
Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya “Pendidikan umum memang bertujuan mengembangkan pengetahuan & ketrampilan maka benar tolak ukurnya prestasi akademis yang dinilai di akhir jenjang pendidikan. Nah kalau keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan itu dalam sistem pendidikan nasional lebih ditekankan sebagai tugas pendidikan keluarga”.
Secara sekilas tulisan tersebut sungguh luar biasa, cerdas dan “masuk akal”. Tetapi ada satu hal yang mengganjal, tolok ukur seperti apa untuk menentukan prestasi? Sudah menjadi rahasia umum, eh salah, bukan rahasia, tetapi metode umum yang dipakai di sekolah-sekolah di negeri ini, tolok ukur kesuksesan seorang anak ditentukan dari besar kecilnya angka di rapotnya.
Semakin besar angka yang tertera, mestinya semakin pintarlah si anak. Semakin besar pula kemungkinan si anak mendapatkan predikat sebagai anak berprestasi. Hasil akhir ini pula yang menjadi modal kebanggaan dari para orang tua murid ketika berbagi cerita soal anaknya, atau kadang justru menjadi bahan curhat betapa bodohnya anaknya ketika bertemu dengan kawan lain yang anaknya kebetulan nilainya bagus (besar) semua.
Apakah cara itu salah? Mungkin tidak. Bagaimanapun ukuran paling mudah memang angka-angka. Yang menjadi masalah kemudian adalah keterpakuan atas angka-angka tersebut pada diri anak-anak. Dalam satu gambaran yang paling sarkas maka ketika kita melihat deretan para pelajar, kita melihatnya sebagai si-7, si-4, si-8, si-10, si-angka.
Pendekatan Lain
Hal itu yang perlu diperhatikan. Pendidikan adalah satu kegiatan sosial yang tidak hanya melulu mempedulikan hasil akhir apalagi hasil akhir yang berupa angka-angka. Pendidikan di sekolahan semestinya juga memperhatikan bagaimana si anak berinteraksi dengan lingkungannya, dengan temannya, dengan bangku-bangku, dengan para guru, dan sebagainya.
Hal ini sangat merepotkan bagi si guru, tentu saja, oleh karenanya model pendidikan dimana satu kelas berisi 40 (empat puluh) anak diampu oleh satu guru adalah satu kelemahan yang sangat mendasar. Tentu saja hal ini lebih ditujukan bagi pendidikan dasar, bisa dibilang setara dengan sekolah dasar (6 tahun pertama sekolah). Karena masa itu adalah masa-masa awal perkembangan anak.
Sungguh sangat disayangkan ketika seorang anak yang sebenarnya memiliki kemampuan menyampaikan satu hal dengan puitis dan indah, harus terpuruk mendapatkan gelar “anak bodoh” oleh lingkungan sosial (minimal oleh buku rapot) hanya karena dia gagal memahami kenapa dan untuk apa pembagian dan perkalian. Dia butuh waktu lebih banyak untuk memahami hal itu, dan tidak layak kiranya divonis dengan angka-angka.
Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang masih gagap menyampaikan ide-idenya dalam bahasa yang runtut belum tentu dia bodoh, bisa jadi dia adalah Einstein yang lebih nyaman mempelajari interaksi angka-angka dengan bermain kelereng.
Contoh Pendidikan yang saya maksud
Sekali lagi saya menyitir pola pendidikan di SD Tumbuh. Di SD ini kita tidak akan menemukan angka-angka di rapot anak didik. Semua anak diuraikan dalam bentuk essay oleh gurunya mengenai perkembangannya. Hubungan antara murid-guru-orang tua murid terjalin dengan bentuk sinergi yang harmonis.
Semua anak berprestasi, semua anak memiliki potensi berkembang dengan polanya masing-masing. Saya sungguh berharap hal ini menjadi semangat pendidikan di negeri ini. Sehingga nantinya muncul generasi yang percaya diri dan berani menjadi dirinya sendiri.
Semoga, satu saat nanti, tidak lagi ada suara anak kecil yang berkata,”aku tidak sepintar si anu”. Sungguh mengenaskan.
Category: Pendidikan, Neolib | Comment RSS 2.0 | trackback
April 27th, 2010 at 11:52 am
*bintangin*
*pertamax*
Jadi mikir, anakku nanti sekolah dimana yah????
April 27th, 2010 at 12:02 pm
sekolahkan di TK banjar dan SD di desa saja om phill
April 29th, 2010 at 11:20 am
[…] Rony’s Blog » Pendidikan yang Materialis rony.dgworks.net/2010/04/27/pendidikan-yang-materialis – view page – cached Seorang teman mengirimkan pesan di facebook saya “Pendidikan umum memang bertujuan mengembangkan pengetahuan & ketrampilan maka benar tolak ukurnya prestasi akademis yang dinilai di akhir jenjang pendidikan. Nah kalau keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan itu dalam sistem pendidikan nasional lebih ditekankan sebagai tugas pendidikan Tweets about this link Topsy.Data.Twitter.User[’lantip’] = {”location”:”ÃT: -7.747845,110.437461″,”photo”:”http://a3.twimg.com/profile_images/850669831/lantip_normal.jpg”,”name”:”lantip”,”url”:”http://twitter.com/lantip”,”nick”:”lantip”,”description”:”desainer, programmer, pecinta kopi, pecinta komik, http://rony.dgworks.net“,”influence”:”"}; lantip: “posting di blog soal pendidikan http://bit.ly/9xpREx dan posting di politikana soal pilkada http://bit.ly/ahh2qK dalam satu hari yiha!
” 2 days ago view tweet retweet Filter tweets […]
June 5th, 2010 at 2:12 pm
Yup,
Sistem pembelajaran harus diperbaiki dari segala sisi…
o iya…
Selamat ya atas predikat desainer terbaik pesta blogger.
Ada kontes lagi loh….
June 8th, 2010 at 12:50 pm
Generalisasi asumsi tentang pendidikan di Indonesia adalah sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmiah.
Karena Data-data menunjukkan bahwa aktivitas pendidikan di Indonesia mengalami variasi pertumbuhan yang amat mencolok antara pedesaan dan perkotaan. Perbedaan kecepatan tumbuh pendidikan ini amat dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan penduduk dan tingkat pertumbuhan ekonomi di tiap – tiap wilayah.
Perbedaan yang terjadi menjadi amat jauh antara, misalnya Jakarta dan kepulauan seribu, atau, misalnya antara Bandung dan Leuwi Damar (Cibeo,Baduy), atau, apalagi, misalnya antara Jakarta dan pelosok Papua. Oleh karenanya, menurut saya, tidak ada satu skala ukurpun yang dapat digunakan untuk menggeneralisir dunia pendidikan di Indonesia.
Jadi menurut saya, dunia pendidikan di Indonesia adalah dunia yang memiliki banyak keunggulan dan banyak ketertinggalan. Atas keunggulanya kita wajib mensyukurinya, dan atas ketertinggalanya yang masih ada hendaknya dirasakan dan di sikapi sebagai bagian yang harus kita pikirkan bersama sebagai anggota dari sebuah kesatuan besar, Negara Republik Indonesia.
June 12th, 2010 at 8:52 am
hasil akhir bukan tolak ukur segala sesuatu,
proses merupakan salah satu penilaian,
perbandingan hasil akhir dengan kondisi starting / awal dapat menjadi juga salah satu penilaian.
hmm….
July 9th, 2010 at 10:23 am
harusnya pendidikan tingkat SD, SMP & SMU gratis… setuju ga pak?