
Berbicara mengenai perkembangan otak manusia maka kita akan dihadapkan pada berbagai macam teori, namun dari semua teori yang ada itu, kurang lebih semuanya merujuk pada tiga tahap utama perkembangan otak manusia. Untuk mengetahui detil tentang hal ini, Anda bisa mencari di google, cukup dengan memakai kata kunci bahasa Indonesia: “tahap perkembangan otak”. Saya tidak akan menjabarkan tiga hal itu dengan detil di sini.
Tiga tahap utama perkembangan otak itu adalah: Otak Primitif, Otak Limbik dan Otak Pikir. Otak primitif juga disebut sebagai tahapan otak reptil. Sedangkan otak limbik sering juga disebut sebagai tahapan otak mamalia. Kedua hal itu merujuk pada sifat-sifat yang kurang lebih mirip dengan sifat-sifat binatang sejenis. Sedangkan otak pikir disebut juga sebagai neo mamalia, dalam artian perkembangan paling mutakhir dari otak limbik.
Ketiga tahapan ini sebenarnya tidaklah berdiri sendiri. Tahapan yang satu mengafirmasi atau merespon tahapan selanjutnya. Sebagai contoh, otak pikir bisa menyuruh otak primitif untuk melakukan gerak reflek ketika sedang menghadapi bahaya tertentu. Namun pada tulisan ini, saya ingin menyoroti soal perkembangan psikologis manusia dewasa, oleh karenanya dengan semena-mena dan tanpa latar belakang keilmuan yang cukup, saya akan memisahkan ketiganya.
Tidak hanya berhenti di memisahkan ketiga hal itu, saya juga hanya akan fokus pada perkembangan otak limbik. Menyoroti soal manusia yang sudah dewasa secara umur namun pola hidupnya masih berhenti di tahapan mamalia. Dan sebagai disklaimer awal, tulisan ini sama sekali bukan tulisan motivasi, juga bukan sebuah chicken soup of soul. Tulisan ini murni tumpahan pikiran, atau tepatnya nyampah
Manusia limbik
Mungkin itu saja sebutannya. Mereka adalah orang-orang dewasa yang sudah bisa mengartikulasikan rasa sayang, mengungkapkan perasaan cinta, sekaligus bisa bertahan diri dengan pilihan “hadapi atau lari”. Namun mereka sangat jauh dari apa yang kita namakan sebagai dewasa.
Manusia limbik adalah orang-orang yang selama ini kita sebut sebagai manja. Ya, manja itu bukan untuk anak kecil. Kata manja adalah kata yang hanya pas untuk orang yang sudah berumur. Untuk mereka yang berada pada tahapan ini saja. Selain itu mereka juga rewel. Rewel juga bukan kata yang tepat untuk anak kecil, anak kecil menggunakan tangis untuk berkomunikasi.
Manusia limbik, si dewasa yang manja, adalah mereka yang tidak pernah sadar bahwa mereka sedang menipu diri sendiri. Dalam kapasitas otak mereka, mereka hanya mampu mengharapkan belas kasih dan bahkan menganggap belas kasih itu sebagai kewajiban orang yang diharapkan. Bukan kecerdasan yang saya maksud, bukan IQ pula. Tapi kemauan untuk berkembang mereka 0 (nol).
Sebagai contoh adalah mereka sangat tergantung pada orang tua. Ini yang paling sering terjadi. Bahkan ketika mereka sudah disekolahkan hingga tingkat tinggi, sudah bisa berpacaran, masih saja meminta pada orang tua. Mereka tidak bisa menghadapi dunia kerja. Mudah untuk putus asa dan menyerah kalah dengan tetap menaruh harapan besar pada bantuan orang lain, terutama orang tua.
Manusia limbik selalu gagal membedakan antara hal yang penting dan tidak, kebutuhan dan foya-foya. Mereka pada satu saat bisa saja memutuskan bergabung dengan orang lain yang dirasa bisa memberikannya pekerjaan. Membentuk kaukus bersama, yang pada kenyataannya hanya menjadi korban bulan-bulanan para orang dewasa dengan kemampuan pikir lebih cerdas tapi beriman binatang. Ketika orang-orang yang dipilih sebagai teman bahkan soulmate oleh para manusia limbik ini melakukan “penganiayaan”, si manusia limbik lari ke orang tuanya dan jatuh pada kata,”mommy.. mommy.. i need money”.
