Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Arogansi Pusat, Arogansi para Penjilat

Print This Post   Email This Post

Hari ini mendapat kabar yang kurang menyenangkan. Kisah usang tentang perlakuan orang pusat kepada orang daerah. Saya ungkap sedikit saja kisahnya. Jadi, sudah beberapa hari ini berlangsung sebuah event besar di satu gedung expo di Yogyakarta. Event ini digelar oleh kementrian dari Jakarta. Tak kurang pimpinan lembaga kementrian itu hadir pada saat pembukaan. Singkat cerita, dimintalah teman-teman Yogya untuk mengisi acara. 

Acara berlangsung tadi malam, 27 September 2011 pukul 18.20WIB. Teman-teman yang memang selalu bergerak tanpa pamrih, tidak melulu memburu uang, bahu membahu menyiapkan acaranya. Alangkah mengecewakannya ketika ternyata di saat acara akan dimulai, panitia masih juga belum memberikan kejelasan soal blocking waktu dan tempat. Hal ini bertambah parah dengan tidak disiapkannya kondisi dan suasana, sehingga konsep acara yang bersifat obrolan jadi berantakan karena ada suara dari booth lain yang mendominasi.

Saya merasakan betul kekecewaan teman-teman yang seakan –istilah jawanya– tidak diuwongke. Apalagi Argamoja yang sudah pontang-panting menyiapkan segalanya, termasuk mengontak para pembicara. Anda semua bisa membayangkan bagaimana jika berada pada posisi dia, sementara dia yang mengundang pembicara, ternyata di lokasi, slide yang disiapkan oleh pembicarapun tidak bisa ditampilkan. Sungguh sebuah hal yang –menurut saya– kurang ajar apa yang dilakukan oleh penyelenggara kegiatan tersebut. Entah di Event Organizer-nya, atau bisa juga di mentalitas khas pegawai yang makan gaji buta, yang jelas apa yang mereka lakukan sama sekali tidak mencerminkan upaya paling minimal untuk menghargai teman-teman yang tanpa pamrih membantu mereka.

Arogansi Pusat.

Kata itu yang saat ini menguasai kepala saya. Khas para pembesar Jakarta, yang tak memandang sebelah matapun kepada orang-orang di daerah. Saya langsung teringat dengan segala macam arogansi yang selau mereka pertontonkan. Dari mulai hal kecil, misalnya konvoi kendaraan setiap kali mereka datang. Mereka selalu datang dengan segala pengawalan yang berlebihan. Bukankah mereka datang ke tempat warga yang menggaji mereka? Bukannya mereka kurang lebih ya sama saja dengan pemakai jalan yang lain? Kenapa harus menggunakan cara-cara seperti itu? 

Alasan utamanya sudah pasti, takut. Kenapa takut? Takut atas apa? Takut kalau-kalau dihajar oleh massa. Kenapa begitu? Sudah pasti hanya satu alasannya, mereka sendiri sadar bahwa mereka telah gagal menjalankan amanat dari para pembayar pajak. Kalau mereka baik-baik saja, kenapa musti menjauhkan diri dari rakyat? Kalau mereka dicintai oleh rakyatnya, sudah pasti, cukup membaur biasa saja, rakyatlah yang akan melindungi mereka.

Lalu pikiran saya terlempar ke kejadian baru-baru ini di wilayah Solo. Sebuah bom meledak di tempat peribadatan. Upaya apa yang mereka lakukan, untuk menjaga keamanan warga menjalankan ibadahnya? 

Adigang Adigung Adiguno.

Semua paparan saya di atas, menurut saya, nyambung. Kuncinya adalah di sifat sok berkuasa dan sok kuat. Falsafah jawa menyindirnya dengan sikap adigang adigung adiguno. Mereka adalah orang besar, sedangkan rakyat adalah orang-orang kecil, yang sudah wajar dan sepantasnya mereka injak-injak. 

Maka tak heran orang-orang seperti Marzukie Alie ataupun Patrialis Akbar, mengeluarkan kata-kata yang keji, yang menyakiti hati rakyat kecil. Dari soal mempermasalahkan mereka yang tinggal di tepi pantai ketika banyak penduduk terancam tsunami, hingga soal ide memberikan kata maaf kepada para koruptor. Otak mereka sudah rusak, sehingga hukum sedemikian mudah mereka injak-injak.

