Rony's Blog
Meta

Pesan dari Negeri Dagelan

Print This Post   Email This Post

Apa jadinya jika sekelompok pendagel senior berkumpul dan manggung bersama? Yang saya rasakan adalah perut mengeras, mata beleken karena air mata segera mengering begitu terterpa AC, dan tenggorokan kering. Tertawa tanpa henti dari awal hingga tiga jam kemudian, ketika mereka selesai manggung.

Saya sedang bercerita tentang lasykar dagelan. Satu pertunjukan yang digelar oleh seniman-seniman Yogya dengan iringan hentakan musik hiphop dari Jogja Hiphop Foundation dari awal hingga akhir. Kemasan cerita yang apik tidak bertabrakan dengan improvisasi-improvisasi para pemain handal di negeri ini, negeri Yogyakarta.

Sak tleraman.

Tepat sebelum acara dimulai, saya bersama istri menyempatkan mengisi perut dulu di angkringan pasar kangen Yogyakarta yang digelar di halaman TBY, tempat acara berlangsung. Pasar Kangen sendiri masih berlangsung hingga… usai (kata mas Anang Batas). Di depan warungnya mbah darmo, kami menyantap bakso dan teh anget. 

Sambil menyiapkan kamera, saya melihat-lihat ke sekeliling, mencari obyek yang sekiranya bisa dijadikan obyek “saalh fouks” alias mencuri potret. Saat mendongak, saya kaget karena melihat ada segumpal bara yang melayang lurus dari utara ke selatan. Ternyata bukan saya saja yang melihat ini, mas @faridRT juga melihatnya. Saya bukan mistiskus sejati, jadi yang di pikiran saya saat itu ya cuma, “wah lucu ini”.

Dihibur dan Menghibur.

Lalu tiba saatnya masuk ke dalam gedung, acara segera dimulai. Tampil pertama setelah kata pembuka dari Butet Kertaradjasa adalah pasangan Wisben dan mas Joned. Saya agak terkesima dan khawatir juga, karena Mas Joned baru saja (lima hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu dari waktu dia pentas) ditinggal istrinya untuk selamanya, menghadap Allah SWT. Saya sudah siap-siap, terus terang, untuk teraduk-aduk perasaan jika saja mas Joned sedikit saja menampakkan kegalauan.

Namun, saya salah. Beliau adalah aktor kawakan. Pendagel profesional yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh potensinya meskipun dalam keadaan seperti itu. Saya bahkan lupa kalau beliau sedang berkabung, hingga ketika tiba scene dimana yu Soimah Poncowati yang berperan sebagai istri muncul. Mas Joned sendiri yang justru bilang,”sebentar.. ini sensitif, soalnya istri saya baru saja meninggal kemarin je”. Tapi itupun bukan menghalangi jalan cerita. Timpalan dari Wisben dan Gareng serta tanggapan dari Mas Joned sendiri kemudian, justru mengangkat lagi suasana menjadi jauh lebih lucu.

Demikianlah, sepanjang acara, kami, atau saya, seakan ditarik ulur dari dunia panggung ke dunia nyata secara berulang kali. Den Baguse Ngarso misalnya, ketika memvisualisasikan skema lasykar dagelan di meja lalu disambar Marwoto dengan “kalau hujan gimana?” lantas den baguse menjungkir-jungkirkan meja. “Woh, penggulingan!” kata Marwoto, yang disambar lagi oleh Den Baguse dengan, “bukan.. ini cuma reshuffle, ndak jadi, reshuffle, ndak jadi..”.

Dan terkait dengan kondisi Mas Joned tadi, saya baru lebih memahami lagi setelah sempat ngobrol dengan mas Anang Batas tadi malam, bahwa ternyata hal itu memang pilihan mas Joned. Beliau sendiri yang memang ingin ikut, agar tidak larut dalam kesedihan. Sampeyan luar biasa mas.

Pesan.

Bukan pertunjukan seniman Jogja kalau tidak sarat pesan. Disamping pesan-pesan dari lagu-lagu Jogja Hiphop Foundation yang memang mengemas pesan dalam bahasa rap dan musik rancak yang enak didengar. Pesan yang paling jelas terkait dengan judul acara “Lasykar Dagelan” menurut saya adalah tuntutan “dilarang ndagel kecuali pelawak”. 

Sebuah tonjokan tepat di ulu hati bagi mereka yang memiilki hati. Saat ini semua tingkah laku pejabat kita sudah tidak beda dengan pelawak, berusaha melucu dan kita dipaksa tertawa kecut. Yang presiden memilih menggunakan kata “meminta” pulang untuk orang yang diduga melanggar hukum (meminta? presiden kok minta-minta), hingga urusan payudara yang tiba-tiba menjadi tanggungan negara. Dagelan yang garing. Belum lagi, terkait dengan keistimewaan Yogyakarta, RUUK sampai saat ini juga belum jelas kabar keputusannya seperti apa. 

Saya lantas teringat dengan apa yang saya tulis di awal. Sak tleraman tadi, semacam sanepo kemudian. Semacam pasemon, atau kiasan, ada bara yang melayang dari utara ke selatan. Bagi saya yang keturunan Bantul, utara identik dengan kutho atau negoro, sedang selatan adalah desa. 

Sak tleraman tadi kemudian menjadi bermakna, dikerangkai oleh dagelan-dagelan bermutu, bahwa ada api yang sedang dilempar dari utara.

Vale, demi kewaspadaan

El rony, sak tleraman

NB: satu catatan saja buat mas Butet Kertaradjasa dan kawan-kawan, terkait dengan pertunjukkan. Saya dan istri sempat membayang-bayangkan ending seperti apa yang sekiranya lebing “ngangkat”. Dan ide istri saya tampaknya paling keren, yaitu jika JHF yang sedang menyanyikan lagu, aktif mengajak penonton yang di depan, tribun lesehan, untuk ikut bergoyang. Karena saya yang di kursi atas juga sebenarnya pingin turun goyang, tapi agak nggak enak hati hihi

NB: Foto-foto yang saya ambil selama pentas ini dapat di lihat di Flickr

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Category: Politik, Yogyakarta, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback

Leave a Reply