Saya tidak sedang membicarakan bullying di sini. Murni kesadaran dari si manusia limbiklah yang membuat keadaan itu. Satu saat teman-teman yang diajak berkaukus itu mengajak pergi ke satu tempat, katakanlah Singapura, negara luar yang paling dekat deh, biaya paling rendah untuk bepergian. Si Manusia Limbik sama sekali tidak paham keadaan. Dia hanya tergoda oleh rangsangan perjalanan jauh dan hasrat untuk menyombongkannya di kemudian hari. Dia ingin bisa bercerita kepada siapa saja, bahkan tukang becak yang baru ditemuinya, tentang perjalanan ini. Maka jauh-jauh hari, si manusia limbik akan kembali jatuh ke kata,”mommy.. mommy… i need money”.
Dia, manusia limbik, tidak bisa membedakan antara hedonisme dan pekerjaan. Hanya karena yang mengajak adalah teman sekaukusnya, setengah mati dia berusaha meyakinkan ke siapa saja bahwa kepergiannya itu berkait dengan pekerjaan. Hasilnya, tetap saja dia hanya akan pergi membawa uang (yang bukan miliknya) untuk kemudian hilang. Dia tidak bisa menghasilkan uang.
Manusia limbik adalah manusia yang menyedihkan, tak juga beranjak dewasa. Ketika diminta untuk melamar pekerjaan di satu tempat, segera saja dia menjadi manusia manja yang tersuruk-suruk seakan habis dihajar orang sekampung. Dengan nada murung dia cepat berkesimpulan,”saya tidak cocok bekerja dengan orang lain”. Pada kenyataannya, dia memang orang yang tidak bisa bekerja, hanya banyak bicara.
Di sisi lain, manusia limbik dengan dibekali oleh daya reflek bertahan hidup dari otak reptil, bisa jadi sangat terampil. Dia bisa dengan mudah merangkai sebuah alat elektronik, walaupun sebenarnya dia hanya membeli PCB yang sudah ada diagramnya, lengkap dengan keterangan resistor sekian ohm, elco tipe ini, dan lain-lain. Solder selesai. Tapi harus diakui bahwa manusia limbik sangat mungkin memiliki kecerdasan hingga tahap seperti ini. Atau bisa jadi dia mahir sekali bermain piano, yang kemudian menjadi pengisi waktunya selain solitaire dan termangu di depan gemericik air. Manusia limbik tidak sadar akan waktu yang terbuang percuma, dia semakin tua, dan orang yang dibanggakan (atau bahkan disombongkan) untuk diminta-minta, satu saat bisa saja meninggalkan dunia. Pada saat itu, entah akan jadi apa manusia seperti ini.
Yang paling menyedihkan adalah ketika manusia limbik salah memilih teman. Teman-teman yang lebih cerdas (meski berwatak binatang rendah), dan tahu tipikal manusia limbik, bisa memanfaatkannya dengan mudah. Dengan menempatkan si manusia limbik “seakan-akan” penting dan berkemampuan tinggi, bisa jadi si manusia limbik keluar tengah malam demi mencari kyai agar temannya bisa nikah siri dan memuaskan nafsu setan.
Mandirilah! Jangan jadi mereka!
Itu saja saya tulis di sini, sebagai akhir kata. Berhentilah berfikir bahwa kalian nyaman-nyaman saja dengan bantuan orang tua. Berhentilah kebanyakan bicara, obral analisa atas ini itu, tapi tak mampu bekerja. Atau singkatnya, bekerjalah! Cari uang untuk diri kalian sendiri! Ya, uang, ini semua tulisan berparagraf-paragraf ini memang muaranya cuma uang. Karena pada abad modern ini, uang adalah tolok ukur kedewasaan.
Menyebalkan memang! tapi tak semenyebalkan manusia limbik.
vale, sadarlah limbik!
nb: katarsis itu boleh™
nb: manusia limbik dibentuk oleh orang tua yang gagal mendewasakan anaknya.
Category: Pendidikan, Culture, Daily Life | Comment RSS 2.0 | trackback
February 2nd, 2010 at 1:08 am
tulisan ini mengandung banyak symbolon dan kriptik sekali.. beri saya 3 bulan untuk memecahkan kodenya.
*ngelus2 jenggot*