
Sudah hampir berakhir kiranya masa tugas bapak menjadi abdi kami semua. Sudah berjalan berapa bulan pak? Tentu bapak yang paling ingat, bukan? Kami, para majikan sampeyan, sungguh rindu dengan suara bapak. Maafkan kalau kami tidak membeli kaset bapak, bagaimanapun selera pilihan musik tidak bisa disamakan toh?
Kali ini kami, para majikan sampeyan, ingin mendengar nyanyian bapak yang lain. Syukur kalau menjadi album baru. Tampillah di panggung dunia pak. Nyanyikanlah lagu perjuangan, memperjuangkan nasib kami para majikan sampeyan ini.
Bapak tentu tahu bukan, tentang majikan bapak yang terlantar oleh rusaknya alam karena pembabatan hutan, karena lumpur LAPINDO yang kasusnya berkepanjangan, karena bencana alam di Wasior, Mentawai dan Merapi. Kasus terakhir bahkan ada majikan sampeyan yang digunting bibirnya di Saudi Arabia sana.
Bernyanyilah tentang Majikanmu - TKI
Kami, majikanmu, sungguh capek menunggu nyanyianmu, pak. Bibir kami sudah tergunting, kulit kami terkelupas oleh air keras, nasib kami terlunta di negeri seberang. Tak kurang kami mengirim tambahan devisa ke negara kita. Tak kurang kesetiaan kami, para majikanmu, selalu memikirkan kesejahteraan keluarga kami di kampung, majikan-majikanmu yang terhimpit kemiskinan.
Kami, majikanmu, memang tidak pintar. Kemampuan kami mengenyam pendidikan terhambat oleh kemiskinan. Kami, majikanmu, tidak sepandai profesor Politik di Universitas Indonesia, sehinga kami, para majikanmu, ke luar negeri hanya menjadi pembantu. Berharap dengan uang yang kami dapat, yang sangat kecil sekali di mata pak profesor itu, bisa memperbaiki perekonomian kami, bisa menyekolahkan anak kami sehingga anak-anak kami tidak bernasib sama dengan kami.
Tapi bapak, pelayan kami, tentu tahu bukan? Kami yang bodoh ini selalu dan selalu mengirimkan hasil jerih payah keringat kami ke kampung halaman. Kami yang bodoh ini, tidak menyimpan kekayaan di bank-bank asing, seperti yang dilakukan oleh para kolega profesor politik dari Universitas Indonesia itu. Kami, para majikanmu, tetap setia dengan negara kami.
Maka bernyanyilah pak, demi kami para majikanmu. Perjuangkanlah nasib kami, suarakan nyanyianmu di panggung dunia. Janganlah engkau hanya bernyanyi di kamar mandi.
Bernyanyilah tentang Majikanmu - Korban Lapindo
Selamat pagi pak, abdi kami. Sudahkah bapak memikirkan tentang kami? Sudahkah bapak tegur penyebab terlunta-luntanya nasib kami? Bekerjalah pak, bernyanyilah. Dengarkan suara kami, pertimbangkanlah nasib anak-anak kami penerus negeri, yang harus berkubang lumpur, terancam oleh gas dan kualitas air yang menurun.
Maka, bernyanyilah pak, demi kami para majikanmu. Perjuangkanlah nasib kami, suarakan nyanyianmu di panggung dunia. Janganlah engkau hanya bernyanyi di kamar mandi.
Bernyanyilah tentang Majikanmu - Yang Hilang dan Terbunuh
Kami tidak tahu dimana kami sekarang berada. Kami kini hanya sederetan nama-nama. Di antara kami sudah pasti ada yang sudah tak bernyawa. Pak beye, pelayan kami yang paling setia, yang sampai sekarang masih menikmati jabatan pelayan kepala, masihkah kami ada di ingatan Anda?
Bernyanyilah pak, tentang kami di panggung dunia. Jangan hanya di kamar mandi saja.
Bernyanyilah tentang Majikanmu
Kami yang berdesakan di tenda-tenda pengungsian, kami para majikanmu yang mendapat berkah harus menunggu bantuan, kami menunggumu pak. Bernyanyilah tentang kami di panggung dunia, jangan hanya di kamar mandi saja.
vale, demi nada-nada
el rony, mengirimkan mikrofon dari segenap negeri
Category: Politik, Neolib, blog, Semiotics, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
November 22nd, 2010 at 3:40 am
semoga si bapak masih bisa bersuara, kang. mari berdoa
November 22nd, 2010 at 4:00 am
[…] Rony’s Blog » Bernyanyilah, Pak Beye! rony.dgworks.net/2010/11/22/bernyanyilah-pak-beye/ – view page – cached Sudah hampir berakhir kiranya masa tugas bapak menjadi abdi kami semua. Sudah berjalan berapa bulan pak? Tentu bapak yang paling ingat, bukan? Kami, para majikan sampeyan, sungguh rindu dengan suara bapak. Maafkan kalau kami tidak membeli kaset bapak, bagaimanapun selera pilihan musik tidak bisa disamakan toh? Tweets about this link […]
November 22nd, 2010 at 4:52 am
semoga aja kepeduliannya bener2 ada
ga hanya sekedar bersuara tanpa bukti nyata
November 25th, 2010 at 1:14 pm
Kau Selalu di hatiku (cuih)
berada di tiap denyut nadi (cuih cuih)
Bosen pak… Ganti lagunya jadi Hallo Hallo Bandung aja pak…. atau
Ada Gayus dirumahku… tralala tralala….