Apa Salahnya Mengkaitkan Bencana dengan Moral?
Wednesday, October 27th, 2010
Bencana kembali lagi terjadi di negeri ini. Di Wasior, Papua, banjir bandang menyapu wilayah tersebut. Kini penduduk di sana masih dalam pengungsian. Disusul kemudian dengan status Merapi yang naik menjadi waspada, lalu dikejutkan dengan Tsunami di Mentawai Sumatera Barat. Lalu Merapi benar-benar bergolak, memakan korban jiwa –yang hingga saat ini tercatat– 16 orang.
Pada saat seperti ini, nuansa kesatuan bangsa menguat. Aliran dukungan dari mulai ucapan, twit, hingga bantuan bergerak dengan pasti. Tak kurang gaung terjadinya bencana ini mendapat sorotan publik internasional sehingga bahkan aktor terkenal seperti Tom Cruise-pun menyempatkan diri menggoogle translatekan ungkapan hatinya dan menyampaikannya lewat twitter. Bukan masalah siapa menyampaikan apa, saya hanya mencatat ini sebagai sebuah wujud sisi kemanusiaan yang nyata.
Permasalahan Moral
Lalu mencuatlah kembali soal moral, sebuah upaya mengcounter dan membenarkan diri sendiri, sebuah pemosisian untuk tidak mau mengakui diri bersalah. Saya tidak mau peduli dengan itu, saya hanya ingin menyampaikan ini kepada sahabatku semua. Tentang judul postingan kali ini.
Posted in Yogyakarta, Daily Life | 8 Comments »
Komunike #1001 - Buah Ketekunan
Sunday, October 17th, 2010
Tidak ada kata kebetulan, demikian ungkapan satu filsuf terkenal, demikian juga agama saya mengajarkan. Tetapi adalah kebetulan bahwa seminggu ini saya bertemu dengan tema ketekunan dimana-mana. Dalam satu diskusi panel antara Antariksa (pemilikĀ kunci.or.id) dan Marzuki (aliasĀ @KILDDJ, rapper pemilik whatevershop), membahas tentang sub kultur perlawanan, diakhiri dengan pesan untuk tekun dalam bidangnya, sebagai satu wujud perlawanan.
Hari ini, saya membaca ulasan di Kompas tentang perkembangan desain cover di Indonesia, di situ kawan karib saya Windu (nickname windutampan) hadir beserta karya-karyanya bersanding atau bisa dibilang vis a vis dengan karya Si Ong Hari Wahyu, desainer kawakan dari Yogya. Hal yang membuat saya sampai pada ketekunan adalah kenyataan bahwa Windu baru mengenal komputer (literally) semenjak tahun 2002 akhir.
Dalam keterlambatan atas perkembangan teknologi itu, Windu tak patah semangat dan terus memacu diri hingga akhirnya karya-karyanya diakui. Dia kini bahkan sudah sampai taraf penggarapan poster film. Adapun karya dia dalam cover, mendapat tempat tersendiri di ulasan Kompas hari ini, sebagai wakil generasi desainer cover muda.
Posted in Neolib, Culture, blog, Daily Life | 5 Comments »
