Rony's Blog
Shoutbox

Name

URL or Email

Message


Meta

Pendidikan yang menipu

Print This Post   Email This Post

Saya adalah seorang bapak yang sedang dan berencana untuk terus belajar mengenai pendidikan anak. Dalam pembelajaran saya ini pula, saya melakukan pilahan atas pilihan-pilihan. Maka sampailah saya pada pilihan ini.

Hampir sudah menjadi kebiasaan umum dari kita para orang dewasa untuk merasa lebih pintar dari seorang anak, apalagi ketika anak itu masih berusia di bawah tiga tahun. Keterbatasan gerak, ucapan dan ingatan anak kecil, menjadi semacam alasan pembenaran bagi beberapa hal yang kita lakukan. Dalam hal ini, saya menyoroti ungkapan-ungkapan sederhana yang paling mudah dan sering diucapkan orang dewasa.

Ketika seorang anak kecil jatuh, sangat mudah sekali bagi kita untuk menyalahkan benda-benda di sekeliling si anak. “Batu yang nakal! Kodok yang jahat!” ungkapan semacam itulah yang sering muncul, demi menenangkan si anak. Gampang, dan batu maupun kodok tidak akan protes.

Lantas kita juga mudah berjanji pada mereka,”yuk ikut yuk! naik mobil!” “nanti  kita jalan-jalan ya!” padahal kita sendiri  sebenarnya tidak berniat melakukannya. Kita sedang capek dan hanya ingin menggoda anak itu. Melihat reaksinya yang merajuk, membuat hidung terkembang dan kita tertawa lantas mengeluarkan kata jumawa,”haha, dia klayu” yang artinya kurang lebih “pingin ngikut kita terus”.

Di saat lain lagi, kita mudah pula bilang,”ini pedas!” padahal si anak cuma pingin gorengan. Gorengan yang penuh MSG memang harus dihindarkan, tidak ada tawaran, tapi bukan berarti kita harus menipu bukan? Lalu kitapun mudah untuk mengatakan,”barangnya rusak” padahal barang tidak rusak, hanya agar si anak tidak menggunakannya.

Kebanggan pada klayu adalah bodoh.

Ini yang berusaha amat sangat aku tekankan pada diriku sendiri. Bodoh, karena tidak ada pendidikan di situ. Yang ada adalah mengajari anak untuk sedemikian tergantung, dan mengajari dia untuk merajuk ketika meminta sesuatu.

Inilah pendidikan yang menipu. Apalagi ketika kita memilih menggunakan tipuan, tak lebih hanyalah kekerdilan kita sebagai orang dewasa, kegagalan mencari alasan yang lebih masuk akal bagi si kecil. Apa sulitnya mengatakan bahwa “makanan ini tidak sehat, tidak baik untuk kamu. kamu masih belum ngerti, tapi satu saat pasti paham. nah, ayah juga nggak makan deh, bunda juga tidak”. Mengajak dia bersama-sama melakukan apa yang dikatakan. Itu jauh lebih cerdas.

Menakut-nakuti bukan solusi.

Maka sampai pula kita pada teknik umum yang lain lagi. Karena hari sudah malam, ketika si anak ingin main di luar, dengan mudah kita bilang, “ada hantu hiiiii..”  atau ada polisi.. atau ada orang gila.. atau apapun. Sadarkah bahwa yang kita lakukan itu pembodohan?

Si anak diajari untuk menakuti hal yang tidak relevan dengan apa yang dia ingini. Apa susahnya kita bilang,”hari sudah malam sayang, ini saatnya untuk tidur”. Anak mungkin akan protes, menangis, tapi memang itu cara dia berkomunikasi. Menangis adalah bentuk pelajaran paling dini yang dia peroleh dari kehidupan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ketika bayi, mereka hanya bisa menangis, memang itu media komunikasi paling dasar yang dia miliki. Tidak ada yang salah dengan hal ini.

Pelabelan adalah upaya kita melampiaskan kejamnya hidup.

Hidup kita, mau gimana lagi, penuh dengan label. Kita muak, tanpa sadar kita sendiri sedemikian benci dengan pelabelan. Siapa sih yang nyaman ketika dilabeli “si manja” atau “si pemarah” dan lain sebagainya?

Tapi alih-alih mendidik anak supaya tidak mengulang kesalahan para orang dewasa, kita justru mudah sekali melampiaskan ke anak dengan menyebutnya “manja” “rewel” dan sejenisnya. Ketahuilah, Andalah yang sebenarnya rewel. Sekali lagi, menangis adalah pola komunikasi yang wajar, berhentilah mengasihani diri sendiri dan memamerkan ketidaksabaran dengan menggunakan kata-kata itu.

Anak adalah Entitas Cerdas.

Mereka mencatat! Harap itu diingat. Mungkin bagi kita yang menganggap hal kecil dari si anak sebagai sesuatu yang tidak penting, ingatan merekapun sudah kita abaikan sejak sedia kala. Padahal ingatan anak-anak sungguh luar biasa. Tidak salah kalau anak kecil diibaratkan kertas putih bersih yang ditoreh catatan dengan tinta pengalaman dan pengamatan.

Saya mengalaminya sendiri. Anak saya, Mata Air (2 tahun) masih ingat bagaimana kereta api berangkat, atau kereta api apa saja yang ada, ketika kami beberapa bulan lalu mengunjungi stasiun. Ya, tentu saja ini membekas dibantu oleh ketertarikan dia yang dalam, tapi kita memang tidak tahu bukan apa yang dianggap menarik bagi si anak dan yang bukan?

Mereka entitas cerdas. Saya merasa justru belajar banyak dari mereka. Mereka bisa memahami ketika saya bilang,”sekarang kita jalan-jalan, tapi nanti ayah bekerja ya”. Pada jamnya, anak kita yang justru bilang,”dah dah ayah.. mat kerja!”. Anda masih menganggap mereka bodoh dan bisa ditipu? Andalah yang bodoh kalau begitu.

Mari kita ingat selalu. Jangan menipu. Jangan memberi janji palsu. Jangan seenak udel memberi label. Jangan sok pintar dengan membiarkan anak melihat tayangan sinetron penuh kekerasan. Jangan, sekali lagi jangan.

NB: pendidikan yang menipu, hanya melahirkan generasi-generasi baru yang penipu. pada akhirnya menipu diri sendiri, sombong dengan hal yang semu. Silakan renungkan.

vale, demi pendidikan anak

el rony, setelah sekian lama, belajar menulis lagi

Category: Pendidikan, Culture, how to | Comment RSS 2.0 | trackback

6 Responses to “Pendidikan yang menipu”

  1. Dev Says:

    Tulisan yang cerdas dan mencerahkan…. Mantafff om rony..

  2. [mantan] Hansip TKS Says:

    setuju!

  3. phery Says:

    heheheh berpengalaman menipu kayaknya ya mas

  4. Charly Silaban Says:

    Sudut pandang yang bagus bro.. kita berada di posisi yang sama sekarang.. trims tulisannya membantu mengingatkan gw !

  5. terjemahan Says:

    Salam kenal :)

  6. ficcy Says:

    satu lagi cak …

    apa yg kita liat pada anak… adalah cerminan dari orang tuanya.
    krn anak hidup bersama kita, dia melihat apa yg ada di sekeliling dia. dan itu adalah orang tua.

    apa yg di lakukan si anak… itu juga yg di lakukan orang tua

Leave a Reply