Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Menjadi Manusia

Print This Post   Email This Post

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Tersentil oleh ucapan kek Ivo, “Hanuman bisa bertindak jauh lebih manusiawi daripada semua orang lainnya, karena seumur hidup dia ingin menjadi manusia”. Kalimat yang lugas namun penuh makna. Mengingatkan kita untuk berkaca, apakah kita benar-benar sudah menjadi manusia?

Dalam budaya Jawa –maaf, saya orang Jawa, jadi memang budaya ini saja yang benar-benar saya tahu– terdapat satu ungkapan yang terkenal, “ojo diseneni, cah cilik kuwi pancen durung Jowo”. Arti langsungnya adalah “jangan dimarahi, anak kecil itu memang belum Jawa”. Bagi saya pribadi, keberadaan kata Jawa di sini tidak berhenti di tanah Jawa saja, atau wilayah mataram semata. Kata Jawa mewakili dunia seluruhnya, hal ini wajar karena dunia manusia Jawa waktu itu, memang hanyalah seputar wilayahnya berada.

Namun terlepas dari batasan wilayah, dan terlepas dari makna lugas kata Jawa itu sendiri, yang ditekankan di sini adalah bahwa seseorang, meskipun dia lahir besar di wilayah Jawa, belum tentu dia Jawa. Kenapa? Sependek pengetahuan saya, seseorang disebut sudah Jawa jika sudah bertingkah laku “berbudi bawa leksana”, sudah santun dan menghormati orang lain.

Ingin Menjadi Manusia

Saya terus terang akan keteteran jika dikejar soal ilmu budaya, karena itu, saya lebih memfokuskan kepada tuntutan “berbudi bawa leksana” tersebut. Dalam pandangan saya yang memang belum pernah keluar dari wilayah Indonesia, dan meskipun sempat menengok beberapa pulau di luar Jawa namun belum juga menguasai budaya di sana, konsep kemanusiaan saya sangat kental dengan budaya yang saya ketahui ini.

Ditambah lagi dengan tokoh hanuman yang dijadikan referensi oleh Kek Ivo tadi, dimana pewayangan juga cukup lekat dengan budaya Jawa, maka ketika dikatakan ingin menjadi manusia, saya menerjemahkannya menjadi ingin menjadi Jawa. Bukan suku, tetapi menjadi “berbudi bawa leksana”. 

Manusiawi, kalau misalnya ada alien yang membaca ini, mungkin akan diartikan berbeda. Dalam hal ini, saya mengkerangkai kata “manusiawi” sekali lagi dengan kerangka wilayah pergumulan saya, Jogja. Oleh karenanya, menjadi orang yang manusiawi, tidak bisa dilepaskan dari ciri “berbudi bawa leksana”. 

Apa sih “berbudi bawa leksana” itu?

Berbudi pekerti yang luhur, bisa membawa diri di lingkungannya, dan bisa dipercaya kata-katanya. Dari kecil kita sudah mengenalnya dalam poin-poin dasa dharma pramuka, kurang lebih seperti itulah. Apakah kita sudah menjadi seperti itu? Hanya kita dan Tuhan yang tahu.

Catatan ini saya cukupkan saja sampai di sini, sudah terlalu berpanjang-panjang dan sepertinya tidak menjadi lebih gampang. Saya memang hanya menggrundel saja, mengumbar rasa, membagi kegelisahan. Sudahkah kita, menjadi manusia?

vale, demi kemanusiaan

el rony, apa harus menjadi kera dulu?

Category: Yogyakarta, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback

One Response to “Menjadi Manusia”

  1. Rita nurhayati Says:

    mungkin manusia yang udah benar-benar jadi manusia adalah manusia yang mempunyai sopan santun terhadap orang tua dan orang lain
    menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda
    :)

Leave a Reply