
Pada tulisan kali ini, ijinkan saya memperkenalkan dua sahabat saya, Glendem dan Langsam. Glendem saat ini bekerja di peternakan besar, banyak sapi di sana. Sebagai lulusan cum laude perguruan tinggi ternama, sebut saja Gadjah Mada nama kampusnya, tidak sulit bagi dia untuk mendapatkan pekerjaan. Ahli masalah peternakan yang selalu persaja, dengan pembawaan yang selalu kalem, murah senyum dan kadang-kadang keluar hal lucu dan agak saru, sesuatu yang mengejutkan kalau menilik sifatnya yang pendiam.
Lain halnya dengan Langsam. Dia pembaca buku yang mendarah daging. Agak sulit saya menemukan kata yang tepat, intinya dia suka sekali membaca. Buku apa saja, dari teori sosial hingga novel. Langsam juga ceplas-ceplos dalam setiap pertemuan. Dengan bekal bacaan yang banyak, tak jarang muncul juga kutipan-kutipan terkenal (yang saya selalu terperangah tiap mendengarnya. Sayangnya, dalam sekejap saya lupa juga apa yang dikatakannya huhu).
Mereka berdua jarang bertemu, apalagi berkumpul bersama dan reriungan seperti masa muda kami ketika kami sama-sama di bangku sekolah menengah pertama. Langsam yang aktif di dunia NGO (Non Government Organization), hampir selalu keluar kota, membagi ilmunya ke pelosok negeri. Sedangkan Glendem, kadang ke luar negeri untuk belajar sistem peternakan. Tapi hari ini istimewa, mereka berdua tiba-tiba muncul di depanku, yang sedang menikmati teh racikan mas blontankpoer. Ya sudah, mari ngeteh bersama.
“Gimana pendapatmu tip, soal pemakaian kata ASEAN untuk komunitas blogger?” Langsam tidak memerlukan basa-basi untuk bertanya. “Walah, sek to, ngeteh-ngeteh dulu to. Ini soal apa sih?” saya tergagap. Sumpah. Mereka berdua memang blogger juga, menuliskan apa saja yang menurut mereka menarik dan pantas dibagi. Entah mengapa, kadang mereka berdua seperti membangun polemik, dan saya menikmatinya
Glendem selalu berpikir positif tentang pemerintah, sedang Langsam sebaliknya. Saya? Saya sedang ngeteh! jangan tanya! *eh*
Identitas
Rupanya hal ini yang sedang menjadi perdebatan mereka berdua. Saya bisa menarik kesimpulan begitu, karena Langsam melanjutkan pertanyaannya,”Kami sedang berdebat tip. Tidak di blog, langsung. Aneh soalnya, wong organisasi kok dijadikan bagian nama, ini kan artinya mereka ini underbow, bawahan, bagian tidak langsung, dari organisasi itu!”
“Baiklah, jadi ini soal ABC ya?” tanyaku yang tentu saja tidak memerlukan jawaban, aku juga nanyanya sambil nyruput teh. “Dengan memakai kata ASEAN, identitasnya kan jelas. Orang jadi lebih mudah tahu, itu kan organisasi yang sudah well-known” Glendem menimpali.
“sek ndem, ini maksudnya gimana? lebih mudah untuk siapa sih? kalau lebih dikenal, terus apa? aku kok bingung” kataku. “Itu dia! palingan ujung-ujungnya biar lebih mudah diterima sponsor!” Langsam tak sabar.
“Sponsor? untuk berkegiatan? lha kan memang butuh uang?” tanyaku. Glendem tersenyum, “betul kata Lantip sam, apa sih salahnya dengan sponsor? lagian maksudku, ketika organisasi ini lebih dikenal, bukankah jadi lebih mudah pula untuk masuk ke institusi-institusi, untuk didengar oleh media, ketika kita menyampaikan aspirasi”.
Aku manggut-manggut. “Masalahnya ndem, ketika kamu membawa nama itu, kamu tidak bisa keluar dari koridor pemilik nama. Kebebasan yang kamu perjuangkan itu, omong kosong!” Langsam masih emosi. Kusodorkan gelas teh lagi kepadanya, dia minum. “Kalau ASEAN sebagai pemilik nama merasa kalian bertindak di luar kebijakan mereka gimana? ingat ndem, ASEAN ini kumpulan negara-negara, organisasi mapan. Dan di beberapa negara anggotanya, kebebasan berekspresi masih belum ada”
“Lantas kenapa? Hal yang belum tentu terjadi, kenapa dipusingkan? Yang pasti-pasti saja sam, kalau organisasinya masih belum dikenal jelas, apa mungkin suara kita masuk ke media konvensional? Lihat coba, perhelatan besar kemarin, koran nasional ada yang meliput? Sementara ABC, masuk kompas! Ya nggak tip?” Glendem meraih gelas tehnya. Tampaknya dia sudah mulai emosi juga.
“Aku ndak bisa berpendapat” belum selesai kata-kataku, Langsam menimpali,”Mesthi ngono! kamu itu mbok yang tegas!” “sek tooo.. duh.. maksudku begini. Siapa saya menghakimi ini benar ini tidak, menyalahkan yang ini membenarkan yang itu? Semua ini pilihan masing-masing. Ingat kan sam, aku kadang menyebutmu sebagai blogger NGO, toh kamu baik-baik saja kan?” “maksudmu?” Langsam tak sabar.
