
Hmm.. susah juga mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Tetapi intinya, saya sangat memohon, atas nama siapa saja yang seide dengan saya dalam hal penanganan dan pendidikan anak, kepada Anda semua –siapa saja yang tidak seide dengan saya– agar sedikit menghargai dan berpikir sebelum bertindak dan berucap.
1. Obat Nyamuk itu bukan Cemilan
Beneran, saya berani sumpah. Dan ketika saya dan istri memilih menghindari Anda yang sedang menyemprotkan obat nyamuk, demi menjauhkan Mata Air dari jangkauan sebarannya, tolong jangan salahkan kami dong. Perlu Anda ketahui, beberapa obat nyamuk mengandung Phosporux, zat yang menewaskan ribuan orang di Bhopal India. Apa? Kadar? ya benar, tapi kalau bisa dihindari bukannya lebih baik?
Wangi dari obat nyamuk semprot atau aerosol sebenarnya adalah indikasi bagi kita untuk menghindarinya minimal selama satu jam. Ini informasi yang saya dapat dari dokter anak. Kalau Anda merasa bahwa seorang anak atau manusia bisa kebal terhadap hal ini, silakan. Tapi jangan ajak saya dan keluarga ya, saya masih mau menggunakan otak saya.
2. Mengajari Anak akan Rasa?
Yakin dengan usulan Anda? Untuk anak usia 2 (dua) tahun? Masak sih? Tetapi terimakasih atas perhatiannya. Saya dan istri memilih mengajarkan pada anak akan rasa-rasa alami dari buah-buahan saja. Maka kami bersama-sama makan alpukat tanpa campuran gula, makan mentimun, makan mangga, makan rambutan. Kadang sedikit sambal. Oh mungkin ada juga yang tidak setuju dengan sambal, nggak apa-apa, itu memang pilihan dan saya tidak merasa diri paling benar.
Anda menyuruh kami mengenalkan cemilan pada Mata Air, kami rasa itu tidak perlu. Kami sangat selektif dengan cemilan ini, maka kami mohon Anda mengerti. Sedikit saja kandungan MSG di sana, sudah jadi alasan kuat bagi kami untuk menolak. Terimakasih, tetapi tidak. Kami yakin, nanti setelah Mata Air SD, berkat teman-temannya atau lingkungannya, dia pasti akan mengenal makanan aneh-aneh dan penuh buatan itu. Sayangnya memang ini sulit dihindari, tapi paling tidak kami telah berusaha sampai sekarang. Oh? Buat kami saja? Terimakasih, tetapi tidak. Kami ingin apa yang dimakan Mata Air sama dengan apa yang kami makan.
3. Tanggal Kadaluwarsa itu ada artinya lho
Beneran. Mungkin buat Anda yang sudah dewasa, lewat beberapa haripun tidak masalah. Tidak ada keluhan. Dan saya juga tidak tahu kok apakah memang berefek langsung ke lambung sampeyan, jadi silakan saja. Tapi kami sih berpatokan, kalau memang kadaluwarsa, ya sudah. Apalagi kita bicara soal Mata Air, anak berusia 2 (dua) tahun. Kami terlalu “kikrik” ya? Terlalu “takut-takut”? Oh iya, sebab kami bukan superhuman, eh tepatnya kami masih punya hati dan rasa. Sungguh kami tidak sanggup membayangkan Mata Air sakit.
4. Acara TV itu sampah
Ini pendapat kami. Sampahnya sih tidak semua, tapi banyak. Ketika sedang acara anak-anak, eh muncul iklan yang menyodorkan macam-macam hal. Belum lagi ketika iklan sinetron, bentakan dan kata makian kok tampaknya jadi niche jualan jenis iklan ini. Dan anak usia 2 tahun itu sangat tanggap, cepat sekali kata-kata itu masuk ke kepala mereka. Jadi, terimakasih, kalau ingin menonton TV silakan tonton sendiri saja ya, kami main di luar saja. Biar Mata Air belepotan tanah, berguling-guling di pasir, yang kadang terkena kotoran ayam, nggak masalah. Kami cukup menjaga agar tak masuk ke mulut, tak melukai mata.
