
Bencana kembali lagi terjadi di negeri ini. Di Wasior, Papua, banjir bandang menyapu wilayah tersebut. Kini penduduk di sana masih dalam pengungsian. Disusul kemudian dengan status Merapi yang naik menjadi waspada, lalu dikejutkan dengan Tsunami di Mentawai Sumatera Barat. Lalu Merapi benar-benar bergolak, memakan korban jiwa –yang hingga saat ini tercatat– 16 orang.
Pada saat seperti ini, nuansa kesatuan bangsa menguat. Aliran dukungan dari mulai ucapan, twit, hingga bantuan bergerak dengan pasti. Tak kurang gaung terjadinya bencana ini mendapat sorotan publik internasional sehingga bahkan aktor terkenal seperti Tom Cruise-pun menyempatkan diri menggoogle translatekan ungkapan hatinya dan menyampaikannya lewat twitter. Bukan masalah siapa menyampaikan apa, saya hanya mencatat ini sebagai sebuah wujud sisi kemanusiaan yang nyata.
Permasalahan Moral
Lalu mencuatlah kembali soal moral, sebuah upaya mengcounter dan membenarkan diri sendiri, sebuah pemosisian untuk tidak mau mengakui diri bersalah. Saya tidak mau peduli dengan itu, saya hanya ingin menyampaikan ini kepada sahabatku semua. Tentang judul postingan kali ini.
Mungkin benar, dan saya yakin demikian, dalam kitab suci kita masing-masing (atau paling tidak dalam Al Quran yang saya tahu, kitab suci saya), ada disebutkan bahwa Allah akan mengirim adzab bagi kaum yang terperosok dalam maksiat. Kisah Nabi Luth dan kaumnya adalah salah satu kisah yang paling terkenal terkait hal ini.
Namun tentunya kita harus melihat konteks bukan? Satu kalimat sederhana saja, silakan renungkan. Kalau memang seperti itu cara kerja Tuhan, bukankah dunia ini jadi terang benderang dan satu warna? Semua yang bermaksiat musnah tertimpa bencana.
Sebagai korban, introspeksi itu penting. Apa kita telah merusak hutan sehingga banjir melanda? Ataukah kita membuang sampah sembarangan sehingga got-got tertutup? Tetapi sekali lagi, kalau sudah sampai pada proses alam seperti pergeseran lempeng atau gerakan vulkanik gunung berapi, tentu saja harus dipahami juga bahwa itu mekanisme alam dalam mencapai titik kesetimbangannya.
Maka mengkaitkan bencana dengan moral adalah satu hal yang bodoh. Sebaiknya tinggalkan saja tabiat dan kebiasaan itu, lalu turun ke lapangan, membantu para relawan.
vale, demi akal sehat
el rony, jangan lupa sarapan
p.s. Bantuan untuk Merapi bisa disalurkan melalui: akan diupdate sebisanya
Category: Yogyakarta, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
October 27th, 2010 at 7:58 am
Well said, Mas Gajah
kita memang tinggal di daerah rawan bencana, bukan daerah rawan moral.
October 27th, 2010 at 8:03 am
[…] Rony’s Blog » Apa Salahnya Mengkaitkan Bencana dengan Moral? rony.dgworks.net/2010/10/27/apa-salahnya-mengkaitkan-bencana-dengan-moral/ – view page – cached * askar on Teruntuk Saudaraku Terkasih, Bapak Abdullah Gymnastiar * jensen yermi on Komunike #1001 - Buah Ketekunan Tweets about this link […]
October 27th, 2010 at 9:25 am
permisi numpang mampir..
ini postingan mengingat heboh2nya twit semalam ya
*menyimak*
October 29th, 2010 at 5:37 am
sedih sekali ketika bencana yang menimpa negara Indonesia ini dilihatkan bagaimana kelakuan para pemimpin yang ada di atasan. sangat miris,sampai seperti itukan moral pemimpin kita?yang tidak amanah dan hnya mementingkan nafsu pribadi..
October 31st, 2010 at 12:18 pm
Tuhan selalu bekerja dengan cara berbeda di tiap masa. Jaman nabi, Dia memang represif tapi sekarang aku rasa sudah tidak
November 3rd, 2010 at 3:35 pm
ini yg buat bapak sem ya ? xD
November 7th, 2010 at 8:58 am
Waduh, rodo abot ki. Menganalisa kerja Tuhan. Tapi diluar itu semua, Tuhan lah yang punya kuasa atas lempeng2 dan gunung2 itu.
