
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan luar biasa, bertemu dengan seorang pengajar yang masih muda. Usianya jelas di bawah saya, dan dia memilih mengajar SD di lereng merapi. Namanya mas Eka Prasetya, di twitter dia mengenalkan dirinya sebagai @kerbauonline. Singkat cerita, kami ngobrol banyak tentang pendidikan dasar. Kebetulan, seperti banyak tertulis di blog saya ini, saya memang sangat peduli dengan pendidikan dasar. Bagi saya, ibarat bangunan, pendidikan dasar adalah pondasi yang menentukan bentuk dan kekuatan bangunan pendidikan seseorang.
Obrolan dimulai dari soal betapa semakin mahalnya biaya pendidikan. Seperti sudah pernah saya tuliskan juga, pendidikan SD sekarang, terutama untuk SD swasta, biaya masuknya saja senilai total biaya yang dikeluarkan untuk membayar SPP mahasiswa hingga dia lulus. Acuannya tentu saja SPP jaman saya, dimana per semester “hanya” Rp. 225.000,- saja.
Lantas pembicaraan bergulir, membahas banyak hal terkait biaya, dari mulai dana BOS hingga soal seragam dan buku. Namun yang paling menarik menurut saya, dan membuat saya terpancing untuk menuliskannya, adalah soal ujian masuk SD. Saya serta merta teringat suara-suara gelisah beberapa tetangga terkait ujian masuk SD ini.
Kementrian Pendidikan Nasional: Syarat Masuk SD hanyalah Usia
Dari perbincangan dengan mas Eka tadi, saya tercerahkan bahwa ujian masuk SD seharusnya tidak ada. Ingatan atas keluhan tetangga-tetangga itu, membawaku pada beberapa situs yang memuat soal ujian masuk SD. Sependek penemuan saya, SD yang memberlakukan ujian masuk adalah SD Swasta. Sepertinya tidak perlu saya sebutkan nama sekolahnya, silakan googling saja dengan kata kunci “test masuk SD”.
Di beberapa SD tersebut, alasan yang dikemukakan adalah soal quota. Demi pembatasannya, mereka kemudian memberlakukan ujian calistung (baca, tulis dan berhitung) kepada calon siswa SD. Entah mengapa, SD-SD Swasta ini seakan terbebas dari Surat Edaran Menteri Nomor: 1839/C.C2/TU/2009. Surat edaran tersebut mengingatkan kepada para Gubernur dan Walikota agar SD-SD di bawah naungannya tidak memberlakukan test.
Informasi dari mas Eka, surat edaran menteri tersebut masih berlaku hingga kini. Namun kenyataannya, SD tempat anak kakak saya sekolah juga memberlakukan ujian masuk. Kenapa ya? Kalau mengikuti surat edaran tersebut, maka batas kelayakan seseorang masuk SD adalah usianya. Jikalau usianya memang sudah memasuki masa masuk SD, maka tidak ada alasan bagi lembaga pendidikan manapun untuk menolaknya.
Namun, tak perlu kiranya kita menggugat sekolah manapun yang memberlakukan ujian masuk. Kalaupun ingin, kementrian pendidikan membuka kanal bagi para orang tua murid yang ingin melaporkan pelanggaran surat edaran tersebut. Yang sudah, biarlah sudah. Saya lebih ingin menelaah atau tepatnya mengomentari keberadaan ujian masuk itu saja.
Apa Salahnya sih Ujian Masuk SD?
Dengan ujian masuk, maka siswa yang ada di SD tersebut akan berada pada tataran yang kurang lebih sama. Semua sudah berada di level yang setara, sama-sama bisa membaca, menulis dan berhitung. Dengan demikian, tugas guru tidak lagi terlalu berat. Materi-materi pelajaran juga bisa diberikan dengan lebih lancar.
Permasalahannya kemudian, mereka yang sudah berusia 6,5 tahun ke atas tetapi belum bisa membaca, menulis dan berhitung, bagaimana nasibnya? Mereka yang seperti ini, rata-rata berada di garis ekonomi bawah. Orang tuanya tidak bisa menyekolahkan anaknya ke TK. Alih-alih bahkan lebih sering anak-anak ini diminta membantu di kebun atau mencari rumput untuk ternaknya, sehingga dalam usia itu, mereka tidak sempat belajar membaca, menulis dan berhitung. Berhitung mungkin bisa, membaca dan menulis tidak.
Kembali ke cerita dari mas Eka, anak muridnya ada yang bahkan hingga kelas 4 SD masih belum lancar menulis dan membaca. Kenapa mereka bisa sampai kelas 4? Semata-mata karena rasa kasihan, anak seusia itu tidak mungkin dibiarkan berhenti di kelas 1 terus.
