
Ichlasul Amal, Siapa yang Membeli Sampeyan?
Tulisan ini hadir sebagai reaksi atas ungkapan Bapak Ichlasul Amal, mantan rektor UGM, di surat kabar online Suara Merdeka. Pernyataan beliau dalam menanggapi Sidang Rakyat Yogya sungguh di luar perkiraan. Dalam berita tersebut Bapak Ichlasul Amal memilih kalimat yang menyakitkan, dengan menyebut bahwa Sidang Rakyat Yogyakarta sebagai aksi show of force, cara lama yang dipakai PKI.
Saya tiba-tiba merasa seakan sedang melihat sosok yang berbeda, sosok yang sama sekali lain dengan yang dulu sempat saya kenal. Bukankah beliau juga ikut dalam Pisowanan Ageng pada Mei 1998, ketika terjadi kekisruhan dan penculikan dimana-mana? Bukankah beliau juga ada di antara kami ketika berjalan dari UGM ke Alun-Alun Yogyakarta? Ataukah waktu itu adalah beliau yang lain? Beliau yang masih murni dan masih bisa mendengar suara rakyat, mungkin?
Dua Kesalahan Besar Ichlasul Amal
Terkait pernyataan beliau tersebut, saya menggarisbawahi dua hal yang seakan tidak digubris oleh beliau. Kesalahan pertama beliau adalah memandang rendah semangat guyub rukun dan bahu membahu masyarakat Yogya. Saya tidak percaya kalau beliau tidak tahu mengenai hal ini, dan saya sangat tidak percaya kalau beliau tidak pernah mendapat ajakan kerjabakti sekalipun dari kampung tempat beliau tinggal di Yogya.
Atau bisa jadi saya salah? Bisa jadi beliau memang tidak pernah bergaul dengan masyarakat sekitarnya? Sibuk dengan menara gading dan singgasana kegurubesarannya? Sungguh ironis seorang guru ilmu sosial tapi tidak bersosial. Kebetulan saya tinggal di kampung yang aktif membuat pertemuan sebulan sekali pak, belum lama ini kami bekerja bakti memperbaiki jalan yang rusak. Tidak ada uang yang bicara di sana, tidak ada kepentingan politik, sepenuhnya didasari oleh kebutuhan bersama. Tidakkah bapak melihat semangat ini di balik berbondong-bondongnya warga Yogyakarta di Sidang Rakyat kemarin? Atau memang tuduhan saya benar, sampeyan lebih nyaman bertahta di singgasana keilmuan sampeyan, dan beranggapan mempunyai kuasa sehingga rakyat yang sampeyan pandang seperti pion-pion itu bisa sampeyan baca satu per satu isi kepala dan hatinya?
Cobalah bapak keluar dari singgasana kemonarkian perguruan tinggi sampeyan, mari bersama bertemu dengan warga Yogyakarta yang hadir dalam Sidang Rakyat itu, kebetulan tetangga saya sendiri juga ada, saya siap mengantar sampeyan. Tanyakan apakah mereka digerakkan oleh partai tertentu? apakah mereka digerakkan oleh satu kepentingan yang bersifat duniawi?
Kesalahan kedua sampeyan pak, adalah menghianati keilmuan sampeyan sendiri. Stigma PKI ini turun-temurun diwariskan oleh Orde Baru, orde yang kalau saya tidak salah ingat dulu ikut sampeyan goyang bersama-sama dengan warga Yogyakarta. Atau jangan-jangan sampeyan benar-benar penganut aliran darah murni keilmuan yang nyaman dengan kebangsawanan kegurubesaran sehingga memandang stigma itu bukan masalah?
Sampeyan tentunya bukan anak keturunan anggota/simpatisan PKI, saya sangat yakin itu, karena sampeyan enteng sekali menggunakan kalimat itu, dan karena sampeyan bisa lolos dari filter orde baru sehingga bisa menjabat posisi tinggi di perguruan tinggi. Tapi sebagai orang yang belajar ilmu sosial, pernahkah bapak membayangkan, membayangkan saja, bagaimana kehidupan keluarga PKI ini?
Mereka adalah anak haram yang entah akan sampai kapan tidak mendapat tempat di bumi ini. Hak untuk mendapat pekerjaan, hak untuk mendapatkan KTP yang sama dengan warga negara yang lain (saat ini mereka masih berKTP dengan tanda khusus) tidak bisa mereka dapatkan. Bahkan mereka bisa jadi tidak tahu apa yang dilakukan oleh simbah mereka di seputar tahun 1965. Bisa jadi mereka mengutuk simbah mereka karena hal ini, bisa jadi mereka menggugat Tuhan karena memutuskan melahirkan mereka di keluarga PKI.
Sandaran mereka hanyalah pada orang-orang yang bisa memandang jernih tentang Hak Asasi, tentang pedih perihnya pergulatan politik. Sandaran mereka tentunya salah satunya adalah sampeyan. Tetapi sampeyan malah mengkhianati mereka dengan menggunakan kalimat itu. Sekejam itu sampeyan.
