Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata
Friday, April 29th, 2011
Sebuah falsafah lama yang hidup di tanah Jogja. Sebagai pengingat bagi kita, bahwa masing-masing kita hidup dengan sistem yang berbeda-beda. Ada sedikit kemiripan dengan pepatah “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, yang membedakan hanyalah bahwa pepatah tersebut lebih merujuk ke perbedaan individu-individu dari sebuah kelompok dengan individu-individu di kelompok lain.
Desa mawa cara negara mawa tata menyentuh wilayah lain, wilayah budaya. Bahwa masing-masing kelompok memiliki tatacara dan aturannya masing-masing. Mengajarkan kita bahwa pemaksaan atas satu aturan dari satu kelompok ke kelompok lain hanya akan memicu konflik. Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengajarkan cara pandang.
Tentang Perbedaan Ukuran Baju
Ini adalah satu pepatah lain lagi yang nampaknya senada, tentang mengukur baju. Tentang adanya kemungkinan salah-salah apabila kita menggunakan ukuran badan kita untuk baju orang lain, demikian juga sebaliknya. Maka, terapkan aturanmu untuk dirimu sendiri, jangan paksakan untuk orang lain. Kurang lebih begitu.
Desa mawa cara negara mawa tata, juga mengingatkan kita bahwa adalah satu hal yang mustahil menerapkan satu sistem dari sebuah masyarakat ke masyarakat yang lain. Patokan akan ukuran-ukuran kepantasan, ukuran kesopanan dan lain-lain, menjadi batasan-batasan yang tidak elok jika dilanggar.
Posted in Yogyakarta, Culture, blog | 4 Comments »
TNI, sebenarnya, Apa fungsimu?
Wednesday, April 20th, 2011
Sekali lagi tragedi terjadi. TNI memuntahkan peluru ke arah warga. Kali ini kejadiannya di Kebumen. Empat warga menjadi korban dalam bentrokan tersebut. Dan seperti biasa, simpang siur mengenai hal ini beredar cepat di media. Pihak warga menyatakan mereka diserang tanpa alasan, sementara dari pihak TNI menyatakan bahwa yang diserang adalah perusuh.
Saya sendiri tidak akan membahas mengenai kejadian itu, sepesimis apapun saya hanya bisa berharap pada proses hukum yang berjalan. Oleh karenanya kali ini, saya ingin menyampaikan hal di luar itu. Sebuah kegelisahan yang mengganjal di hati. Mengapa kejadian ini sering kali berulang? Kenapa harus ada korban jiwa dalam peristiwa semacam ini?
Dalam hal ini pertanyaan saya terarah kepada TNI. Bagaimanapun juga, TNI lebih memiliki segalanya dibanding rakyat kebanyakan. Mereka memiliki senjata dan korps mereka cukup solid dan terorganisir. Jika kita bandingkan dengan ilustrasi sederhana sebuah kecelakaan di jalanan, maka pengguna mobil akan dibebani kecurigaan terlebih dulu dibanding supir becak. Maka, ada apa dengan TNI?
TNI atau Preman?
Pembelaan diri adalah lagu lama yang selalu berkumandang dari kalangan pejabat teras TNI ketika kasus seperti ini terjadi. Dengan demikian maka nyawa yang hilang sudah sepantasnya tidak dipermasalahkan, karena ini pembelaan diri. Membela diri artinya mempertahankan kondisi pribadi dari keterancaman.
Posted in Politik, Neolib, Semiotics | 5 Comments »
Penjarakan Arifinto dan/atau Cabut UU Pornografi
Tuesday, April 12th, 2011
Kasus soal Arifinto tidak berakhir dengan baik karena sang aktor utama menyatakan mengundurkan diri. Partainya sendiri kemudian menempatkan dia seolah-olah sebagai pahlawan. Tentu saja, orang yang salah lalu mengundurkan diri tidak bisa disebut pahlawan, namun tidak apa-apa karena pahlawan sendiri dimaknai berdasarkan ego dan kapasitas otak masing-masing.
Tulisan saya ini muncul sebagai sari jawaban atau tanggapan atas seliweran pendapat di Twitter.com. Mengapa saya perlu menyampaikannya? Karena saya sendiri jengah, ada sekian kasus besar di negeri ini yang terbelokkan oleh kasus remeh-temeh ini. Lantas kenapa saya masih menuliskannya? Karena dalam kasus ini, ada satu tindakan korupsi yang kejam.

Posted in Politik | 17 Comments »
Ledek, Sebuah Kisah tentang Peralihan
Tuesday, April 5th, 2011
Apa yang teman-teman ketahui tentang lèdhèk? Masihkah kalian mengingatnya? Saya bukan sedang membicarakan lèdhèk munyuk (kera), tetapi tari lèdhèk yang dimainkan oleh manusia. Jika teman-teman masih ingat, saya sungguh ikut berbahagia, mungkin bisa sedikit menambahkan apa yang belum saya paparkan di sini. Bagi teman-teman, yang ingat maupun tidak, tahu maupun tidak, ijinkan saya bercerita tentang sebuah kisah di masa lalu, di tahun 1980-an, di sebuah wilayah di Bantul Selatan.
Berkah pada Sebuah Ciuman Penari Lèdhèk
Saya tidak sedang mengada-ada atau mengarang, meski mungkin saja bisa jadi apa yang saya ceritakan ini belum ada di wikipedia.org hehe. Kisah ini tentang teman saya, seorang muda dengan kulit putih bersih anak dari keluarga pedagang. Saya ingat betul, meskipun konsep warung 24 jam belum membudaya di dunia, warung ini sudah menerapkan prinsip tersebut. Bukan berarti warungnya buka 24 jam, tapi Anda boleh mengetuk pintunya kapan saja, jika memang ada kebutuhan mendesak. Tapi mungkin memang demikianlah adanya sebuah warung di kampung.
Rumah saya dengan rumah teman saya ini terpaut kurang lebih 500 meter jaraknya. Mungkin kalau ditarik garis lurus sih tidak sampai sejauh itu, namun meskipun sudah lewat halaman tetangga, tetap harus berbelok-belok untuk mencapai rumahnya. Saya termasuk jarang main dengannya sebenarnya, tetapi bisa dipastikan minimal sebulan sekali, tubuh kecil saya mendatangi rumahnya, dan sebuah suara yang juga kecil menyeruak di antara obrolan para pembeli,”lék, nyuwun lisah patra sedasa liter”. Lalu pulang menempuh jalan yang berbelok-belok tadi, dengan minimal meletakkan jerigen satu kali untuk mengistirahatkan tangan. Maklum, tubuh saya kecil sekali waktu itu.
Posted in Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | 7 Comments »
