
(sms Taufiq Ismail) HU AR Rini Endo. Saya baca di internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Sambodja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sunber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yg pantas (Taufiq Ismail)
SMS di atas dikirim oleh Taufik Ismail, tokoh dunia sastra Indonesia, kepada salah satu panitia #koinsastra. Dan SMS itu pula yang membuat saya meradang pagi-pagi. Tidak menyangka orang sekelas beliau mengirim SMS dengan isi dan nada seperti itu.
Sebelum terlalu jauh, mari saya ceritakan serba sedikit tentang apa itu #koinsastra dan kejadian apa yang melatarbelakangi munculnya SMS itu. Mohon yang tahu informasi lebih dalam mengoreksi atau menambahi keterangan saya ini.
Koin Sastra - Kepedulian Bersama Sejarah Sastra
Diawali oleh keramaian soal akan ditutupnya Pusat Dokumentasi Sastra yang didirikan oleh HB Jassin, para pegiat sastra merasa ini kehilangan besar. Para pegiat sastra kemudian mengadakan satu gerakan yang –sangat bisa jadi– disemangati oleh keberhasilan #koinpitra #koinprita. Dengan mengumpulkan koin diharapkan nantinya akan terkumpul dana yang memadai untuk menyelamatkan pusat dokumentasi ini.
Singkat cerita, salah satu rangkaian kegiatan dari #koinsastra ini adalah mengadakan diskusi sastra di PDS HB Jassin. Diskusi ini mengangkat buku karya almarhum Asep Sambodja “Asep Sambodja Menulis: Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra”.
Sebuah diskusi tentu akan lebih lengkap kalau pelaku atau orang yang terkait dalam tema diskusi dilibatkan, maka tidak heran kalau kemudian diundang pula para mantan Lekra. Orang-orang yang sebenarnya tanpa melalui satu momen khususpun, sudah selayaknya juga dipertimbangkan dalam perkembangan sejarah sebuah bangsa. Sejelek atau sebagus apapun mereka, mereka ikut menorehkan warna dalam sejarah bangsa. Dan nyatanya, mereka dikabarkan senang sekali mendapatkan kesempatan ini, karena sudah kita tahu bahwa memang di era setelah Soeharto naik sebagai presiden, mereka sama sekali hilang dari atmosfer bangsa. Jangankan mereka, anak dan cucu merekapun seakan sudah bukan entitas penting lagi bagi negara ini.
Maka kesepakatan disusun, acara disiapkan, apa lacur pada detik-detik terakhir muncul SMS di atas dari tokoh besar negara ini, Taufik Ismail. Diskusi yang tadinya direncanakan di dalam PDS HB Jassin akhirnya dilangsungkan di bawah tangga.
Alasan Taufik Ismail - Runtuhnya Pencitraan
Dalam sms yang panjang lebar itu, gamblang sekali bahwa Taufik Ismail menyoroti kehadiran para Lekra. Disebutkan pula soal dendam lama ketika terjadi perseteruan politik di dalam tubuh dunia sastra.
Alasan itu membawa nama almarhum HB Jassin dengan mengungkit soal nasib almarhum waktu itu yang sampai terusir dari kancah sastra (menurut Taufik Ismail). Dan dikatakan pula bahwa almarhum akan sakit hati jika sampai Lekra masuk ke “rumah” warisannya. Bagi saya, alasan ini sungguh keji. Menganggap almarhum HB Jassin tidak bisa tenang di alam kuburnya dan masih terikat oleh dunia.
Taufik Ismail bagi saya menggali lubang kuburnya sendiri, memerosokkan kakinya ke dunia dan syair-syair surgawinya mendadak berlumpur dan kotor. Dia telah memposisikan diri dari seorang pujangga menjadi munafik besar.
Dalam puisinya, Taufik Ismail pernah menuliskan “Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama dan
bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan
namun tanpa pertikaian dan kalaupun ada pertikaian bisalah diuraikan dalam simpul
persaudaraan sejati dalam hangat sajadah yang itu juga terbentang”. Kata-kata yang dituliskannya sendiri, namun dikhianati olehnya dengan SMS yang sangat tajam.
Jika memang benar Taufik Ismail mencari Masjid yang dimaksud dalam puisinya, kenapa pula hatinya masih penuh dengan duri-duri kebencian? Sebagai penulis yang sudah semestinya memandang sesuatu dengan jernih, dan pemegang madzhab segala sesuatu ada latar belakangnya, Taufik Ismail juga telah mencederai Ideologinya sendiri.
Taufik Ismail harus Minta Maaf
Ini yang menurut saya harus dilakukan oleh beliau. Saya bukan komunis, saya juga bukan anggota keluarga PKI, namun saya merasa peduli dengan sejarah negara ini. Apa yang dilakukan oleh Taufik Ismail telah mencederai sebuah sejarah.
Kalau boleh dibilang ideologi, maka salah satu kepercayaan saya “Sejarah ditulis oleh penguasa, kebenaran dikabarkan oleh para pujangga”. Dan Taufik Ismail telah melupakan tugas utamanya, menjadi penjaga pilar kebenaran.
Jadi, sekali lagi, Pak Taufik, minta maaflah. Mari bersama mencari masjid yang Anda rindukan.
Vale, demi sejarah.
El rony, memandang sinis setumpuk karya
Category: Politik, Neolib, Culture, blog, Semiotics | Comment RSS 2.0 | trackback
March 28th, 2011 at 6:21 am
Hmmm…andai Pram masih ada, how do you think?
