Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Tentang Anak, Pertemanan dan Polisi

Print This Post   Email This Post

Tulisan ini dipicu oleh berita tentang Pengadilan Anak di Surabaya. Dikabarkan bahwa seorang anak bermain-main di sekolah membawa lebah, menempelkan lebah itu ke pipi temannya lalu sang lebah menyengat pipi temannya tersebut. Akhirnya sang anak terdampar di proses peradilan, yang walaupun vonisnya kemudian dinyatakan bebas namun hari-hari penuh teror mental itu pastilah mempengaruhi jiwa sang anak.

Juga tentang seseorang bernama Lanjar. Sungguh naas nasibnya, dalam perjalanan mudik, istrinya kecelakaan dan meninggal dunia, sudah begitu Lanjar dipenjara. Kenapa bisa begitu? Tentu saja tidak lepas dari pemilik mobil panther yang ternyata anggota kepolisian. Sang istri terhempas ke samping, tersambar oleh mobil panther hingga meninggal, sang suami terlempar ke penjara. Singkatnya begitu. Nasib? mungkin.

Saya jadi teringat dengan metode pembelajaran para orang tua dulu, metode yang sangat saya benci dan sudah berulang kali saya tuliskan di blog ini sebagai metode yang salah. Orang tua kita (yang jelas orang tua saya sih) dulu sering kali mengucapkan kata,”awas, nanti aku bilangin pak polisi” ketika kita tidak menurut.  Metode inipun masih saya lihat ketika saya sudah menginjak SMA, dilakukan oleh tetangga-tetangga saya ketika anak-anak mereka tidak mau makan.

Cara itu salah! Menanamkan rasa takut yang tidak beralasan pada anak, jelas sekali tidak akan memberikan keuntungan apapun, tidak juga mencerdaskan si anak. Metode ini hanya akan menimbulkan kesan yang membekas dalam pada diri anak bahwa yang namanya polisi itu menyeramkan. Padahal hakikat dari pemolisian adalah melindungi masyarakat, bukankah metode itu justru tidak mendukung hal ini?

Namun perkembangan belakangan ini, terutama ketika muncul kasus itu, saya jadi berfikir juga, jangan-jangan apa yang dilakukan oleh orang-orang tua kita dulu itu adalah satu upaya preventif cerdas demi melindungi si anak dari arogansi kekuasaan berbalut seragam polisi ya? Bisa jadi..

Memilih Teman untuk Sang Anak

Sub judul ini sama sekali tidak cerdas. Saya membenci kata itu. Anak bebas memilih siapa saja yang ingin jadi temannya. Inginnya saya begitu. Biar dia merdeka, dewasa dalam pencariannya, termasuk pencarian teman yang dianggap sesuai dengannya. Kita hanya cukup memberikan garis-garis besar pertemanan yang sekiranya tidak merugikan. Dan mungkin mengingatkan jika ada gejala ke arah yang negatif, melarang ketika tingkat negatifnya sudah dirasa mengkhawatirkan. Sungguh, inginnya saya begitu.

Tapi perkembangan ini membuat saya berfikir, anak-anak dengan dunia serba ingin tahunya, dengan dunia coba-cobanya, tentunya memungkinkan sang anak melakukan hal-hal yang bahkan di luar nalar kedewasaan kita. Atau kalau boleh disebut sebagai di luar pakem-pakem ala orang dewasa. Seperti katakanlah mereka main petak umpet, tidak ada rasa sungkan bagi mereka untuk bersembunyi di tempat-tempat yang menurut orang dewasa dirasa aneh, misalnya di dalam sarung kakeknya ketika si kakek sedang main catur, atau di dalam rok ibunya ketika si ibu sedang menjemur pakaian, dan lain sebagainya. Dengan dunia yang seperti itu, sangat mungkin seorang anak –misalnya bermain lempar-lemparan lumpur dan kena di wajah temannya.

Karena pertimbangan hal itu, saya jadi berfikir, “mungkin sebaiknya anak saya jangan main dengan anaknya polisi”. Bukan apa-apa, tapi kalau sampai anak saya harus mengikuti persidangan yang traumatik seperti itu, saya tidak akan bisa memaafkan diri saya sendiri. Oh tentu saja saya juga tidak akan bisa memaafkan orang yang membuat anak saya mengalami hal itu, tapi mau gimana lagi, orang itu tentunya memiliki kekuasaan. Jadi, hindari sajalah. Berteman dengan sesama jelata saja-lah. Yang asik-asik sajalah.

Polisi memang menyebalkan

Nuff said. Gitu kali kalau di milis-milis. Sudah, kalimat itu sudah cukup menerangkan, tak perlu diterangkan lagi. Sampai polisi berbenah diri, memecat orang-orangnya yang berlaku sewenang-wenang, kata itu masih relevan. Begitulah.

vale, mari berteman dengan yang bukan anak polisi saja

el rony, demi kesehatan

Category: Pendidikan, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback

8 Responses to “Tentang Anak, Pertemanan dan Polisi”

  1. lindaleenk Says:

    yang perlu diubah mmg mindednya..membuat orang sadar itu susah..
    tapi kalau terus2 an dengan cara menakut2ti itu ya jg salah :&
    *malah bingung

  2. bangsari Says:

    pulisi berbenah? nunggu kiamat aje kali…

  3. M Fahmi Aulia Says:

    jadi takut berteman dg Lantip…hiyyy…
    wakakka…

  4. Philip Says:

    Hayah, jadi inget jaman SMA (SMA lho, bukan SD malahan) juga pernah menancapkan sengat lebah ke teman, ternyata anak itu alergi lebah, jadinya langsung demam dan bentol-bentol.

    Untung dia anaknya guru, bukan polisi…..

  5. mail Says:

    dulu aku ama anakku (masih 2 tahun) hampir ditabrak ama konvoi anak muda (6 motor) yang menuhi jalan kampung,
    kami berhenti tapi tetap aja ada satu anak yang mepeti sambil melotoin kami, dan tak lupa membentak sambil menggeber gas motornya….
    Anak saya nangis ketakutan,
    langsung aja itu konvoi saya kejar, ternyata mereka tak se-gentle gayanya, mereka bubar berpencar, anak yang satu tadi terus saya kejar sampai rumahnya, motornya langsung masuk garasi dan saya nekat tetap saya kejar sampai masuk rumahnya,

    Bapaknya langsung nggak terima, memaki maki saya
    nggak cuma itu aja, sang bapak yang ternyata POLISI sampai ngacungin pistol segala….
    pokoknya anaknya adalah anak sholeh dan tidak mungkin berbuat hina…. hahahaha… ternyata bapaknya yang HINA kelakuannya

    saya tinggali kartu nama aja si bapak itu, aku bilangi kalo nggak becus ndidik anak, nih kirim aja kerumahku… nanti aku ajari cara cebok yang bener sampai cara naik motor yang sopan!!! hahaha….

  6. risiyanto Says:

    Salah satu clientku anggota kepolisian.
    Untung pas dapat yang baik.

  7. dodi Says:

    polisi yang baik itu ada di… Twitter! yaitu @tmcpoldametro (ini pun jakarta doang). hihihi.

    lumayan, info-infonya berguna. kalo dibandingin ama polisi offline mah… heuh..

  8. godril Says:

    Tapi bagaimanapun, memiliki bapak kost seorang polisi apalagi setingkat jendral ternyata menyenangkan.. mau ngapain aja ga bakal orang kampung kanan kiri brani menggrudug.. wahihihihih…

Leave a Reply