
Obyek wisata Kaliurang, salah satu ikon wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada di kaki Gunung Merapi, menjanjikan suasana adem dan romantis. Di daerah ini selain tersebar berbagai villa dan penginapan yang mengundang pengunjung untuk melewatkan waktu dan melepas lelah dalam suasana yang nyaman, juga hadir taman rekreasi untuk anak-anak. Atas alasan kedua inilah saya mengajak anak dan istri ke sana.
Dulu, ketika masih berpacaran, sering juga kami (saya dan istri) mengunjungi daerah ini. Berbincang tentang berbagai hal, yang sebenarnya lebih sering diskusi membahas kebusukan dunia luar, hingga lewat sekian penanda waktu. Maka mengajak anak ke sini seakan mengajak dia untuk napak tilas perjalanan cinta orang tuanya. Walaupun pacarannya orang tua Mata Air sebenarnya agak jauh juga dari kata romantis
Dengan berbekal karunia Allah berupa sebuah mobil tua, menembus rintik hujan di awal tahun baru Imlek, penuh semangat kami menuju daerah wisata itu. Tidak banyak yang berubah dari suasana perjalanan, selain lalu lalang kendaraan mewah yang semakin hari sepertinya semakin banyak saja di Yogya.
Pungli! Itu namanya.
Kaget sekaligus sedih saya mendapati kenyataan ini. Untunglah saat itu, Mata Air sedang bobok sehingga dia tidak melihat secara langsung kebobrokan pengelola taman wisata ini. Kami memasuki gerbang lokasi wisata ini, disambut oleh bapak petugas dengan kertas di tangannya.
Istri saya sudah menyiapkan uang untuk membeli tiket masuk ke lokasi wisata ini sebesar Rp. 9.500,- (sembilan ribu lima ratus rupiah). Sesuai dengan spanduk petunjuk yang sudah dipasang di kilometer 9. Pada akhirnya uang yang kami keluarkan tidak sebesar itu, cuma Rp. 8.000,- (delapan ribu rupiah). Mengapa?
Si bapak petugas ternyata tidak menghitung Mata Air sebagai pengunjung. Tentulah hal ini bisa dibilang “menguntungkan” kami. Namun, bukankah jadinya statistik pengunjung di lokasi wisata ini jadi tidak bisa dijadikan patokan untuk mengembangkan fasilitas di sini?
Terlepas dari itu, ada yang membuat saya merasa perlu menuliskan catatan ini. Bapak petugas tadi telah melakukan pungli! Kenapa saya menuduh demikian? Karena selain beliau tidak serius mencatat pengunjung lokasi wisata, beliau juga tidak memberikan tiket.
Tiket masuk adalah salah satu bukti bahwa uang kami masuk ke pengelola wisata sebagaimana mestinya. Dengan tidak adanya tiket ini, bisa jadi kami tidak dihitung sebagai pengunjung. Lebih tidak masuk akal kami, ketika ternyata yang kami dapati hanyalah selembar brosur.
Pada awalnya saya dan istri berfikir (koreksi dari benny chandra) berpikir sama, ini mungkin brosur lokasi wisata kaliurang, lengkap dengan peta, fasilitas, nomer telfon dan lain sebagainya. Informasi penting bagi pengunjung terutama dari luar kota. Agak bermanfaatlah kalau begini adanya. Tapi ternyata brosur yang kami terima bukanlah itu.
Brosur yang kami terima adalah leaflet sebuah tempat makan! Apa kaitan tempat makan ini dengan pengelola wisata? Entahlah. Yang jelas kami segera tersadar, uang yang kami bayarkan tidak terjamin akan membantu pengelolaan taman wisata ini. Pungutan ini liar!
Di dalam lebih tertib
Di dalam lokasi wisata, sependek pengalaman kami bertiga, hal-hal terkait dengan tiket ini berlangsung lebih tertib. Bapak petugas parkir memberi kami tiket parkir, dengan biaya parkir sesuai dengan plang yang tertera di sana. Juga sesuai dengan tulisan di tiket parkir tersebut. Terimakasih pak!
Tiket masuk ke taman rekreasi juga ada. Sesuai dengan harga yang tertera di sana. Sedikit nafas lega bahwa kebobrokan pengelolaan taman wisata ini masih sedikit terselamatkan.
Suasana gerimis dan sesekali hujan menderas, membuat kami harus mencari-cari tempat berteduh. Lokasi berteduh di dalam taman rekreasi ini tentu saja segera saja penuh oleh para pelancong. Maka, ya sudahlah kami berhujan-hujan tak mengapa. Mengenalkan Mata Air akan karunia Tuhan yang luar biasa ini.
Namun ada saja yang membuat sedih, lokasi berteduh itu beberapa sudah menjadi counter jualan. Entah jualan mainan ataupun jualan makanan. Salah satu tempat berteduh yang dekat dengan patung gajah, bahkan seakan sudah berubah menjadi warung. Desakan ibu-ibu penjual di situ agar kami berteduh di tempat jualannya, dengan berkali-kali menyebut kata “tidak apa-apa, mari sini” tetap tidak membuat kami berteduh di situ. Kami memilih berteduh di bawah kepala patung gajah yang super besar. Masih kena hujan memang, tetapi kami sepakat bahwa kami hanya akan menggunakan fasilitas publik yang memang disediakan oleh pihak pengelola.