Manajemen rasa kasihan ini tentu saja memiliki nilai kurang, sang anak kemudian menjadi sangat minim semangat kompetisinya. Pada akhirnya ketika si anak kelas 6 SD, mau tidak mau dia harus sudah bisa membaca dan menulis, karena syarat agar bisa masuk SMP adalah melalui DANEM. PR yang berat bagi para guru SD di wilayah pedesaan terpencil.
Sekali lagi, saya ajak teman-teman kembali ke isu utama yang ingin saya bahas, mengenai ujian masuk SD. Tadi sudah ada keuntungan dan kerugian yang saya sampaikan, sekelumit saja. Nah, hal yang juga harus digaris bawahi adalah bahwa misi lembaga pendidikan itu untuk mencerdaskan anak bangsa. Di sini saya merasa miris. Ketika anak yang belum memiliki tingkat “kecerdasan” yang memadai (dalam pandangan akademis), mereka kemudian tersingkir dari akses pendidikan yang lebih kompetitif.
Saya sendiri bukan penghamba nilai dan ranking. Perdebatan soal ini bakalan panjang. Namun, yang saya maksud dengan kompetitif ini adalah satu sistem pendidikan yang memicu perkembangan nalar dan akademis seorang anak. Jika lingkungan dia berada sifatnya permisif dan bahkan mungkin rata-rata tidak menemui masalah terkait kemampuan membaca dan menulis, sangat sulit dibayangkan dia akan mengalami kemajuan dalam bidang ini.
Pemikiran bodohnya begini, kalau yang bodoh-bodoh dikumpulkan, mereka tidak akan sadar bahwa mereka bodoh. Maaf, kata ini cukup keras, dan tidak layak. Ini hanya sekedar ilustrasi saja. Mereka mungkin “bodoh” secara akademis tetapi terbukti mereka tidak bodoh dalam hal menghormati orang tua, sopan santun, budi pekerti, dan lain-lain. Dan bisa jadi mereka bukan termasuk bodoh ketika harus bertahan hidup. Mereka yang sekolah di sekolahan elit mungkin justru akan kesulitan berhadapan dengan kehidupan nyata, karena selama ini yang dia tahu hanya menghadapi ujian sekolah, bukan ujian hidup.
Nah, dengan pengandaian tadi, maka sulit pula diharapkan, terjadi proses saling mendorong di antara para siswa. Saya punya teori, ketika sekelompok orang berkumpul, maka mereka yang memiliki visi ke depan, akan menarik orang-orang di sekelilingnya. Hal ini tentu saja hanya berlaku untuk usia anak-anak, dimana dalam usia itu belum ada saling curiga dan dendam.
Jadi, menurut hemat saya, pelaksanaan ujian masuk SD, tidak akan memberikan sumbangan apapun ke dunia pendidikan, selain sumbangan ke sekolah penyelenggara ujian masuk. Keuntungan bagi siswa bisa dibilang sama sekali tidak ada. Berinteraksi dengan teman yang levelnya berbeda, berkompetisi dengan pola saling mendukung, tentu akan lebih menyiapkan siswa menghadapi dunia nyata.
Maka saya bertanya, apa sih alasannya memakai ujian masuk?
vale, hanya bertana
el rony, karena bertanya berarti saya tidak bisa menjawab
Satu Minggu Satu PostingCategory: Pendidikan, Neolib, blog | Comment RSS 2.0 | trackback
October 27th, 2011 at 10:31 pm
alasannya sih quota, tapi tetep yang diterima dulu yang amplopnya tebel. main duit.
October 27th, 2011 at 11:26 pm
biar di bilang sekolah keren
btw jadi inget, angkatan SD ku jaman dulu ada yang sampai lulus masih belum bisa baca tulis. Mungkin seperti alasan sampean di atas, kasian.
dan sekarang dia udah bisa punya rumah dan menghidupi keluarganya sendiri :D. jadi lebih terhormat dari anak pinter akademis, tapi masih jadi benalu =))
November 2nd, 2011 at 12:34 am
Heren juga akan ide2 konyol macem ini, harus nya ide macem ini di terapkan saat masuk jadi presden atau dpr/mpr.
gak bisa bayangin biaya masuk sd 5-10 tahun kedepan
November 14th, 2011 at 12:44 pm
kang lantip…..ehh kang roni, apa kabar?
lama tak jumpa. hehehehe.
kalau sempat, mari nyambung lagi silaturahmi lewat email