Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh?

Print This Post   Email This Post

Sedih sekali saya mendapatkan kabar ini, kenapa masih juga hal seperti ini terjadi? Berikut ini adalah paparan dari istri kawan saya, yang kemudian ditulis di notes Facebook beliau di sini. Saya copy paste dengan mengubah layout text agar lebih mudah dibaca.

RS JIH Yogyakarta dan dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA sama sekali tidak Professional

NOTE :

1. Tulisan ini dibuat oleh istri saya dan dikirimkan melalui email kepada saya atas permintaan saya , dan saya (bino oetomo) yang menyebarkan nya. Dengan demikian saya mengambil alih segala konsekuensi hukum yang mungkin timbul atas penyebaran tulisan ini.
2. Mohon bantuan untuk menyebarkan tulisan ini seluas luas nya, tanpa melakukan perubahan apapun
3. Orisinalitas penyebaran akan dibandingkan dengan yang ada di facebook saya

=============================================================================

Kronologis:
Selasa 26 Januari 2009, jam 09.30 saya membawa putri saya Jasmine Prameswari ke RS JIH.

Kami mendaftar untuk bertemu dan konsultasi dengan dr. Elisa SpA. Sudah 5 hari jasmine demam,sakit kepala dan sakit perut yang terus berulang.

Dokter Elisa mencurigai demam berdarah,jadi jasmine diminta untuk cek darah. Hasilnya semuanya bagus kecuali Leukosit yang tinggi,jadi mungkin ada infeksi tapi tidak jelas dimana. Karena sakit perut yang berulang, dokter Elisa merujuk kami ke dr.Ahmad Mahmudi SpB,SpBA.

Kami dibuatkan janji dengan dokter bedah tersebut saat kami masih diruangan dokter Elisa,dan dikonfirm oleh perawat bahwa nanti dokter bedahnya jam 15.00 wib.

Tentunya karena masih jam 12.20 kami pulang kerumah.

Selasa 26 januari 2009,
Jam 14.30 saya menelpon JIH untuk menyanyakan apakah dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA jadwalnya jam 15.00??
Jawabnya, nanti jam !6.00 ibu.
Ok lah,kami undur satu jam,padahal kami sudah siap berangkat.

Pukul 15.30 kami berangkat ke JIH,dalam perjalanan (krg lebih 300 meter sblm JIH) saya ditelpon oleh entah perawat atau front office menanyakan apakah appointment dengan dokter Ahmad Mahmudi akan dilaksanakan, saya jawab “iya,kami sudah dekat dari JIH”.

Kami mendaftar dan mendapat nomor urut satu, kemudian saya ingat betul,petugas pendaftaran mengatakan dokternya sedang dalam perjalanan.

Kami menunggu di depan ruang periksa dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA di poliklinik sebelah timur. Setelah 30 menit,suami mulai bertanya ke petugas jam berapa dokternya mau datang, dan dijawab beliaunya sedang dalam perjalanan.
Perasaan dari jam 16.00 tadi jawabnya masih dalam perjalanan, perjalanan dari mana ke mana nih?

Sementara Jasmine mulai demam lagi, mengeluh perutnya sakit dan badannya pegal.
Saya mencoba menenangkan Jasmine dengan memintanya untuk tidur sambil saya gendong.
Semakin lama saya merasa suhu tubuhnya semakin hangat,dan saya minta suami bertanya lagi jam berapa dokternya datang.
Dan lagi2 dijawab masih diperjalanan.

Pukul 16.50 sambil menggendong Jasmine saya ke meja perawat dipoliklinik timur,” Mbak ini dokternya jadi datang nggak sih?? ini anak saya demam,jam berapa datangnya??”
Perawat menjawab ” barusan saya hubungi,beliau baru sampai taman siswa”.
Saya menuju lobby,dan kami bertanya lagi dan lagi2 belum mendapat kepastian.
Petugas pendaftaran terakhir bilang, “pak katanya 25 menit lagi”.
Kami minta untuk bertemu manajer tapi dengan berbagai macam alasan belum bisa.
Setelah suami mengancam untuk menyalakan alarm kebakaran (catatan#A),baru PR manajernya mau menemui padahal beliaunya dari tadi ada di depan mata kita.

Selanjutnya kami putuskan untuk pulang , dalam perjalanan kami kembali di telpon untuk menanyakan,apakah jadi bertemu dengan dokter Ahmad Mahmudi
SpB,SpBA, tentu saja kami jawab TIDAK (catatan#B).

dr. Ahmad Mahmudi SpB,SpBA/ RS JIH yang terhormat,
Kami datang ke JIH untuk berkonsultasi dgn anda,
membawa anak kami yang sedang sakit,bukan untuk piknik.
Kami sudah semalaman tidak bisa tidur,seharian dirumah sakit mengantri,menunggu hasil laboratorium,dirujuk kepada anda oleh dokter yang sangat kami percaya (kami sudah 7 tahun bersama dr.Elisa dan blm pernah kecewa). Dan secara psikologis kami disiksa karena harus menunggu anda selama satu jam,dan akhirnya tanpa hasil karena sampai kami memutuskan pulang anda belum datang dengan alasan masih dalam perjalanan( dari jam 16.00 sampai 17.00),padahal di jadwal praktek jelas tertulis pukul 15.00-17.00.

