
Sekali lagi tentang rumah sakit. Tentang pelayanan dari sebuah institusi yang bersinggungan langsung dengan harapan hidup. Ada sekian banyak cerita seputar rumah sakit yang saya dapatkan, namun kali ini, seijin mas Bobby Gunawan yang menceritakan semuanya di FB-nya, saya ingin membaginya pula ke semua orang, agar mereka yang tidak memiliki FB bisa ikut membaca. Ringkasnya, ini adalah potret pelayanan yang seakan menanggalkan “rasa” dan “kemanusiaan”, hal yang seharusnya menempel erat di institusi yang bersandar pada jasa pelayanan. Saya copy paste note FB dari mas Bobby Gunawan. Silakan dibaca.
KURANG BIAYA 70 RIBU, BAYI 10 BULAN TEWAS TERLANTAR DI RUMAH SAKIT
Kepada rekan-rekan jurnalis, saya ingin menyampaikan kabar duka. Anak dari keponakan saya Susan Kania & Martin, yg berusia 10 bulan tewas terlantai di Rumah Sakit Mitra Anugrah Lestari, Cimahi, Jabar. Gara-gara tidak bisa tebus obat 70 ribu!!!
Susan dan Keluarga biasanya meminta bantuan jika ada masalah keuangan. suka sms atau telp. Tapi kemarin tidak ada kabar apa-apa. aya baru tau kalau mereka sudah tidak punya pulsa, untuk kontak. Bahkan HP sempat ditawarkan untuk digadaikan ke rumah sakit.
Berikut penuturan orang tua korban. Untuk nomer HP, silakan japri kesaya:
=======
Nisza Ismail (Nisa) mengalami step pada hari Juma’t 20 Oktober 2011 setelah demam tinggi semenjak hari Kamis 19 Oktober 2011.
Setelah melakukan penanganan sendiri oleh keluarga dirumah, dikarenakan kondisinya tidak kunjung membaik maka kami (pihak keluarga) memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit Mitra Kasih, tapi dikarenakan biayanya yang terlalu mahal maka kami pun membawa ke Rumah Sakit Handayani, akan tetapi di RS Handayani tidak menerima pasien bayi dikarenakan tidak memiliki alat yang cukup memadai.
Akhirnya pihak RS Handayani merujuk ke RSU Mitra Anugrah Lestari (MAL).
Pada pukul 13.30 Jum’at 20 Oktober 2011, Nisa pun tiba di RSU MAL dan langsung dibawa ke UGD. Akan tetapi karena masalah “administrasi”, Nisa pun tidak diperkenankan masuk ruang rawat, dan tidak ditangani dengan baik padahal lebih dari setengah dari uang administrasi telah dibayar.
Sekitar jam 5 sore Nisa baru diberi bantuan infus, tapi masih diruang UGD dikarenakan administrasi belum dilunasi.
Baru sekitar jam 8 malam, Nisa dipindahkan ke Ruang Rawat Anak setelah kami melunasi biaya pendaftaran (Administrasi) sekitar 500 ribu. Akan tetapi itupun belum ditangani dengan baik, dikarenakan tidak adanya dokter spesialis yang masuk pada hari itu.
Sekitar jam 12 malam, Dokter baru tiba untuk memeriksa tapi itu bukan dokter spesialis melainkan dokter jaga (umum).
Setelah diperiksa, dokter memberikan resep untuk ditebus, yang berupa obat dan selang sedot lambung dikarenakan dokter mendiagnosa bahwa Nisa terkena infeksi lambung dan perlu untuk dibersihkan lambungnya.
Tapi dikarenakan kami tidak memiliki biaya, resep pun tidak dapat ditebus karena mereka bilang “Ada Uang, Ada Obat”. Padahal resep itu diperlukan secepatnya.