March 28th, 2011 at 6:47 am
bukankah bisa dimaknai bahwa PDS HBJ, dengan rendah hati, memberi ruang bagi diskusi tentang ideologi apapun? *geleng-geleng*
March 28th, 2011 at 6:50 am
..atau mungkin memang sedalam itu rasa sakit hatinya?
March 28th, 2011 at 7:29 am
huahahaha! dagelang abad ini! aku kelingan ybs nyela2 ayu utami dan djenar dengan kata2 “sastra selangkang”. hanjuk ngopo jeh? rumangsaku sastrawan sing one-track mind lebih laten bahayane ketimbang PKI.
March 28th, 2011 at 9:33 am
buat semua kawanku,
Saya anak dari aktifis LEKRA di zamanya di Jatim, sebaiknya sejarah getir perang berdarah tak kita picu lagi dengan perang sastra dan budaya serpti ini…
ayo masuki zaman baru kita tanpa kekerasan dimana mana…
Yang kita lakukan tak lebih dari melanjutkan tradisi Ken Arok dan Tunngul Ametung, harus dihentikan bukan mencari keadilan, tapi dengan mendewasakan diri kita..
Rakyat selalu dikorbankan karena amuk para elit di pena adn pangung buadya, mereka berdarah di jalanan dan sawah sawah…
Para elit tak tersayat sedikitpun, tapi rakyat berlumur darah.
ayo kawan..bersabarlah..masuki harimu sendiri….sejarah generasi tua bukan untuk kita ulangi…
Ibuku memberi nama Ananta untuk kekagumannya paad asng nabi kebudayaan Pramudya Anantatoer…bukan utntuk membabi buta..tapi untuk memberi doa kepadanya…sesungguhnya para pujangga ada dalan jalur Tuhan…
March 28th, 2011 at 6:25 pm
begitulah sastra kanan….
March 28th, 2011 at 10:16 pm
ternyata seniman sekelasnya bisa juga ya, membusukkan mulut sendiri? hmmm…
March 29th, 2011 at 4:44 am
Dear Ananta,
personally saya ndak ada urusan sama pak Ismail yg udah nggak Taufiq lagi itu. cuma nggak abis pikir aja bisa2nya orang yang sanggup bersajak tentang tuhan dengan lembut mampu memuntahkan bisa sejahat itu. saya mau nggak mau jadi setuju kalo benak manusia adalah rahasia tak terbatas. yg lebih saya sayangkan adalah beliau-cmiiw-ndak ada usaha nyata apapun sebagai sastrawan untuk setidaknya berniat baik menyelamatkan apa yg dia sebut sebagai “tamparan yg menyinggung kita sebagai sastrawan” (http://bit.ly/ia5fLC). sekalinya ada usaha malah dijegal. wadefak?! sila ngomong ama Pak Ismail itu. saya ragu omonganmu bakal didengar. don’t get me wrong. i’m with you, though (=
that’s it. saya kelar ngomel. keep on writing, papa ata. mwah2 buat anakmu yg ngganteng itu. halah.
March 30th, 2011 at 2:00 pm
Ora tekan tenan aku moco iki…..
March 31st, 2011 at 10:20 am
kok soyo akeh wong sing koyo ngene sih?
April 7th, 2011 at 10:23 pm
Iku SMS-e Taufik Ismail tenan? (O_o)
April 8th, 2011 at 9:32 am
@hermansaksono: iyo. diketik ulang di twitter, tercatat di http://www.twitlonger.com/show/9f9i28 dan dari sangdenai http://toolongfortwitter.com/79cc3b27
June 29th, 2011 at 1:22 pm
biarkan sajalah orang tua itu. ia hanya tak pernah dewasa.
September 15th, 2011 at 3:08 pm
Saya termasuk produk baru, karena lahir di era pertengahan ke dua thn 70 an. Tapi dari kisah pahit dan getirnya pendahulu-2 saya yg bercerita ttg bagaimana “getir” nya para seniman dan bukan cuma seniman, yg selalu dihujat oleh seniman dari golongan kiri (Lekra). Mungkin bagi penerus dan keturunannya, tidak merasakan hujatan bahkan dengan terang-2angan akan mengancam nyawanya.namun seperti Taufik Ismail yang merasakan sendiri betapa ditekannya beliau oleh seniman-2 Lekra, wajar jika beliau meradang karena saudara-2 yg di Lekra yg sudah berbuat demikian, kemudian ditimang-2 kembali seolah-2 mereka tidak pernah punya “salah” yg telah dipinggirkan di era Soeharto.
Kalau saya punya usul, jika ingin mengangkat tema, usung saja periode atau tahun pembuatan karya sastra itu. janganlah mengaitkan dgn Lekra, karena Lekra memang benar-2 telah menyakiti saudara-2 seniman yg lain.
September 20th, 2011 at 11:46 am
kenapa harus lekra, carilah tema yg bisa diterima seluruh anak bangsa Indonesia, jauhkan sastra dari kepentingan politik tertentu
October 12th, 2011 at 11:50 am
karena terlalu sakit hati sehingga Taufik Ismail sampai melemparkan sms seperti itu,harusnya yang mau pada protes tau persis masalahnya itu seperti apa,karena yang mengalami adalah taufik ismail sendiri. bagaimana rasanya pada zaman itu mereka ditekan oleh lekra.tapi apa benar itu sms dari Taufik ismail????????
sungguh sungguh diragukan
December 4th, 2011 at 9:10 pm
Hm hm hm…
Dunia jungkir balik.
December 5th, 2011 at 7:01 pm
Kalau Pram masih ada dia pasti cuma bakalan sinis… aku nggak tau apa si Taufik ini salah satu yang pernah ditodong Pram pakai pistol waktu itu…
Bedebah kanan!
January 14th, 2012 at 1:12 am
politik itu kejam