Dokter yang terhormat kalau anda memang tidak bisa datang atau harus terlambat sampaikan,informasikan,jadi anda tidak membuat pasien resah.
Apakah karena anda merasa dibutuhkan jadi anda bisa datang seenaknya,tanpa perlu berpikir apakah pasien anda sedang demamtinggi,atau sedang nyeri perutnya, atau apapun rasa sakit yang diderita.

Untuk rumah sakit mohon bisa lebih tegas dengan peraturan yang anda buat,dan jadwal yang pastinya sudah disepakati oleh rumah sakit dan dokter yang bersangkutan.
Kami pasien/ orangtua pasien merasa diperlakukan seenaknya oleh salah satu dokter anda. atau karena ini sudah bukan rahasia umum bahwa “doctor’s playing God” jadi hanya perlu minta maaf dan menganggap semuanya selesai tanpa ada perbaikan apapun.

Sangat TIDAK PROFESIONAL

Catatan :
#A. Urutan bertemu “manager” .. kurang lebih nya :
1. Saya mengatakan “saya ingin bertemu manager” , dan di jawab “Bapak silahkan tunggu
2. Saya menunggu
3. Beberapa menit kemudian saya kembali menanyakan dan sekalian mengancam akan menyalakan alarm kebakaran sebagai salah satu cara memanggil manager.
4. Saya juga dua kali di temui karyawati yang berusaha menanyakan permasalahan , saya menjawab “MBak saya ini mau marah. Apakah mbak mau menerima kemarahan saya .. atau panggil manager anda”

#B : Tepatnya saya mengatakan : “Persetan dengan dokter itu”

-Bino-

Category: Kesehatan, Neolib, Yogyakarta | Comment RSS 2.0 | trackback

8 Responses to “Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh?”

  1. manda Says:

    nais post, komen dl sebelum baca.

    wah, semoga nanti ga terjadi kasus prita jilid 2. semangat!

  2. paydjo.Net Says:

    kebetulan kemarin pas najwa sakit hari bertepatan dengan praktik dokter di JIH, jd ke JIH-nya memang sengaja (dan janjian lebih dulu) untuk bertemu dengan dokternya najwa. jd gag sampe kejadian kayak di atas :D

    btw, di RS ProfJembatan ada dokter spesialis kanker yg cm mau nengok pasiennya kalo gag di kamar VIP pernah denger ron ?

  3. paydjo.Net Says:

    jrit, otak dan jempol gag kompak:

    kebetulan kemarin pas najwa sakit hari jumat bertepatan dengan praktik dokter di JIH, jd ke JIH-nya memang sengaja (dan janjian lebih dulu) untuk bertemu dengan dokternya najwa. jd gag sampe kejadian kayak di atas

    btw, di RS ProfJembatan ada dokter spesialis kanker yg cm mau nengok pasiennya kalo di kamar VIP, pernah denger gag ron ?

  4. geblek Says:

    free prita
    eh :)

  5. Twitter Trackbacks for Rony’s Blog » Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh? [dgworks.net] on Topsy.com Says:

    […] Rony’s Blog » Rumah Sakit dan Dokter, apakah memang tak tersentuh? rony.dgworks.net/2010/01/27/rumah-sakit-dan-dokter-apakah-memang-tak-tersentuh – view page – cached Sedih sekali saya mendapatkan kabar ini, kenapa masih juga hal seperti ini terjadi? Berikut ini adalah paparan dari istri kawan saya, yang kemudian ditulis di notes Facebook beliau di sini. Saya copy paste dengan mengubah layout text agar lebih mudah dibaca. […]

  6. rony Says:

    @paydjo: yoi yoi.. aku pernah dengar tentang dokter itu. kebetulan tanteku menderita kanker stadium awal, berobat di RSProfJembatan itu, dan tanteku bukan penghuni VIP :p

  7. anonyme Says:

    maaf..
    bukankah kebiasaan menunggu dokter itu lumrah ya?
    (itu 1 jm)ada yg lbh utk sabar menunggu dokternya

    demamnya juga dari tulisan blum tinggi juga (hangat *tertulis sprt itu)

    dokter itu pasti juga punya banyak kesibukan..anda harus memaklumi

    toh dsana juga pasti dokternya ga cm satu,knp lgsg menyalahkan bgtu saja..ga minta periksa yg laen

    toh juga itu blum ada tindakan serius..(operasi dll)

    saya rasa bapak itu terlalu resah (saya paham krn itu anak anda) tp memaklumi dengan sikap yg bijak itu lbh ptg untuk kesehatan anak anda..

    dengan perginya anda,,mungkin saat dokter itu udah ada..dan jika anaknya jd lbh sakit,,jgn salahkan syp2 krn anda yg mw pergi dg keputusan anda sndiri

  8. giel Says:

    saya sangat tertarik dengan opini opini kritis bang roni..semoga bisa menginspirasi saya sebagai bloger pemula..tapi apakah kekritisan kita tidak bergesekan dengan hukum di indonesia?

Leave a Reply