di wajah ketiga pembantu bergantian –

Maka demikianlah “permainan” hari itu selesai. Sang Raja tampak senang sekali. Nasib Azkayllan, Zurrenbergyzz dan Soja tidak perlu diceritakan lagi. Raja tidak punya hak untuk menghukum mereka, karena dalam FAQ sang Penasehat sudah termaktub bahwa di setiap “permainan” yang dia ciptakan, hukuman ataupun ganjaran diperoleh oleh pelaku dalam permainan. Raja posisinya penonton, yang satu saat bisa saja disoraki kalo sebagai penonton dia kurang arif *eh*.

vale, demi proses

el rony, tuker-tukeran kaos dengan penasehat

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting Satu Minggu Satu Posting
.. adalah satu upaya sederhana, untuk menambah khasanah tentang Indonesia di mesin perambah dunia. Posting tentang apa saja. Posting dalam bentuk apa saja. Mari berbagi tentang apa saja seputar wilayah kita. Semoga khasanah tentang negeri kita makin kaya.

Category: blog, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback

6 Responses to “Sebuah Kisah Tentang Proses”

  1. phery Says:

    pak penasehat pasti sibuk ya ikutan mikirin apa yang dipingini sang raja kwkwkwkkww

  2. rony Says:

    @phery hush! didukani mengko :))

  3. airyz Says:

    iki critone geek tenan om.

  4. oon Says:

    hiks…gak maxud om..
    *maav ra iso mikir kejeron :p

  5. hamid Says:

    wahahaha! kesambet apa ki nulis ngampleng ngene :))

  6. fisto Says:

    über geek! :))

Leave a Reply