Tempat berteduh itu sebenarnya fasilitas publik juga, tapi biarlah, sampai ada penertiban dari pengelola wisata, tempat itu kami anggap sebagai warung saja. Sebenarnya ada juga patung Naga, di mulut menganga-nya kami bisa juga berteduh. Sayangnya sepasang muda-mudi berpacaran dengan asyik sekali di situ. Kehadiran saya dan Mata Air yang ingin melihat gigi, lidah dan kerongkongan Naga, sama sekali tidak membuat pasangan muda-mudi itu tahu diri. Walhasil, daripada Mata Air merekam hal yang tak menarik (obrolan yang dangkal), menyingkirlah kami.
Nampaknya banyak orang tua yang juga menunggu pasangan itu sadar, buktinya setelah saya dan Mata Air sejenak bermain di situ, silih berganti para orang tua mengajak anaknya ke situ. Tapi tetap saja, the pacaraners cuek.
Hapuskan pungli.
Satu hal ini nampaknya langkah awal yang harus dilakukan oleh obyek wisata ini. Mungkin, semoga, tuduhan saya salah. Mungkin, semoga, uang yang kami bayarkan itu benar-benar masuk ke dinas pengelola taman. Tetapi hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan pembenar.
Tiket adalah hak pengunjung. Sebagai bukti bahwa dia telah menyumbangkan sekian uangnya bagi keberlangsungan lokasi wisata ini. Karena tiket adalah bukti pula dalam pelaporan keuangan di sana, mustinya begitu.
Kalau ketertiban kecil seperti ini saja tidak bisa diluruskan, sangat bisa jadi hal-hal besar lain berupa penambahan fasilitas (MCK misalnya) menjadi sangat tidak bisa diharapkan. Profesionalisme pengelolaan taman wisata semakin jauh dari angan-angan.
Jika boleh membandingkan, maka pengelolaan lokasi wisata Pantai Glagah di Kulonprogo jauh lebih tertib dan lebih jelas.
Hapuskan pungli, itu saja harapan kami.
vale, demi rekreasi
el rony, apakah kali ini saya jadi lebih sopan? :p
Category: Yogyakarta, blog, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
February 15th, 2010 at 4:09 am
Berpikir, bukan berfikir.
*salahpokus*
February 15th, 2010 at 5:54 am
Quote:
Walaupun pacarannya orang tua Mata Air sebenarnya agak jauh juga dari kata romantis
Read more: http://rony.dgworks.net/2010/02/15/tentang-pungli-di-lokasi-wisata-kaliurang/#ixzz0fYNk0L46
Jadi yang dianggap orang tuanya Mata Air yang mana?
*bahas*
February 15th, 2010 at 6:13 am
@benny: terimakasih. sudah diedit
@godril: eh salahkah kalimatnya? *baca ulang* kayaknya gak je hehe.. ya maksudnya pacarane aku sama istriku itu sebenarnya gak romantis
February 15th, 2010 at 8:42 am
itulah mangkanya kita kalah dari thailand.
kita menang segalanya dari kita soal sumber alamnya. pantai kita, bentang alam, kehidupan bawah laut dan variasi tempat yang lebih bagus. mereka sudah jauh meninggalkan kita.
kekurangan kita cuma 1: mental yang buruk.
February 15th, 2010 at 11:06 am
selamat datang indonesia
February 15th, 2010 at 11:31 am
sori pak, kalau menurutku itu adalah korupsi berjamaah. siapa jamaahnya?? ya situ juga termasuk…
Korupsi susah diberantas karena orang orang yang merasa diuntungkan kemudian memilih diam (bila tidak melakukan), menurut ustadz tetanggaku, kalo ada korupsi dan kita tahu tapi diam saja, katanya dosanya sama!!!
:))
February 15th, 2010 at 11:36 am
@mail: betul sekali!
ini sudah kali kedua saya terlibat dosa besar serupa. setelah kemarin memilih tidak ambil slip biru pas ditilang dg alasan dikejar-kejar klien. huhu
ngeblog gini seakan jadi pengakuan dosa, di agama yang kuanut ga ada sih hihi..
February 15th, 2010 at 3:03 pm
kalau di atas pukul 18.00 juga nggak dijaga tuh. padahal kan banyak pengunjung di malam hari di kaliurang, misalnya yang mau pacaran.
February 15th, 2010 at 3:08 pm
@ndoro: demikian laporan dari orang yang berpengalaman <++ kurang kata-kata ini ndoro. hihihi
February 16th, 2010 at 3:06 pm
protes terus ron
February 17th, 2010 at 2:13 am
ketoke ket ndisik aku mlebu xurang yo cen dipungli ngono. dibawah harga + gak entuk tiket.
nekakne john pantau wae, ono SMS hotline e ra to ?
February 17th, 2010 at 3:33 pm
@ayik: ndisik ketokane aku pernah entuk tiket sih. montoran tapi. ora ono sms hotline-e je.
February 19th, 2010 at 9:51 am
woo iya… anda benar.. ternyata saya spitriding (numpak sambil muncrat2).
April 26th, 2010 at 1:43 pm
ga cuma di kaliurang saja, di tempat wisata di jogjakarta banyak yg seperti itu khususnya pantai2ntya
July 28th, 2010 at 10:00 pm
Hehehe… ternyata ada juga yang punya pikiran sama dengan saya.
Dari beberapa objek wisata yang ada, menurut saya petugas gerbang masuk kaliuran paling sering korup = pungli = ramutu!!!
Sempat pernah saya dan rekan bahwa dengan nyonyah bersitegang dengan petugas disana gara gara masalah karcis masuk ini.
Pada saat itu memang ada antrian panjang di belakang motor saya, tp saya juga ga mau bayar 4500 tanpa mendapatkan karcis yg sebenarnya (cuma di kasih 1 aja, kl ga salah nilainya Rp 2000,-).
Menurut saya pungli terkorup = wisata sleman
nuwun :p