Sepenggal kisah, Ruyati
Friday, June 24th, 2011
Tulisan ini bukan analisis, sebagaimana tulisan-tulisan saya yang lain, sekedar uneg-uneg saja. Dan karena sifatnya sama dengan tulisan saya yang lain, sebenarnya saya tidak perlu menuliskan lagi disclaimer ini :). Ya, saya hanya ingin membagi resah terkait kasus Ruyati. Siapa dia? Dia adalah seorang TKI yang mendapatkan hukum pancung dari pemerintah Arab Saudi. Dikabarkan bahwa dia telah membunuh majikannya, sehingga hukuman tersebut –sesuai dengan negara dimana dia berada– layak dikenakan padanya.
Ruyati, seorang perempuan Bekasi berusia 54 tahun, usia yang cukup uzur untuk ukuran seorang perempuan, menjadi TKI di Arab Saudi. Keberangkatannya pada Tahun 2008 adalah keberangkatan yang ketiga kalinya. Dikabarkan bahwa pihak keluarganya sempat melarang kepergiannya, namun dia bertekat berangkat, dengan alasan demi masa depan. Perusahaan yang menyalurkannya memanipulasi usianya supaya bisa berangkat, menjadi 9 (semblian) tahun lebih muda.
Dialog dengan keluarganya masih berjalan hingga kabar terakhir sebelum majikannya meninggal, bahwa Ruyati sempat dirawat di Rumah Sakit dan tangannya remuk sehingga perlu dipasangi pen. Demikian informasi yang berhasil dihimpun oleh wartawan PedomanNews.
Lantas Kenapa?
Diberitakan dimana-mana, dirilis pula oleh pemerintah Arab Saudi, bahwa Ruyati terbukti dan mengakui bahwa dialah penyebab kematian majikannya. Hukuman mati dengan cara dipancung menjadi putusan final karenanya. Apakah memang demikian? Kejadian sudah berlangsung, sudah lewat, dan saya juga bukan dalam kapasitas seorang detektif. Saya hanya ingin kembali mempertanyakan posisi negara.
Posted in Neolib, Daily Life | 1 Comment »
Pesan dari Negeri Dagelan
Saturday, June 18th, 2011
Apa jadinya jika sekelompok pendagel senior berkumpul dan manggung bersama? Yang saya rasakan adalah perut mengeras, mata beleken karena air mata segera mengering begitu terterpa AC, dan tenggorokan kering. Tertawa tanpa henti dari awal hingga tiga jam kemudian, ketika mereka selesai manggung.
Saya sedang bercerita tentang lasykar dagelan. Satu pertunjukan yang digelar oleh seniman-seniman Yogya dengan iringan hentakan musik hiphop dari Jogja Hiphop Foundation dari awal hingga akhir. Kemasan cerita yang apik tidak bertabrakan dengan improvisasi-improvisasi para pemain handal di negeri ini, negeri Yogyakarta.
Sak tleraman.
Tepat sebelum acara dimulai, saya bersama istri menyempatkan mengisi perut dulu di angkringan pasar kangen Yogyakarta yang digelar di halaman TBY, tempat acara berlangsung. Pasar Kangen sendiri masih berlangsung hingga… usai (kata mas Anang Batas). Di depan warungnya mbah darmo, kami menyantap bakso dan teh anget.
Sambil menyiapkan kamera, saya melihat-lihat ke sekeliling, mencari obyek yang sekiranya bisa dijadikan obyek “saalh fouks” alias mencuri potret. Saat mendongak, saya kaget karena melihat ada segumpal bara yang melayang lurus dari utara ke selatan. Ternyata bukan saya saja yang melihat ini, mas @faridRT juga melihatnya. Saya bukan mistiskus sejati, jadi yang di pikiran saya saat itu ya cuma, “wah lucu ini”.
Dihibur dan Menghibur.
Lalu tiba saatnya masuk ke dalam gedung, acara segera dimulai. Tampil pertama setelah kata pembuka dari Butet Kertaradjasa adalah pasangan Wisben dan mas Joned. Saya agak terkesima dan khawatir juga, karena Mas Joned baru saja (lima hari yang lalu, atau tiga hari yang lalu dari waktu dia pentas) ditinggal istrinya untuk selamanya, menghadap Allah SWT. Saya sudah siap-siap, terus terang, untuk teraduk-aduk perasaan jika saja mas Joned sedikit saja menampakkan kegalauan.
Namun, saya salah. Beliau adalah aktor kawakan. Pendagel profesional yang benar-benar mampu mengeluarkan seluruh potensinya meskipun dalam keadaan seperti itu. Saya bahkan lupa kalau beliau sedang berkabung, hingga ketika tiba scene dimana yu Soimah Poncowati yang berperan sebagai istri muncul. Mas Joned sendiri yang justru bilang,”sebentar.. ini sensitif, soalnya istri saya baru saja meninggal kemarin je”. Tapi itupun bukan menghalangi jalan cerita. Timpalan dari Wisben dan Gareng serta tanggapan dari Mas Joned sendiri kemudian, justru mengangkat lagi suasana menjadi jauh lebih lucu.
Posted in Politik, Yogyakarta, Culture, blog | No Comments »
Negeri Pencitraan
Thursday, June 9th, 2011
Membaca berita soal siswa berinisial AL (SDN Gaden, Surabaya), saya seakan bisa merasakan apa yang sedang dirasakannya. Diceritakan bahwa AL adalah siswa yang diajari untuk selalu jujur oleh orang tuanya. Alkisah ketika ujian kemarin, AL diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan ke siswa yang lain. Adalah kebetulan AL ini adalah siswa bibit unggul (demikian info dari teman saya, Rizki Suluhadi, lulusan ITS). Pergulatan batin antara ajaran sang ibu dengan ketakutan untuk melawan kehendak guru, AL memilih memberikan contekan jawaban salah.
Orang tua AL yang merasa ini melukai apa yang dia ajarkan selama ini ke anaknya, berusaha mendapatkan informasi ke sekolah terkait, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, sehingga meneruskan ke dinas pendidikan. Akibatnya kemudian terbukti cerita tersebut benar adanya, sehingga beberapa guru termasuk kepala sekolahnya mendapatkan sanksi. Namun apalacur, walimurid lain justru menyalahkan tindakan orang tua AL, bahkan mereka terancam terusir dari desa tempat mereka tinggal.
Cerita lengkapnya bisa Anda cari di Google dengan kata kunci SDN Gaden. Salah satunya adalah di detiksurabaya.
Posted in Pendidikan, Neolib, Culture, Semiotics, Daily Life | 6 Comments »