Kami pun terpaksa melakukan negosiasi untuk meminta keringanan agar resep diberikan dan biaya akan dibayar besok pagi, tapi itu semua tidak digubris oleh RS MAL. Baru setelah negosiasi dengan sedikit penekanan dan dengan mencoba tuk menjaminkan STNK, pihak RS MAL memberikan Obat tersebut dan langsung memasang selang sedot lambung.
Tapi setelah itu tidak ada check up sama sekali yang dilakukan pihak RS pdahal kondisi nisa sudah semakin lemah.
Pada jam 4 pagi, Nisa pun mengalami step yang kedua kali. Dan kami pun memanggil dokter jaga untuk memeriksa. Setelah itu kami diharuskan untuk menebus resep kembali yang berupa obat kejang dan obat penurun panas. Dikarenakan kami tidak memegang uang sepeser pun, lalu kami pun merminta keringanan kembali dikarenakan kebutuhun akan obat ini sangat mendesak. Akan tetapi pihak RS menolak walaupun kami mencoba untuk menjaminkan Handphone, karena mereka bilang “Obatnya mahal” tp setelah di cek obat tersebut hanya berharga 70 ribu.
Dikarenakan keperluan akan obat tersebut sangat mendesak saya (Ayah Nisa), terpaksa jalan kaki pulang ke rumah, untuk meminta pertolongan keluarga, karena tidak adanya kendaraan dan pulsa. Dan pada saat itu istri saya yang menunggui Nisa di RS karena keluarga yang lain sedang berusaha mencari biaya RS.
Setelah sekitar 30 menit saya kembali ke RS disertai pihak keluarga, tp setelah sampai RS dan melihat kondisi Nisa yang sedang step (kejang-kejang) belum juga diberikan obat dan ditangani oleh suster dan dokter jaga.
Baru setelah pihak keluarga berdebat panjang untuk keringanan obat yang biayanya paling akan dibayar tidak lebih dari 4 jam, baru pihak RS memberikan Obat tersebut akan tetapi sudah terlambat. Malahan keadaan Nisa makin memburuk, dokter jaga kemudian memeriksa kembali dan menyarankan Nisa dibawa ke ICU apabila sampai jam 6 pagi keadaannya tidak kunjung membaik.
Akan tetapi kami menunggu sampai jam 7 pagi, pihak RS belum juga memindahkan Nisa ke ICU dan dokter pun belum datang. Dan sekali lagi alasan mereka belum memindahkan Nisa adalah karena uang, uang dan uang.
Sekitar jam 8 pagi Nisa baru dipindahkan ke ICU, dan kami pun diminta untuk menebus resep kembali seharga 217 ribu yang berupa alat-alat dan obat perawatan selama di ICU.
Kejanggalan kami temukan pada saat pertama resep itu diberikan kepada kami, dokter bilang bahwa resep itu diperlukan secepatnnya, tapi setelah kami berbicara kepada pihak administrasi untuk memberikan dahulu obat-obatan tersebut sambil menunggu kami mengambil uangnya, pihak Adm RS mengatakan bahwa resep tersebut tidak begitu mendesak dan akan digunakan nanti siang sekitar jam 12 siang dan kami disuruh untuk mengambil uangnya terlebih dahulu. Aneh..
Setiap kami akan meminta keringan ato bisa dibilang tempo dalam membayar biaya RS, pihak RS selalu mengatakan “memang Prosedurnya seperti itu”, “ada uang, ada obat” dan “ada uang, kami tangani”. Prosedur yang tampak aneh menurut saya untuk ukuran Rumah Sakit yang harusnya mementingkan keselamatan pasien terlebih dahulu dan bukan digunakan sebagai lahan bisnis.
