
Begitulah, dalam tiap diskusi, hampir dengan siapapun, dalam tema apapun, sering sekali saya menemukan sikap seperti dalam judul. Bukan berpegang pada pesan yang disampaikan, tetapi lebih ke mencari kesalahan sang penyampai.
Hari ini saya senang sekali, karena kebetulan khatib sholat jumat kali ini, uraiannya cerdas. Sudah beberapa kali saya mendapati beliau berkhutbah, dan sedari dulu, sikap beliau selalu pas dengan nalar. Kali ini beliau bercerita soal da’wah. Adda’a, ud’u, yad’u, do’a. Berseru.
Hakikat dakwah adalah berseru. Ini menjadi kewajiban tiap kita. Bukan berarti kalau tidak melakukan lantas berdosa, tetapi ini amanat yang memang diberikan oleh pendiri agama saya ketika beliau melaksanakan ibadah haji wada’ (terakhir). Saya sangat yakin, seruan ini juga ada pada tiap agama. Intinya, mari menyerukan atas kebaikan kepada semua orang.
Khatib kali ini kemudian menceritakan soal satu ayat yang selalu dijadikan landasan secara salah oleh kebanyakan orang. “Allah murka terhadap orang-orang yang hanya berbicara tetapi tidak melakukannya”. Ayat ini sebenarnya dipotong, karena sebenarnya ayat ini ada kelanjutannya, yang memberi setting kapan dan dimana ayat tersebut itu turun, dengan demikian muncul pula konteks kalimat tersebut. Ternyata ayat tersebut turun ketika ada keraguan dari kaum Muslimin untuk berperang melawan kaum quraisy yang memeranginya karena kalah dalam hal jumlah. Jadi ayat tersebut adalah ayat “kompor”, ayat yang membakar semangat setiap muslim agar jangan takut terhadap ancaman.
Maka ayat tersebut menjadi tidak relevan ketika dipergunakan untuk keseharian. Hal ini kembali ke tema awal yang ingin saya bahas, bahwa setiap diri kita mendapatkan amanat untuk berseru. Amanat untuk mengajak orang atas kebaikan. Pak Khatib menggaris bawahi dengan,”sampaikan apa yang memang baik dan benar, meskipun kalian belum memahaminya”. Mengajak, boleh meskipun kita belum memahami ilmunya. Namun mengajar, kita harus menguasai ilmunya.
Intinya?
Saya hanya ingin mengingatkan diri saya sendiri, juga sesiapa saja, bahwa kita memang mendapat amanat untuk saling mengingatkan. Untuk saling berseru. Ketika kita mendapat seruan, jangan lantas kita apriori ketika ternyata orang yang menyeru belum memahami apa yang dia serukan. Kalau kita memahami ilmunya, beri tahu dia kalau ternyata ada kesalahan atas apa yang dia sampaikan.
Bisa jadi akan menjadi perdebatan, tetapi tetaplah pada garis jalurnya. Fokus pada pesan yang disampaikan, jangan lantas menyerang personnya. Sikap menyerang terhadap person, adalah sikap paling bodoh dalam berdiskusi. Itu artinya kita menutup diri dari segala kemungkinan pencerahan. Sungguh sia-sia hidup kita.
Serulah saja, jika ada yang mempertanyakan atas seruan kita, cari literatur yang membuat kita yakin pada seruan kita. Jika yang kita seru memiliki ilmu yang lebih tepat, maka alhamdulillah, kita mendapatkan pencerahan.
Shoot the messenger, apalagi dengan mengajak orang lain untuk ikut-ikutan, berarti kita menjadi bagian dari penyesatan.
vale, demi seruan
el rony, menyeru agar kita.. ngeblog *alah*
Satu Minggu Satu PostingCategory: Pendidikan, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback
November 18th, 2011 at 3:11 pm
untung pas seruan, kadang kala menakut-nakuti loh, misalnya neraka itu panas…
November 18th, 2011 at 3:21 pm
haha nek ngono kuwi aku njur berada dalam dilema. arep ninggal opo neruske hihi
November 19th, 2011 at 6:39 pm
Suk nek dolan tak sangu toa ben iso sero tenan
November 23rd, 2011 at 9:34 am
kok aneh ya. bukannya seharusnya yg ditembak itu pesannya (message), bukan pembawa pesan (messanger).