Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata

Print This Post   Email This Post

SAMTING - Satu Minggu Satu Posting

Sebuah falsafah lama yang hidup di tanah Jogja. Sebagai pengingat bagi kita, bahwa masing-masing kita hidup dengan sistem yang berbeda-beda. Ada sedikit kemiripan dengan pepatah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, yang membedakan hanyalah bahwa pepatah tersebut lebih merujuk ke perbedaan individu-individu dari sebuah kelompok dengan individu-individu di kelompok lain. 

Desa mawa cara negara mawa tata menyentuh wilayah lain, wilayah budaya. Bahwa masing-masing kelompok memiliki tatacara dan aturannya masing-masing. Mengajarkan kita bahwa pemaksaan atas satu aturan dari satu kelompok ke kelompok lain hanya akan memicu konflik. Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengajarkan cara pandang.

Tentang Perbedaan Ukuran Baju

Ini adalah satu pepatah lain lagi yang nampaknya senada, tentang mengukur baju. Tentang adanya kemungkinan salah-salah apabila kita menggunakan ukuran badan kita untuk baju orang lain, demikian juga sebaliknya. Maka, terapkan aturanmu untuk dirimu sendiri, jangan paksakan untuk orang lain. Kurang lebih begitu.

Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengingatkan kita bahwa adalah satu hal yang mustahil menerapkan satu sistem dari sebuah masyarakat ke masyarakat yang lain. Patokan akan ukuran-ukuran kepantasan, ukuran kesopanan dan lain-lain, menjadi batasan-batasan yang tidak elok jika dilanggar.

Kegagalan karena Pola Pendekatan

Saya hanya teringat, dengan beberapa kisah kegagalan program yang terjadi akibat melupakan konsep ini. Misalnya kisah kegagalan proyek sanitasi di satu wilayah di Jogja. Konsep diusung dari Belanda, diterapkan apa adanya di sini. Terlepas bahwa konsepnya sendiri sudah tidak dipakai di negara Belanda sana, tetapi yang jelas konsep itu tidak bisa diterapkan apa adanya karena ada perbedaan tata ruang di sini. 

Beberapa warga sangat bangga, misalnya, jika septic tank-nya sudah puluhan tahun tidak dikuras. Padahal ada kemungkinan septic tanknya justru larut dalam aliran air bawah tanah, merembes ke sumur, karena perhitungan jalur air dan jarak sumur dengan septic tank yang tidak diperhatikan. Ini hanya satu contoh kasus saja. 

Itu hanya satu contoh saja. Dengan konsep desa mawa cara negara mawa tata, sebenarnya letak utamanya di komunikasi. Tatacara penyampaian yang kemudian secara pasti mempengaruhi juga dalam penerapannya. 

Introspeksi

Jika ditarik dalam wilayah mikro, wilayah diri kita sendiri, maka ada baiknya kita introspeksi. Memutuskan sesuatu menyangkut diri orang lain dengan menggunakan ukuran-ukuran kita sendiri, bisa memicu kesalahpahaman dan sangat mungkin justru menciptakan konflik. Selalu ingat bahwa seluas apapun pergaulan kita, warna komunitas yang kita ikuti tentu sangat berbeda dengan komunitas lain, terutama yang belum pernah kita selami atau alami.

Dengan demikian, apapun yang ingin kita bawa, diharapkan bisa tersampaikan dengan baik. 

vale, demi perbedaan

El rony, belajar untuk tidak memaksakan

Category: Yogyakarta, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback

4 Responses to “Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata”

  1. flafea Says:

    hmmm..

  2. isma Says:

    hehe, melihat ini saat Aceh pasca tsunami, :p

  3. Biidu Says:

    salam kenal :) buat artikelnya bagus :) tapi kira2 bajunya seperti apa ya?

  4. arizuchri Says:

    artikelnya sangat inspiratif mas

Leave a Reply