5. Anak bukan Gelas Kristal lho..
Demi Tuhan yang kita yakini deh. Di satu sisi memang kami sangat peduli dan menjaga, tapi ketika Mata Air main panjat, lompat dan sebagainya, kami merasa sudah cukup dengan mengawasi. Kalau dia jatuh, dia sudah bisa ngomong kalau sakit. Jadi, mohon jangan larang Mata Air bergumul dengan tanah ya. Atau terjun ke kubangan buat cari ikan. Biar kami yang awasi saja kalau Anda tidak tega. Kami lebih tidak tega dengan beberapa point di atas, yang justru Anda tega, dibandingkan Mata Air luka luar semacam lecet.
Masih banyak lagi yang ingin saya sampaikan, tapi cukup dulu saja. Mungkin lain kali saya sampaikan lagi. Sekedar menunjukkan ini posisi kami, mohon dihargai. Toh kami menghargai pendapat Anda. Kalau anak Anda ternyata Anda perlakukan berbeda dengan kami, kami tidak akan protes kok. Tidak, beneran.
Jadi, tolong, peduli itu kami butuhkan, sungguh, terimakasih sekali, tapi mbok ya jangan kebangetan.
vale, demi kesehatan
el rony, rindu bermain
nb: kelupaan, kalau ada usulan atau pendapat ataupun masukan, monggo silakan. Saya dan istri masih belajar.
Category: blog, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
February 18th, 2010 at 1:57 pm
nah acara tv itu aku setuju, kalo ga penting2 bgt nonton tv males deh
February 18th, 2010 at 1:57 pm
woh curhat
February 18th, 2010 at 2:00 pm
@hedi: masalahnya, beritapun ada iklannya. iklannya ya sinetron lagi. doh
@geblek: iya :”>
February 19th, 2010 at 3:44 am
Papa Ata! aku kangen disun lagi sama anakmu! hehe =P
euh, iya. animasi2 buat Mata Air udah dititipin ke Om Sandal ya, Le. semoga kamu suka fluffy dan cengirannya Totoro dan belajar banyak dari kegigihan mbak chihiro
buat papanya, kopian pelem yg kapan hari itu aku bilang, sayangnya, nggak bisa di write di DVD. titip ke HDD external si sandal pun ndak bisa. ntar aja ya, nunggu jadi =P
February 19th, 2010 at 7:04 am
setuju…
mau kuterapkan kalau punya anak nanti
ini juga yg sdh diterapkan kakak2ku kepada anak2nya..
February 19th, 2010 at 9:51 am
iki morotuwo ron? wahihihihih….
February 19th, 2010 at 11:56 am
setuju banget ma semuanya..
ini sama sperti curhatanku tentang bagaimana aku mau treat kehamilanku & anakku nanti, di salah satu postingan blog ku
February 19th, 2010 at 3:54 pm
ono sing protes caramu momong po?
kok mendadak kabeh2 di sebut
huehehehehe
February 20th, 2010 at 4:16 am
@ficcy: ngono lah hehe.. kayane kok sebagian besar orang pola momong anaknya beda dengan kami. huhu
February 20th, 2010 at 10:33 am
tidak ada sesuatu yang sempurna Ron… yang penting jangan kebangeten… hehehe
February 20th, 2010 at 10:54 am
@mail: ha yoi. setuju!
February 22nd, 2010 at 4:36 am
Tulisan yang bagus
February 27th, 2010 at 11:42 pm
jadi inget masih punya anak satu, Ghiffari, ya… nggak beda jauh, pakde… idem, tapi akhirnya kini, anak memiliki dirinya sendiri, untungnya kini Ghiffari dah bisa diajak diskusi, jadi ngenal aspartame, MSG, dll… tapi itu, citra anak-anak, ya… pengen tahu juga dia, apalagi lihat temen2 sekolahnya, walhasil dari ngumpet-ngumpet sampe takut-takut ketahuan, ya… jajan juga
July 14th, 2010 at 6:45 pm
tulisan yg bagus
July 17th, 2010 at 12:52 pm
Setuju, acara televisi sekarang banyak yang tidak mendidik. apa nggak bisa nyari ide lain ya buat bikin acara yang bagus dan berkualitas.