Perlukah Ujian Masuk SD?
Thursday, October 27th, 2011
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan luar biasa, bertemu dengan seorang pengajar yang masih muda. Usianya jelas di bawah saya, dan dia memilih mengajar SD di lereng merapi. Namanya mas Eka Prasetya, di twitter dia mengenalkan dirinya sebagai @kerbauonline. Singkat cerita, kami ngobrol banyak tentang pendidikan dasar. Kebetulan, seperti banyak tertulis di blog saya ini, saya memang sangat peduli dengan pendidikan dasar. Bagi saya, ibarat bangunan, pendidikan dasar adalah pondasi yang menentukan bentuk dan kekuatan bangunan pendidikan seseorang.
Obrolan dimulai dari soal betapa semakin mahalnya biaya pendidikan. Seperti sudah pernah saya tuliskan juga, pendidikan SD sekarang, terutama untuk SD swasta, biaya masuknya saja senilai total biaya yang dikeluarkan untuk membayar SPP mahasiswa hingga dia lulus. Acuannya tentu saja SPP jaman saya, dimana per semester “hanya” Rp. 225.000,- saja.
Lantas pembicaraan bergulir, membahas banyak hal terkait biaya, dari mulai dana BOS hingga soal seragam dan buku. Namun yang paling menarik menurut saya, dan membuat saya terpancing untuk menuliskannya, adalah soal ujian masuk SD. Saya serta merta teringat suara-suara gelisah beberapa tetangga terkait ujian masuk SD ini.
Kementrian Pendidikan Nasional: Syarat Masuk SD hanyalah Usia
Dari perbincangan dengan mas Eka tadi, saya tercerahkan bahwa ujian masuk SD seharusnya tidak ada. Ingatan atas keluhan tetangga-tetangga itu, membawaku pada beberapa situs yang memuat soal ujian masuk SD. Sependek penemuan saya, SD yang memberlakukan ujian masuk adalah SD Swasta. Sepertinya tidak perlu saya sebutkan nama sekolahnya, silakan googling saja dengan kata kunci “test masuk SD”.
Posted in Pendidikan, Neolib, blog | 4 Comments »
Membisniskan Orang Sakit?
Sunday, October 23rd, 2011
Sekali lagi tentang rumah sakit. Tentang pelayanan dari sebuah institusi yang bersinggungan langsung dengan harapan hidup. Ada sekian banyak cerita seputar rumah sakit yang saya dapatkan, namun kali ini, seijin mas Bobby Gunawan yang menceritakan semuanya di FB-nya, saya ingin membaginya pula ke semua orang, agar mereka yang tidak memiliki FB bisa ikut membaca. Ringkasnya, ini adalah potret pelayanan yang seakan menanggalkan “rasa” dan “kemanusiaan”, hal yang seharusnya menempel erat di institusi yang bersandar pada jasa pelayanan. Saya copy paste note FB dari mas Bobby Gunawan. Silakan dibaca.
KURANG BIAYA 70 RIBU, BAYI 10 BULAN TEWAS TERLANTAR DI RUMAH SAKIT
Kepada rekan-rekan jurnalis, saya ingin menyampaikan kabar duka. Anak dari keponakan saya Susan Kania & Martin, yg berusia 10 bulan tewas terlantai di Rumah Sakit Mitra Anugrah Lestari, Cimahi, Jabar. Gara-gara tidak bisa tebus obat 70 ribu!!!
Susan dan Keluarga biasanya meminta bantuan jika ada masalah keuangan. suka sms atau telp. Tapi kemarin tidak ada kabar apa-apa. aya baru tau kalau mereka sudah tidak punya pulsa, untuk kontak. Bahkan HP sempat ditawarkan untuk digadaikan ke rumah sakit.
Berikut penuturan orang tua korban. Untuk nomer HP, silakan japri kesaya:
Posted in Kesehatan, Politik, Neolib | 7 Comments »
Seandainya Irul itu New 7 Wonder..
Monday, October 17th, 2011
Ya, ini berandai-andai saja. Sebenarnya perandaian ini dipicu oleh maraknya –lagi– isu soal New 7 Wonder. Bagi teman-teman yang mengikuti kabar kabur seputar kontes idol-idolan ini tentu tahu, bahwa kontes ini sudah berlangsung semenjak tahun 2000. Dan semenjak tahun itu pula, meski sudah memajang deretan “pemenang”, masih juga belum ada kejelasan tentang beberapa hal. Detilnya sih teman-teman bisa baca di blognya Priyadi.