Sekitar jam 10 pagi, pihak RS mengatakan sudah tidak sanggup untuk menangani Nisa (lah kalau merasa tidak sanggup kenapa tidak bilang dari awal), dan sekitar jam setengah 11 (memasuki jam besuk), Ayah saya masuk ke ruang ICU dan melihat Nisa sedang dimasukan selang melalui mulut (entah apa fungsinya) tp mereka bilang itu untuk pertolongan pertama (aneh again, masuk jam 8 pagi tp kenapa pertolongan pertamanya baru jam setengah sebelah, jd selama di ICU tidak ditangani dong) dan itupun tanpa persetujuan pihak keluarga. Baru karena ayah saya melihat kejadian tersebut, pihak Rumah Sakit memberikan surat persetujuan untuk melakukan pertolongan pertama itu padahal itu sudah dilakukan tanpa persetujuan, ya terpaksa pihak keluarga menyetujui hal itu, ya karena sudah terlanjur dilakukan dan walau dalam keadaan kesal.
Dan akhirnya pada hari Sabtu 22 Oktober 2011 pukul 11.00, “Inna Lillahi Wa Inna Illlaihi Rojiuun” Nisa pun menghembuskan nafas terakhirnnya.
Tapi tunggu dulu, masalah belum selesai sampai disitu saja. Pada saat kami akan mengambil jenazah untuk dimakamkan masih saja dipersulit.
Segala macam harus diselesaikan terlebih dahulu sampai untuk meminta Ambulance pun kita mesti bayar lagi, Astaghfirullah.
Terimakasih,
Martin Ismail (Ayah Alm. Nisza ismail)
note: saya sertakan screenshoot FB page sebagai verifikasi copy paste saya. Silakan klik di sini.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Selamat jalan Nisa. Semoga keluarga senantiasa dikaruniai ketabahan. Untuk pemerintah, saya hanya ingin bertanya, kenapa kejadian seperti ini harus ada? Saya bukan semata menuntut, saya hanya mempertanyakan apa saja yang engkau kerjakan?
vale, demi kesehatan
el rony, menitipkan doa pada tiap tetes air yang mengalir.
nb: tujuan saya memblogkan ini agar lebih banyak orang lagi yang membaca, agar hal seperti ini jangan sampai terulang lagi.
update
berita kasus ini di media:
Category: Kesehatan, Politik, Neolib | Comment RSS 2.0 | trackback
October 23rd, 2011 at 8:25 pm
tadi sore udah baca, langsung mak jleb
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..
kasihan dedek.
October 23rd, 2011 at 8:40 pm
ijin copas ke blog saya y mas…semoga bisa menjadi pembelajaran kita semua
October 23rd, 2011 at 8:58 pm
mas @danang silakan mas, jangan lupa sertakan tautan link fb dan twitter page mas bobby gunawan, biar orang bisa konfirmasi langsung ke beliau. nuwun
October 23rd, 2011 at 10:50 pm
Innalillahii…..
Merinding saya baca ini, tega sekali pihak rs tidak melakukan tindakan penyelamatan nyawa bayi ini, sakit demam tinggi alias step bukan hal yg mematikan asalkan CEPAT ditangani, dan jelas sekali kesalahan ada di pihak rs yg tidak segera melakukan tindakan ini
Ya Tuhan, semoga hal seperti ini tdk terjadi lagi…..
October 23rd, 2011 at 11:31 pm
Astaghfirullah.. Ini RS sudah gila ya? Sebentar2 uang?! Kenapa gak ditangani dulu, nanti trs ditotal pengeluarannya? Ya Allah, terimalah adik Nisa di sisi-Mu dan berilah kesabaran u/ keluarga, org tua yg ditinggalkan. RS ini akan dpt pelajaran nanantinya. Kalau mnrt mrk “ada uang, ada obat”, mrk blm tau “ada dosa, ada balasan”.
October 27th, 2011 at 10:55 am
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..
..
berarti di negara kita ini orang yang nggak punya uang nggak boleh sakit
January 22nd, 2012 at 2:46 pm
waduh parah bangettt sampai harus ada korban gara2 70ribu ajja ..
ukh dasar ,, g punya hati nurani ..
andai saja mereka punya hati nurani asti mereka akan merasakan apa yang dirasakan orang itu ..