“Maksudku begini. Penentuan identitas diri, ditentukan oleh masing-masing pribadi. Ini menurutku. Pemakaian nama wilayah seperti yang diusulkan mas anton di blognya, ya boleh saja. Tetapi memakai nama organisasi sebagai identitas, ya apa salahnya? Yang penting, itu adalah keputusan bersama” “hnah! memangnya itu keputusan bersama? bukan keputusan panitia saja?” sergah Langsam.
“Lho, ini kan blogger sam, kalau nggak setuju, nulis dong. Buktinya belum ada tulisan yang menolak kan? Lagian sudah diterangkan kok sama para pengurusnya, bahwa hal itu sudah didiskusikan secara offline pula” Glendem ikut nggak sabar.
“Aku bukan mau berpihak pada siapapun, intinya, kalau memang suka dengan nama organisasi yang sudah establish, sudah dikenal dunia, menjadi bagian dari nama komunitas, ya nggak apa-apa. Sekarang tinggal kamu saja sam, yang memilih posisi oposisi, paling nggak dalam kasus ini, yang memang harus mengawasi, apakah kebebasan benar-benar terjadi” kataku.
“Tuh kan, kenapa keruwetan ini harus menjadi tanggungjawab mereka yang tidak setuju? Apa sih susahnya milih nama yang lebih bebas nilai?” “Lho ya terserah kamu sebenarnya sih, mau mengambil tanggungjawab itu atau enggak. Saling mengingatkan itu kewajiban manusia to?” kataku lagi.
Perbedaan
Wajah Langsam masih jauh dari puas. Glendem sendiri hampir tanpa ekspresi. Aku cuma bisa menikmati teh. Mereka diam cukup lama, maka kupersilahkan mereka mengendapkan emosi masing-masing, sembari kuambil laptopku dan iseng-iseng menggambar sesuatu.

“ini untukmu sam” kataku setelah gambar di atas selesai.
“apa ini?” “ya, biar kamu ndak kalah keren. kubikinkan logo” “kenapa ada kata-kata NGO” Langsam terlihat jengah. Glendem senyam-senyum,”ya kan, asean kumpulan pemimpin negara, yang non pemerintah, kan ya NGO. Lantip dah bener itu hehe… tapi kok kayak nama kecap tip?” “mbok pikir ABC dudu merek kecap? tur pancen tugasmu to dho ngecap sak karepmu. wis bubar!” kataku sambil menarik buku pram dari rak. “aku mau baca, silakan kalau kalian juga mau, ambil saja satu buku”
Tidak ada kesimpulan. Glendem melihat-lihat buku koleksiku, lalu mengambil koran. Langsam sudah sibuk lagi dengan handphonenya. Aku minta ijin membaca.
vale, demi perbedaan
el rony, semua kecap itu nomer satu.
Satu Minggu Satu Posting
November 23rd, 2011 at 12:22 pm
hahaha. tulisan uapik nan reflektif ini diakhiri dengan banner yg amat menggoda. tapi, kenapa bukan BALSeM wae, Blogger Asuhan LSM.
jadi lebih pedas terasa. :p
November 23rd, 2011 at 12:29 pm
“Vale, a Latin word meaning farewell or goodbye to a recently deceased person.”
November 23rd, 2011 at 12:30 pm
semua kecap memang nomer satu, tidak seperti jamu yang mau jadi nomer 5, atau puyer yang rala menjadi nomer 16. tapi toh mereka juga tetep laris…
November 23rd, 2011 at 12:37 pm
Njuk kalo ada BALSEM nanti ada BALPIRIK, blogger asuhan kirik *halah banget :)))
November 23rd, 2011 at 12:45 pm
LOL Bangoooo *keplak lantip*
November 23rd, 2011 at 12:47 pm
ABC vs BANGO, dua duanya sama manis, tinggal masalah selera :))
Kang, tak invite ke SEASONed Blogger yah ?
November 23rd, 2011 at 12:48 pm
Aku malah mikirnya ABC itu merek batere je
November 23rd, 2011 at 12:52 pm
Iki pais post ya… Seko kecap bango #ngakak
November 23rd, 2011 at 12:53 pm
@suprie: opo meneh kuwi? blogger ber-msg? hihi
November 23rd, 2011 at 12:58 pm
aku seneng logone kang
November 23rd, 2011 at 1:14 pm
Tulisan priyayi lantip lan kebak ilmu iku pancen momot. Senang aku membacanya. Bahan renungan menarik… Suwun, Kang…
November 23rd, 2011 at 3:04 pm
@sandal
ABC kie merek indomie..
maksudku merek mie instan.
November 23rd, 2011 at 10:33 pm
hehehe tulisan mas lantip ini bagus juga

tak kira kecap beneran
November 24th, 2011 at 12:30 am
bhuahahahha, ABC trus Bango.. ciaat
January 14th, 2012 at 1:32 am
hahahaha …
nama PETERSON aja, asuhan rembulan