Setelah perusahaan (ya, perusahaan, bukan lembaga/foundation) kecil dari Swiss ini mengancam mencopot pulau komodo dari daftar New 7 Wondernya, sebenarnya hiruk pikuk soal inipun sempat mereda. Dikabarkan waktu itu, Indonesia (dalam hal ini dinas budaya dan pariwisata) sempat dengan PD mengajukan diri sebagai tempat pelaksanaan penyerahan award. Namun ternyata perusahaan kecil dari Swiss ini minta sejumlah uang lagi. Karena –mungkin– disbudpar sudah keluar uang banyak untuk kampanye, tidak ada anggaran untuk ini, maka disbudpar menyatakan membatalkan usulan itu. Eh, diancam mau dihapus. Seingatku sih waktu itu sikap pemerintah kita, yaudah hapus saja.
Waktu berlalu, bulan berganti, tahu-tahu muncullah satu sosok politikus. Bak pahlawan, dia katakan “votinglah” biaya sms premium sudah ditanggung olehnya (atau oleh sponsor, demikian bahasa resminya). Maka ramai lagilah kampanye soal New 7 Wonder ini. Masih dibutuhkan 120 juta vote untuk “memenangkan” Pulau Komodo dalam ajang ini.
Posted in Politik, Neolib, Yogyakarta, blog, Daily Life | 6 Comments »
Apa sih Komunitas Itu?
Monday, October 10th, 2011
Akhir-akhir ini, semakin banyak kegiatan/event yang melibatkan komunitas. Entah mana yang lebih dulu mulai, yang jelas hampir berbarengan pula, muncul berbagai komunitas (terutama online) marak di mana-mana. Menyenangkan sekali menurutku, karena dengan munculnya komunitas ini, terutama saya fokus di komunitas online, memberikan kemungkinan yang lebih luas dalam hal beraktivitas dan pengembangan diri anggotanya.
Saya teringat ketika terjadi musibah bencana erupsi Merapi di Jogja. Koordinasi komunikasi dan bantuan menjadi lebih enak, pengumpulan orang-orangnya juga jadi lebih beragam dan luas dengan adanya komunitas ini.
Sebenarnya, apa sih komunitas itu?
Sependek pengetahuan saya, komunitas adalah tempat di mana sekelompok orang berkumpul dikarenakan kesamaan ide atau platform, untuk bersama-sama melakukan kegiatan, baik itu untuk mencari pemecahan masalah hingga usaha menawarkan solusi kepada masyarakat sekitar.
Di Yogyakarta sendiri, definisi komunitas ini sangatlah beragam. Satu-satunya cara untuk memperoleh gambaran apa dan bagaimana komunitas itu, yaitu dengan melihatnya lebih dekat. Saya coba absen satu-satu dengan gambaran singkat kegiatan mereka. Sekedar catatan saja, semoga dari teman-teman yang membaca bisa menambahkan komunitas apa yang ada di daerahnya, tidak harus di Yogyakarta saja tentunya.
Posted in Yogyakarta, blog, Daily Life | 22 Comments »
Kemana ya kemerdekaan itu?
Wednesday, October 5th, 2011
Menulis, kalau dipikir-pikir, kita mempelajarinya semenjak kita mengenal dunia pendidikan. Dari TK mungkin, atau SD. Menulis apa saja, dari Ini Ibu Budi hingga Wati Aku Sayang Kamu, Kamu Mau Nggak Jadi Pacarku. Dari tulisan sederhana hingga tulisan yang menuntut penelitian untuk mengantarkan gelar sarjana.
Lalu kita beranjak semakin dewasa, usia bertambah, sepupu dan keponakan semakin banyak. Kita mulai mengenal baik dan buruk, indah dan jelek. Lalu tanpa disadari, kita menjadi minder sendiri. Tidak cuma tulisan sebenarnya, dalam hal menggambar juga sama saja. Bukankah dulu kalian diam-diam mencuri lipstik emak kalian, lalu mencoretkan “keindahan” di tembok sehingga mendapat penghargaan berupa biru-biru di paha? Lalu kemana sekarang jiwa seni itu hilang?
Ketika kita hendak mengungkapkan isi hati, melalui media yang kini semakin beragam, kita seakan mendapatkan hambatan besar. Kemana jiwa merdeka masa kanak-kanak kita, yang mengantarkan karya-karya besar berupa tulisan-tulisan itu? Ingat kawan, tulisan adalah hasil karya, dan yang namanya hasil karya, menurut saya, tidak ada yang bukan karya besar. Karena itu hasil budi dan daya kita.
Budaya Menulis, Bukan Budaya Kita?
Mungkin saja. Kenapa? Karena kita memang sangat minim mendapati coretan atau catatan terhadap peristiwa-peristiwa penting di negeri ini. Katakanlah pendirian Candi Borobudur, dimana catatannya? Atau pembuatan kapal-kapal jaman Majapahit yang mengantar para punggawa kerajaan hingga ke negeri China, kayunya diambil dari mana, siapa pembuatnya, berapa biayanya, dimana catatannya?
Posted in blog | 7 Comments »