Kembali dalam kasus acara tadi, sampai detik ini, saya belum mendapatkan informasi tentang panitia meminta maaf kepada teman-teman. Pikiran saya sederhana, panitia tidak merasa bersalah. Panitia tidak merasa bahwa effort yang dikeluarkan oleh teman-teman patut dihargai. Seakan teman-teman hanyalah para pion kecil yang sedang berebut menyerahkan upeti. Bisa jadi saat ini mereka justru sedang menunggu ucapan terimakasih dari teman-teman karena diberi waktu dan tempat, dan sangat mungkin ucapan itu diharap dalam bentuk uang.

Maka bacalah wahai orang pusat!

Kami, para anak muda yang berjuang sendiri untuk hidupnya tanpa menggantungkan periuk dari para maling peliharaan istana, sama sekali tidak membutuhkan panggungmu. Kami, tidak membutuhkan untuk eksis di mata Jakarta. Bagi kami, tanah Jakarta yang telah kalian jilat demi harta, sama sekali tidak menarik.

Panggung kami di sini, di hati rakyat kecil. Panggung kami, tidak akan sanggup kalian sewa. Panggung kami, berdiri tegak, di hadapan dunia. 

Kembalilah sana ke Senayan. Maboklah sana dengan kekuasaan. Semoga tanah masih mau menerima tubuh kalian.

vale, kami akan tetap merdeka

el rony, berharap dengan sangat, teman-temanku tidak patah semangat. 

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting Satu Minggu Satu Posting
.. adalah satu upaya sederhana, untuk menambah khasanah tentang Indonesia di mesin perambah dunia. Posting tentang apa saja. Posting dalam bentuk apa saja. Mari berbagi tentang apa saja seputar wilayah kita. Semoga khasanah tentang negeri kita makin kaya.

Category: Politik, Yogyakarta, blog | Comment RSS 2.0 | trackback

8 Responses to “Arogansi Pusat, Arogansi para Penjilat”

  1. lifehacks Says:

    Yang lebih konyol lagi adalah saat salah satu dari mereka mengeluh ke kita bahwa mereka kurang slot acara dan meminta kita mengisi, tapi ketika saya datang untuk ‘menawarkan’ diri ke bos-nya, dia bilang hanya punya slot waktu 10-15 menit. Lak yo ndagel to :))

  2. rony Says:

    @lifehacks: yo karang asline bahasane mereka ki,”jik kurang duite, jik rung wareg”. keparat tenan *kok aku nesune tenanan yo hihi*

  3. HeruLS Says:

    hmm,jadi demikian ceritanya…
    Tidak detil,tapi cukuplah menggambarkan kelakuan orang-orang yg kita, warga negara ini, bayar eksistensinya.
    Akan ada pembalasan yg setimpal utk semua kelakuan mereka,dunia akhirat, yakin itu.

  4. wahyu asyari m Says:

    kasian mas argamoja :(
    semoga mereka yang di sana sadar ya kang?

    di semarang juga sama, kalo ada pejabat semua didahuluin. pengawalan berlebihan. jalanan macet, akhirnya telat kuliah dan gak boleh masuk kelas. cih! *curcol*

  5. sinteniki Says:

    wah begitu tho ceritanya, yo sing sabar kang .. tetap berkarya ..

  6. argamoja Says:

    Hehehe, terimakasih tulisannya Om. Ya begitulah.. Makasih atensinya, oiya, gak perlu mengkasihani saya, ini dijadiin pengalaman aja. Lebih semangat lagi, biar bisa punya sesuatu, dan gak bisa diremehin lagi :)

  7. Herman Saksono Says:

    Mudah-mudahan kejadian ini nggak bikin Arga patah semangat. Dalam berurusan dengan pihak luar memang kadang justru terjadi hubungan yang tidak mengenakkan.

    Menurutku Arga berhak mendapat perlakuan yang layak, dan yang diterima kemarin di JEC sama sekali tidak layak.

    Saranku, layangkan komplain secara resmi melalui surat ke atasan, dan juga tulis di blog. Kupikir menyebutkan nama perusahaan dan instansi nggak papa, asal jangan sebutin nama perorangan. Menyebutkan nama perorangan bisa membawa Arga ke meja hijau.

  8. sibair Says:

    Luar biasa tulisannya oom. Semoga teman-teman yang lain tetap semangat dan berkarya.

Leave a Reply