
Perang, adinda Arjuna, hanyalah sebuah proses lumrah untuk menghapus yang lama, membongkar angkara murka dan menggantikannya dengan yang baru yang lebih indah dan dahsyat!
– Sri Kresna, Mahabarata
Membaca kembali kisah Mahabarata, terutama dari Kanda aslinya –bukan versi Wayang Purwa, membawa saya kepada hal-hal yang sekarang berlangsung di negeri ini. Kisah yang penuh dengan gambaran sikap ksatria ini, mau tak mau menjadi semacam ejekan pedas bagi keadaan terkini di negeri ini.
Satu hal yang pertama melintas adalah tentang Soeharto dan kroni-kroninya. Dalam kisah Mahabarata disebutkan bahwa Pandawa (terutama Yudhistira alias Semiaji) sempat berpikiran bahwa “biarlah Kurawa berlaku sesukanya, kita terima saja secara legawa dan ikhlas”. Dan pada saat itu, Sri Kresna (didahului oleh Drupadi) mengingatkan bahwa ada pilihan lain lagi bagi mereka yang menyebut diri Ksatria. Kurawa yang telah menginjak hak-hak azasi sudah selayaknya diberi pelajaran, inilah Ksatria yang sesungguhnya, yakni membela hak-hak kaum lemah. Kembali pada topik Soeharto, maka sikap “sok legawa, sok ksatria” yang ditunjukkan oleh para pemimpin politik di negeri ini, tak lebih dari sikap pengecut kalau tidak mau dibilang ketakutan.
Tapi sudahlah, toh Soeharto sudah mati, sekarang tinggal korupsi dan adigang-adigung-adiguna para kroni dan andahannya yang masih meraja lela. Maka sekali lagi saya mengajak kita belajar dari Mahabarata, kisah fiksi yang luar biasa ini.
Revolusi, bukan Reformasi
Mengikuti kata-kata Sri Kresna, maka Reformasi tak lebih hanyalah satu bentuk malu-malu kucing dari Revolusi. Angkara murka tidak dibasmi, yang ada justru angkara murka sekarang beralih rupa dan justru semakin meraja lela.
Revolusi kawan, pada dasarnya tidak melulu berupa revolusi bersenjata. Setidaknya Sub Commandante Marcos di Amerika Latin sudah membuktikannya. Revolusi berjalan damai tanpa ada korban jiwa bahkan tidak ada darah yang menetes. Tetapi Revolusi terjadi, dan angkara murka hengkang dari sana.
Revolusi, melahirkan kembali, ide-ide baru menggantikan ide-ide lama yang telah usang dan tidak sesuai. Mengubah bentuk ide-ide itu, memindah sudut pandang ide-ide lama, pada akhirnya tetap tidak akan beranjak dari kesejatiannya sebagai ide yang usang. Penafsiran atas ide tidak lagi cukup dihentikan pada terjemah berdasar kamus terbaru, tetapi juga penyelarasan dengan kesesuaian terkini, maka Revolusi, bukan Reformasi.
Negara Ini, Senyatanya, Sedang Sakit
Kekuasaan dipegang oleh orang-orang serakah yang tidak punya rasa welas atas penderitaan rakyat Indonesia. Tidak malu memamerkan kekuasaan, sementara tangan dan kakinya berlumpur dan dipenuhi darah serta keringat rakyat.
Kekuasaan ditempatkan sedemikian sehingga menjadi sarana menuju kemakmuran pribadi. Itulah makanya perebutan kekuasaan, jegal menjegal, terjadi tiada henti. Sementara di sisi lain negeri, rakyat lapar bingung kemana harus mencari nasi.
Negara ini sedang sakit. Sakitnya sudah sedemikian hebat sehingga langkah terakhir yang harus diambil adalah amputasi. Tidak perlu pusing dengan gantinya, kehebatan tubuh bernama negeri akan menumbuhkan bagian tubuhnya yang diamputasi. Maka hentikan kredo soal satria piningit, satria yang hanya bisa sembunyi lalu tiba-tiba mencari untung ketika rakyat bingung. Satria piningit adalah pengecut terbesar.
Maka, inilah catatan saya mengenai revolusi. Sebuah kelumit kelebat ide atas kemandegan setelah proses berdarah Mei 1998. Semoga kita semua tercerahkan.
vale, demi kesehatan demi revolusi
el rony, teringat, orang-orang itu masih hilang.
Category: Politik, Neolib, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
May 13th, 2010 at 10:11 am
Manggut-manggut… *rony.. eh lantipnya ada?*
Tulisan yang menarik, Bung!
Tapi apa ya perlu diamputasi tho? Teneh medheni tenan
Asal Sang Alam nggak menterjemahkannya sebagai “Amputasi? D u mean another earthquake and tsunami?” *cross ur finger*
May 13th, 2010 at 7:36 pm
negara ini masih butuh darah, semoga darah yang keluar tak sia-sia, semoga, kang