January 6th, 2011 at 2:18 pm
Daun pun tidak jatuh dengan sendirinya
sebetulnya apapun yang terjadi di dunia ini, awan bergulung-gulung, Angin berhembus sepoi-sepoi, peredaran matahari dari barat dan timur, gaya gravitasi bumi, makanan yang masuk dalam perut, hingga desiran hati kita semuanya dalam pandangan dan kuasa ALLAH, Pentadbiran ALLAH yang Maha Bijaksana.
Didalam itu semua ada kebijaksanaan Tuhan, Dalam Pentadbirannya, Tidak ada yang mampu terlepas dari pandanganNYA. bagi orang yang sangat faham kerja Tuhan, mereka sangat merasakan dirinya lemah, sangat terasa Kuasa ALLAH.
Dalam sejarah di ceritakan para sahabat sangat sensitif sekali dengan Tuhan, tersandung batu menjadikan mereka sangat muhasabah, merasa Tuhan ingatkan sesuatu tentang dosanya, bagi mereka sakit karena tersandung batu itu adalah penghapusan dosa…Rasa kehambaan mereka sangat tinggi, mereka merasa kesakitan yang di timpakan padanya adalah keadilan Tuhan, mereka redho dengan kesakitan yang yang menimpa, “Sungguh aneh orang2 mukmin itu, jika di beri nikmat dia bersyukur kepada Tuhannya, jika di uji dia Redho dengan Tuhannya” akhirnya terhubunglah hati hamba dengan TuhanNYA
lebih lebih lagi kejadian-kejadian yang besar-besar, bagi orang orang di waktu itu dianggapnya suatu yg negatif, tetapi para Sahabat menjadikannya keuntungan untuk menghisab dosa2nya…sebelum di hisab di akherat nanti….begitulah sudut pandang orang yang terkena musibah.
bagi orang yang tidak terkena musibah, Timbullah empati dengan kesusahan mereka, rasa berdosa jika tidak membantu, menjadikan peluang untuk berkhidmat dengan sesama, dari situ terhubunglah perlu memerlukan sesama manusia, yang punya harta berkorban dengan hartanya, yang punya tenaga berkorban tenaga..masing2 berkhidmat sesuai dengan riskinya
Yang terkena Musibah redho, Yang tidak terkena musibah membantu, indahnya hidup begini, hidup yang harmoni….
Artinya Semua yang terjadi dalam kebijaksanaan Tuhan yang Maha Bijaksana ( cuma bisa memperkatakan, belum bisa mempraktekan )
Masyarakat Yang Diidamkan
Aku rindukan masyarakat yang berkasih sayang
Bersatu padu, rasa bersama bekerjasama, bertolong bantu
Yang susah dibela, yang senang membela
Yang pandai menjadi obor, pemimpin menaungi dan memayungi
Aku menginginkan satu kehidupan yang murni dan harmoni
Hormat-menghormati di antara sesama manusia
Tidak ada benci-membenci, tidak ada khianat-mengkhianati
Maaf-bermaafan, bertimbang rasa, peri kemanusiaannya tinggi
Golongan tua dan para ketua dihormati, mereka boleh dicontohi
Golongan bawah atau orang-orang biasa dikasihi
Para pemuda-pemudi pemalu, tenaga mereka sangat berguna
Rajin bekerja, mereka menjadi aset negara, bangsa dan agama
Maksiat yang menjolok mata atau terang-terangan tidak ada
Masyarakat bersih daripada noda dan dosa
Hidup penuh dengan bersopan santun dan kasih mesra
Kurangnya jenayah, tidak ada berbalah, ketakutan tidak ada
Ulama dihormati, kerana akhlak mereka tinggi
Akhlak mereka bayangan Nabi, hingga mereka dicontohi dan dipandang tinggi
Mereka adalah obor masyarakat, juga pemimpin tidak rasmi
Sentiasa menunjukkan ajar, memberi nasihat dan diikuti
Mana ada masyarakat yang begini yang menjadi idaman bersama
Hanya wujud di zaman salafussoleh yang gemilang