Berapa sampeyan dibayar, cak?
Saya bukan orang kaya, dan saya yakin kalau sampeyan sampai bisa dibeli, tentu kapital yang berbicara sangat besar. Dengan posisi, dengan nama dan dengan potensi yang sampeyan miliki, nilai jualnya tentu besar sekali. Tidak, saya bertanya ini bukan ingin “membeli kembali” suara sampeyan agar membela wong cilik. Kami miskin pak, ndak mungkin kami menandingi pembayar itu.
Kenapa saya berpikir sampeyan dibeli? Karena ungkapan sampeyan kok ya mirip betul dengan ucapan pelacur politik ini. Kelas sampeyan sebagai guru besar ilmu sosial dan politik, tiba-tiba sejajar dengan pelacur itu. Tidak terbayang tentu si pelacur itu yang naik kelas, karena pada kenyataannya sampai sekarang dia hanya pelacur, penjilat paling wahid. Yang terbayang hanyalah sampeyan yang turun takhta, meinggalkan singgasana, lalu bersisihan dengan si penjilat nomer wahid ini. Dan untuk melakukan itu, membayangkan sampeyan melakukannya suka rela sungguh sulit saya terima.
Demikian saja surat terbuka saya pak Amal, maaf saya memilih untuk tidak menyambangi rumah bapak. Dulu saya dan teman-teman beberapa kali ke sana, berdiskusi dengan sampeyan diiringi suara air mancur ditingkahi telfon dari berbagai pers internasional yang ingin mewawancara bapak. Dulu kami nyaman dengan bapak, sekarang kami jengah. Kami takut harus laku ndodok untuk ketemu bapak.
vale, demi kejujuran
el rony, sudah lama bunuh diri kelas
Category: Politik, Neolib, Yogyakarta, Culture, blog | Comment RSS 2.0 | trackback
December 15th, 2010 at 6:53 pm
saya ikut prihatin
terlebih ketika orang2 berilmu begitu mudah berucap tanpa(?) berpikir dampak dari ucapannya.
seperti ucapan orang berilmu yg bilang TKI goblok tempo hari.
December 16th, 2010 at 11:32 pm
kaget benar saya baca komentar dia.
bukan kualitas seperti itu yang saya tahu….dulunya.
ngga ngerti deh, apa dia sudah erubah jadi ultraman atau megaloman ????
malu saya sebagai…. (ah sudahlah…).
December 18th, 2010 at 8:38 am
Miris..
December 23rd, 2010 at 7:20 am
hmmm… satu lagi bertambah luka dalam hati anak Jogja…
December 29th, 2010 at 1:59 am
11 12 sama si ruhut emang omonganya
January 4th, 2011 at 2:49 pm
Semoga selalu damai di Jogja. Rakyat Jogja tidak perlu roti & sirkus penguasa.
January 6th, 2011 at 5:31 am
Aslm,
Apa yg difikirkan pak amal memang sangat sistem demokrasi barat buatan yahudi, sementara yahudi sendiri tak mau menggunakan sistem tersebut, seperti juga sistem riba.
Yahudi memaksakan menggunakan sistem demokrasi untuk mengguncang pemimpin berkuasa, apalagi kalo terlihat pemimpin tersebut tidak di sukainya karena mengganggu kepentingannya…
Metode yahudi ini nampaknya banyak dipakai oleh para2 oknum tertentu yang sangat berkepentingan dengan jogja, yg kalau di pimpin sultan kepentingannya terhalang.
Dan point pentingnya sebetulnya adalah saat ini kita sangat mengharap kehadiran pemimpin yang berwibawa dan sifat2 pemimpin yang baik lainya,
Cara demokrasi akan selalu menghasilkan pemimpin yang lembek, sebab pemimpin yang berwibawa tak mungkin meminta2 minta Rakyatnya untuk memilihnya, pemimpin seperti ini pemimpin yang lemah, yang niatnya pasti sudah tidak baik lagi,
Sebab menjadi pemimpin itu berat, pertanggung jawabannya berat, dia tidak diminta, pemimpin itu harus . :>>
Ϛ Siaaap… !!
_||_ mengorbankan kepentingan dirinya untuk anak buah.
Tapi tiba2 kalo ada orang promosi kesana kemari untuk dipilih bisa di tebak arahnya. Tak usah di layan
Kecuali Hanya Nabi dan Rasul saja yang itu pun karena Tuhannya yang suruh mempromosikan dirinya
February 1st, 2011 at 8:31 am
brarti antara nama dan harga belinya gak sesuai dong ya.. miris sekali.
apa beliau msh hidup di jogja atau sudah malu dan menghilang?
February 5th, 2011 at 1:46 pm
kasihan, dia kan trauma sekali mungkin … hahaha
February 5th, 2011 at 3:45 pm
#barutau dipunggung IA ternyata ada tulisannya “SOLD”
March 7th, 2011 at 11:17 am
izin singgah,
miris juga ngebaca nya…
salam
March 11th, 2011 at 7:30 am
biasa aja lagi, gitu aja kok repot